
...💖💖💖...
Bugh.
Punggung Naira mentok di pintu.
Ke dua mata Naira menatap Pram yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan di tambah bibirnya yang menyeringai membuat nyali Naira menciut seketika.
Aduh sial, kenapa gini sih! Ka Pram gak marah kan? Tadi aku juga ga sengaja dengernya, tapi siapa yang mau ka Pram habisiii?
Tangan Pram terulur menyentuh pipi Naira dengan lembut dan satu tangannya merengkuh pingggang Naira dan membawanya dalam pelukannya, "Apa ada yang ingin kau tanyakan, sayang?" Tanya Pram dengan berbisik di telinga Naira.
Ke dua tangan Naira menahan dada Pram yang bidang, "I- itu, a- apa maksud kaka menghabisiii orang?" Aku harus bertanya, aku tidak akan membiarkan ka Pram mengotori tangannya, ia tidak boleh, aku tidak boleh membiarkan ka Pram terperosok dalam jurang kekejamannn nya.
Cup.
Pram mengecup kening Naira.
"Aku tidak akan bersikap kejam pada mu, jika kau menurut pada ku, selama ini apa aku terlihat kejam di mata mu hem?" Tanya Pram dengan menatap dalam bola mata Naira.
Naira menggelengkan kepalanya, menatap mata elang Pram yang menatapnya dalam ke lembutan.
Selama ini ka Pram tidak kejammm pada ku, hanya mesummm, rubahhh mesummm dan posesif ya ka Pram posesif jauh dari kesan kejammm.
Tak.
"Awhh." Naira mengaduh.
Pram menjitak kening Naira.
"Katakan dengan bibir mu, bukan dengan hati mu sayang!" Seru Pram dengan mencuwil hidung Naira.
"Benerkan ka Pram bisa baca isi hati ku? Ajarin ka! Aku juga mau seperti kaka, bisa membaca pikiran orang dan hati orang lain!" Naira merengek dengan bibir yang mengerucut.
Hap.
"Akkhh ka, aku bisa jalan sendiri!" Naira menolak untuk di gendong Pram saat ke dua tangan kekar Pram membawanya ke luar dari ruang kerjanya menuju lift.
"Tidak akan!" Aku harus mengalihkan perhatian mu agar kau lupa dengan apa yang kau dengar tadi di ruang kerja ku!
"Ihs aku bisa jalan ka!"
Sampai di dalam lift pun Pram tidak menurunkan Naira dari gendongannya.
Dengan ke dua tangan yang melingkar di leher Pram, Naira menatap wajah Pram yang tampan berkarisma.
Rasa penasaran dalam diri Naira menyeruak, aku harus dapat jawaban dari ka Pram, siapa orang yang ingin mencelakai ka Pram, apa alasan orang itu.
__ADS_1
Tanpa menoleh pada Naira, Pram membuang nafasnya dengan kasar, anak ini benar benar sulit di kendalikan saat sedang datang tamu bulanan nya! Kapan tamu bulanan nya cepat usai!
"Siapa orang itu ka? Kenapa dia ingin mencelakai kaka dengan sengaja? Apa kaka duluan yang sudah menyakitinya?" Entah ke beranian dari mana atau emosinya yang tidak labil saat datang bulan membuat Naira mencecar Pram dengan pertanyaan yang membuatnya mendapat tatapan tajam dari Pram.
Pram tidak menjawab pertanyaan Naira, Pram mengabaikan dengan memberikan pertanyaan lain pada Naira, "Sarapan apa yang kau buat untuk ku hem?" Tanya Pram dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Ihs jawab dulu pertanyaan ku, kaaa!" Rengek Naira dengan wajah memelas.
Kening pak Dedi mengkerut saat mendengar seruan Nona Muda-nya, "Selamat pagi Tuan, Nona!" Seru pak Dedi, eh apa itu Nona sedang merajuk?
"Hemm." Hanya deheman yang ke luar dari mulut Pram.
Jika saat membuat sarapan mood Naira sedang baik, berbanding terbalik saat Naira akan menyantap sarapan yang sudah ia buat sendiri.
Dengan malas tangannya menyuapkan sesendok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Pram menatap Naira dengan menarik sudut bibirnya ke atas, dasarrr bocah. Kenapa juga aku tidak bisa marah saat ia tidak sengaja mendengar perkataan ku tadi? Biasanya aku akan marah tapi tidak dengan dirinya.
"Apa lihat lihat?" Tanya Naira dengan ketus dengan mulut yang sambil mengunyah.
Pak Dedi dan beberapa pelayan yang melihatnya di buat geleng geleng kepala melihat tingkah laku Nona Muda-nya.
Pak Dedi membatin, hanya Nona saja yang berani bersikap seperti ini pada tuan Muda.
"Astaga Nona, tadi saja terlihat riang saat membuat sarapan, sudah membuat dapur berantakan dan saat tengah sarapan pun anda masih ingin mengajak Tuan Muda bergeluttt? Terbuat dari apa nyali mu Nona!" Gumam asisten koki dengan suara pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya pak koki yang berdiri di samping asistennya.
"Tidak ada, pak koki!" Serunya.
"Selamat pagi Nona, Selamat pagi bos!" Sapa Haikal dengan senyum yang mengembang saat membukakan pintu mobil untuk Tuannya Pram dan Naira.
Naira yang sedang cemberut langsung berubah wajahnya saat melihat hal berbeda dari Haikal.
"Bang Haikal habis dapet lotre ya?" Tanya Naira dengan mendudukan dirinya di kursi belakang.
Pram mendudukan dirinya dengan mengerutkan keningnya, ternyata Naira juga menyadari perubahan pada diri Haikal. Apa ini karena pengaruh temannya Naira?
Haikal mendudukan dirinya di belakang kemudi, "Memang saya kenapa, Nona?" Tanya Haikal dengan melajukan mobilnya.
"Tampak senang gitu!" Seru Naira dengan menyandar kan dirinya di sandaran kursi dan menatap malas pada Pram, aku masih marah sama kaka, bete kan jadinya. Di tanya ngelak mulu.
Sreek.
__ADS_1
Pram menarikkk lengan Naira hingga ia duduk merapat dengan Pram, Pram merenggkuh bahu Naira, tangan satunya terulur membawa wajah Naira untuk menatapnya.
"Bersikap biasa saja itu jauh lebih baik untuk mu! Cukup dengarkan apa yang aku katakan tanpa banyak bertanya! Mengerti!" Ujar Pram yang tidak ingin di bantah oleh Naira.
Naira mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang berusaha melepaskannn diri dari rengkuhan tangan Pram, "Terserah aku! Ini bibir ku, wajar aku bertanya, aku ini istri mu bukan boneka mu! Yang hanya bisa diam tanpa bersuara!" Ucap Naira dengan tegas, mengingatkan Pram akan status Naira di mata Pram.
Tanpa di beri tahu pun Haikal tahu jika Nona dan Tuan Muda-nya kini dalam mood bertengkar.
Entah apa yang menjadi akar permasalahannya, yang pasti Naira dalam mood yang tidak mau mengalah sedangkan Pram dalam mood berusaha bersabar menghadapi tingkah Naira.
Haikal melirik ke arah belakang lewat kaca spion mobil, ada apa lagi ini? Biasanya Nona dan Tuan tampak akur akur saja selama ini.
Sreek.
Pram membuang nafasnya dengan kasar dan membawa Naira ke dalam pangkuannya dengan memeluk erat perut Naira.
"Ihsss nyeselin banget sih! Gak denger apa kalo aku bilang lagi ngambek sama kaka!" Gerutu Naira dengan memalingkan wajah ke arah luar kaca mobil sedangakan jemarinya dengan usil mencubiti tangan Pram yang melingkar di perutnya.
Pram membiarkan Naira melakukan, selama bibirnya tidak lagi mengoceh kesel itu sudah cukup untuk Pram.
Pram menatap tajam pada Haikal, "Haikal, pertambah jumlah pengawal bayangan untuk Naira, di mana pun Naira berada kalian harus bersiap untuk apa pun resikonya!"
"Baik bos!" Seru Haikal tanpa banyak berrtanya.
Naira menoleh ke arah Pram, "Jadi aku pulang sekolah bisa kan gak langsung kembali ke kediaman Pramana? Aku ingin ke kedei!" Seru Naira dengan mata yang berbinar berharap Pram memberinya izin.
Pram tidak menjawab, hanya jemarinya mengarah dan menunjuk ke arah pipinya dan bibirnya.
Cup.
Cup.
Naira mengecup sekilas bagian yang Pram tunjuk.
"Jadi boleh kan ka?" Tanya Naira memastikan lagi.
Pram tidak menjawab dan mengarahkan jari telunjuk kanannya ke depan bibirnya.
"Ihs nyebelin banget sih!" Tapi gw harus ke kedei, biar gw bisa omongin bang Angga buat cariin tempat, gw kan mau punya kedei lagi hehehe sayang ini konsep udah mandek di kepala minta di realisasikan.
Pram mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tidak meminta pendapat ku hem?"
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉