Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Novi jadi aneh


__ADS_3

...💖💖💖...


Juni yang duduk semeja dengan Daren pun curiga di saat matanya memperhatikan arah yang tengah Daren pandangi.


Kening Juni mengkerut, wah minta di beri ini bocah!


Pletak.


Kepalan tangan Juni mendarat di kepala Daren.


"Awh." Daren meringis kesakitan, tangannya mengusap bagian kepalanya yang di jitak Juni.


Daren menatap Juni dengan tatapan tajamnya, "Apa apaan sih lo ini? Lo pikir kepala gw ini apa? Seenak saja lo jitak!" Daren menggerutu.


"Siapa suruh telinga lo itu tidak berfungsi dengan benar!" Seru Juni dengan acuh tangannya menyambar buku tulis dan menggulungnya, menempelkan ujungnya ke arah telinga Daren dan ujung satunya ia berteriak, "Gw pinjem penggaris lo!"


"Kampret lo! Pengeng nih telinga gw!" Daren mengusappp usappp telinganya yang di teriaki Juni.


"Mana sini penggaris lo!" Juni mengadahkan tangannya di depan Daren.


"Ihs lo ini!" Daren mengambilkan penggais dari dalam tasnya dan di berikan ke pada Juni, "Ini yang lo minta!" Seru Daren.


"Nah gitu dong!" Juni mulai menggaris di atas kertas.


"Dasarrr lo ini, mahluk tuhan yang paling aneh!" Oceh Daren, ia menatap sekilas ke arah Naira, coba saja aku bisa memiliki mu!


"Nanti malam, kita nginap lagi gak nih Nai?" Tanya Novi sambil mengerjakan tugas yang di berikan bu Rita.


"Gw sih pengennya kalian berdua nginap lagi, gw bosan kalau sendiri di rumah." Ujar ku sambil memainkan pulpen.


"Lo itu bosan karena sendiri atau karena tidak ada pak Pram di sisi lo, Nai?" Sindi Novi.


Mata ku menatap tajam Novi, "Congorrr lo bisa di rem kaga Nov! Lo liet dong kita ini lagi di mana!" Seru ku dengan penekanan.


"Hihihi iya sorry, kan gw cuma kelepasan doang." Ujar Novi dengan suara pelan dan menunjukkan jari telunjuk serta jari tengah membentuk v ke arah Naira.


"Hihihi hajarrr, Nai... emang ini bocah minta di beri." Oceh Serli ikut mengompori.


"Ihs kamprettt lo Ser, gak sohib sama gw!" Novi memasang wajah memelas dengan menoleh ke arah ku dan Serli secara bergantian.


Ku tunjuk Novi dengan jari telunjuk kanan ku, "Sekali lagi lo ngoceh gak ada rem bahas ka Pram, gw beri lo ke bang Haikal! Puas lo!" Ku palingkan wajah dari Novi.


Mata Novi berbinar, mao dong sama paman Haikal, "Ihs, Nai... please jahara banget si lo... janji ini gw yang terakhir gak ada rem, laen kali rem congotrr gw bakal pakem, hehehe." Tangan Novi menggandeng lengan ku, membujuk ku dengan mulut manisnya.


Novi lain di hati lain di bibir 🤣🤣


Ratna menatap curiga ke arah Naira, Serli dan Novi.

__ADS_1


Ratna membatin, apa yang mereka omongin ya? Kayanya Nai takut banget itu dari raut mukanya... heeem makin curiga nih gw, pasti ada yang mereka sembunyiin.


Di saat bel pulang.


Serli memasukan semua buku dan alat tulisnya yang ada di atas meja ke dalam tasnya, "Tar lo gak usah jemput gw ya, Nai!"


"Loh, kenapa? Lo gak jadi nginep di rumah gw?" Tanya ku dengan heran.


"Jadi lah, cuma gw gak enak kalo lo yang jemput... mending kalo lo balik dari kedei, lo kabarin gw, gw nanti minta di anter mang Maman aja." Ujar Seli yang memilih di antar sopir keluarganya.


"Lo ke kedei lagi, Nai?" Tanya Novi dengan polosnya.


"Kenapa? Gak boleh gw ke kedei?" Tanya ku nyolot pada Novi.


"Ihs bu bos lagi sensiii, kangen pak bos ya? Ahahaha." Novi tergelak sendiri.


"Kampreeet ini congorrr!" Ku bungkammm mulut Novi dengan tangan ku.


Ku lihat Elsa beranjak dari kursinya dengan tas di punggung.


Ku panggil Elsa, "Sa!"


Elsa menoleh ke arah ku, "Iya?"


"Mau ke kedei kan? Bareng aja sama gw."


"Udah gak apa bareng aja Sa, ada gw juga ko, gw nebeng sama Nai." Ujar Novi yang ikut nimbrung bicara.


"Emmm, ya udah kalo Novi juga ikut... gw ikut bareng, tapi apa gak ngerepotin?" Tanya Elsa.


"Gak dong." Novi yang menjawab dengan tas sudah berada di punggungnya.


"Gw duluan ya gays!" Serli beranjak lebih dulu dari duduknya karena ada urusan keluarga.


"Hati hati lo! Awas mata lo kesandong om om di jalan, wahahahha." Ledek Novi yang mendapat tatapan tajam dari Serli, tapi Serli tetap melanjutkan perjalanannya meninggalkan kelas.


Tangan ku menutup mulut Novi, "Ini congorrr kalo gak bisa di rem, di jaga dikit napa! Sekate katenye bae lo kalo ngebacottt!" Omel ku.


Entah kenapa sejak pagi tingkah Novi jadi aneh, gampang banget ketawa, mulutnya asal nyablak aja.


# Flashback on


Pagi hari di kediaman Pramana.


Novi yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya melihat lihat ke halaman samping rumah seorang diri sambil menunggu sohibnya bersiap.


"Aiiiih seger banget." Novi merentangkan ke dua tangannya ke samping, menghirup udara segar dalam dalam dan membuangnya perlahan.

__ADS_1


Lagi enak enaknya menikmati udara segar di pagi hari, Novi di kejutkan dengan suara seorang pria dewasa yang sangat ia kenal, suara yang di miliki oleh pria yang menyebalkan namun di rindukan saat jauh di mata.


"Sedang apa kau di sini, bocah plangton!" Seru Haikal dengan suaranya yang datar, yang berada tidak jauh dari posisi Novi saat itu.


"Ihs, paman nyebelin bin nyeselin... paman ngapain di sini? Ngikutin gw ya, paman!" Novi mengerlingkan satu matanya ke arah Haikal.


Haikal menatap jengah Novi, ini bocah plangton cacingan apa ya? "Ihs, saya mengikuti bocah plangton seperti mu? Jangan besar kepala kau ya!" Seru Haikal dengan suara dinginnya.


Novi memandang Haikal tanpa berkedip, astaga ini mahkluk Tuhan paling ganteng asal congornya kalo ngomong kaga pedes, keringat yang membasahi jambangnya, jakunnya yang naik turun, matanya yang indah, alisnya yang tebal dan tajam, aaaaa pengen gw comot. Teriakan hati Novi yang tanpa sadar tangan kanannya mengudara hendak menyentuh jakun Haikal.


Hap.


Dengan sigap Haikal yang merasa jengah mencekal dan menahan pergelangan tangan Novi yang hendak menyentuh jakunnya.


"Mau apa kau, bocah plangton!" Seru Haikal dengan ketus.


Novi membatin, aduh mampusss nih gw, gw kirain cuma dalam hayalan gw doang tadi mau nyentuh itu jakun, ternyata tangan gw ini beneran terulur mau nyentuh itu jakun paman Haikal, aiiiiih malu.


"A- anu, i- itu pa- paman... ada semut di leher paman, iya ada semut." Ku hempaskan tangan ku dari genggaman paman Haikal.


Haikal memundurkan kepalanya, yang benar saja, masa iya di leher ku ada semut!


Haikal mengusappp usapkan tangannya di lehernya yang jenjang dengan menatap Novi, tidak ada semut apa bocah plangton ini mengerjai ku?


Novi menarik sudut bibirnya ke atas, sepertinya paman Haikal percaya sama perkataan gw, sekalian aja lah hehehe.


Tangan Novi terulur menyentuh leher Haikal, "Biar gw bantu, gw baik lo paman!" Cuma alesan gw doang sih ahahah, dapet juga, aiiih begini rasanya pria dewasa.


"Sudah menyentuhnya!" Seru Haikal dengan tegas.


"Makasih paman." Novi langsung berlari memasuki kediaman Pramana meninggalkan Haikal di halaman.


# Flashback end


Di dalam mobil menuju kedei.


Atas permintaan Naira, tidak ada lagi mobil yang terang terangan mengawalnya di belakang, hanya ada Haikal yang terus bersamanya.


Sedangkan demi keamanan, Pram tetap mengerahkan orang orangnya yang bertugas sebagai pengawal bayangan tetap pada tuganya tanpa sepengatahuan Naira.


Di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan.


Brak.


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2