Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
CCTV


__ADS_3

...💖💖💖...


Pak Dedi membola, apa aku tidak salah dengar, pak Pram memanggil Nona dengan kata sayang? Apa itu artinya Tuan Pram pada Nona?


Pram menatap CCTV yang ada di dalam kamarnya, "Apa? Tidak mungkin!"


Pak Dedi mengikuti arah pandangan Pram, berbeda dengan reaksi Pram. Pak Dedi justru menarik sudut bibirnya ke atas. Nona Muda yang satu ini ternyata benar benar sudah mempersiapkan diri, ada ada saja pemikiran Nona Muda.


Pram ingin memastikan apa yang terjadi dengan CCTV yang ada di kamarnya.


"Dedi! Bawa tangga ke sini!" Perintah Pram.


"Buat apa, Tuan?" Tanya Dedi.


"Tidak usah banyak tanya! Cepat bawa ke sini!" Pram memasukkan satu tangannya ke saku celana.


"Baik, Tuan." Pak Dedi meninggalkan kamar Tuannya dan menuju gudang untuk mengambil tangga.


Pram berjalan ke luar, berdiri di pembatas dinding tangga dengan suara yang menggelegar.


"Haikal! Dega!" Pram memanggil ke 2 anak buahnya yang paling di andalkan.


Haikal dan Dega berlari menaiki anak tangga, di saat ke duanya sudah berdiri di depan Pram.


"Ada apa, Tuan?" Tanya Haikal mewakili Dega.


Bagaimana cara mereka bekerja hah! Menjaga 1 wanita saja tidak becus! "Setelah kembali mengantar Nona Muda kalian, kalian berdua ke mana saja, hah!" Pram membentak ke duanya dengan tangan mengepal.


"Kami tidak kemana mana, Tuan... setelah pulang ke rumah, Nona Muda tidak ke luar rumah." Terang Haikal.


Pram menatap tajam keduanya, jika benar apa yang mereka katakan, lalu di mana bocah nakal itu?


"Maaf, Tuan... memang apa yang terjadi dengan Nona Muda?" Tanya Dega.


"Dia tidak ada di kamarnya!" Pram berjalan ke dalam kamarnya.


Haikal dan Dega mengikuti langkah Pram.


Haikal membatin, perasaan gw setelah pulang dari kedei, Nona Naira gak ke luar rumah lagi!


Dega membatin, jika Nona Naira gak ada di kamarnya, lalu Nona Naira ke mana ya?


"Apa Tuan sudah mencarinya di setiap ruang?" Tanya Haikal.

__ADS_1


"Coba saja kalian cari! Jika kalian bisa menemukannya, ku berikan kalian bonus." Pram melipat ke dua tangannya di depan dada dengan meremehkan ke duanya. Bagai mana bisa kalian menemukannya, jika aku saja tidak menemukan keberadaan bocah itu.


Haikal dan Dega pun lantas mencari keberadaan Nona Muda nya di setiap sudut ruang yang ada di kamar itu.


Dega dan Haikal kembali menghampiri Pram, "Kami tidak menemukannya, Tuan!" Seru Haikal.


"Kalian bodohhh mencari satu orang Nona Muda saja tidak becus, bagai mana cara kalian menjaganya hah?" Pram.


Dega membatin dengan mata mengedar ke setiap ruang, haiiih jika kami tidak becus mencari dan menjaga Nona Muda, bagai mana dengan Tuan sendiri? Ini pasti karena kelakuan Tuan, hingga Nona memilih menghilang dari kamar ini.


"Maaf, Tuan... kami lalai menjaga Nona." Seru Haikal lagi dengan kepala yang tertunduk.


"Apa Tuan tidak bisa melihat Nona dari CCTV? Kita bisa saja kan mencari Nona lewat CCTV kamar ini?" Tanya Dega dengan wajah sumringah, cara ini pasti akan berhasil, Nona Muda pasti akan cepat di temukan.


"Maaf Tuan, ini tangganya." Ucap pak Dedi dengan membawa tangga ke kamar Tuan nya Pram.


Haikal dan Dega tampak bingung dengan tangga yang di bawa Pak Dedi. Mereka berdua saling pandang, bertanya lewat sorot mata, untuk apa tangga itu?


Seperti tahu dengan isi kepala Haikal dan Dega.


"Kalian Tunggu apa lagi? Cepat kalian periksa CCTV itu!!" Pram menunjuk ke arah CCTV yang di maksud.


Dega dan Haikal berseru, "Baik, Tuan!"


Haikal menajamkan penglihatannya, kenapa bisa ada plester di CCTV ya? Apa ini kerjaaan Nona? Atau ini kerjaannya pak Pram?


Haikal menyerahkan CCTV itu pada Pram, Pram memperhatikan CCTV yang kini berada di tangannya, Pram.


Wajah pak Dedi nampak pias, melihat CCTV yang kini ada di tangan Pram. Jangan sampai Tuan curiga, aku tidak akan bisa bayangkan jika Tuan sampai menemukan Nona.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas, "Kalian bertiga ikut aku!"


Pram duduk di sofa, di ikuti ketiganya.


Pram menyalakan laptopnya di atas meja, "Kalian perhatikan baik baik!"


Kini mereka memperhatikan semua CCTV yang ada di kediaman Pramana.


Tampak tidak ada yang mencurigakan, "Pusatkan perhatian kalian pada Naira!" Pram memperingatkan kembali anak buahnya.


Kita perhatian mereka mengarah pada pak Dedi di saat pria paruh baya itu menyerahkan kunci pada Naira.


"Dedi!" Pram menyebut nama Dedi dengan dingin.

__ADS_1


"Saya, Tuan!" Seru pak Dedi, "Saya tidak tahu apa apa, Tuan!" Mati lah aku kalo begini, Nona tolong ke luar lah dari persembunyiannya anda.


Anak itu sudah aku bela belain langsung pulang ke sini ternyata ini yang aku dapat? Dalam pikiran ku... dia tergeletak tidak sadarkan diri karena kelaparan, tapi ternyata dia sudah makan dengan lahap pula, awas kamu ya bocah nakal!


Haikal membatin, astaga Nona Muda tingkah mu ini mengancam banyak nyawa!


Dega membatin, ahahaha gila istrinya Tuan Pram yang satu ini... memang gak ada tandingannya.


Naira masuk ke dalam kamar, terlihat jelas Naira menatap ke arah CCTV yang berada di kamarnya.


Haikal tercengang, "Tuan Pram! Itu benar benar Nona Muda kan?"


"Astaga Nona Muda lihai sekali, Tuan! Coba lihat itu bagai mana caranya menarik meja rias itu?" Seru Dega.


"Kalian banyak bicara!"


CCTV di dalam kamar memperlihatkan bagaimana Naira menarik meja rias itu hingga sampai di titik letak CCTV kamar berada, tidak lupa ia juga menarik kursi riasnya lalu meletakkannya di atas meja.


Masih terlihat jelas Naira menaiki meja rias itu dengan kesulitan apa lagi dengan kakinya yang masih di gips, tanpa memperdulikan keselamatannya, Naira menaiki kursi rias itu dengan tangannya yang meraih CCTV.


CCTV menjadi gelap tidak bisa memperlihatkan apa pun.


Kini Pram memperhatikan CCTV lain yang ada di kediaman Pramana, berpusat pada pintu utama, dapur, pintu samping.


"Sepertinya Nona tidak pernah meninggalkan rumah ini, Tuan!" Seru Haikal.


"Lalu kemana Nona bersembunyi, Tuan?" Kini Dega yang bertanya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau tahu sesuatu, Dedi?" Tanya Pram.


"Maaf, pak... saya sudah berjanji pada Nona untuk tidak mengatakannya pada bapak." Ujar pak Dedi, ingin mengaku tapi bagai mana dengan janjinya pada Nona Muda nya. Ingin tutup mulut, bagai mana dengan nyawanya, sungguh malang nasib mu Dedi, berada di ambang kebingungan.


Haikal, Dega, Pram masih terfokus pada cctv.


Sedangkan pak Dedi menundukkan kepalanya takut pada Pram.


"Itu, pak bos!"


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2