
...๐๐๐...
Harumi menyeringai, kali ini... aku tidak boleh gagal.
Mau mengejer Pram?
Hehehe jangan mimpi ๐๐ผโโ๏ธ๐๐ผโโ๏ธ๐๐ผโโ๏ธ๐๐ผโโ๏ธ
...๐ป๐ป๐ป...
Ke esokan paginya, Naira menggeliat di bawah kain yang menyelimuti tubuhnya.
Naira mengerjapkan ke dua mata nya, pandangan di pagi hari yang menyegarkan, saat sepasang mata indahnya dapat melihat wajah Pram yang sedang tertidur tampak begitu damai, begitu dekat dengan dirinya.
Tangan Naira terulur dengan sendirinya, mendarat di pipi sang suami, ini pipi mulus banget ya! Apa ka Pram diam diem jalanin perawatan ya? Atau bisa juga ka Pram oprasi, udah mulus, bersih, gak ada jerawat.
Naira menyembunyikan wajahnya di balik selimut, beringsut hingga kepalanya berada di depan dada Pram, tangan Naira bergerak menyentuh dada dan perut kotak kotak Pram, yang berada di balik kemeja yang Pram kenakan.
"Ini nih, bagian yang suka menghipnotis kaum hawa, bagian yang paling seneng di sentuh. Bisa aja lagi ya, ka Pram punya bentuk badan yang proposional kalo bahasa kerennya mah." Naira bergumam pelan dengan pandangannya, yang mengarah pada perut Pram yang kotak kotak, kemeja yang di kenakan Pram sangat pas di tubuhnya, hingga membentuk tubuh Pram yang sispeck.
Pram mengerutkan keningnya, membuka ke dua matanya, lalu menyerinagi melihat Naira yang berada di bawah selimut.
Apa yang sedang bocah ini lakukan di bawah sana? Apa dia masih bisa bernafas dengan cara seperti itu?
Sreek.
Pram menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Naira.
Naira terkejut dengan perbuatan Pram, ia mengadahkan wajahnya menatap Pram dengan mata yang membola.
"Haaa se- sejak kapan ka Pram udah bangun?" tanya Naira dengan tergagap, wajahnya bersemu merah, aduh ka Pram denger ga ya sama apa yang aku ucapin tadi?
Tangan Pram menggenggammm jemari Naira, "Sejak jemari mungil mu ini, dengan berani bergerak menari nari di atas tubuh ku!" ucap Pram dengan menggoda Naira dengan kedipan matanya, "Apa kau begitu menginginkan nya sayang? Sampai kau tidak bisa menunggu ku sampai terbangun?" tanya nya lagi, dengan Pram yang kini mengungkung Naira.
"Astaga ka, bu- bukan begitu... kan sayang aja kalo ada pemandangan bagus, tapi di lewatin gitu aja!" cicit Naira dengan suaranya yang mendayu dayu, ia juga mengalung kan ke dua tangannya di leher Pram.
Pram menaikkan satu alisnya ke atas, menatap heran dengan istri kecilnya.
Ada apa dengan anak ini? Tadi masih tergagap, dan sekarang sudah berani menggoda ku? Apa ada yang sedang ia inginkan?
"Apa ini salah satu usaha mu untuk menggoda ku?" tanya Pram tanpa berbasa basi.
Naira mengerucutkan bibirnya, "Kenapa semudah itu kaka menebak ku! Harusnya kaka jangan mengatakan nya langsung!" ucap Naira dengan menarik leher Pram untuk lebih dekat dengan wajahnya.
Pram berdecih, "Cih kau ini! Aku sudah berhasil menebaknya kan! Maka aku tidak akan menyinyikan kesempatan ini, akan ku buat kau menikmati pagi mu!"
Pram menyambar bibir Naira, dengan pandangan yang memburu. Tangan besarnya mulai bergerak liar, dengan sekali tarikan ia melorotkan celana Naira.
Bibirnya menyusuri leher Naira, dengan meninggalkan jejak ke pemilikan. Pram menusukkan senjatanya pada milik intiii Naira, dengan ritme yang cepat. Membuat kamar di penuhi dengan suara lenguhannn dan erangannn, yang ke luar dari bibir mungilnya Naira. Sesekali Pram mengeranggg, saat dirinya mencapai pada titik ke puasannya.
"Sudah ka! Aku sudah lelah!" Naira menghentikan Pram, saat tubuhnya seakan remuk. Namun Pram masih ingin melakukan nya kembali.
"Satu kali lagi ya, sayang! Aku janji!" Pram berbisik lembut di telinga Naira.
"Tulang ku remuk ka! Udah kaya terlindas bul doser!" cicit Naira.
__ADS_1
Pram mengerutkan keningnya, "Bahasa aneh apa lagi yang kau gunakan sayang? Apa itu bul doser? Kata kata mu tidak aku mengerti." cicit Pram dengan pinggul yang naik turun, memacu senjatanya pada milik Naira.
"Semacam alat berat ka!"
"Kau menyamakan aku dengan alat berat?" tanya Pram dengan memeluk Naira, saat ia menyembur kan larva hangat di tubuh sang istri.
"Terserah apa kata mu ka! Aku cape! Tapi aku ingin jalan jalan!"
"Kita mandi dulu!" Pram menggendong Naira yang sama sama polos dengan tubuhnya. Masuk ke dalam kamar mandi, membersikan diri, tanpa ada ritualll aneh aneh lagi.
...๐๐๐...
"Kita di mana ka? Sejak tadi aku bertanya, tapi kaka tidak mengata kan kita akan ke mana, sekarang ayo katakan pada ku, kita ini sekarang lagi di mana?" tanya Naira saat ia ke luar dari dalam mobil, dengan Pram yang menggenggammm jemarinya.
"Saat ini kita sedang berada di Istana Shuri, salah satu warisan budaya Jepang yang telah di jadi kan situs warisan dunia olehย United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizationย (UNESCO)."
"Kenapa bisa menjadi warisan budaya, ka?" tanya Naira saat diri nya kini berada di area Istana, ia menatap dengan takjub, ke indahan istana itu.
"Ini karena Istana Shuri adalah peninggalan dari Kerajaan Ryukyu. Istana ini cukup unik dan berbeda dari istana istana lain di Jepang yaitu atapnya yang berwarna merah yang cukup mencolok."
"Iya kaka benar, atapnya tadi aku lihat berwarna merah, apa kita boleh masuk ke dalam ka?" tanya Naira lagi saat Pram membawanya masuk ke dalam istana.
"Boleh! Lihat lihat lah sepuas mu, asal jangan merusak barang barangnya!" Pram merangkul Naira, memasuki istana.
Pram dan Naira mengelilingi istana shuri hingga siang menjelang.
"Setelah ini, kita tidak akan kembali ke resort kan ka? Aku masih ingin berjalan jalan." cicit Naira saat ke duanya sudah berada di dalam mobil.
"Memang kau mau ke mana lagi? Apa kaki mu tidak lelah, setelah tadi kita mengelilingi Istana?"
Pram mengerutkan keningnya, "Apa itu mu tidak sakit, sayang?" Pram mengarahkan pandangannya pada bagian inti Naira.
Naira mengerutkan keningnya, "Itu nya apa?" tanya Naira yang tidak mengerti.
"Iya itu mu!" Pram mengulangi perkataannya.
Naira menoleh ke arah Pram, mengikuti arah pandangan Pram.
Prak.
Naira menggeprak lengan Pram, berkata dengan ketus, "Jangan mesummm ka jadi orang tuh! Pikiran si mesummm mulu! Rubahhh mesummm! Otak pun mesummm!" cicit Naira.
Pram menggeleng gelengkan kepalanya, "Astaga kau ini, aku mesummm hanya dengan mu, sayang! Oh iya... apa kau sudah fikirkan untuk melanjutkan pendidikan mu di mana?"
"Apa aku harus mengatakannya pada mu, ka?" ledek Naira.
"Harus dong! Biar Dev yang urus pendaftaran mu, kau tinggal masuk saja saat sudah mulai masa ospek."
"Tapi aku dan ka Pram, yang membeli segala ke butuhan ku selama ngampus ya! Aku gak mau sampe pak Dev yang beli." ucap Naira dengan tegas, ke dua tangan menyilang di depan dada.
Tanpa terasa, kini Pram telah sampai pada tujuan berikutnya. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Tempat apa lagi ini ka?" cicit Naira menatap bangunan megah yang ada di hadapannya kini.
__ADS_1
"Kokusai dori."
Naira mengerutkan keningnya, "Tempat apa lagi ka? Bangunan bersejarah Jepang lagi?" tebak Naira.
Pram merangkul Naira, "Aku jamin, kau pasti akan sangat menyukai tempat ini!" seru Pram.
Naira mengadahkan wajahnya, menatap wajah Pram yang tampak bersemangat, "Kenapa jadi ka Pram yang bersemangat? Apa kaka ingin bertemu dengan seseorang di dalam sana?" tuduh Naira dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kau ini kalo berbicara! Jangan ngaur sayang!" Pram mendaratkan bibirnya di bibir Naira meski hanya sekejap.
"Kaka ihs, depan umum juga!" sungut Naira dengan kesal.
"Sudah jangan merajuk!"
Naira berbinar, melihat banyak penjual yang menjajakan dagangan nya.
"Waaah ka, kita bisa beli apa aja ini mah! Boleh kan aku berbelanja? Aku ingin membelikan oleh oleh untuk sahabat ku, untuk anak anak di kedai. Aku juga ingin beli beberapa untuk mama, papa, Dito, pak Dev, bang Haikal, bang Dega, pak Dedi, ----"
Pram menyela perkataan Naira.
"Semuanya saja kau belikan! Tidak perlu kau absen satu persatu nama mereka!" cicit Pram.
"Hahahhaha, kaka tidak ke beratan kan?" tanya Naira dengan penuh selidik.
"Tidak, beli lah apa pun yang kau mau!" seru Pram.
"Ini baru my hubby!" Naira memeluk lengan Pram, menyandar kan kepalanya pada lengan Pram.
Pram menghujani kecupan di pucuk kepala Naira.
Naira membeli beberapa helai dress, untuk Novi dan Serli.
"Jangan warna itu, kau lebih cocok dengan warna ini!" protes Pram saat melihat Naira, mengambil dress berwarna orange dan kuning.
"Ini buat Novi dan Serli ka, bukan untuk ku!" kilah Naira.
"Tetap saja!"
Pram menenteng paper bag dengan 3 dress di dalamnya.
"Ini seperti mall ya ka!" cicit Naira.
"Kokusai Dori adalah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam jenis oleh oleh seperti souvenir, toko pakaian, butik, dan lain lainnya. Tidak hanya itu saja, di sini juga tersedia cafe, restoran, dan bar." terang Pram panjang dan tebal.
"Ayo kita ke restoran dulu! Kau pasti lapar!" Pram membawa Naira memasukiii salah satu restoran.
Ke duanya duduk saling berhadapan, setelah makanan yang di pesan Pram sampai di meja. Naira menikmatinya dengan lahap, untungnya Naira tidak memilih milih dalam hal makanan.
Pram menajamkan matanya, saat melihat seorang pria yang mencuriga kan, tengah menatap Naira dari meja yang tidak jauh dari meja yang ia tempati.
Dari meja lain, aku rasa itu, wanita yang di maksud Nona Harumi?
......................
__ADS_1
...๐ Bersambung ๐...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ๐คญ๐คญ