Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Penyelidikan


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Sreek.


Dor dor dor.


Pram mengeluarkan pistolllnya dan menarik pelatuk nya 3 kali ke arah jantung, dan ke dua mata Nusi.


Bugh.


Nusi jatuh bersimbah darah tak bernyawa.


"Berikan mayatnya pada koko, kucing besar itu pasti akan sangat senang mendapat daging manusia."


Pram meninggalkan ruang itu dan naik ke lantai atas mengganti semua pakaian yang melekat pada tubuhnya termasuk sepatu, dia tidak ingin meninggalkan jejak apa lagi Pram akan ke kantor polisi.


Pram berdiri di depan cermin menatap pantulan dirinya yang sudah rapi dengan setelah jas yang senada dengan yang tadi ia gunakan.


"Pasti wanita itu yang membawa bawa nama ku!" Gumam Pram dengan menyeringai.


Dreeet dreeet dreeet.


Pram melirik hapenya yang bergetar di atas nakas meja rias di kamar itu.


"Apa apa?" Tanya Pram saat sambungan teleponnya ia jawab.


[ "Apa Tuan mendapat panggilan dari kantor polisi?" ] Tanya seorang wanita yang merupakan maid yang memberikan obat pada minuman Widia.


"Rupanya kau sudah tahu!"


[ "Iya Tuan, Nona Jessica terus saja menyebut nama anda setiap menjalani pemeriksaan. Saya juga di panggil oleh pihak ke polisian, Tuan." ]


"Lalu kau jawab apa?"


[ "Saya mengatakan pada pihak ke polisian Nyonya Widia mengidap penyakit jantung, saya juga sudah memastikan obat jantung itu berada di kamar Nyonya Widia, bukti sudah mengarah pada Nyonya Widia yang sakit jantung, Tuan." ]


"Kau lanjut kan saja pekerjaan mu! Untuk sementara ini jangan kau hubungi aku dulu, hapus nomor ku dari kontak mu."


[ "Baik, Tuan." ]


Pram memutuskan sambungan teleponnya dan menghapus kontak serta pesan yang masuk ke dalam hapenya dari para pengawalnya. Hanya menyisakan pesan yang menyangkut pekerjaan.


Pram dan Haikal menuju kantor polisi.


πŸ‚Di sekolahπŸ‚


Pikiran Naira melayang pada Pram, dari semenjak ia menginjak kan kakinya di kelas Naira tampak murung dan terus terngiang di telinganya kalimat yang Pram ucapkan


Habisiii setelah orang itu mengaku.


Kenapa sulit sekali untuk membuat ka Pram terbuka pada ku! Selama ini banyak yang tidak aku ketahui tentang ka Pram. Benar benar ya aku ini tidak tahu apa apa soal ka Pram.


Novi memperhatikan Naira dengan sesekali


Naira kenapa lagi nih, abis di kasih kejutan ko murung? Tapi tanggal segini ini kan taggal Naira lagi bet mood.


"Lo kenapa, Nai?" Tanya Novi dengan memiringkan kepalanya ke arah Naira.


"Gak ada, emang gw kenapa?" Naira bertanya balik pada Novi tanpa memalingkan perhatiannya dari buku yang sedang ia coret coret dengan pulpen.


Novi melihat apa yang Naira buat di atas bukunya dengan pulpen, "Perhatiin itu pelajaran, tar kalo di tanya pak Asep sampe lo gak bisa jawab, ke bangetan lo Nai!"

__ADS_1


"Apa sih ah, Novi!" Sungut Naira dengan kesal.


"Di kasih taunya ya ini anak!" Novi melihat ke sekitarnya semua mata tertuju pada meja yang tengah Novi dan Naira tempati.


Pak Asep menatap ke arah Naira dan Novi dengan kening yang mengkerut.


"Kalian bukannya perhatiin bapak, malah asik ngobrol sendiri ya!" Suara pak Asep menggema.


Naira memutar bola matanya dengan malas, mampusss dah gw kalo udah kaya gini!


Novi berkata dengan syara yang pelan, "Lo si Nai, tadi kan gw udah ingetin!"


"Kalian berdua salah, dodol!" Seru Serli dari kursi belakang.


Pak Asep melangkah ke arah meja Naira, apa sih yang sebenarnya sedang anak ini lakukan? Tidak biasanya Naira membuat gaduh saat jam pelajaran berlangsung.


Di saat pak Asep semakin dekat dengan meja Naira, Naira buru buru menutup bukunya dengan tangan yang langsung memegangi perutnya.


"Pak, saya izin ke toilet ya! Udah kebelet ini plus sakit perut juga!" Naira meringis dengan mencondongkan tubuhnya.


"Ya sudah sana, langsung kembali jika sudah selesai!" Pak Asep kembali melangkah ke arah mejanya.


Naira beranjak dari kursinya meninggalkan kelas, sedangkan Novi kini bisa bernafas lega.


Ratna mengacungkan tangan kanannya, kesempatan bagus jangan gw sia siain, "Pak, saya izin ke toilet ya, udah kebelet pak!"


Pak Asep mengerutkan keningnya, menautkan ke dua alisnya, "Toilet ko janjian, sama sama kebelet pula!"


Belum mendapat persetujuan dari pak Asep, Ratna langsung beranjak dan ngacir ke luar dari kelas.


"Apa ada lagi dari kalian yang kebelet?" Tanya pak Asep memperhatikan semua muridnya.


"Juni! Itu temen kamu kenapa gak masuk?" Pak Asep bertanya pada Juni perihal Daren.


"Masih di tempat bapaknya pak, ngurusin bapaknya yang sakit." Ujar Juni.


Ratna benar benar tidak membuang ke sempatan, sampai di toilet matanya langsung tertuju pada bilik toilet yang tertutup rapat menandakan ada orang di dalamnya dengan suara keran air yang menyala.


"Kali ini gw gak akan salah lagi, ini pasti lo, Nai!" Gumam Ratna dengan mata yang tertuju pada sapu yang ada di dekat pintu.


Ratna berjongkok dengan wajah yang condong menatap ke bawah celah nampak sepasang sepatu, benar dugaan gw, di dalam sana bukan bu Rita atau guru lain.


Ratna mengendap endap meraih sapu yang ada di dekat pintu, tangannya menggenggang gagang sapu yang terbuat dari kayu, kali ini lo bakal celaka di tangan gw, hehehe. Mampus lo!


Ceklek.


Bugh bugh bugh bugh.


"Aaawwhhh sakit!"


"Mampusss lo kali ini."


Ratna memukulkannn gagang sapu ke bagian belakang siswi yang baru saja ke luar dari bilik toilet putri dengan membabiii buta.


Bugh.


Tubuh siswi itu ambruk di lantai toilet. Dengan rambut yang menutupi wajahnya.


"Rasain lo! Mampusss lo, dasar cewe gatelll, Daren itu cuma milik gw!" Ratna menendang kaki siswi itu.


Ceklek.

__ADS_1


Mata Sopur membelalak dengan apa yang ia lihat, "Ratna, apa yang udah lo lakuin?"


Prak.


Ratna melepas gagang sapu dari genggamannn tangannya, "Gak usah ikut campur lo!" Seru Ratna dengan menatap tajam Sopur.


Bugh.


Ratna sengaja membenturkan lengannya dengan kasar pada saat melihat Sopur hendak menolong seseorang yang di kira Ratna adalah Naira.


"Awas kalo lo sampe bilang ke guru!" Ratna meninggalkan Sopur begitu saja.


"Dasarrr gila lo, Ratna." Sungut Sopur dengan membalikkan tubuh siswi yang ambruk di lantai.


"Astaga, ini kan;" Sopur membola dengan ke dua tangan menutup mulutnya, "Cari mati lo, Ratna."


πŸ‚ Kantor polisiπŸ‚


Pram datang lebih awal ke kantor polisi.


Haikal membukakan pintu masuk untuk Pram.


Pram mengenakan kaca mata hitamnya dan turun dari dalam mobil.


"Kau tunggu lah di sini." Ujar Pram berkata tanpa menoleh ke arah Haikal.


"Tapi Tuan, saya harus ---"


"Tidak akan ada yang benari menyakiti ku, kau lupa kita saat ini sedang berada di mana?"


Pram melangkah dengan pasti masuk ke dalam kantor polisi melakukan pemeriksaan terkait dirinya yang di jadikan saksi.


Pram masuk ke dalam ruang pemeriksaan, selama 3 jam dan menjawab beberapa pertanyaan dari ke polisian.


Polisi yang mengajukan pertanyaan pada Pram pun mengulurkan tangannya untuk di jawab oleh Pram.


Pram membalas uluran tangan polisi dengan menjabat tangannya.


"Terima kasih pak atas kerja samanya. Saya minta untuk beberapa hari ke depan bapak tidak melakukan perjalanan ke luar negri, kalau kalau ke hadiran bapak di perlukan kembali." Seru pak polisi.


"Baik pak, akan saya usahakan." Menyusahkan saja.


Polisa dan Pram melepaskan jabatan tangannya.


"Kalo begitu saya permisi, pak!" Seru Pram sebelum meninggalkan ruang penyelidikan.


"Iya pak, silahkan."


Haikal menyambut Pram yang ke luar dari kantor polisi dengan membukakan pintu mobil untuk Pram.


"Bagai mana, pak? Apa berjalan dengan lancar?" Tanya Haikal saat ia sudah mendudukan dirinya di kursi belakang kemudi.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2