
...💖💖💖...
Elisa menggelengkan kepalanya, "Ti- tidak pak, ja- jangan la- laku- kan i- ini pa- pada ku, pak! A- aku bersumpah tidak a- "
Dor.
Dreeet dreeet dreeet.
Tanpa ada rasa sesal dengan apa yang sudah Pram lakukan, dengan santainya Pram menyimpan kembali, senjataaa apiii nya di belakang punggungnya. Lalu berjalan ke luar dengan tangannya yang merogoh hapenya dari dalam saku celananya.
"Kau bereskan sisanya!" Seru Pram, pada Haikal yang sudah menunggu nya di depan pintu ruang eksekusi.
"Siap, bos!" Seru Haikal dengan mengajak serta anak buahnya masuk ke dalam ruang eksekusi, untuk membereskan tubuh Karin dan Elisa yang sudah dapat di pastikan tidak lagi bernyawa.
Pram menyeringai saat tahu siapa yang menghubunginya, ia melangkah ke luar menuju mobilnya berada.
Anak buahnya yang berpapasan dengan Pram, akan menundukkan kepalanya dengan hormat.
Setelah panggilan teleponnya tersambung, Naira dengan tidak sabaran menanyakan ini dan itu pada Pram. Tanpa memperdulikan Pram akan marah atau tidak padanya.
[ "Ka Pram lagi di mana? Katanya hanya pergi sebentar, ko ini lama sih? Kaka sedang bertemu dengan model itu ya? Atau bertemu dengan wanita lain lagi?" ]
"Aku harus menjawab pertanyaan mu yang mana dulu, hem? Apa kau sedang curiga pada ku?" Tanya Pram dengan santainya.
[ "Ihs dasarrr pria aneh, tinggal jawab aja ribet banget. A- aku gak curiga, aku kan hanya bertanya, a- aku ingin tahu... iya, cuma ingin tahu." ] Ketus Naira dengan tergagap berlagak marah pada Pram.
Pram masuk ke dalam mobilnya, saat anak buahnya membukakan pintu mobil untuk dirinya.
"Hati hati di jalan, Tuan!" Ujar pria yang kini menutup pintu mobil Pram saat Pram sudah menduduk kan dirinya di kursi.
Naira mendengar suara seorang pria yang tengah berbicara dengan Pram.
Sedangkan Pram kini mengalihkan panggilan teleponnya, dengan mode aerphon karena dia akan mengemudikan mobil nya.
[ "Kaka sedang di luar? Katanya ke kantor, yang benar yang mana ini?" ]
Tanya Naira dengan tanpa sadar, sekali lagi menunjukkan jika dirinya tengah curiga pada Pram.
Pram memacu mobilnya meninggalkan markas menuju rumah sakit.
"Urusan ku baru saja selesai sayang, dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Apa kau sudah selesai dengan urusan teman teman mu? Kau masih bersama dengan mereka kan?" Tanya Pram dengan datarnya.
[ "Aku masih di rumah sakit, hanya saja ada yang kurang saat ka Pram tidak bersama dengan ku!" ] Cicit Naira dengan suaranya yang pelan, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Pram terkekeh mendengar penuturan Naira, "Apa kau sedang merayu ku, sayang? Kau pasti sedang menggaruk kepala mu yang tidak gatal itu!" Ledek Pram.
[ "Ti- tidak, siapa juga yang sedang merayu, hanya saja ada yang ingin aku tanyakan sama kaka." ]
Pram mengerut kan keningnya, "Apa yang ingin kau katakan?"
[ "Nanti saja kita bicarakan di rumah. Hati hati di jalan ka, jangan lirik kanan kiri saat ada wanita yang menggoda kaka!" ]
Naira langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Pram.
Pram menggelengkan kepalanya, "Apa yang terjadi dengan bocah itu? Masa iya, hanya dengan menghirup aroma rumah sakit, otak kepalanya jadi bergeser?" Gumam Pram.
Dari belakang setir kemudinya, Pram tampak menyunggingkan senyum setelah sambungan teleponnya di putus oleh Naira.
Apa begini rasanya mendapati istri yang tengah curiga. Tapi bagus juga sih, Naira jadi menunjukkan pada ku, perasaan nya.
🍂 Ruang rawat VVIP 🍂
Naira menelpon Pram di sudut ruang rawat dekat pintu, alih alih tidak ingin di dengar apa yang ia katakan dengan Pram di telpon. Malah membuatnya jadi bahan ledekan yang melihatnya.
"Ciye ciye, udah nih kangen kangenan nya?" Ledek Novi saat melihat Naira yang kembali berbaur dengan yang lain.
"Ih rese lo! Emang lo denger apa yang gw omingin sama ka Pram?" Kilah Naira dengan mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Novi.
"Ihs, pura pura gak denger apa! Pake jujur amat sih kalian tuh!" Naira mengerucutkan bibirnya.
"Dih lo Nai, secara lo telpon pak Pram kurang jauh, coba lo tadi telpon nya di luar. Pasti kita gak bakalan denger." Ledek Mega.
"Oh iya Nai, apa tadi Elisa dan Juni masuk sekolah?" Tanya Angga yang membuat ke adaan menjadi hening.
"Masuk." Jawab Naira, "Ko lo nanyain mereka berdua, bang? Ada apa sama mereka berdua?" Naira menatap yang lainnya dengan tanda tanya besar di hatinya.
"Ya tumben aja, mereka gak ke sini. Secara kita kan lagi kumpul di sini." Terang Rion, ia juga ya, tumben bang Angga segitunya nanyain Elisa sama Juni. Biasanya bang Angga nih paling cuek lo sama keadaan.
"Gak, cuma tanya aja. Pak Pram bilang apa Nai?" Tanya Angga lagi, apa benar hanya urusan kerjaan ya, bukan urusan melenyapkkan orang gitu?
"Gak bilang apa apa sih, paling bentar lagi juga nyampe." Terang Naira.
"Kalo buat rencana lo itu, gimana Nai?" Tanya Ayu dengan menatap Naira, waktu yang tepat gak sih kalo gw bahas ini sekarang.
"Rencana apaan, ka?"
"Emmmm itu, rencana buat buka kedei baru." Terang Ayu.
__ADS_1
Ceklek.
Semua mata tertuju pada seseorang yang membuka pintu ruang rawat inap.
Pram melangkah kan kakinya, dengan seorang pria berseragam satpam. Pria itu mengekorinya di belakang Pram dengan beberapa paper bag di ke dua tangannya.
Naira di buat tercengang dengan tingkah Pram, "Astaga, ka Pram?"
"Semuanya taruh saja di atas meja!" Seru Pram pada pak satpam yang di buat bingung, dengan paper bag yang ada di tangannya.
Pak satpam pun menaruh semua paper bag dari tangannya ke atas meja.
"Terima kasih, atas bantuan nya!" Pram menyodorkan beberapa lembar uang merah pada pak satpam.
Pak satpam tercengang di buatnya, "Pak ini?"
"Ambil lah! Kau sudah bisa pergi meninggalkan ruangan ini!" Ucap Pram dengan dingin tatapan mata nya tajam.
"Ba- baik Tuan, te- terima kasih." Pak satpam langsung pergi setelah menerima uang pemberian dari Pram.
Mega menowel nowel lengan Naira, "Astaga, sultan mah bebas." Gumam Mega dengan suaranya yang pelan.
Novi menggeleng gelengkan kepalanya, "Bujuk dah, cuma bawain barang aja di kasih segitu, apa lagi yang jadi bininya ya? Tidur ama duit kali lu, Nai! Celetuk Novi.
Naira beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Pram, dengan tatapannya yang sulit di artikan.
Naira membatin, pasti ka Pram mau baik baikin gw! Karena udah terlalu lama perginya... makanya tuh pake beli makanan sebanyak itu!
Naira berdiri di depan Pram, dengan ke dua tangannya yang menyilang di depan dadanya.
Pram menyeringai, dasar anak ini. Pemikirannya sungguh di luar perkiraan ku!
Angga yang melihatnya di buat bingung dengan ke duanya, "Apa yang akan Naira lakuin?"
"Aiiih masa iya Naira ngambek sama pak Pram?" Gumam Novi.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊