
...💖💖💖...
"Alhamdulillah, aku seneng banget ka. Makasih my hubby!" Naira memeluk Pram saking senengnya, mendengar akan kembali besok ke Indonesia.
Pram menatap sejenak mata bulat Naira yang kini berbinar senang.
Cup.
Pram mengecup sekilas bibir Naira.
Naira mengerucutkan bibirnya, kembali dengan duduknya semula dengan pipi merona.
Sampai di risort Naira sudah tertidur dengan pulas, membuat Pram yang melihatnya enggan untuk membangunkan Naira.
Pram menggendong Naira masuk ke dalam, membaringkan tubuh mungilnya di atas tempat tidur.
Pram menghubungi Dev lewat sambungan teleponnya, berdiri dengan menatap deburan ombak dari lantai atas.
[ "Iya Tuan, ada apa lagi selarut ini menghubungi saya? Pasti ada hal penting yang ingin Tuan sampai pada saya!" ] cicit Dev dengan menguap, suaranya yang parau karena bangun dari tidurnya.
"Siapkan pilot dan copilot untuk ku besok di bandara Narita, aku ingin jam 8 pagi mereka sudah berada di landasan." ucap Pram dengan tegas.
[ "Siap Tuan, saya akan langsung menghubungi pilot copilot... yang mengantar anda kemarin ke Jepang, untuk bersiap terbang besok pagi." ]
Pram mengerutkan keningnya, "Jangan mereka! Aku tidak mau perjalanan ku terganggu dengan 2 orang itu lagi! Kirimkan saja pilot dan copilot yang jam terbangnya melebihi mereka!"
Dev yang sudah paham dengan ke inginan Pram, malah melemparkan ledekan untuk bosnya itu.
[ "Jam terbang mereka yang lebih atau usia mereka yang lebih, Tuan?" ] ledek Dev dengan terkekeh.
"Sialan kau! Kerjakan saja apa yang aku katakan! Satu hal lagi, setelah kembali... aku ingin dokter langsung memeriksakan keadaan punggung Naira segera!"
[ "Kalo itu Tuan tidak perlu khawatir, dokter Samuel kan ahlinya dalam hal jahit menjahit. Pasti beliau lebih mengerti untuk ke baikan Nona." ]
"Sialan kau! Kau pikir istri ku bahan, yang harus di jahit!" sungut Pram dengan kesal.
[ "Bukan begitu, Tuan... maksud saya ---" ]
"Tidak perlu kau lanjutkan, aku sudah mengerti apa maksud mu!"
Terdengar suara Dev yang membuang nafasnya dengan lega, [ "Bagai mana dengan pendidikan Nona, Tuan? Apa perlu saya ajukan untuk tahun ini, atau Tuan tetap ingin Nona masuk kembali setelah satu tahun berikutnya?" ] tanya Dev.
"Satu tahun berikutnya saja, biar Naira bisa fokus dulu dengan ku, dan luka di punggungnya. Kau atur setelah satu bulan berikutnya, aku ingin Naira menjadi sekretaris pribadi ku!"
"Apa? Menjadi sekretaris, Tuan? Apa Nona tidak ke beratan... jika Tuan menjadikan Nona sebagai sekretaris pribadi, Tuan?"
"Tidak akan, justru Naira akan sangat senang. Aku jadi punya alasan... untuk selalu bersama dengannya kan hehehe!" Pram menyeringai.
[ "Baik lah Tuan, saya tidak bertanggung jawab, jika Nona ke beratan dengan usul Tuan yang satu ini, ya!" ] ancam Dev.
"Banyak bicara kau!" Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya setelah menggerutu.
Pram bersin bersin, dalam tempo waktu yang cukup dekat, "Ha'cih... ha'cih... ha'cih!" Pram menggosok hidungnya dengan punggung tangan kanannya, ada apa lagi dengan hidung ku! Mengganggu saja!
Pram melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu kaca yang menghubungkan langsung ke teras dengan kolam renang.
Pram mendudukkan tubuhnya di sofa, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, memijat batang hidungnya saat merasakan ada yang mengganjal.
Pram menghubungi Toda, dengan pandangannya yang kini fokus pada Naira.
[ "Iya ka... tumben selarut ini menelpon ku. Apa ada yang darurat ka?" ] tanya Toda setelah menjawab panggilan telepon Pram.
__ADS_1
"Jika aku menghubungi mu, pasti ada yang darurat! Dan aku hanya bisa mengatakannya dengan mu!" cicit Pram dengan datar.
[ "Apa ada hubungannya dengan kaka ipar, ka? Kaka ipar baik baik saja kan?" ] tanya Toda dengan cemas.
"Tidak, dia baik baik saja. Aku hanya akan berkata sekali, jadi dengarkan baik baik perkataan ku ini!" ujar Pram.
[ "Aku sudah memasang telinga ku dengan baik, ka!" ] sungut Toda dengan menggaruk kepalanya frustasi.
"Kau yang paling muda di antara Zang dan Takeshi. Tapi aku yakin dengan ke mampuan mu! Ingatkan Takeshi untuk meninggalkan dunia hitam, jika ia ingin mengejar wanita nya, jika ia tidak ingin wanitanya berada dalam bahaya, menjadi incaran para pesaingnya. Jika perlu... sembunyikan wanita yang sangat ia cintai dari para musuh musuhnya."
[ "Sejak kapan player mengenal cinta, ka? Takeshi kan penjahat kelaminnn wanita ka! Ya meski pun dengan menggunakan pengamannn. Tetap saja kan, ia tidak akan bisa lepas... dari wanita wanita yang selama ini sudah memberikan kepuasan untuknya!" ]
"Jangan meremehkan seorang player, player juga bisa setia setelah menemukan wanita yang sangat ia inginkan! Wanita yang bisa menyentuh hati seorang palyer, pasti akan sangat beruntung!" ucap Pram dengan bangga.
Toda membuang nafasnya dengan gusar, [ "Yang benar saja ka, mana ada seorang wanita yang akan merasakan bahagia, hanya karena mendapatkan seorang pria yang player!" ]
"Sudah lah! Aku malas berdebat dengan mu! Untuk Zang dan kau, kalian harus saling bersama... ingat bagai mana dulu kalian saat susah! Jangan saling menyulitkan! Kalo perlu kalian harus saling bahu membahu!" cicit Pram.
[ "Siap kaka, laksana... ka Pram tidak akan mati semuda ini kan?" ] celetuk Toda.
Pram menatap layar hape-nya, mengumpatnya dengan kesal, "Sialannn kau! Menyumpahi ku mati hah?"
[ "Tidak ka, ka Pram aneh saja... banyak meninggalkan pesan, seakan kaka akan mati besok!" ]
"Kau tahu kan, aku berada jauh dari kalian! Aku tidak bisa setiap saat memantau kalian, apa yang sedang kalian lakukan! Jika terjadi masalah, jangan sungkan untuk menghubungi ku! Aku berhutang pada kalian, sudah menemai Naira selama kami berada di sini!"
[ "Itu tidak seberapa ka, jika di bandingkan dengan apa yang sudah kaka lakukan untuk kami bertiga. Jangan lupa mengabari kami ya ka, jika ada junior kecil dalam perut kami ipar!" ]
"Itu pasti! Tidak akan lama lagi, kalian akan mendengar kabar baik dari ku!"
[ "Kapan kaka ke bandara? Aku akan mengantar kalian." ]
"Pukul 8 kami sudah harus berada di bandara."
"Baik lah... kau juga, tutup telpon mu! Cepat lah pergi tidur!"
Pram beranjak dari duduknya, mengayunkan ke dua kakinya mendekat ke arah tempat tidur. Ia meletakkan hapenya di atas nakas. Pram menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk kepala Naira, membawa tubuh mungil Naira dalam dekapannya.
Cup cup cup.
Pram menghujani pucuk kepala Naira dengan ke cupan hangat.
"Aku harap setelah kembali ke Indonesia, akan ada kabar baik pula yang kita bawa dari Jepang." gumam Pram sebelum ia memejamkan ke dua matanya.
Malam terakhir Naira dan Pram di Jepang, membuat tidur mereka begitu nyenyak. Apa lagi setelah beberapa hal yang mereka lalui bersama. Banyak kenangan yang mereka simpan dalam ingatan mereka. Baik suka mau pun duka.
Dalam tidur Pram yang tampak nyenyak.
Semula berjalan dengan indah, saat ke duanya berada di dalam salah satu mall yang sangat ramai pengunjung.
Naira dan Pram tampak saling berpegangan tangan, menerobos lautan pengunjung yang saat itu memadati mall. Entah sedang ada acara apa, namun langkah ke duanya tidak lah surut untuk masuk ke dalam mall.
"Apa kau yakin ingin nonton film komedi?" tanya Pram saat ke duanya sudah mengantri di loket tiket bioskop.
"Jangan tanya lagi ihs! Kaka sudah berapa kali mengulang pertanyaan yang sama! Anak mu sangat menginginkannya ka!" Naira mengelusss perutnya yang membuncit besar.
"Sabar ya sayang! Kita sedang mengantri membeli tiket, setelah ini... kau pasti akan memgocokkk perut ibu mu! Membuatnya tertawa sampai terpingkal pingkal!" ledek Pram dengan tatapan hangat, ikut mengelusss perut Naira.
Bugh.
Naira memukul lengan Pram.
__ADS_1
"Jangan meledek ku terus ihs!" Naira mengerucutkan bibirnya.
Setelah lama mengantri, kini tiket sudah ada di tangan, dengan hati hati Pram membantu Naira memasuki gedung bioskop, yang ramai peminat untuk menonton film komedi.
Akhirnya Pram dan Naira bisa duduk dengan tenang di kursi mereka.
"Harusnya kau tidak mencegah ku untuk menyewa bioskop ini, biar kita bisa menonton dengan tenang, tidak harus berdesak desakan seperti tadi! Keringat mereka... sungguh membuat hidung ku tidak nyaman!" gerutu Pram, tangannya mengelusss perut Naira.
"Sssttt jangan berisik, tidak enak jika sampai di dengar orang!" Naira meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Pram.
Tidak lama lampu bioskop padam. Layar putih mulai menampilkan film komedi yang akan di tonton Naira dan Pram. Semua berjalan dengan lancar, tidak ada hal yang mencurigakan.
Pram mendengar suara batin seorang pria, yang tampak jelas di telinganya.
'Ternyata apa yang di katakan bos itu benar adanya! Aku bisa menghabisi mereka bersama sama kalo begitu!'
Pram membatin dengan mengedarkan pandangannya, gawat, ternyata ada yang sedang mengincar kami! Untuk siapa orang itu bekerja? Di mana orang itu? Aku harus segera membawa Naira ke luar dari tempat ini! Sebelum mereka menyakiti istri dan calon anak ku!
Pram mengetikkan sesuatu di layar hapenya, lalu memperlihatkan nya pada Naira.
"Jangan banyak bertanya ya sayang! Cukup ikuti apa yang aku lakukan pada mu! Kita harus ke luar dari tempat ini!"
Naira menatap Pram, melihat raut cemas di wajah Pram lewat sorot cahaya yang berasal dari hape Pram.
Naira membatin, apa ada yang bahaya ka?
Pram hanya mengangguk kecil, menuntun Naira untuk beranjak dari duduknya, setelah Pram menyimpan hapenya di dalam saku celananya.
Dengan mata yang mengedar, Pram menatap was pada sekitarnya, dengan merengkuh bahu sang istri.
Jlep.
"Akkhhhh." pekik Naira menahan sakit, perut ku ka! Ada yang menusukkk perut ku!
Tangan Naira dengan spontan memegangi perutnya, tubuhnya semakin condong ke depan, dengan Pram yang menopang tubuh Naira agar tidak jatuh terhempas ke lantai.
Pram membola dan berteriak, "Kalian... cepat nyalakan lampunya! Sesuatu terjadi pada istri ku!"
"Kaaa!" rintih Naira dengan tangan yang basah memegangi baju yang Pram kenakan, Pram merasakan bau yang sangat ia benci.
Pengunjung yang mendengar teriakan Pram, mengarahkan sorot lampu dari hape-nya, dan membuatnya semakin histeris.
"Astaga! Pembunuhannn!" teriak seorang wanita yang mengarahkan cahaya lampu hapenya ke arah Pram dan Naira.
"Hai kalian! Cepat nyalakan lampu nya!" teriak Pram yang mulai panik melihat Naira yang kini meringis, dengan peluh yang membasahi keningnya, melihat darah yang keluar dari buku buku jari Naira.
"Aku sudah menghubungi ambulans, pak... cepat ke luar lah! Bawa istri mu segera ke rumah sakit!" ucap seorang bapak yang duduk di dekat Pram.
Sementara seorang pria muda yang duduk di kursi dekat dengan Naira berada, tampak dengan wajah datarnya. Bersikap acuh seakan tidak terjadi apa apa.
Membuat Pram menatap tajam pemuda itu, awas jika sampai terjadi apa apa dengan anak dan istri ku! Kau orang pertama yang aku cari!
Pram menggendong Naira ke luar dari gedung bioskop, "Kalian akan baik baik saja, sayang! Ayo buka mata mu!" kalimat itu lah yang terus ke luar dari bibir Pram.
Bugh
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊