
...💖💖💖...
Pram mengerutkan keningnya, berkata dengan penuh penekanan, "Apa seburuk itu... penilaian mu pada ku, sayang?"
"Itu bukan penilaian ka, tapi kenyataan." ucap Naira dengan tegas.
"Itu bukan kenyataan, sayang! Tapi bagai mana cara ku menunjukkan pada mu. Seberapa besar aku menyayangi mu, mencintai mu, segalanya untuk mu! Kau mengerti itu?" ucap Pram.
Naira mengerutkan keningnya, "Aku tidak mengerti maksud mu, ka!"
Pram mendudukan dirinya di belakang Naira, menempelkan dadanya paa punggung Naira, dengan tangan yang melingkar di perut Naira.
"Aku bukan pria yang suka banyak bicara, tapi aku pria yang menunjuk kan rasa cinta ku dengan apa yang aku lakukan untuk mu. Kau mengerti itu? Bukan hanya dengan kata!" ucap Pram dengan menyandarkan dagunya pada bahu Naira.
...🌻🌻🌻...
Seperti rencana Pram, semua berjalan dengan lancar tanpa kendala. Setelah sarapan, Naira ke luar dari rumah sakit dengan Pram yang berjalan di sampingnya, sedangkan Naira duduk di atas kursi roda, dengan Toda yang mendorong kursi rodanya.
"Ka, aku bisa jalan sendiri! Tidak perlu menggunakan kursi roda!" gerutu Naira.
"Sudah, kau diam saja! Duduk manis di atas kursi roda mu!" ucap Pram yang tidak ingin di bantah.
"Tau nih kaka ipar, duduk yang manis ka! Nanti ka Pram ke luar tanduk, bisa bahaya itu!" oceh Toda.
Plak.
Naira menggeprak lengan Toda, "Tidak usah ikut bicara kalo tidak membela ku!" sungut Naira pada Toda.
"Apa kaka yakin, ka Takeshi dan Zang sudah mengurus semuanya?" tanya Toda saat ke tiganya hampir sampai di parkiran rumah sakit.
"Harusnya sih, mereka sudah ada di sini!" ucap Pram dengan mengedarkan pandangannya, mencari ke beradaan mobil Takeshi.
Ciiit.
Mobil hitam berhenti di depan ke tiganya.
"Maaf ya ka, sudah membuat kalian menunggu lama!" seru Takeshi yang berada di belakang kemudi.
"Diam itu lebih baik untuk mu, Takeshi!" Zang ke luar dari dalam mobil, mendorong pintu samping dan melepit kursi yang ada di dekat pintu, agar Pram bisa lebih mudah untuk mendudukkan Naira di dalamnya.
Mobil yang di kemudikan Takeshi, melaju meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
"Ka, setelah ini kita akan tinggal di mana? Apa kita akan kembali ke risort?" cicit Naira dengan duduk menyandar pada Pram.
__ADS_1
"Kita akan kembali ke risort, melanjutkan yang tertunda pastinya!" oceh Pram dengan menggenggammm jemari Naira.
"Ehem, yang lain ngontrak. Kenapa kalian tidak tinggal di tempat kami saja ka? Kaka ipar kan belum pernah berkunjung ke tempat kami! Benar tidak ka Pram!" oceh Toda.
"Tidak bisa!" cicit Zang.
"Tidak boleh, ada itu... ada tikus... i- iya, di rumah banyak tikus. Aku takut itu akan mengganggu kenyamanan kaka ipar." cicit Takeshi.
Membuat Naira dan Toda menatap heran, pada ke duanya dengan kening yang mengkerut.
Tatapan tajam langsung di berikan Pram pada Toda, anak ini mau membongkar status mereka di depan Naira apa! Bisa kacau jika Naira sampai mengetahui, apa pekerjaan mereka yang sebenar nya, apa lagi di rumah yang di jadikan markas terdapat Harumi.
"Kenapa tidak bisa? Apa ada yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Naira dengan menatap Zang dan Takeshi secara bergantian.
"Kami tidak menyembunyikan apa pun dari mu, kaka ipar." oceh Zang.
Takeshi melirikkan matanya pada Pram lewat kaca spion mobil, bagai mana ini ka! Di rumah ada Harumi, dan aku belum memindahkan Harumi ke ruang lain, apa kaka ipar tidak akan merasa curiga... dengan penjagaan yang ada di rumah?
"Jadi, apa pilihan mu sayang?" tanya Pram.
Dengan bersemangat Naira berkata, "Aku ingin ----"
Namun ucapannya terhenti dan membola saat Pram berbisik di telinganya.
"Aku ikut ka Pram aja kalo gitu, hehehe!" ucap Naira dengan kikuk, sialll... kenapa jadi gini sih! Kan seru tinggal dengan mereka. Tapi kalo ka Pram udah ngomong gitu, jadi lampu merah juga untuk ku kan? Dasar rubahhh mesummm! Pake cara licik!
Takeshi membuang nafas dengan lega, setelah mendengar ucapan Naira.
"Sejak kapan di rumah kita ada tikus, ka?" tanya Toda dengan polosnya.
"Toda!" seru Pram dengan suaranya yang penuh penekanan.
Zang, Takeshi, Toda, Pram dan Naira kini duduk bersama di ruang tamu. Mereka merayakan Naira yang baru ke luar dari rumah sakit, dengan menikmatiii cemilan dan berbagai menu hidangan yang Pram pesan lewat on-line.
"Aku juga mau ka, di suapi oleh mu!" gerutu Toda dengan membuka mulutnya, mencondong kan tubuhnya ke depan Naira yang hanya terhalang meja.
"Enak saja, tidak bisa. Kau makan lah sendiri dengan tangan mu!" sungut Pram, yang melarang Naira untuk menyuapi Toda.
Zang tergelak dengan ide yang ia ucapkan untuk Toda, "Cari lah wanita, dan jadikan ia istri. Baru kau bisa minta di suapi olehnya! Jangan kan di suapin makan, kau akan mendapatkan pijat plusss plusss darinya! Hahahha."
Prak!
Bugh.
__ADS_1
Takeshi memukulll kepala Zang, dengan tangannya.
"Jangan memberikan ide gila mu pada anak kecil! Ingat usia Toda masih jauh di bawah umur mu!" gerutu Takeshi.
"Eh, memang berapa usia mu Toda?" tanya Naira.
Dreet dreet dreet.
Hape Takeshi yang ada di dalam saku jaketnya berdering. Jaket yang ia letakkan di lengan sofa.
"Kau jawab lah dulu telponnya!" seru Pram.
Takeshi menjawab panggilan teleponnya, tanpa beranjak dari duduknya.
"Ada apa?" tanya Takeshi, dengan hape yang kini menempel di daun telinganya.
Indra pendengarannya, langsung mendengar suara anak buahnya yang tergagap dari sebrang sana.
[ "Bos! Ga- gawat bos, No- nona Harumi ber- berhasil me- melarikan diri." ]
Takeshi mengerutkan keningnya, berkata dengan penuh penekanan, "Apa? Bagai mana bisa? Siapa yang bertugas menjaganya?"
[ "Furio, bos. Tadi Furio meminta ku dan yang lain untuk membeli perban, makanan serta pakaian untuk Nona Harumi. Furio bilang itu atas perintah dari bos. Makanya kami tidak ada yang berani membantah. Namun saat aku dan yang lain kembali, Furio dan Nona Harumi sudah tidak ada di tempat, bos!" ] ujar sang anak buah, menceritakan apa yang terjadi.
Takeshi beranjak dari duduknya, ia menjauh dari semuanya dan melanjutkan perkataannya, dengan tatapan yang memberi isyarat pada Pram.
"Coba kau lihat CCTV, dengan apa Furio membawanya pergi! Dalam waktu 5 menit kau tidak mengabari ku, ku habisi kau saat ku kembali!" titah Takeshi.
Takeshi memutuskan sambungan teleponnya, "Aku harus bilang apa pada ka Pram! Ka Pram sudah mewanti wanti pada ku untuk menjaga Harumi, tapi sekarang Harumi kabur! Bagai mana ini!" gumam Takeshi, lalu ia membalikkan badannya dan mendapati tatapan tajam dari Pram.
Pram melangkah maju menghampiri Takeshi, berkata dengan datar di sertai wajah tanpa ekspresi.
"Apa yang kau katakan barusan? Apa aku tidak salah dengar?"
Takeshi menjawabnya dengan tergagap, ia menelan salivanya dengan sulit, "I- itu ka, anu... Harumi ---"
Bugh.
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1