
...💖💖💖...
Aku tergelak tidak lagi mampu menahan tawa.
"Kampret lu pada, ini juga kan karena kalian yang ngasih gw obat!" Seru Novi.
"Obat apaan?" Cicit Serli.
"Obat sedeng!" seru Novi.
Tidak lama bel berbunyi, tanda jam pelajaran akan segera di mulai.
Semua kembali ke tempat duduk mereka masing masing.
Aku harus bisa lulus dengan nilai baik. Bagaimana kabar rubah tua itu ya? Eh, apa apaan sih gw, ngapain juga gw mikirin rubah tua, inget Nai, lu harus fokus sama pelajaran.
Hingga waktunya jam istirahat tiba, aku Serli dan Novi memilih duduk di rumput yang hijau di taman belakang sekolah setelah sebelumnya membeli jajanan di kantin.
"Jadi, apa nih yang bisa gw jelasin ke kalian?" Tanya ku sambil memasukkan somay ke dalam mulut ku.
"Aaah basi lu, udah ah Nai, to the poin aja, gak usah berbelit belit aja!" Seru Novi.
"Tau nih, kaya lagi ngobrol sama siapa aja lu? Kita gak bakal lemes kok ini mulut." Terang Serli yang sebernya juga sudah gemes dengan tingkah Naira yang mengulur waktu untuk mengatakan siapa cowok yang sudah berani mengusirnya kemarin.
Belum lagi Novi, pikirannya masih melesat menerka nerka siapa itu Pram, pria yang mampu membuat karyawan kedei start mengalami sport jantung.
Angin berhembus meniup rambut Naira yang panjang hingga membuatnya bergeser dan menampakkan leher jenjang yang putih mulus dengan tanda kemerahan.
__ADS_1
Mata Serli membelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat matanya tertuju pada leher Naira yang duduk di sampingnya.
Serli mengulurkan tangannya pada Novi yang duduk di depannya, yang saat ini memegang bungkusan cilok.
Novi memegang bungkusan cilok Serli, "Kenapa ku?" Tanya Novi mendapati sahabatnya serli yang tidak berkedip.
Sedangkan aku tidak menyadari tingkah Serli, aku terlalu menghayati kunyahan mulut ku menikmati bumbu kacang dalam somay.
Enak banget, kaya udah setahun aja ini mulut gak ketemu somay.
Tangan Serli terulur menyingkirkan rambut ku dan memiringkan leher ku dengan paksa.
"Astaga, Serli... apa apan sih lu!" Aku tersentak kaget dengan tingkah yang di tunjukkan serli pada ku, gila, jangan jangan__ ku dorong tubuh Serli.
Bugh.
Tubuh Serli terjerembab di atas tanah.
Novi menaruh makanannya dan cilok Serli di atas rumput hijau.
"Ya ampun, Nai... kenapa sih lu?" Novi langsung bangkit dari duduknya dan membantu Serli untuk duduk.
"Sorry sorry, Serli... gw gak sengaja, itu refleks lo gw!" Seru ku dengan menahan tawa, gak habis fikir dengan tenaga yang aku ke luar kan bisa membuat Serli sampai terjerembab, tenaga gw masih ok nih.
Novi membantu membersihkan punggung Serli yang terdapat beberapa daun yang menempel di baju dan rambutnya.
"Gw gak salah liet, lo itu." Serli menunjuk ke arah leher ku.
__ADS_1
"Apaan yang gak salah liet?" Tanya Novi.
"Anu, itu... Nai!" Seru Serli meminta ku untuk menjelaskannya.
"Bukan apa apa ko." Terangku, mampus dah gw, kalo Novi sampe ikut ikutan liet leher gw.
"Kenapa sama leher, Nai?" Tanya Novi.
Ku gelengkan kepala ku.
"Coba lu liet sendiri deh." Ketus Serli dengan memukul udara.
Novi menatap ku curiga.
"Kaga ada apa apa, Nov." Ujar ku dengan menggelengkan kepala ku.
Novi memicingkan matanya melihat Naira, Ada apa sih di leher Naira ini? Sampe sampe Naira bisa bisanya ngedoro tubuh mungil Serli sampe terjerembab gitu.
"Siapa juga yang mau liet leher lu?" Tanya Novi dengan ketus, "Orang gw pengen duduk ko, Serli... gw dengerin omongannya? Paling kaga jelas dia mah." Ujar ku lagi.
Novi duduk kembali di tempatnya, berpura pura akan meraih makanannya dan di saat aku lengah hendak mencaplok somay ku ke dalam mulut, di saat itu pula Novi berdiri dengan ke dua lututnya dan memiringkan kepala ku, menyingkirkan rambut yang menutupi leher putih ku.
Mata Novi terbelalak, "Anjiiiir, ini sih beneran...Nai?"
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit