Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Yang terpenting


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bagi kaka ipar atau bagi mu, Pram?" Ledek dokter Samuel.


"Apa maksud mu?" Tanya Pram, "Ke luar kau dari sini! Tugas mu sudah selesai kan!" Pram mengusir dokter Samuel dari kamarnya.


"Enak saja, tugas ku belum selesai!" Oceh dokter Samuel.


Tok tok tok.


Pram dan dokter Samuel menoleh ke arah pintu.


"Tuan, saya mengantar bubur untuk Nona." Ujar pak Dedi.


"Itu dia, tugas ku selanjutnya." Dokter Samuel menyeringai.


Pak Dedi mendorong troli, yang di atasnya terdapat beberapa menu sarapan untuk Tuan nya Pram, dokter Samuel dan bubur untuk Naira.


"Aku ingin tidur, kaaaa!" Rengek Naira.


"Iya, tapi sekarang makan bubur mu dulu ya! Setelah itu minum obat, baru kau tidur kembali." Ucap Pram yang menyingkirkan bantal Naira ke lantai.


Tanpa di perintah, pak Dedi langsung memungut bantal itu dari lantai.


Pram mendudukan dirinya di belakang Naira, membiarkan Naira menyandarkan punggungnya pada dadanya yang bidang.


"Dedi, tolong kau suruh orang untuk tebus obat ini!" Pram menyerahkan kertas resep obat untuk Naira pada Dedi.


"Baik, Tuan!" Pak Dedi mengambil resep obat dari tangan Pram.


Pak Dedi menyerahkan mangkuk yang berisi bubur pada Pram. Pram langsung menyuapkan bubur ke mulut Naira dengan hati hati. Dengan tangan Pram yang melingkar pada ke dua lengan Naira.


Dokter Samuel dengan santainya menyantap sarapannya.


"Ka Pram gak sarapan?" Tanya Naira dengan suaranya yang lemah.


"Nanti saja, sekarang kau dulu yang sarapan." Ujar Pram dengan mengutas senyum pada Naira.


Pak Dedi ke luar dari kamar Tuannya, dengan membawa serta bantal dan resep obat.

__ADS_1


"Kaka ipar, setelah ini kau akan melanjutkan kuliah di mana? Atau kau akan diam di rumah?" Tanya dokter Samuel, sambil menyantap sarapannya.


"Ihs siapa bilang, aku akan diam saja di rumah! Aku punya bisnis yang menanti untuk aku kembangkan!" Gerutu Naira.


"Usaha apa itu?" Tanya dokter Samuel.


"Kedei coffee, bahkan tidak lama lagi, aku akan membuka cabang yang ke 2."


"Wow hebat sekali ya, selain cantik, pandai bela diri, ternyata kaka ipar ku ini jago juga mengelola bisnis." Puji dokter Samuel.


"Heh cepat selesaikan sarapan mu! Setelah itu kembali kau ke rumah sakit!" Omel Pram.


"Dasarrr pelit kau! Tidak bisa apa membiarkan aku sebentar untuk bicara dengan kaka ipar!" Gerutu dokter Samuel.


"Jangan banyak alasan, kau!"


"Ngomong ngomong kaka ipar, kapan kalian akan bulan madu? Kalian belum melakukan bulan madu kan?" Celetuk dokter Samuel.


"Uhuk uhuk uhuk." Naira terbatuk batuk mendengar ocehan dokter Samuel.


"Sialannn kau! Cepat ambilkan air untuk ku!" Pram meminta dokter Samuel, untuk mengambilkan gelas yang berisi air padanya.


Dokter Samuel beranjak dari duduk nya, mengambil kan gelas berisi air dari atas trolly. Lalu menyerahkan nya pada Pram.


Setelah beberapa saat, akhirnya Naira selesai dengan sarapannya dengan menyisakan bubur di mangkuk. Naira juga sudah minum obat, dan kini ia bersandar pada kepala ranjang.


"Kalian sungguh membuat ku iri!" Gumam dokter Samuel.


"Makanya cepat lah menikah!" Oceh Pram yang kini memijat kaki Naira, yang ada di atas pangkuan nya.


"Mudah sekali kau bicara! Aku belum bertemu dengan wanita, yang cocok dengan ku!" Kilah dokter Samuel.


"Mencari alasan saja kau itu! Sana cepat pergi dari kamar ku! Pengacau!" Gerutu Pram.


"Iya iya iya, baik lah. Aku pergi! Cepat sembuh ya kaka ipar!" Dokter Samuel beranjak dari duduknya, menepuk bahu Naira, lalu berkata pelan di telinga Naira.


"Cepat lah ka hamil, biar pria tua itu tidak terus mengganggu mu! Setidaknya berikan Pram mainan hehehe." Ledek dokter Samuel yang malah membuat pipi Naira merona.


"Mau pergi atau ku lempar kau dari sini!" Ancam Pram dengan sendal yang menjadi alas kakinya. Dengan mengarahkan nya ke wajah dokter Samuel.

__ADS_1


"Kabuuuuur ada singa ngamuk!" Dokter Samuel berlari, dengan tas kerjanya di tangan meninggalkan kamar Pram.


"Apa kepala mu masih sakit, sayang?" Tanya Pram dengan tangannya menggenggammm jemari Naira.


"Sedikit." Naira menurunkan ke dua kaki nya dari pangkuan Pram.


"Ada apa?" Pram beranjak dan berdiri di samping istrinya.


"Aku harus ke sekolah ka, hanya tinggal beberapa hari sebelum pengumuman hasil ujian." Naira berusaha berdiri dengan ke dua kakinya, di saat akan melangkah kepalanya merasakan pusing.


Hap.


Pram dengan siaga, menggendong Naira dan membaringkan tubuh lemah Naira di atas tempat tidur.


"Jangan membantah, ku! Kau istirahat saja untuk beberapa hari! Urusan sekolah, biar aku yang urus!" Ujar Pram dengan menarikkk menyelimuti tubuh Naira dengan selimut, mengompres kening Naira dengan ice bag.


Grap.


Naira menggenggammm pergelangan Pram, di saat Pram akan melangkahkan kakinya.


"Apa ada yang kau butuhkan? Katakan saja?" Pram mengelusss pipi Naira dengan mendudukan dirinya di tepian kasur.


"Terima kasih karena sudah menjaga, ku! Tapi aku tidak suka kaka dengan mudah menghabisiii nyawa orang lain. Aku mohon, kaka jangan mengotori tangan kaka dengan darah, mereka juga punya hak untuk hidup." Naira menatap lekat wajah Pram.


Pram mencondongkan tubuhnya, mengunci tubuh Naira dengan ke dua tangannya.


"Kau tidak perlu banyak berfikir, yang terpenting sekarang, kau istirahat dengan cukup! Semakin lama kau sakit, semakin lama kau siksaaa aku, sayang!" Ucap Pram dengan menyusuri leher Naira, membuat bulu bulu halus Naira meremang.


Kening Naira mengkerut, "Kan aku yang sakit, kenapa jadi ka Pram yang merasa tersiksaaa?" Tanya Naira dengan polosnya.


Pram melumattt bibir Naira, dengan rakusnya lalu melepasss pagutannn nya. Dengan jempolnya Pram menyapu bibir Naira yang basahhh.


"Kau masih tidak mengerti menyiksaaa ku dengan apa? Atau kau berpura pura tidak mengerti, sayang?"


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2