Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Bersembunyi


__ADS_3

...💖💖💖...


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk.


Pak Pram mengabaikan ketukan pintu dan tetap melakukan aksinya, tangannya bergerilya menyetuh salah satu gundukan kembar ku.


"Emmmm." Aku menggelengkan kepala ku, berharap ia tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Ketika pagutannya terhenti, baru lah Naira bisa mengatur nafas dengan dada yang masih naik turun.


Pram menatap Naira penuh damba lalu bibirnya mendarat di leher putih mulus Naira dan memberikan sensasi yang tidak pernah di rasakan oleh gadis itu.


"Pak, jangan!" Seru ku dengan mendesahh tangan kanan mendorong kepalanya agar menjauh dari leher ku.


Bukannya menjauh, Pramana Sudiro justru semakin menjadi, suara yang di ke luarkan Naira justru membuatnya semakin ingin memiliki seutuhnya tubuh Naira.


Pram menggigit kecil beberapa bagian pada leher Naira dan menye sapppnya meninggalkan jejak kepemilikan.


Tangannya yang bermain dengan salah satu gundukan kembar Naira kini memilinnn puncaknya lalu meremasssnya.


Tok tok tok tok tok tok.


Pintu di ketuk lagi oleh seseorang yang berada di luar kamar dengan tidak sabaran hingga berkali kali di gedor.


Pram menjauhkan wajahnya dari Naira lalu mengumpat, "Ah, sialll... berani sekali orang itu mengganggu ke senangan ku! Kau tunggu di sini!" Pram menyuruh Naira untuk tetap diam di tempat tidur.


Pram berjalan ke arah pintu dengan langkah lebar dan wajah merah menahan kesal, kesal saat hasratnya akan tersalurkan malah mendapatkan gangguan dari orang yang sudah dengan berani menggedor pintu kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan aku terpaku atas apa yang baru saja hampir pak Pram lakukan pada ku, aku menatap punggungnya yang berjalan menjauh dari ku.


Yang berani melakukan itu pada ku hanya satu orang, hanya dia. Awas kau ya! Pram mengepalkan ke dua tangannya.


Saat aku menyadari pak Pram yang semakin menjauh, Akhirnya aku selamat dari rubah tua itu...ah bukan rubah tua tapi rubah mesum.


Lalu aku menatap ke arah pintu lain, bukan Naira namanya jika aku hanya diam dan menunggu di mangsa oleh Pram, "Lebih baik aku bersembunyi di salah satu pintu itu." Aku berjalan dengan menyeret kaki kiri ku.


Aku membuka salah satu pintu dengan ruangan yang luas lebih luas dari kedei ku saat ini, isinya juga tidak main main berjejer beberapa lemari yang berukuran besar dan tinggi, bentuk lemarinya pun sangat artistik, ku buka satu persatu pintunya, tersusun dengan rapih pakaian rubah tua itu, setelan jas yang menggantung rapih dan wangi.


"Apa ini?" Aku membuka laci yang berada di paling bawah dari lemari tersebut dan mengambil salah satu darinya aku angkat dan aku menatapnya tanda tanya, seperti milik ku tapi aku tidak punya yang seperti ini, apa jangan jangan ini milik rubah tua itu? Aku langsung melemparnya ke sembarang arah.


"Gila, itu segitiga pengaman pak Pram, bodohnya aku... kenapa aku jadi sebodoh ini sih!" Aku merutuki kebodohan ku dan ku pungut benda yang tadi aku lempar hingga mendarat di lantai marmer tempat kaki ku pijak, aku simpan lagi ke tempat semula.


Di lemari lain ada deretan dasi, kaos kaki, sepatu berjejer rapih, jam tangan dari berbagai merk ternama, kaca mata yang harganya fantastis terlihat dari beberapa kaca mata yang masih menggantung label harganya


Sedangkan di sisi lainnya puluhan dress tergantung rapih dengan berbagai warna dan model, ada yang dress panjang dan ada juga yang selutut, aku mengambilnya satu dan menempelkannya di tubuh ku.


Aku menaruhnya kembali dress ini, membuka pintu lain pada lemari yang masih tampak mengoda mata.


Tampak tersusun dengan rapih pakaian wanita, aku mengambilnya satu dan menempelkannya lagi di tubuh ku.


"Kenapa ukurannya bisa pas gini ya? Apa ini memang di siapkan untuk ku? Atau semua ini milik wanitanya pak Pram yang bejibun itu?"


Aku melipat kembali pakain ini dan menaruhnya lagi, aku buka pintu lemari lainnya berjejer puluhan sepatu wanita dengan warna dan model yang berbeda juga dan lagi lagi ukurannya bisa sama dengan ukuran kaki ku.


Jika isi laci yang ada di bagian bawah lemari tadi adalah segitiga pengaman pak Pram, lalu ini pasti pengaman yang ukurannya pas dengan ku.


Mata ku membola sempurna, ada sarung pengaman gudukan kembar ku juga.

__ADS_1


"Astaga ini apa? kenapa bentunya gak karuan gini?" Aku mengeluarkan beberapa helai pakaian dalam dari laci paling bawah pada lemari, "Ini sih gak cocok kalo di bilang daleman lebih cocok di bilang potongan kurang bahan"


Aku beralih ke lemari lain, ada beberapa selimut dan tas wanita.


Aku sibuk dengan membuka setiap pintu lemari hingga aku melupakan bahwa di luar sana ada rubah tua yang entah ia sedang mencari ku atau sedang memarahi orang yang tadi menggedor pintu, tapi harusnya aku bersyukur karena orang itu aku bisa terhindar dari pak Pram dan sekarang aku terdampar di ruang yang di penuhi dengan barang mewah.


.


.


Di saat yang sama.


Saat pintu di buka oleh Pram, seorang pria yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Pram dengan jubah putih dan tangan kirinya menenteng tas dokternya langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan mencari sosok yang membuatnya harus meninggalkan rumah sakit hanya untuk memenuhi perintah Pram.


"Hei, bodoh! Begitu cara mu masuk ke dalam kamar ku!" Pram membentak pria itu.


"Diam kau! Aku sedang mencari istri kecil mu, di mana dia? Secantik apa sih hingga membuat mu kalang kabut seperti itu!" Ujar pria itu.


"Cih." Pram meraih hape dari atas nakas lalu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur dan melihat Naira yang sedang berada di walk in closed lewat layar hapenya.


Ternyata kau mencoba untuk bersembunyi dari ku ya! Pram menarik sudut bibirnya ke atas.


Samuel menatap Pram yang sedang melihat layar hapenya dengan sudut bibirnya yang di tarik, "Hei bodoh! Kenapa kau senyum senyum sendiri? Di mana kau sembunyikan istri kecil mu itu, heh?" Samuel menaruh tasnya di atas nakas.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2