Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Membawa Atmaja


__ADS_3

Arumi tersenyum puas, tidak salah aku mengatakan semua ini pada nya, kau memang tidak pernah salah menilai orang bos. batin Arumi.


Sementara itu Dev berdiri di depan kamar hotel Pram, menguat kan hati jika mendapat amukan dari Pram saat tahu furniture untuk cabang Hotel Pelangi yang akan di resmikan beberapa hari lagi mendapat kendala.


Tok tok.


"Pak, boleh saya masuk?" tanya Dev.


"Masuk lah." seruan Pram dari dalam kamar hotel nya.


Dev masuk ke dalam dan langsung mendapat sorotan tajam dari Pram yang sedang duduk di sofa dengan beberapa berkas yang bertumpuk tumpuk di atas meja. Tangan nya di silangkan di depan dada dengan punggung menyandar pada sofa.


Dev membungkuk hormat, lalu berkata, "Maaf mengganggu waktu kerja anda, pak!" seru Dev.


"Langsung ke intinya, Dev!" sarkas Pram, Dev tidak akan mungkin mengganggunya bila tidak ada hal yang mendesak.


"Barusan Haikal melapor, pak... furniture yang kita terima jumlah nya tidak sesuai dengan yang tertera pada surat jalan."


"Selanjutnya, apa yang kau lakukan?" tanya Pram dingin.


"Saya sudah memerintahkan Haikal untuk membawa Atmaja ke markas, pak."


"Urusan kita di sini, apa sudah selesai?"


"Sudah pak, untuk pengganti kepala devisi food and beverage akan mendapat pelatihan dari Arumi, pak."


"Tunggu apa lagi?" Pram berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar pribadi nya.


"Baik pak, akan segera saya siapkan." ujar Dev.


Dev berbicara lewat ponselnya, menghubungi pilot yang selalu siap siaga di setiap hotel milik Pram.


"Siapkan helikopter, kita menuju Hotel Star sekarang juga.. harus siap dalam waktu 15 menit." ucap Dev dan langsung ke luar dari kamar Pram, ia menuju ruangannya mengambil barang yang tertinggal.


Cekrek.


Dev membuka pintu ruang kerja nya.


Bukan nya keseriusan Ariyani yang sedang belajar memahami untuk menjadi seorang kepala devisi food and beverage, justru Dev mendapati pemandangan 2 orang wanita tengah bergosip, entah apa yang mereka tengah bicara kan.


Ariyani tidak berani melihat wajar datar Dev yang marah, sedangkan Arumi bersikap seolah tidak ada masalah dengan apa yang ia lakukan.


"Aku menyuruh mu datang bukan untuk bergosip, Arumi." sarkas Dev yang berjalan ke meja kerjanya dan mengambil beberapa kertas laporan dan menaruh nya dalam tas kerjanya.


"Ayo lah, Dev.. kita sudah berapa lama tidak bertemu... jangan kaku begitu lah... bagaimana kabar sahabat ku?" tanya Arumi


"Dia baik."


"Kau akan langsung pergi?" tanya Arumi.


"Iya."


"Cepat sekali."


"Dalam kamus ku tidak ada waktu untuk bersantai!" seru Dev.


"Dasarrr kau, sama saja dengan bos mu itu, Pramana Sudiro." celetuk Arumi.


Sedangkan Pram sudah berdiri di depan pintu mendengar ocehan Dev dan juga Arumi.

__ADS_1


Ariyani memberi isyarat meminta Arumi untuk melihat ke arah pintu.


"Apa?"


"Apa kau mengerjakan tugas mu dengan benar, Arumi?" tanya Pram dengan langkah pasti berdiri di depan Arumi yang tengah duduk santai dengan wajah dingin nya, sepaket dengan tatapan mata yang tajam.


"Uuh, aku mengerjakan tugas ku dengan benar dong..." Arumi menyilang kan kedua tangan di depan dadanya bangga, "Kau yang merekrut orang nya, aku yang menyelesaikan sisanya... yaah tidak ada yang salah dari gadis ini." Arumi menatap Ariyani.


Ariyani berdiri dan mengepalkan tangan kanan nya ke atas, "Saya janji pak, saya akan bekerja dengan sungguh sungguh, saya akan bersikap jujur, saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk hotel ini, pak.. pokoknya saya tidak akan mengecewakan bapak." oceh Ariyani menggebu gebu.


Dev hanya geleng kepala melihat kelakuan Ariyani, gadis yang tadi sempat membuatnya kesal. Kini berubah menjadi sesosok gadis yang ambisius.


"Bagus, aku ingin lihat buktinya... dalam beberapa bulan ke depan harus ada kemajuan dari diri mu." ujar Pram dengan dingin.


"Siap, pak." ucap Ariyani dengan yakin.


"Kita berangkat sekarang, pak?" tanya Dev yang kini sudah berdiri di samping Pram.


"Lusa." ketus Pram.


"Serius, pak? Lalu Atmaja, bagaimana?"


Pram berjalan meninggalkan kan Dev, "Bodoh, ya sekarang lah!"


"Ahahahha, dasar kau Dev... masih saja kena prank bos Pram... hati hati pak Pram." Arumi melambaikan tangannya pada Pram dengan terkekeh mentertawakan kebodohan Dev.


"Dasarrr kau!" Dev menatap nyalang pada Arumi menyusul langkah kaki Pram.


Pram dan Dev sama sama menghilang dari ruangan kerja Dev, kini hanya menyisakan Arumi dan Ariyani di dalam nya.


Ariyani langsung menjatuhkan diri nya di sofa dengan bersandar menatap wajah Arumi, "Waah ka, ka Arumi hebat bisa mentertawakan orang ketus itu." Ariyani bertepuk tangan senang.


"Ya siapa lagi kalo bukan pak Dev, mulut nya kalo bicara gak ada lembut nya, selalu ketus."


"Dia seperti itu sudah dari bawaan orok, tidak perlu kau hiraukan."


"Kaka di sini sampai aku bisa kan?" tanya Ariyani.


"Aku di sini sebagai atasan mu dan juga guru mu... sudah pelajari buku itu dulu." perintah Arumi.


Arumi berjalan mendekati dinding kaca, menatap indahnya kota Surabaya. Tidak lama setelah itu terdengar suara helikopter yang terbang mengudara.


Di sisi lain.


Haikal dan beberapa orang nya langsung bergerak menuju Bandung, sasaran mereka adalah Atmaja.


Pukul 3 sore mereka sampai di pabrik furniture terbesar yang ada di kota Bandung, milik keluarga Atmaja.


3 mobil terparkir sempurna di depan pabrik, Haikal sebagai pemimpin mereka langsung masuk dan menanyakan keberadaan Atmaja.


Brak.


Pintu di buka dengan kasar oleh salah seorang anak buah Haikal.


"Ada apa ini? siapa kalian?" tanya Atmaja yang kaget bukan main saat ruang kerjanya di masuki orang yang tidak di kenal dengan cara kasar dan mereka berbadan tegap, terlihat begitu menyeramkan.


"Bapak yang bernama Atmaja, kan?" tanya Haikal.


"Iya, saya Atmaja... anda siapa? ada perlu apa dengan saya?" Atmaja berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Ada yang ingin bertemu dengan anda."


"Siapa?"


"Pak Pramana Sudiro."


"Memang ada apa? bukan kah saya sudah mengirimkan semua furniture yang di minta oleh pak Pramana? baru tadi pagi beberapa konteiner yang mengangkut furniture di bawa menuju Jakarta, harus nya semua konteiner itu sudah sampai dari tadi kan?" ujar Atmaja.


"Biar nanti bapak bisa jelaskan pada bos kami." Haikal mengkode anak buahnya untuk membawa paksa Atmaja.


"Kalian mau apa?" Atmaja berusaha melepaskan diri saat ke dua tangannya di tarik ke belakang dan di bawa secara paksa bak penjahat yang akan kabur.


"Tunggu, tunggu, ada apa ini? kalian mau bawa kemana bos saya?" tanya Aziz yang saat itu ingin memasuki ruang kerja Atmaja.


"Aziz, mereka semua orang nya Pramana." ucap Atmaja.


Ada yang tidak beres kalau begitu. batin Aziz.


"Pengacau datang lagi!" gumam Haikal, "Urus dia." Haikal memerintahkan anak buahnya untuk mengurus siapa saja orang yang berani menghalangi mereka untuk membawa Atmaja.


Atmaja di bawa paksa oleh beberapa orang.


"Hai, kalian tidak bisa seenaknya." teriak Aziz dengan tangan kanannya menarik bahu orang yang akan membawa Atmaja.


Srek.


Bugh.


Tangan kanan Aziz langsung di tarik dan tubuh di hempasan ke lantai dengan sangat kencang.


"Akh." pekik Aziz saat badannya menyentuh lantai saat di hempasan.


"Woi woi, ada keributan...itu pak Aziz!" seru salah satu pekerja yang melihat.


"Cepat, cegah mereka... mereka membawa pak Atmaja!" seru Aziz.


Haikal menodongkan pistol saat beberapa pekerja akan maju untuk menyerang, "Berani kalian melangkah, bos kalian akan mati!"


Haikal tersenyum puas melihat ketidak berdayaan anak buah Atmaja yang tadi akan menghalangi niat nya.


Haikal memerintahkan Atmaja untuk masuk ke dalam mobil, "Masuk!" dengan terpaksa Atmaja menurut.


"Berani kalian mengikuti kami, maka keselamatan bos kalian yang akan menjadi taruhannya!"


"Aakh shittt."


Atmaja di bawa pergi dengan di ikuti mobil lainnya.


"Bagaimana ini?" tanya salah seorang yang membantu Aziz untuk berdiri.


"Bagaimana cara ku untuk memberi tahu bu Heni?" gumam Aziz.


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Yuk dukung karya author, like dan komen 😊


No julid 😀

__ADS_1


__ADS_2