
...๐๐๐...
Sedangkan tubuh Pram, kini tampak bekasss kuku dan cakarannn yang di tinggalkan dari kuku lengtik Naira.
Tok tok tok.
Pintu kamar Pram di ketuk dari luar.
Pram kesal di buatnya dengan tangannya yang mengepal, ada saja pengacau!
"Kaaaa!" Naira memiringkan tubuhnya ke arah Pram yang kini merebahkan tubuhnya di samping Naira.
"Biarkan saja!" Pram menolak untuk membukakan pintu.
"Mandi yuk! Tapi sebelum itu samperin dulu itu yang ngetok pintu, kali aja penting!"
Tok tok tok tok.
"Tuan, ini saya Dedi. Di bawah ada pak Dev yang menunggu Tuan." Ucap pak Dedi.
Pram mengerutkan keningnya, tumben Dev di jam segini, ini pasti ada hal yang penting. Hingga membuatnya tidak bisa menunggu besok pagi.
Tangan Naira terulur, menyentuh dada bidang Pram yang masih berpeluh.
Tangan Pram menggenggammm jemari Naira dan mengecuppp nya, membawa tubuh Naira yang polos dengan tangannya memasuki kamar mandi, membaringkan tubuh Naira ke dalam bathtub dengan air hangat dengan aroma terapi.
Sedangkan Pram mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Pram membalut tubuh nya dengan jubah handuk.
"Tunggu aku, aku hanya sebentar menemui Dedi." Ucap Pram, setelah mengecup kening Naira lantas ke luar untuk menemui Dedi.
Naira berteriak dengan terkekeh, "Mau lama juga gak apa ka hahaha!"
Tok tok tok tok.
"Tuan, apa anda mendengar saya?" Tanya Dedi.
Ceklek.
"Bawel sekali diri mu, Dedi! Apa kau ingin aku menendanggg mu dari sini?" Ucap Pram dengan suaranya yang berat, tatapan matanya yang tajam pada Dedi.
"Maaf Tuan, tapi di bawah ada pak Dev yang ingin bertemu dengan Tuan." Pak Dedi menyampaikan kembali apa yang ingin ia sampaikan hingga mengusik Tuan-nya.
"Suruh Dev menunggu di ruang kerja ku! Mengganggu saja!" Sungut Pram dengan kesal.
Brak.
Pram membantinggg pintu dengan kesal. Membuat Dedi berjingkat kaget di buatnya.
__ADS_1
Pak Dedi mengurut dadanya di depan pintu kamar Pram yang kini tertutup rapat.
Astaga Tuan, jika saja gaji yang aku terima jumlahnya kecil. Sudah lama aku tinggalkan Tuan Muda sejak lama.
Ceklek.
"Berani kau meninggalkan ku, Dedi! Sampai ke ujung lubang semut pun, akan ku cari diri mu, Ded!" Ancammm Pram yang langsung menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan tanpa membantinggg.
Pak Dedi menggelengkan kepalanya, "Dasarrr Tuan Muda yang aneh! Membutuhkan ku tapi tidak mampu untuk mengatakan nya!" Pak Dedi beranjak meninggal kan kamar Pram dan nenyampai kan apa yang di katakan Pram pada Dev.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Naira masih menikmatiii air hangat dengan aroma terapi yang menyeruak di indra penciuman nya. Membuatnya semakin nyaman berlama lama berendammm, memanjakan tubuhnya di dalam bathtub, yang mampu membuat tubuhnya merasa rileks kembali.
Pram mendudukan dirinya di tepian bathtub, membatu Naira membersihkan dirinya. Bukan hanya membantu Naira membalurkan sabun pada tubuh Naira.
"Kenapa perginya cuma sebentar, ka?" Sindir Naira dengan bibirnya yang kini nyinyir.
"Aku tidak bisa jauh dari diri mu terlalu lama, sayang! Seperti apa yang hati mu katakan tadi usai kita bermainnn. Aku pun merasakan hal yang sama. Sulit untuk diri ku berada jauh dari mu." Pram mengutarakan isi hatinya pada Naira.
"Benar kah? Apa bisa aku mempercayai mu, ka?" Tanya Naira.
Pram juga mengambil kesempatan untuk meremasss si kembar yang menjadi candu baginya kini.
"Ihhhh ka! Geli bercampur sakit tau!" Naira mencipratkan air ke wajah Pram.
Bukannya menjawab pertanyaan Naira, Pram justru mengalihkan perkataan nya pada yang lain.
Naira mengerutkan keningnya, menatap Pram dengan penuh selidik, "Kaka mau ke mana? Apa ka Pram gak akan makan malam?"
Pram mengenakan jubah handuk pada Naira dan membawanya ke luar dari kamar mandi menuju walk in closed.
Pram membiarkan naira memilih kan pakaian yang akan ia kenakan.
"Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Dev, aku tidak tahu akan menghabiskan waktu yang lama atau singkat."
"Apa aku boleh ikut dengan ka Pram?" Tanya Naira.
"Aku membicarakannya di ruang kerja ku, sayang. Kau makan saja bersama dengan maid ya?" Tawar Pram, tidak baik jika aku membiar kan Naira berada di ruang kerja ku, bahkan sampai mendengar apa yang akan di sampaikan Dev, bisa saja ini ada kaitannya dengan hal yang penting di luar kantor.
Naira yang tengah memasangkan kancing, pada piyama hijau toska dengan motif kodok yang melekat pada tubuhnya pun mengerucut kan bibirnya, bilang aja kalo gw gak boleh denger apa yang akan ka Pram omongin sama pak Dev, gitu aja pake cari cari alasan.
"Sudah tidak usah merajuk sayang! Akan aku usahakan untuk segera bergabung dengan mu makan malam ya!" Pram melumattt bibir Naira.
Bugh.
Naira memukulll dada bidang Pram.
"Uuuhh." Pram pura pura meringis kesakitan.
__ADS_1
"Lebay karat!" Naira melangkah meninggalkan Pram menuju ruang makan. seorang diri.
Sedangkan Pram, memberikan perintah pada Dedi. Lewat sambungan telepon yang langsung tersambung pada dapur.
"Perintahkan pada beberapa maid yang dekat dengan Naira, untuk menemaninya makan malam! Jangan biarkan Naira merasakan kesepian!" Titah Pram pada Dedi.
[ "Baik Tuan, akan saya laksanakan." ]
โ๏ธRuang kerja Pramโ๏ธ
Ceklek.
Pram memasuki ruang kerjanya, sedangkan Dev sejak tadi sudah menunggu Pram. Dengan duduk di kursi yang ada di depan kursi kebesaran Pram yang hanya terhalang meja kerja.
"Maaf Tuan, jika saya mengganggu waktu santai anda." Dev berbasa basi saat matanya tertuju pada rambut Pram yang tampak basahhh.
"Aku tidak butuh basa basi mu, Dev!" Pram mendudukan dirinya di kursi ke besarannya dengan punggung yang menyandar.
"Apa yang ingin kau sampaikan, Dev?" Tanya Pram.
"Begini Tuan, saya mendapatkan laporan dari beberapa orang yang terpercaya. Jika Tuan Aji saat ini tengah membuat rencana, untuk mengulingkan Tuan dari perusahaan yang sudah Tuan ambil alih."
"Cari tahu dan dalami terus apa yang di lakukan tua bangka itu!" Titah Pram.
"Saya sudah menyebar, beberapa orang yang dapat di andalkan untuk terus mendampingi Tuan Aji." Ujar Dev pada Pram.
"Kerja bagus kalo begitu." Jawab Pram dengan mengetuk ngetukkan kukunya pada permukaan meja.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Pram yang ada di atas meja kerjanya kini bergetar.
Pram mengerutkan keningnya menatap tajam pada nama yang tengah menghubunginya.
Pram menjawab telponnya.
[ "Maaf Tuan, jika saya mengganggu!" ] Ucap Dega dengan suaranya yang terdengar panik.
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐
__ADS_1