
...πππ...
Kening Naira mengkerut, "Emang nya aku kenapa? Gak sakit kok di tanya baikan?"
"Tadi mood mu itu sedang buruk, tiba tiba saja menangis!" Seru Pram yang kini tahu alasan Naira bad mood.
"Ihs kaka aja yang gak ingat jadwal aku bad mood, kan payah!" Naira mencubit pinggang Pram dengan gemes.
Tidak lama mobil memasuki area hotel, pintu di buka oleh seseorang yang sudah berdiri menyambut ke datangan bosnya.
"Selamat siang, bos!" Serunya saat Pram ke luar dari mobil.
Pram mengulurkan tangannya, meminta Naira untuk ke luar dari dalam mobil.
Haikal menoleh ke belakang, "Sudah tidak apa Nona, kau ikut lah dengan bos!" Seru Haikal.
Naira gugup dan bingung bercampur menjadi satu, ini kali pertamanya Naira di bawa ke tempat kerja oleh Pram.
Naira memantapkan hatinya, lo pasti bisa Nai, buktiin lo kuat, super women hahahha.
Pram melangkah bersama dengan Naira memasuki lobby hotel dengan tatapan aneh mengarah pada Naira.
Pram menggenggam erat tangan Naira dengan Pram yang mengikuti langkah kaki Naira. Sedangkan kantong belanjaan Naira di bawakan oleh Dev.
Karyawan yang tengah berada di lobby hotel mulai berbisik saat melihat orang nomor satu hotel menyambangi hotel dengan membawa gadis muda.
"Siang, pak!" Seru seseorang saat menyapa Pram dengan tubuhnya yang membungkuk hormat.
Pram tampak acuh tidak bergeming, jangan kan membalas sapaan karyawannya, hanya sekedar senyum pun tidak nampak terlihat dari bibir Pram.
Naira justru yang tersenyum ke arah karyawan Pram yang tadi menyapanya, "Kaka jangan gitu ih, orang nyapa ya di balas apa kek gitu! Gak sopan tau!" Gerutu Naira yang tidak segan untuk menegur Pram yang terlewat batas, batas angkuhnya.
Karyawan itu membatin, baru kali ini ada wanita yang tersenyum ramah saat ia sedang bersama dengan pak Pram.
"Siapa itu yang datang bersama dengan pak Pram?" Tanya karyawan lain yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis.
"Mana aku tahu, mungkin saja teman kencannya."
"Aku baru melihat pak Pram membawa wanita muda bersamanya?"
Reina menatap tajam pada sosok Naira, "Cewe muda, paling butuh uang jadi mau ikut dengan pak Pram, cewe bayarannn." Sungut Reina dengan nada meremehkan.
Dev berjalan di belakang mengekori Tuannya dan Nona Muda nya.
Ke tiganya memasuki lift dengan Dev yang berada di depan.
"Ini hotel punya ka Pram?" Tanya Naira.
"80 persen milik ku, 20 persen milik pemegang saham." Seru Pram.
"Kalo yang tadi kita datangi, bukannya itu punya papa Aji?" Naira mendongakkan wajahnya menatap wajah Pram.
Kening Pram mengkerut, "Mudah sekali bibir mu mengatakan dia papa Aji?" Tanya Pram yang seolah tidak suka dengan sebutan Naira untuk Aji, pria yang lebih sering di sebutnya pria tua bangka.
Naira menggerakkan jemarinya pada dada bidang Pram, "Memang itu kenyataannya, darahnya mengalir dalam tubuh mu ka!"
Ting.
Pintu lift terbuka pada lantai paling atas gedung hotel.
"Ini lantai apa lantai ka? Sepi amat!" Seru Naira saat menapaki kakinya pada koridor lantai yang di peruntukan untuk Pram, tidak banyak aktivitas di lantai ini, koridor tampak sepi.
"Maaf, pak... ini punya Nona!" Seru Dev menghentikan langkah Pram.
Pram mengambil alih kantong belanjaan Naira dari tangan Dev. Pram melanjutkan perjalanannya bersama dengan Naira menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
"Ini lantai khusus untuk ku dan Dev, wajar saja jika lantai ini sepi dari aktivitas orang orang!" Pram menggandeng tangan Naira membawanya pada satu pintu ruang tempat kerjanya.
Dev langsung ke dalam ruang kerjanya yang berada tepat di depan lift.
Ceklek.
Pram membawa Naira memasuki ruang kerjanya, ruangan yang besar yang terdapat barang mewah dan artistik dengan warna cat silver.
Pram mendudukkan Naira di sofa, sedangkan dirinya langsung berjalan ke arah lemari besar dan membuka salah satu pintunya, tangannya terulur mengeluarkan kotak obat.
Kabar Naira yang kini menjadi kekasih Pram pun mulai tersebar luas. Dari mulai karyawan Pram hingga sampai ke teman sekolah Naira.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
Naira merogoh saku yang terdapat pada dress yang tengah ia kenakan.
"Mama telpon." Gumam Naira saat tahu siapa orang yang tengah menghubunginya.
Pram mendudukkan dirinya di hadapan Naira di sofa panjang dengan menaruh kotak obat di atas meja depan hadapan Naira.
"Angkat saja, mungkin mama mertua merindukan mu!" Seru Pram yang melepas kancing pada kemejanya, tubuhnya benar benar terasa perih.
"Assalamualaikum, mah." Naira menjawab panggilan telepon mama Heni.
[ "Waalaikum salam, sayang. Kamu gak berangkat sekolah, nak?" ] Tanya mama Heni.
"Lagi izin mah, kabar mama gimana? Sehat kan mah?" Tanya Naira.
[ "Mama sehat sayang, kamu lagi di mana nak?" ]
"Di tempat kerja ka Pram, mah. Tadi habis konferensi pers jadi langsung ke sini."
[ "Kamu gak kangen sama mama, nak?" ]
Pram membatin, enak saja, kau boleh ke rumah orang tua mu tapi itu harus dengan seizin ku, jika aku tidak izin kan. Maka kau tidak akan bisa ke mana mana!
[ "Kapan kapan pulang ya nak ke Bandung, ajak serta suami mu! Sekarang kalian itu kan suami istri, kalo ke mana mana kamu harus izin dulu sama suami ya nak!" ]
"Iya, mah... mah, kabar papa gimana mah? Dito sehat sehat aja kan mah?"
[ "Mereka semua sehat, sayang. Ya sudah ya nak, nanti kita sambung lagi pembicaraan kita ini!" ]
"Iya, mah."
Naira menyimpan hapenya di atas meja yang ada di depannya. Tangannya terulur mengambil kotak obat.
Matanya meringis perih dengan luka yang ada di tubuh Pram.
Tangan Naira mengeluarkan obat salep dari dalam kotak obat. Membuka penutupnya dangan kepala Naira yang geleng geleng.
"Kenapa?" Tanya Pram.
"Aku gak habis fikir aja sama badan kaka yang gede tapi di kerebutin cewek sama emak emak aja nyali kaka ciut." Ledek Naira dengan tangannya yang mengolesi salep pada bagian tubuh Pram yang lecet karena cubitan.
"Kan aku sudah bilang, aku menyakiti mereka ya sama saja aku menyakiti mu!" Pram menatap Naira yang dengan telatennya memberikan tiupan kecil saat salep menyentuh kulit Pram.
"Boleh aku bertanya, ka!" Naira melirik sepintas mata Pram yang tajam.
"Apa?" Tanya Pram datar.
"Boleh kan, kapan kapan aku pergi ke Bandung dan menginap di rumah mama?" Naira mengutarakan keinginannya.
"Boleh tapi nanti saat aku senggang."
"Dih aku kan gak ajak kaka!" Sungut Naira.
__ADS_1
"Tapi tadi kan mama mertua bilangnya aku dan diri mu yang menginap! Apa kau pikir aku ini tidak mendengarnya! Aku mendengarnya dengan sangat jelas!" Oceh Pram yang lantas mengenakan kembali kemeja kerjanya.
"Ah kaka mah, habis ujian sekolah ya ka! Kita berangkat ke Bandung!" Naira menatap penuh harap pada Pram.
"Kita lihat nanti saja!" Pram beranjak menuju meja kerjanya, tangannya terulur mengangkat gagang telpon.
"Dev, suruh bagian disert untuk kirimkan beberapa porsi es krim yang paling favorit di tempat kita ini, ke ruangan ku sekarang juga!" Pram memberi perintah pada Dev yang membuat Naira berbinar senang.
[ "Untuk Nona, pak?" ]
"Iya, memang kau pikir untuk siapa lagi!"
[ "Baik, pak." ]
Naira beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Pram, saat Naira berdiri di depan Pram, Pram langsung menarik tangan Naira hingga Naira jatuh di atas pangkuan Pram.
"Kaka ih, nakal!" Seru Naira dengan manja di saat keinginannya akan es krim sudah ada di depan matanya.
Pram melumattt bibir Naira yang menggoda, tangannya menahan tengkuk leher Naira. Menyesappp bibirnya dan berganti menyesappp lidah Naira. Naira melingkarkan tangannya pada leher Pram menikmatiiii permainan lidah Pram pada mulutnya.
πDi lobby hotelπ
"Bos mu ada kan di dalam?" Tanya Sita pada bagian resepsionis yang sedang berjaga.
"Maaf Nona, hari ini Nona tidak ada janji untuk bertemu dengan Tuan Pram. Nona harus buat janji dulu jika ingin bertemu dengan Tuan Pram." Seru Reina.
"Hei! Saya ini pacar Pram! Apa harus saya membuat janji dulu untuk bertemu dengan pacar saya!" Sungut Sita, sialannn nih resepsionis, gak tau apa gw model terkenal!
Haikal bersama dengan pengawal lainnya yang sedang duduk di sofa merasa terusik dengan kelakuan Sita.
Haikal dan satu temannya beranjak menghampiri Sita yang tengah membuat keributan.
"Ada apa ini?" Tanya Haikal dengan nada suara yang dingin saat sudah berada di samping Sita.
Sita menatap tajam Haikal, "Maaf, saya tidak ada urusan dengan anda. Saya punya urusan dengan pacar saya, Pram! Tapi karyawan bodoh ini menghalangi saya untuk bertemu dengan pacar saya!" Sita mengatakannya dengan sinis.
Reina menatap tajam pada Sita, sialannn gw di kata bodoh, lo juga model paling bodoh yang pernah gw liet!
Haikal geleng geleng kepala, "Silahkan anda ke luar dari hotel ini, Nona!" Haikal mengusir Sita.
"Siapa lo, berani ngusir gw!" Kalo gw gak ketemu Pram, bisa gagal rencana gw.
πVillaπ
Brak.
Aji yang baru saja tiba di villa langsung mendorong pintu rumah utamanya dengan kencang.
"Namiiiiiii!" Suara Aji menggelegar memanggil nama asisten ke percayaannya yang sejak lama ikut dengannya.
Nami berjalan dengan tergopoh gopoh, usianya yang tidak lagi muda seperti dulu. Yang saat di panggil langsung berlari secepat kilat.
"Katakan dengan jujur, Nami!" Aji menatap tajam pada Nami, sosok yang sudah ia percaya layaknya saudara sendiri, namun seketika hatinya di buat bimbang dengan apa yang baru saja ia lihat dengan bukti CCTV yang Pram perlihatkan hari ini.
"Apa Tuan?"
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ
__ADS_1