Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Nusi dan Lolita yang malang


__ADS_3

"Human resources / HRD, Nusi?" Dev yang menyebutkan nya.


"Iya, pak?" pria dengan perut buncit menegakkan kepalanya saat di sebut namanya oleh Dev.


Pram menarik sudut bibirnya, berani sekali orang ini mengambil hak orang lain di perusahaan yang aku pimpin dengan mengatas nama kan nama ku! batin Pram.


Dev berbicara di earphone, "Masuk, bawa si tikus got ini keluar." ucap Dev.


"Sa- saya, salah apa pak?" Nusi tergagap mendengar pembicaraan Dev dengan seseorang yang sudah di pastikan 2 bodyguard yang tadi masuk menyeret Lolita, kini akan masuk ke ruang meeting dan akan menyeret nya ke luar dari ruang meeting.


"Dengar kalian semua, jika kalian pikir saya tidak ada di sini setiap saat, lantas bisa membuat kalian leluasa dalam mengambil sikap, apa lagi sampai mengambil hak karyawan lain dengan mengatas nama kan saya, sama saja dengan kalian menggali kuburan kalian sendiri!" sarkas Pram dengan tangan terkepal, sorot mata tajam yang memancarkan aura membunuh.


Nusi langsung berlari ke arah Pram dan memeluk erat satu kaki Pram, "Tolong pak, saya hilaf, ampuni saya pak... saya bersumpah tidak akan mengulangi nya lagi pak, tolong saya pak." Nusi sesenggukan minta di ampuni Pram.


Bukan Pram namanya jika langsung memberikan ampun pada bawahan nya yang sudah berbuat salah.


Pram menghempaskan tubuh Nusi hingga terpental.


Dengan sigap ke 2 bodyguard berbadan besar dan tinggi langsung memegangi lengan Nusi.


"Seret dia ke luar, beri pelajaran yang setimpal pada nya!" ucap Pram tegas.


"Tidak, tolong jangan bawa saya, ampuni saya pak... tolong pak.. kasihani istri dan anak saya pak." oceh Nusi dengan meronta dan berteriak agar Pram mau berubah pikiran dan mau memaafkan kesalahannya dan kehilafan nya.


Kepala devisi yang masih berada di dalam ruang meeting tampak ngeri melihat bagaimana rekannya di seret ke luar dari ruangan, belum lagi mereka tidak tahu hukuman apa yang akan mereka terima sebagai bentuk hukuman dari bos nya yang terkenal kejam.


Dari sisi kejam nya Pram memang tidak pernah main main untuk menghukum bawahannya yang berbuat salah, di mata Pram semua yang di kerjakan harus lah sempurna.


Tapi dari sisi lain, Pram juga memberi mereka gaji yang besar, serta fasilitas kendaraan untuk mempermudah kinerja karyawan nya sebagai balasan untuk jam kerja dan kinerja yang di ke luarkan setiap karyawan pada perusahaan nya.


"Kasihan ya, tadi bu Lolita sekarang pak Nusi... hukuman apa yang akan mereka terima sebagai ganjaran nya ya?" ujar Dita.


"Sukurin, rasain, itu balasan untuk orang yang suka mengambil gaji orang lain, sudah dapat gaji besar dari bos, masih kurang juga." ujar Andra.


"Yang aku dengar, karyawan yang di pecat bu Lolita itu anak yatin dan hanya tinggal dengan ibu nya saja yang sudah tua." ucap Nisa.

__ADS_1


"Pak Pram keren, ya?" gumam Meli.


Ocehan demi ocehan ke luar begitu saja dari mulut mereka yang menyaksikan sendiri Lolita dan Nusi, entah bagaimana nasib rekannya yang belum tahu akan bernasib sama dengan Nusi dan Lolita atau bernasib baik seperti Meli yang akan di beri tugas baru.


"Bisa tenang kalian semua?" tanya Pram dengan suara dingin, raut wajah yang tadi nampak marah hilang dari wajahnya.


Semua nya kembali diam dan tenang.


"Untuk bagian devisi engineering yang di pimpin oleh Tomi dan bagian devisi security di bawah pimpinan Bowo... kalian akan mendapat bonus 2 bulan gaji di akhir tahun.


"Terima kasih, pak." ucap Tomi dan Bowo dengan wajah berbinar.


"Maaf, pak." Nisa mengacungkan tangan nya ke atas.


"Iya, katakan apa yang mau kau katakan." Pram mempersilahkan Nisa untuk mengungkapkan apa yang ingin ia tanyakan.


"Begini, pak... kenapa Tomi dan Bowo saja yang mendapat bonus? kami tidak?" tanya Nisa yang sedikit cuek.


Pram menarik sudut bibirnya. Tidak hanya umurnya saja yang paling muda di antara kepala devisi yang lain, tapi cara nya untuk mengungkapkan perasaan nya cukup aku acungi jempol.


Kenapa rasanya anak ini mengingatkan aku pada seseorang ya! tapi siapa dan di mana? dari ucapan nya ia sangat berhati hati tanpa ingin menyudutkan dan tanpa ingin menghakimi. batin Dev.


"Perlu saya jawab, pak?" Dev berbisik pada Pram.


"Tidak perlu." tolak Pram.


"Loyalitas mereka dalam bekerja, mereka bekerja dengan segenap hati dan tenaga mereka untuk kemajuan dan keamanan hotel ini tanpa memperdulikan nyawa mereka... apa anda sudah puas dengan jawaban yang saya berikan, nona Nisa?"


Nisa tercengang di panggil nona Nisa, seumur hidup nya baru Pram seorang yang memanggil namanya begitu.


"Su- sudah jelas, pak... terima kasih atas jawabannya pak." ucap Nisa dengan tergagap.


"Ada lagi di antara kalian yang ingin di tanyakan?" tanya Pram.


"Saya, pak." Meli mengacungkan tangan nya ke atas.

__ADS_1


"Ada apa lagi, Meli?" tanya Pram dingin tanpa senyum.


"I- itu pak, saya tidak di pecat kan? atau jabatan saya mau bapak turunin?" pertanyaan konyol Meli meluncur dari bibirnya yang merah akibat lipstik yang ia kenakan.


Kenapa bisa saya punya orang yang lemott seperti ini. batin Pram.


"Haaah." Pram menghela nafas dan membuang nya kasar.


"Bersiap lah, kau akan di pindah tugaskan ke Hotel Pelangi yang akan di resmikan dalam waktu dekat ini." ujar Pram.


"Beneran, pak? lalu jika saya pindah tugas, bagaimana dengan orang tua saya pak? orang tua saya sudah tua, saya tidak bisa meninggalkan orang tua saya di sini sendirian." ucap Meli lemas, seakan tulangnya runtuh.


"Kau boleh membawa serta orang tua mu ke Jakarta, jika kau siap di pindah tugaskan, maka di sana kau akan mendapatkan tempat tinggal dan fasilitas yang kau miliki saat ini bisa kau bawa serta... tapi jika kau menolak untuk di pindah tugas kan, silahkan tunggu surat pemecatan mu." sarkas Pram.


Astaga pak Pram, ini sama saja aku tidak bisa memilih, ancaman mu benar benar membuat aku takut pak, tolong peluk pak. batin Meli.


"Meeting kali ini saya anggap selesai." Pram berdiri dan berlalu pergi meninggalkan ruang meeting di ikuti Dev yang berjalan di belakang.


"Sudah kau bereskan?" tanya Pram dengan pandangan lurus menuju deluxe room.


"Sudah, pak."


"Bagus."


Sadisnya diri mu pak... tangan yang di gunakan Lolita untuk menampar waiters yang di pecat, kau suruh orang ku untuk mematahkan nya... sedangkan Nusi kau cambuk 40 kali itu sama saja membunuh perlahan, pak. batin Dev.


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Meli pilih mana ya?


Yuk dukung karya author, like dan komen 😊


No julid 😀

__ADS_1


__ADS_2