
...💖💖💖...
"Rumah siapa ini, pak?" Aku menatap kagum rumah yang berdiri megah di depan ku ini, sangat megah dan yang bener saja jika aku tinggal di rumah sebesar ini aku yang membersihkannya seorang diri, satu hari juga ga bakal selesai ini.
"Nanti juga kau akan tahu." Jawab pak Pram dengan mood cuwek.
"Ih pelit banget si, pak!" Seru ku.
Eeet ya orang si cepet banget berubahnya, tadi aja di resto dewasa banget, pengertian banget, perhatian pake banget, lah sekarang balik lagi mood jelek, marah gak jelas, ini sekarang cuwek banget, bahasanya pak Pram mah kaku banget dah.
"Jangan ke luar dari mobil jika pintu belom di buka, kau mengerti?"
"Iya, aku ngerti pak bos Pramana Sudiro yang tajir melintir.
Pak Pram tersenyum dan mengacak rambut ku
Kali ini bukan pak Dev yang membukakan pintu untuk rubah tua itu, hehe songong banget ya ini mulut, masih manggil dia rubah tua udah jelas suami sendiri.
Ada pria yang usianya sudah tidak muda lagi dengan sigap membukakan pintu mobil untuk pak Pram lalu membungkuk hormat.
"Apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?" Tanya pak Pram dengan mode dinginnya.
"Semuanya sudah siap, tuan." Ujar pria itu.
"Apa dokter Samuel sudah datang?"
"Masih dalam perjalanan, pak!"
Dari dalam mobil aku bisa melihat pak Pram sedang berbicara dengan orang itu, tapi apa yang mereka bicarakan ya? Sayang aku tidak bisa mendengar ocehannya kalian!
Aku kapan sih turun dari mobilnya?
__ADS_1
Pak Dev membukakan pintu saat pak Pram sudah berdiri di samping pintu tempat ku duduk.
Kejutan apa lagi ini? Mudah mudahan kejutan yang baik lah ya! Hehehe.
Pak Dev membukakan pintu mobil untuk ku dan aku seperti biasa, suami kejam ku ini menggendong ku dengan kedua tangan kekarnya.
"Sepertinya kau sudah mulai paham dengan sikap ku ini?" Tanya pak Pram dengan mata fokus ke depan.
"Yah mau gimana lagi, kebiasaan bapak kalo gak gendong saya ya paling marah marah, itu doang kan?" Ledek ku dengan bersandar di dada bidangnya.
Pak Pram membawa ku masuk ke dalam rumah dan wow emezing banget, saat pintu di buka ternyata sudah berbaris rapih para pelayan yang bekerja di rumah megah ini mereka memakai pakaian seragam ala ala maid yang pernah aku lihat di buku komik, ternyata mereka itu nyata adanya, sekarang aku bisa bernafas lega jika ada pelayanan sebanyak ini pasti ada di antara mereka yang mengerjakan pekerjaan rumah.
Pak Pram berdiri di depan semua para pelayannya.
"Kalian semua, kenalkan ini adalah Nona Naira, istri dari pak Pramana Sudiro. Mulai sekarang kita wajib melayaninya dan menghormatinya, apa kalian mengerti?" Ujarnya dengan suara lantang.
Yang benar saja, usia memang sudah tidak lagi muda, tapi semangatnya itu patut di contoh, suaranya yang bersemangat tidak sebanding dengan usinya yang tua.
"Selamat datang Nona Naira!" Seruan yang terdengar indah di telinga ku di ucapkan semua pelayan yang ada di hadapan ku ini lalu mereka membungkuk hormat.
Pak Pram menatap ku tajam, "Itu sudah menjadi kewajiban mereka, Naira...mulai sekarang mereka juga hormat dan patuh pada mu!" Seru pak Pram.
"Tapi kan mereka jauh lebih tua dari ku, pak!" Pemikiran ku tidak lah sejalan dengan pak Pram, yang namanya hormat tidak perlu lah sampe membungkukkan badannya segala cukup dengan sikap dan lisannya saja yang patuh dan tahu baik dan tidak.
"Jangan membantah!" Ucap pak Pram dengan penekanan di setiap katanya, "Satu hal lagi, Naira."
"Apa?"
"Pak Dedi adalah kepala pelayan di rumah ini, jika kau butuh apa saja tinggal bilang saja padanya!"
"Saya siapa melayani anda, Nona Muda!" Ujar Pak Dedi dengan membungkuk hormat pada ku.
__ADS_1
"Iya, pak...senang bisa bertemu dengan anda pak!" Ujar ku.
Pak Pram menatap pak Dedi lalu memberikan kode dengannya.
"Kalian, bubar semua!" Seru pak Dedi pada semua pelayan.
Pram menatap ku tajam, lalu ia berjalan lagi memasuki kotak besi yang ada di sudut ruang, canggihkan rumah aja pake ada liftnya.
Pak Dev membukakan pintu lift yang akan di naiki pak Pram.
"Kau, cukup mengantar sampai di sini Dev! Sisanya bisa kau urus kan!" Seru pak Pram.
Ada angin apa lagi ini? Kalo ada yang di urus, antara pekerjaan kantor atau ada yang akan di habisi pak Pram? Mudah mudahan saja hanya urusan pekerjaan.
"Pokonya semua akan beres, pak! Selamat beristirahat, pak." Seru pak Dev yang lalu menekan tombol tutup pada lift.
Kini tinggal aku dan pak Pram saja di dalam lift.
"Pak?" Aku memanggilnya.
"Ada apa?"
"Apa bapak tidak berangkat ke kantor hari ini?" Tanya ku.
"Tidak, aku ingin beristirahat."
Kalo pun aku paksakan kerja, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di rumah, yang ada hanya membuat pikiran ku kacau jika tidak melihat mu.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit