
...πππ...
"Bos sedang sibuk dengan telponnya, bagai mana dengan orang mu yang ada di lokasi?" Tanya Haikal mengenai pengawal bayangan yang di tugaskan untuk memantau Nona Muda-nya Naira.
"Aman, tidak ada masalah." Ujar Dega.
"Apa yang akan bos lakukan pada Tuan besar ya?" Tanya Haikal.
"Bos itu terlalu lama mengulur waktu, yang ada jadinya seperti ini kan!" Oceh Dega.
"Yah kau benar, aku rasa saat ini bos sedang meragu, jauh dari sifat bos kan!" Seru Haikal.
Dari belakang mereka berdua, sorot mata tajam mengarah pada ke duanya dengan tangan yang mengepal.
Benar apa yang di katakan Dega dan Haikal, aku sudah terlalu baik membiarkan pria tua itu hingga bertindak sejauh ini!
"Ehem." Pram berdehem.
Dega dan Haikal menoleh ke arah belakang mereka, asal suara deheman.
"Bos?" Tanya Dega dengan mata yang membola.
Haikal membatin, sejak kapan bos berdiri di sana? Apa bos mendengar apa yang kami bicarakan?
"Buatkan aku kopi dan bawa ke ruangan ku!" Perintah Pram dingin dan kembali menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Siap bos!" Haikal bergegas membuatkan kopi yang di minta Pram.
"Apa bos mendengar pembicaraan kita?" Tanya Dega yang mengekori Haikal menuju dapur.
"Menurut mu, bagai mana?" Haikal malah memberikan pertanyaan pada Dega.
"Aku rasa bos mendengar pembicaraan kita tadi." Tangan Haikal dengan cekatan membuatkan secangkir kopi hitam untuk Pram.
Di kamar atas, tempat Pram berada.
Dengan hapenya Pram memberi perintah pada orang kepercayaannya untuk mengakuisisi perusahaan Aji.
"Akuisisi perusahaan tua bangku itu sekarang juga! Buat tua bangka itu benar benar miskin." Ujar Pram dengan suaranya yang tegas.
Pram mengakhiri panggilannya dengan orang itu dan kembali menelpon seseorang lagi.
[ "Ada apa Tuan menghubungi saya?" ] Suara seseorang yang sangat di kenal oleh Pram menjawabnya dari sebrang sana.
"Saatnya kau gunakan obat itu, buat wanita ular itu tidak bisa lagi melihat matahari terbit!" Seru Pram dengan tegas, tangannya mengepal.
[ "Siap, tuan." ]
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendengar ada kegagalan!"
[ "Tuan tenang saja, aku pastikan aku tidak akan mengecewakan Tuan." ]
Pram mengakhiri panggilan teleponnya dan mendudukkan dirinya di sofa yang ada dalam kamar itu dengan punggung yang menyandar dan mata yang terpejam.
Tidak lama lagi bu, wanita ular itu akan menemani mu, kau tidak akan lagi kesepian dalam tidur mu. Apa perlu ku habisi pria tua bangka yang menjadi cinta pertama mu, bu?
Tok tok tok tok.
"Tuan, ini saya. Boleh saya masuk?" Tanya Haikal yang berada di depan pintu.
"Masuk lah!" Seru Pram.
Haikal masuk ke dalam dan menaruh secangkir kopi pada meja di depan Pram.
"Kopinya, Tuan!" Seru Haikal.
Pram membuka ke dua matanya, "Duduk lah, ada yang ingin aku bicarakan pada mu!" Dengan tangan kanannya Pram mengambil secangkir kopi yang ada di atas meja, mengangkat satu kakinya dan bertumpu pada kaki yang lain.
"Bagai mana dengan orang mu yang ada di lapangan?" Tanya Pram setelah menyeruput kopinya.
"Masih aman, Tuan."
"Awasi Naira dan tambah pengawal bayangan pada dirinya, aku tidak ingin musuh sampai menyentuh barang seujung kuku pun dari bocah itu!" Tatapan mata Pram tajam ke depan.
"Aku hanya tidak ingin kau kecolongan lagi, Haikal! Ingat itu!" Seru Pram dingin, mengingat Haikal lalai hingga membuat musuhnya berhasil menarik lengan Naira meski tidak berhasil membawa Naira.
πDi tempat lainπ
Musuh itu tidak datang dari pihak Pram saja, tapi dari teman Naira yang pada dasarnya sudah ada rasa tidak suka pada diri Ratna untuk Naira.
Di tambah lagi melihat Naira begitu di sayangi teman dan guru guru, sedangkan Ratna hanya memiliki satu teman yang dekat dengannya itu pun kini sudah menjaga jarak pada Ratna.
Di taman sekolah Ratna dan Daren berada, di bawah pohon besar Daren mengutarakan rasa hatinya pada Ratna.
Ratna yang duduk bersebelahan dengan Daren menatapnya dengan tanda tanya.
"Lo mau ngomong apa sih, Daren?" Tanya Ratna, harusnya gw bisa ngejalanin ide gw buat ngancurin nama Naira, sayangnya lo ngajak gw kesini!
Daren berdiri dari duduknya melangkah dari tempat ia berpijak, "Kita putus aja Ratna... gw gak bisa lagi pura pura cinta sama lo!" Oceh Daren dengan suaranya yang tegas.
"Lo gak serius kan, Daren?" Ratna bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang Daren menatap punggung Daren yang bidang di balik seragam sekolahnya.
Daren membalikkan tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan, "Gw serius dengan ucapan gw, kita akhiri hubungan kita sampae di sini!"
Ratna menggeleng gelengkan kepalanya, "Gw gak mau kita putus, Daren... lo jangan mainin perasaan gw Daren, gw cinta sama lo!" Gak mungkin kan gw lepasin tambang emas gw! Ratna menggenggam tangan Daren, "Gw gak mau kita putus!" Ke dua mata Ratna mengembung.
__ADS_1
Daren melepaskan genggaman tangan Ratna dari tangannya, "Sorry, gw gak bisa bertahan dengan hubungan yang palsu!" Daren hendak melangkah meninggalkan Ratna.
Bulir bening menetes dari pelupuk mata Ratna, gw gak bisa lepasin lo, Daren! Meski lo bilang hubungan kita ini palsu.
Grep.
Ratna memeluk Daren dari belakang dan melingkarkan ke dua tangannya pada tubuh tegap Daren, "Gw gak mau lo putusin, Daren... hubungan ini masih berlanjut, gw pengen selamanya bersama dengan lo!" Dengan begini, lo pasti akan mengiba dan gak akan tega lihat air mata buaya gw! Ratna menyeringai.
Daren menyingkirkan ke dua tangan Ratna dari pelukannya, gw gak bisa seperti ini terus, gw harus bisa rebut Naira dari tangan Pram.
Tanpa menoleh atau pun menatap Ratna, "Gw gak bisa!" Daren langsung pergi meninggalkan Ratna.
"Daren! Daren, lo gak bisa giniin gw!" Ratna mengejar Daren dan menggenggam erat tangan Daren, "Please liet gw, Daren! Gw gak bisa tanpa lo!" Seru Ratna dengan terisak.
"Jalan lo masih panjang meski tanpa gw!" Daren menepis lagi tangan Ratna.
Daren berlari ke kelas dan membawa tasnya meninggalkan kelas.
"Kenapa itu anak?" Gumam Sopur yang melihat Daren ke luar dari kelas dengan membawa serta tasnya.
Tidak berapa lama Juni memasuki kelas, "Lo, tas Daren mana ini? Ko gak ada!" Juni celingukan mencari tas Daren yang tidak ada di tempatnya.
Sementara Naira, Serli, Novi dan Elsa masih betah di kantin menemani Naira yang belum selesai dengan makan siangnya setelah menyantap bakso, menghabiskan sepiring somay, burger, roti bakar, kini di hadapan Naira masih ada semangkuk es teler dan sepiring dimsum dengan bermandikan saus pedas yang menggugah seleranya.
"Lo yakin bisa ngabisin ini Nai?" Tanya Serli dengan menelan salivanya.
Novi geleng geleng kepala, "Perut lo berubah jadi melar banget kali ya, Nai?"
"Rekor ini mah!" Seru Elsa.
"Gak tau nih, perasaan gw lagi kepingin makan aja, lo gak pengen apa ikut makan? Gw yang bayar deh, pesen gih sana!" Gumam Naira dengan mulut yang memakan dimsumnya.
Novi menoleh pada Serli dan Elsa, "Lo mau?" Tanya Novi.
"Boleh deh, tapi barengan aja ya!" Ujar Serli dan di angguki kepala oleh Elsa.
Novi berjalan menuju stand bu Rumi dan memesan dimsum untuk mereka bertiga, "Bu saya mau dong, satu porsi ya!" Seru Novi yang berdiri di stand bu Rumi.
"Buat neng Naira lagi, neng?" Tanya bu Rumi.
"Gak, ini buat saya sama yang lain." Ujar Novi.
"Kirain buat neng Naira lagi." Bu Rumi tampak menoleh kiri dan kanannya lalu berbisik pada Novi, "Neng Naira tidak sedang hamil kan, neng?" Pertanyaan keluar begitu saja dari Bu Rumi.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π