Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Rejeki


__ADS_3

...💖💖💖...


Panggilan telpon di akhiri Pram. Lalu Pram menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


Pram melihat Naira yang tengah duduk dengan punggung tegak, kepalanya condong ke arahnya, sedangakan matanya dan tangannya fokus pada seblak. Hingga mulutnya tetap mengunyah seblak.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Pram.


Aku menoleh ke arahnya, aduh mampusss gw, pake ada acara kepergok lagi.


"Hihihi, gak ada ko!" Seru ku, "Ko udah telponannya?"Tanya ku.


Pram memicingkan mata dengan ke dua tangan yang di lipat di depan dada, anak ini bertingkah aneh.


Pram mencondongkan wajahnya dan menempelkan keningnya dengan kening ku, "Apa yang sedang kau pikirkan? Anak nakal!"


Ku mundurkan wajah ku, "Ti- tidak ada."


"Lanjutkan makan mu, kita harus cepat kembali." Ucap Pram dingin lantas mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang kertas merah di atas meja.


"Itu gak salah ka?" Tanya ku melihat uang yang di letakkan Pram di atas meja.


"Tidak."


"Tapi yang harus kaka bayar, jumlahnya gak sebanyak itu loh!" Seru ku sambil menyantap seblak.


"Uang ini tidak seberapa bila di bandingkan dengan mu!"


Serli yang mendengar langsung julid "Ciyeeee, yang dari tadi mesra mesraan aja... kita mah apa gitu." Celetuknya.


"Kita ngontrak, Ser!" Seru Novi yang ikut menimpali.


"Apaan sih! Pada ngaco deh, siapa juga yang mesra mesraan." Umpat ku.


Pram langsung menggendong tubuh ku.


"Ka, belum selesai makannya!" Rengek ku.


"Bu, bungkus satu ya! Bawakan ke mobil." Ujar Pram yang lantas nyelonong meninggalkan Novi dan Serli yang masih melongo di buatnya.


"Siap, den!" Si ibu penjual lantas membuatkan seblak yang di minta Pram untuk di bawa pulang.


Novi menyenggol lengan Serli, lalu menunjuk ke arah meja dengan sorot matanya, "Gila, kalo orang punya banyak duit, duit sebanyak itu ora ternilai."


"Makanya lu cari jodoh modelan pak Pram, ora perlu susah susah kerja lagi lu!" Seru Serli.


"Atuh eneng, emang yang tadi siapanya neng Nai?" Tanya si ibu penjual seblak dengan tangan yang masih sibuk mengaduk seblak yang masih ada di wajan.


Dengen yakinnya Novi menjawab, "Oh, itu su--"


"Suntuk bu, cepetan ya bu, jangan lama lama buat seblaknya." Serli memotong ucapan Novi yang hampir keceplosan ingin mengatakan suami.


Novi menoleh ke arah Serli dan Serli tengah menatapnya dengan mata melotot.

__ADS_1


Serli berbisik pada Novi, "Mao mati lu?" Ocehnya.


"Gw lupa, dodol." Elak Novi.


Si ibu penjual seblak geleng geleng kepala, dasarrr anak gedongan... aneh aneh aja tingkahnya, baru pacaran udah ngaku suami, "Ini sedikit lagi, seblaknya jadi ko neng!"


Novi dan Serli kembali ke mobil dengan membawa seblak yang di minta Pram. Si ibu pun senang bukan main saat tahu Pram membayar seblaknya dengan uang yang banyak.


"Pak! Makasih yooo, jangan lupa dateng lagi makan seblak!" Seru si ibu dengan wajah sumringah.


Pram hanya mengangguk kecil dari belakang kemudi mobil dengan kaca mobil yang masih di turunkan.


"Tau gak ka, emak seblak mikir itu udah kaya ketiban rejeki!" Seru ku.


"Bagus dong, ketiban rejeki." Timpal Pram.


Novi dan Serli pun masuk ke dalam mobil, mereka kembali menuju kediaman Pramana.


"Besok lu sekolah kan Nai?" Tanya Serli.


"Masuk dong!" Seru ku sambil menoleh ke belakang.


"Siapa yang mengizinkan mu?" Tanya Pram dingin tanpa menoleh.


"Emang harus pake izin?" Tanya ku yang kini kembali duduk menghadap depan dengan kepala menoleh ke arah Pram.


Serli dan Novi saling beradu pandang dengan sama sama mengangkat bahu.


Pram menghela nafas dengan berat.


"Aku sudah tidak apa apa." Ujar ku.


"Emang lu, kenapa Nai?" Tanya Serli.


"Gak apa apa ko." Jawab ku berbohong.


"Asmanya kambuh." Celetuk Pram.


"Lu punya asma, Nai?" Tanya Novi.


"He'em."


"Kalian tidak tahu?" Kini Pram yang bertanya dengan melihat dari kaca spion mobil.


Serli dan Novi menggeleng.


Pram menatap tajam ke arah Naira, apa aku sebegitu menyeramkan hingga membuat asma stesnya kumat?


"Lu bener udah ga apa apa, Nai?" Tanya Serli.


"Udah gak apa ko!"


Beberapa hari kemudian Naira di sibukkan kembali dengan kegiatan sekolahnya, sedangkan Pram di sibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat, intensitas pertemuannya dengan Naira pun terbatas hanya di saat pagi hari untuk sarapan bersama dan sore hari di saat Pram pulang dari kesibukannya.

__ADS_1


Satu hari menjelang opening Hotel Start.


Naira menatap indahnya langit malam yang di hiasi bintang dari atas balkon kamar Pram, kamar yang kini menjadi kamarnya juga.


"Gak terasa yah, gw tinggal di sini udah hampir 2 minggu. Cepet cepet waktu berlalu." Gumam ku dengan ke dua tangan memegang dinding pembatas balkon.


Pram masuk ke dalam kamar setelah urusannya dengan Dedi selesai.


Pram menatap punggung Naira yang tengah berdiri di balkon.


Pram menghampiri Naira dan di saat dirinya sudah berada dekat dengan punggung Naira, Pram melingkarkan ke dua tangannya di pinggang ramping gadis remaja yang menjadi istrinya.


"Ada apa?" Tanya Pram dengan dagu yang bersandar pada pundak Naira.


"Gak terasa ya, aku jadi istri kaka sudah hampir 2 minggu." Ujar ku yang hanya menoleh sekilas ke arah Pram.


"Oh."


"He'em."


Pram bicara dengan serius, "Ada yang ingin aku bicarakan pada mu!" Pram membalikkan tubuh Naira dan kini keduanya saling berhadapan.


Ke dua tangan Pram menengger di pinggir Naira.


Dalam diam Pram menatap dalam mata indah Naiar yang kini menatapnya. Apa anak ini akan mengerti jika aku mengatakannya? Pram tampak ragu untuk mengatakannya pada Naira, gadis labil yang di nikahinya dengan cara liciknya.


Ka Pram mau ngomong apaan ya? Kayanya serius banget, "Katanya mao ngomong, ko sekarang malah diem?" Tanya ku.


"Aku minta pada mu, jangan pernah percaya dengan apa yang kau lihat, dengan apa yang kau dengar... cukup percaya dengan apa yang aku katakan pada mu." Pram bicara dengan serius.


Aku hanya bisa mengerutkan kening, berusaha mengartikan perkataan ka Pram, maksudnya apa ya? Jangan percaya dengan apa yang ku lihat, jangan percaya dengan apa yang ku dengar.


Pram bertanya lagi dengan ke dua tangan menangkup ke dua pipi ku, "Apa kau mengerti dengan apa yang aku katakan, hem?"


"Boleh aku berkata jujur?" Tanya ku dengan polosnya.


"Apa?"


"Ka Pram lagi ngomongin apa sih?"


Pram mencuwil hidung ku, "Cukup percaya dengan apa yang aku katakan."


Pram membawa ku dalam gendongannya dan membawa ku ke arah tempat tidur yang cukup besar untuk kami berdua.


"Tapi aku masih tidak mengerti apa maksud perkataan mu ka!" Seru ku dengan tangan usil menowel pipi Pram yang halus dan mulus.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku menghadiri acara penting bersama dengan wanita cantik?" Tanya Pram


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2