
...💖💖💖...
Pram mengerutkan keningnya, tangannya terulur menyentuh kening Naira, "Suhu tubuh mu normal!"
Plak.
Naira menggeprak telapak tangan Pram, "Jangan ngeles! Gak tau apa kalo aku lagi khawatir! Bagai mana kalo pemikiran kaka jadi koslet? Berabe kan jadinya!" Naira menjarak duduknya dari Pram, bibirnya mengerucut tajam.
Pram menggelengkan kepalanya, astaga bocah ini, khawatir pada ku bisa membuatnya berubah seratus dua puluh derajat! Bawel sekali.
"Sejauh itu pemikiran mu? Aku pasti kan, aku tidak akan apa apa, mengerti? Dan ke selamatan mu, ku pasti kan, hal buruk yang terjadi di Jepang... tidak akan pernah terjadi kembali!" ucap Pram dengan tegas, meminta Naira untuk mendekat kembali padanya dengan gerakan tangannya..
"Kita bukan lagi membahas itu ka!" sungut Naira dengan bibir mengerucut dan memalingkan wajahnya dari Pram.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, sabar Pram... setidaknya Naira tidak mengabaikan mu, hanya bawel, itu lebih baik dari pada ia diam seribu bahasa.
"Gak usah mendekat! Aku masih sebel sama kaka!" celetuk Naira, apa apaan dia itu, mobil ringsek kaya gitu, masih aja mikirin meeting, kaya nyawanya gak penting aja! Harta gak akan di bawa mati juga! Aku kan gak mau kalo sampe terjadi apa apa sama ka Pram!
Pram tersenyum mendengar gerutuan Naira.
Naira mengadahkan tangan kanannya, tanpa menoleh ke arah Pram, "Berikan pada ku!" ucapnya dengan ketus.
Pram mengerutkan keningnya, menatap heran tangan Naira yang mengadah padanya.
"Berikan apa? Hati ku? Cinta ku? Kasih sayang ku?"
Naira mendengus menatap tajam Pram, "Masih gak peka juga! Hape kaka, sini berikan pada ku!"
Pram meletakkan hapenya di atas telapak tangan Naira, "Untuk apa hape ku?"
Jemari Naira langsung berselancar di layar hape Pram, "Nanti juga kaka akan tau sendiri!"
"Pak Dev! Bagai mana ke adaan mu? Kau di rawat di mana? Aku dan ka Pram akan ke sana!" cerocos Naira.
[ "Saya baik baik saja, Nona. Nona dan Tuan tidak perlu ke rumah sakit. Besok juga saya akan kembali ke kantor." ]
ucap Dev dengan datar dari sambungan telponnya.
"Sudah katakan saja, di mana ruang rawat mu! Dengar tidak!" omel Naira dengan suara tinggi.
Pram menatap Naira dengan pandangan yang sulit di artikan, anak ini, cukup berani juga membentak Dev, punya ke beranian dari mana bocah ini!
[ "Lantai 2, ruang rawat Mawar, nomor 123." ]
__ADS_1
"Gitu kan enak!" Naira langsung memutuskan sambungan telepon nya, setelah mendapatkan apa yang ia mau.
Naira tidak langsung menyerahkan hape itu pada pemiliknya, jemari nya mulai berseluncur dengan lincah.
"Aku dan ka Pram akan ke rumah sakit, tunggu kami di ruang UGD!" pesan terkirim ke nomor dokter Samuel.
Naira menyimpan hape Pram ke dalam tas selempangnya.
"Kenapa tidak kau kembalikan pada ku?" tanya Pram melihat hape nya di amankan Naira.
Dengan mata yang melotot, Naira meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya, meminta Pram tidak banyak komentar, "Ssssttttt!"
Pram menurut, menggerakkan jemarinya, lalu di tarik dari sudut bibir ke sudut bibirnya yang lain.
Tidak berapa lama mobil terparkir di area parkir, Pram turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Naira.
Pram langsung menggandeng lengan Naira, "Emang aku sakit ka? Pake di gandeng segala." ketus Naira.
"Memang kau lupa dengan punggung mu?" ucap Pram acuh, di balas dengan Naira yang tidak menjawabnya.
Naira mengalihkan jalannya ke arah ruang UGD, membuat Pram kembali bertanya, "Mau apa lagi kita ke sini?"
"Masuk saja seperti apa kata ku, ka! Bawel baget sih!" ucap Naira menohok Pram.
"Ada apa dengan kening mu, bro?" seru dokter Samuel, saat melihat Naira dan Pram memasuki ruang UGD, matanya tertuju pada kening Pram yang lebam.
Samuel beranjak dari kursinya, melangkah menghampiri Pram.
"Tolong periksa ka Pram ya, dokter! Apa ada yang serius atau tidak! Tadi ka Pram dan pak Dev habis mengalami kecelakaan." cicit Naira dengan serius, mengarahkan Pram untuk berbaring di ranjang rawat.
"Tidak perlu sayag! Aku duduk saja!" Pram mendudukkan dirinya di atas ranjang rawat, dengan memperlihatkan sikutnya yang lebam.
"Kau bisa terluka juga, bro?" ledek dokter Samuel.
"Sialannn kau! Ku kirim ke Afrika... baru tau rasa!" gerutu Pram.
Kini ke duanya melangkah menuju ruang di rawatnya Dev, setelah Samuel memeriksakan kondisi Pram.
"Aku kan sudah bilang, aku ini kuat, hebat, tidak ada seorang pun yang bisa membuat ku celaka!" ucap Pram dengan sombongnya.
"Jangan gitu ka! Ini namanya takabur, Allah itu gak suka lo... kita jadi orang yang takabur!" masa iya ka Pram gak apa apa, itu lebam apa gak sakit?
"Kau tidak usah hiraukan aku! Aku kan suka katakan, maka itu yang harus kau dengar! Tidak usah banyak berfikir." ujar Pram dengan merangkul bahu Naira, dengan senyum yang tersungging di bibir nya.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, aku belum tenang kalo kaka belum di periksa dokter." sungut Naira dengan pipi menggelembung.
"Jangan seperti itu! Itu sama saja dengan kau menggoda ku!" Pram mengelusss pipi Naira, hari ku begitu berwarna dengan adanya kau!
"Astaga, ya Allah... pak Dev, kaki mu kenapa sampai di gips?" cicit Naira dengan mata membola, melihat Dev dengan kaki kiri di perban dan menggantung di tiang.
"Oh ini, tidak apa apa Nona, hanya retak saja. Tidak lama juga akan pulih." Dev tersenyum kikuk melihat Nona Muda-nya begitu terkejut melihat dirinya, namun di hatinya ada rasa was was jika Pram salah mengartikannya.
Astaga Nona, bersikap lah biasa saja, saya takut ini akan menjadi ancaman untuk saya, lihat itu pria yang ada di belakang mu! Sangat menyeramkan dengan wajahnya yang merah padam, astaga Tuan... bawa pergi saja Nona dari ruang rawat ku saat ini juga! Saya tidak sanggup menghadapi amukan singa gila seperti mu Tuan.
"Apa pak Dev bilang, retak? Terus besok masih ingin kerja?" cicit Naira.
"Banyak pekerjaan di kantor, Nona. Ada beberapa hal juga yang harus saya tangani." ujar Dev dengan mata yang menatap segan pada Pram.
"Memang apa yang harus di tangani sampai tidak melihat kondisi mu saat ini, pak Dev?" Naira mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping ranjang rawat, menatap Dev dengan iba.
"Saya harus mengurus beberapa meeting Tuan, meninjau beberapa perusahaan yang akan mengajukan kerja sama dengan perusahaannya Tuan Pram. Belum lagi mengatur jadwal untuk Nona dan Tuan bertemu dengan wedding organizer, untuk ke perluan resepsi pernikahan." ujar Dev menjabarkan garis besar ke sibukan nya.
"Sesibuk itu? Lalu bagai mana dengan ka Pram? Eh apa istri mu sudah di beri tahu... jika pak Dev sedang di rawat?" Naira menatap Pram dan Dev bergantian.
Pram menatap tajam Dev, lihat itu, istri ku sangat menghawatirkan mu! Awas saja jika sampai ia merengek pada ku dan mengata kan aku ini kejamm pada mu Dev!
"Sisil sedang membeli makanan di kantin rumah sakit, mungkin sebentar lagi akan kembali." ucap Dev.
Pram menatap Naira dengan tatapan licik dari matanya, setelah otaknya muncul ide gila, yang akan membuat Naira selalu berada bersamanya di mana pun ia berada.
"Kau tidak perlu khawatir kan pekerjaan, kau pulihkan lah dulu kondisi mu... untuk masalah pekerjaan, ada Naira yang akan membantu ku." Pram memainkan alisnya, menatap Naira yang kini menatapnya dengan pandangan yang menyelidik.
Naira berteriak dalam hati, apa lagi yang rubahhh mesummm ini rencanakan untuk ku!!
"Masa kau tidak mengerti perkataan ku, sayang!" ucap Pram dengan santainya, dalam hati ia tergelak mentertawakan teriakan batin Naira.
Ceklek.
Pintu ruang rawat Dev di buka dari luar oleh seseorang.
Naira menoleh ke arah pintu yang kini terbuka lebar, sepasang mata indahnya langsung berbinar indah
"Astaga, lucu sekali! Manis, imut, cantik lagi!" seru Naira yang tanpa sadar kini beranjak dan melangkah kan maju ke arah pintu.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
Makasih yang sudah dengan setia 😉