
...💖💖💖...
Sementara Dev menatap Pram dengan penuh selidik. Membuat Pram menegurnya.
"Untuk apa kau menatap ku seperti itu, Dev!" Sungut Pram.
"Tuan sedang berkilah? Jangankan saya, anak kecil saja sudah dapet menebak jika Tuan sedang berkilah." Ejek Dev.
"Sudah sana ke luar! Secepatnya cari tahu ke mana Naira pergi untuk acara perpisahan sekolahnya itu! Jangan lupa sewa villa yang terdekat dari tempat mereka menginap!" Pram meraih berkas yang tadi ia singkirkan. Dengan menatap serius, berkas yang kini ada di hadapannya.
Dev geleng geleng kepala, melihat Tuan-nya yang masih berkelit.
"Kalo begitu saya permisi, Tuan!" Dev meninggalkan ruang kerja Tuan-nya.
"Sedang apa dia sekarang? Apa Naira memikirkan ku? Apa Nai sedang sibuk dengan kegiatan sekolahnya?" Pram menggaruk frustasi rambutnya, "Bodoh, sudah jelas Naira ku itu pasti sedang sibuk dengan kegiatan sekolah nya."
Pram di buat tidak fokus dengan memikirkan Naira, dengan telpon yang ada di atas meja kerjanya, Pram menghubungi Dev.
"Cepat, ke ruangan ku sekarang juga!" Perintah Pram yang lantas menutup telponnya, tanpa perlu menunggu apa yang akan di katakan oleh Dev.
Tidak menunggu waktu lama, Dev sudah membuka pintu ruang kerja Tuan-nya.
Ceklek.
"Tuan memanggil saya lagi?" Tanya Dev yang kini berdiri di depan meja kerja Pram.
"Mana berkas yang aku minta, Dev!" Ucap Pram dingin.
Dev mengerutkan keningnya, "Berkasnya belum ada, Tuan. Saya baru akan mencari tahu, ke mana sekolah Nona akan mengadakan perpisahan itu." Terang Dev.
"Maksud ku bukan yang itu, Dev! Tapi kampus yang aku inginkan, untuk rekomendasi Naira melanjut kan pendidikan nya!" Ujar Pram dengan mengetuk ngetukkan jarinya pada meja.
"Oh itu... masih ada di ruang kerja saya, Tuan." Ucap Dev.
"Cepat bawa kesini!" Oceh Pram.
Dev meninggalkan ruang kerja Pram, dan kembali lagi dengan beberapa map yang ada di tangannya, map yang berisikan beberapa nama universitas dengan beberapa ke unggulannya.
Dev menyerahkan nya pada Pram, "Apa ada lagi, Tuan?" Tanya Pram.
"Kau kembali lah! Jangan lupa apa yang baru saja aku tugaskan pada mu!" Pram mengusir Dev dengan gerakan tangannya.
"Ini aku sedang berusaha untuk mencari tahunya, Tuan!" Dev menunduk hormat dan meninggal kan ruang kerja Pram.
Pram membuka satu persatu map itu dengan tangannya, mengamati nya satu persatu. Menimbang nimbang, universitas mana yang sekiranya akan ia pilih untuk Naira nantinya.
Waktu terus berputar, hingga tiba waktunya jam istirahat. Dev menghampiri ruang kerja Pram. Mengingatkan Tuannya untuk makan siang, sekaligus untuk menyerahkan beberapa berkas apa yang sudah ia dapat kan.
__ADS_1
"Selamat siang, Tuan!" Dev menyerahkan informasi yang baru saja ia dapatkan, dengan menyerah kan berkas yang ia bawa di tangan nya di hadapan Pram.
Pram mengerut kan keningnya, "Apa ini informasi yang aku minta tadi pagi, Dev?" Tebak Pram.
"Iya, Tuan. Bahkan saya juga mendapat kan, daftar kegiatan Nona selama di villa tempat Nona dan teman temannya menginap." Terang Dev.
"Bagus, apa kau sudah berhasil... menyewa sebuah villa untuk ku menginap di sana?"
"Apa Tuan benar benar akan menginap di sana? Tempat kegiatan Nona berlangsung?" Dev meyakinkan kembali, untuk memastikan berapa hari Dev akan menyewa villa untuk Tuannya.
"Ayo lah Dev! Jangan bertanya terus! Kau tau kan apa mau, ku? Apa yang harus kau lakukan? Kerjakan saja, jangan banyak bertanya!" Gerutu Pram.
"Baik Tuan, apa Tuan mau makan siang di sini? Atau Tuan akan turun untuk makan siang?" Tanya Dev.
"Kau pesan kan saja makan siang ku, dan antar ke sini." Titah Pram.
"Baik Tuan, akan saya lakukan. Oh iya, sekedar untuk mengingat kan, Tuan. Nanti siang akan ada penilaian kinerja, dengan beberapa kepala devisi untuk hotel ini." Ujar Dev.
"Hem! Sekarang kau bisakan tinggal kan ruang kerja ku? Aku ingin istirahat, dari tadi kerjaan mu hanya menggangu." Pram beranjak dari kursinya, berdiri di depan dinding kaca yang menampilkan pemandangan di luar sana.
Dev terperangah di buatnya, "Apa? Dari tadi, Tuan Pram lah yang terus mengganggu pekerjaan, ku!" Dev mengepalkan ke dua tangannya, menatap jengkel pria yang ada di hadapannya. Rasanya aku ingin meninju wajah mu, Tuan. Membenturkan kepala mu, agar kau sadar akan ucapan mu!
"Jadi kau ingin meninju wajah ku, Dev?" Pram mengejek Dev dengan tatapan matanya.
"Saya tidak berani, Tuan." Dev meninggalkan ruang kerja Pram.
Tidak berapa lama Dev ke luar dari ruang kerja Pram, Naira masuk ke ruang kerja Pram, tanpa mengetuk pintu.
"Apa yang kaka lihat? Apa kaka tidak ingin menyambut ku?" Naira menaruh tas ranselnya di atas sofa, lalu ia melangkah menghampiri Pram.
Pram membalik tubuhnya dengan merentangkan ke dua tangannya, mendaratkan kecupan di pucuk kepala Naira yang kini memeluk tubuhnya.
"Aku sangat merindukan mu, sayang!" Ujar Pram, dengan tangannya yang mengelusss punggung Naira.
"Aku juga merindukan ka Pram." Oceh Naira dengan mendongakkan wajahnya menatap Pram.
"Apa kau sudah makan siang, sayang?" Pram mengarahkan Naira ke kursi kebesarannya.
Naira menggelengkan kepalanya, "Aku belum laper."
Pram memangku Naira di kursi kebesarannya, "Coba kau lihat ini, pilih universitas mana yang ingin kau tuju." Pram menyerahkan beberapa map pada Naira, memintanya untuk memilih.
Naira membuka satu persatu map yang di berikan Pram, dan mengamatinya. Sedangkan Pram langsung menghubungi Dev.
"Dev, mana makan siang ku?" Tanya Pram.
[ "Lagi di siapkan, Tuan." ]
__ADS_1
"Kalo begitu, pesankan makan siang untuk Naira juga, antar ke ruang kerja ku!" Oceh Pram.
[ "Iya, Tu-- ....]
Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa menunggu Dev selesai dengan perkataannya.
"Apa kau sudah menjatuhkan pilihan, sayang?" Pram merekatkan tangannya di pinggang Naira, sementara dagunya menopang pada bahu Naira.
"Ini biaya persemester pasti mahal, ka!" Cicit Naira.
"Uang tidak menjadi masalah untuk ku, sayang!" Ucap Pram dengan santai, bibirnya menjalar mengecup dan memberikan tanda kepemilikan di area leher Naira.
"Tau deh yang bos, raja duit ya ka?" Ledek Naira.
Dari ruang kerja Pram, pintu di ketuk dengan di susul suara seruan seseorang.
Tok tok tok.
"Tuan, makan siang anda."
"Masuk lah!" Seru Pram.
Sementara Naira menjarak kan tubuhnya dengan Pram.
Seorang pelayan pria masuk ke dalam ruang kerja Pram, dengan mendorong troli yang berisikan makan siang untuk Naira dan Pram di atasnya.
Karyawan yang di utus pihak restoran, tanpa menunggu perintah dari Pram, langsung menyajikan menu makan siang di atas meja yang terdapat sofa.
Sesekali karyawan pria melirikkan, dan menoleh ke arah Pram dan Naira, yang tampak Pram tengah mencumbu Naira, dengan bibir Pram yang terus bergerak di leher Naira.
"Kaaa, ihhs malu itu ada orang!" Seru Naira dengan desahannn yang menyertainya.
Karyawan pria geleng geleng kepala melihatnya, astaga Tuan Pram, turun kelas, sekarang mainan nya anak sekolahan. Bukan lagi model atau artis terkenal.
Pram yang mendengar suara batin karyawan restoran itu, langsung menghentikan aktivitasnya, dan menatap tajam karyawan pria yang tengah menyajikan apa yang ia bawa ke atas meja.
"Semuanya sudah selesai Tuan. Kalo begitu saya permisi, Tuan." Ucap karyawan pria dengan ramah, lalu mendorong troli yang ia bawa meninggalkan ruang kerja Pram.
"Hei kau! Siapa yang sudah memberi mu izin, untuk meninggal kan ruangan ini!" Suara Pram menggelegar, hingga karyawan pria itu terperanjak di buatnya.
"Ka!" Naira berkata dengan lembut, sembari menggenggam jemari Pram.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊