
...💖💖💖...
"Benda penting apa yang kau tinggalkan di kedei, lantai atas?" Tanya Pram dengan matanya yang menatap tajam Naira.
Dengan jailnya tangan Naira mencubit gemas hidung Pram hingga ke depan wajahnya.
Naira menatap bola mata Pram yang bak singa memburu mangsanya, tajam, "Iiiiihhhh! Aku aja gak tau benda apa yang udah aku simpen, gimana mau aku kasih tau kaka!"
Pram membatin, bocah ini semakin berani ya!
Tangan Pram terulur menyingkirkan jemari Naira dari hidungnya, Tidak perlu mencubit hidung ku, bisa kan!" Oceh Pram dengan suaranya yang dingin.
"Lagi siapa suruh bikin aku gemes, udah ah aku mau liet kondisi ka Ayu." Naira berjalan mendahului Pram, benda apa yang aku simpan ya, sampai Novi nekat naik ke lantai atas, sampai membahaya kan nyawanya.
Pram menatap punggung Naira mengikuti langkah kaki istrinya, dasarrr bocah bodoh, benda itu kau yang simpan sendiri, tapi kau sendiri pula yang lupa apa yang sudah kau simpan!
Pram menyusul Naira, mengimbangi langkah kakinya dan menggenggam jemari mungil Naira dengan erat, Pram memastikan lagi pada Naira, benda apa yang sudah ia simpan di lantai atas kedei.
"Apa kau benar benar tidak ingat benda apa yang sudah kau simpan itu?" Tanya Pram.
Naira menggelengkan kepalanya, "Entah lah, aku merasa tidak menyimpan apa apa di kedei lantai atas.
"Lalu, apa Novi berhasil menyelamatkan barang mu itu?" Tanya Pram.
"Mana aku tahu, ka!"
Naira dan Pram berjalan beriringan dengan sesekali Naira menatap wajah Pram.
"Novi dan ka Ayu aja belum bisa di tanyai, Novi masih dalam pengaruh obat bius, sedangkan ka Ayu masih di ruang tindakan."
Pram membatin, jika barang yang coba di selamatkan Novi berhasil ia selamatkan, harusnya ada yang menemukan benda itu saat Novi di larikan ke rumah sakit, atau benda itu masih berada di kedei di antara puing puing sisa kebakaran. Aku harus mendapatkan benda itu lebih dulu sebelum Naira yang menemukan nya, jangan sampai benda itu ada hubungannya dengan pria lain.
Naira mengerutkan keningnya, "Ka Pram mikirin apa?"
"Memikirkan mu, awas saja jika benda yang berharga itu ada hubungannya dengan pria lain, ku cincang kau hingga tidak berbentuk!" Sungut Pram.
Naira bergidik ngeri dengan wajahnya yang masam.
"Iiiiihhh, di kata aku daging bakso apa yang kudu di cincang?" Dengus Naira.
Pram berseringai, bodoh... kenapa tidak terpikirkan jika di dalam kedei ada CCTV yang tersembunyi.
Pram merogoh saku celananya dan mengirim pesan pada Haikal
"Kedei Naira sudah kau pasang CCTV kan? Dapatkan benda apa yang coba di selamatkan Novi di lantai atas jedei, temukan benda itu atau kau... ku kirim ke Jepang!"
__ADS_1
Naira menoleh dan melihat wajah Pram yang tengah menyeringai dengan menatap layar hape-nya.
"Apa yang kaka lihat?" Naira mencoba memajukan kepalanya untuk melihat layar hape Pram.
Dengan cepat Pram menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya sebelum Naira dapat melihat isi pesannya.
"Tidak penting!" Seru Pram dengan acuhnya.
"Dasarrr rubahhh pelit!" Sungut Naira.
Pram dan Naira melihat ruang tindakan Ayu dan di sana ada anak kecil yang berumur 5 tahun, sangat menggemaskan dengan rambutnya yang di kuncir dua tengah berada dalam pangkuan seorang pria tua yang mendudukan dirinya di kursi tunggu.
Terdapat Mega, Angga dan juga Rion di sana. Menunggu dengan harap harap cemas, tanpa ada ke jelasan kondisi Ayu di dalam sana.
"Apa itu putrinya Ayu? Di mana suamimya?" Tanya Pram dengan polosnya, imut sekali anak itu, kapan aku memilikinya dari mu, Nai!
"Iya itu anaknya ka Ayu, suaminya tidak ada ka... ka Ayu memilih meninggalkan suaminya begitu saja, bisa di bilang ka Ayu melarikan diri dari suaminya yang suka main tangan." Ucap Naira.
"Apa Ayu yang mengatakannya pada mu?" Tanya Pram.
"Panjang ceritanya bagai mana aku bisa bertemu dengan ka Ayu." Ujar Naira.
Naira mencium punggung tangan kanan pria tua itu dan menyapa Chika.
Pram milih berdiri di samping Angga, matanya tidak akan bisa lepas jika ia duduk di samping Naira. Ingin rasanya menggendong balita yang tengah dalam pangkuan bapak tua.
Sementara Naira, bapak tua dan sesekali Mega ikut nimbrung menceritakan bagai mana ini bisa terjadi pada Ayu.
Pram berbicara pada Angga dan juga Rion.
"Kemana, Juni?" Tanya Pram pada Angga dan Rion saat dirinya sudah beberapa menit menunggu.
"Pulang nganterin Elsa, pak." Jawab Angga.
Beberapa menit kemudian dokter ke luar dari ruang tidak operasi dengan masker di mulutnya.
"Bagai mana keadaan putri saya, dok?" Tanya bapak tua dengan menggendong Chika, sang cucu.
"Operasi yang di lakukan berhasil, namun terjadi komplikasi pada pasien yang membiat pasien masih belum melewati masa kritisnya." Ucap sang dokter.
Naira tercengang, "Komplikasi, dok?"
Berangkar ke luar dari ruang operasi, dengan Ayu yang ada di atasnya.
"Berikan perawatan yang terbaik, dokter!" Ucap Pram dengan datar.
__ADS_1
Chika menangis meminta untuk di gendong oleh Ayu yang tengah terpejam di atas berangkar.
"Biar Chika, saya yang gendong pak!" Ucap Naira pada sang bapak tua.
Chika berpindah ke dalam gendongan Naira, "Kita lihat mama ya, sayang! Jangan nangis lagi ya, cup cup cup cup!" Naira membujuk Chika dengan sifatnya yang keibuan berhasil membuat Chika mengerti apa yang di katakan Naira.
Mereka semua mengikuti arah berangkar membawa Ayu ke ruang perawatan.
Atas permintaan Pram, Ayu dan Novi berada dalam satu lantai ruang rawat, ruang mereka hanya berbeda ruang rawat.
Melihat kondisi Ayu, tidak memungkinkan untuk mereka berada dalam satu ruang rawat.
"Kalian pulang lah!" Seru Pram meminta Angga, Rion dan Angga untuk pulang dan beristirahat.
Naira menatap Mega yang tampak bingung.
Pram menyadari tatapan Naira terhadap Mega, salah satu karyawan kedeinya yang lebih terasa seperti keluarga.
"Kalian bertiga akan di antar pulang oleh, dia!" Pram menunjuk seseorang yang berjalan ke arah mereka dengan pakaian yang serba hitam, berbadan tinggi dan tegap.
Naira menoleh ke arah yang Pram tunjuk.
Naira membatin, gilaaaa... ka Pram punya stok banyak amat sih tampang tampang keren gitu! Anjiiiiim, kalo Novi sama ka Ayu ngeliet ini, di jamin air liur mereka bakal ngeces.
Pram geleng geleng kepala mendengar jerit batin Naira yang berada di depannya.
Dasar istri labil, bilang saja terus terang kau juga terpana pada bawahan ku kan!
Pram menjitak kepala Naira.
Tak.
Naira mengaduh ke sakitannn, "Awwwhhh."
Sedangkan Chika yang berada dalam gendongan Naira sampai menatap ke arah wajah Pram dengan bibir yang mengerucut dan pipi yang mengembung.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉
__ADS_1