Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Cemburu


__ADS_3

...💖💖💖💖...


Ratna memeluk erat Daren, yes, gw gak nyangka semudah ini dapetin lu Daren.


Sementara Daren, sorry Ratna... gw gak bisa bales perasaan lu.


🍂 Siang hari di rumah Pram 🍂


Sesuai jadwal yang sudah di buat, setelah jam makan siang, Pram memimpin meeting secara virtual lewat laptopnya.


Pram memimpin meeting dari ruang kerjanya yang ada di rumah, sedangkan Naira tetap dalam pengawasannya.


Pram membawa serta Naira ke ruang kerjanya dan membiarkan Naira bermain hape sambari duduk di sofa.


Di saat meeting sudah berjalan 2 jam setengah, Naira sudah merasa bosan dan jenuh, dari mulai duduk, tidur di atas sofa, miring kanan, miring kiri, tetap saja membuatnya di hantui rasa bosan.


Aku melirik ka Pram yang sedang sibuk bicara panjang lebar dan sesekali terdengar di indra pendengaran ku ada suara pria dan wanita yang ikut bicara.


"Dev, lanjutkan pimpin meeting... hasil akhirnya kabari aku!" Seru Pram setelah memperhatikan Naira yang tidak bisa diam.


"Baik, pak."


Laptop Pram pun di matikan, Pram berjalan menghampiri Naira.


Ku dudukkan tubuh ku dengan lengan kanan ku yang bersandar pada sofa.


"Ada apa lagi?" Tanya Pram yang sudah berdiri di samping ku.


Ku dongakkan kepala ku untuk dapat melihatnya, "Aku bosen, aku kan sudah bilang biarkan aku sama ka Amarta, gitu aja ribet banget sih." Ucap ku ketus dengan melipat ke dua tangan di depan dada.


"Bagai mana dengan nafas mu?" Pram duduk di belakang ku dan menyandarkan punggung ku pada tubuhnya.


Degup jantung ku kembali berpacu dengan kencang di saat tangan kanan Pram nemplok di dada kiri ku.


Ku singkirkan tangannya, "Gak sopan!" Ketus ku!"


"Aku hanya ingin memastikan degup jantung mu!" Serunya dan menempelkannya lagi tangan kanannya ke dada sebelah kiri ku.


Pram memutar bola matanya dan memiringkan wajah ku hingga kami beradu pandang, Pram menatap tajam mata ku.


Pram membatin, nafasnya sudah tidak seperti kemarin, hanya saja kenapa detak jantungnya kencang ya?


Ingin menyingkirkan tangannya Pram tapi ke dua tangan ku lebih dulu di tahan oleh tangan kirinya yang besar.


"Kenapa lama sekali? Sayang ku mencari kesempatan ya? Maen pegang pegang aja!" Omel ku.


Pram tersenyum puas dan mengecup bibir ku.


Cup.


"Hadiah untuk mu karena sudah berinisial memanggil ku dengan sayang ku!" Ucap Pram.

__ADS_1


"Aneh, orang aku tidak sengaja mengucapkannya."


Pram tidak lagi menjawab ku dan langsung menelpon seseorang dan memintanya untuk datang ke rumah dalam waktu 15 menit.


"Cepat datang ke rumah! Dalam waktu 15 menit... jika tidak, habis riwat mu!" Seru Pram yang langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu lawannya bicara.


Ka Pram menelpon siapa ya? Siapa yang di suruh datang? Kening ku mengkerut,


Pram membawa ku dalam gendongannya ke luar dari ruang kerjanya, melewati kamar dan berakhir di lift.


"Kita mau kemana lagi, pak?" Tanya ku.


Pram menatap ku tajam dengan menautkan keningnya dengan kening ku, "Telinga ku panas mendengar kau memanggil ku pak, coba panggil aku sayang!" Pinta Pram.


Aku membelalak mata, "Apa? Sayang?"


Pram menatap lantai kakinya berpijak, "Mau katakan atau mau ku lepas kau biar jatuh sekalian ke lantai?"


Gila aja ini rubah tua, kalo sampe dia lepasin gendongannya, yang ada punggung gw bisa patah ini, aku mengalah dan memanggilnya sayang dengan semanja mungkin, "Oke, sayang!"


"Anak pintar."


Ke luar dari lift kami di sambut pak Dedi.


"Jika Samuel datang, suruh dia ke ruang rawat Naira." Ucap Pram yang melewati pak Dedi.


"Baik, Tuan.


Ku tatap wajahnya yang bicara serius dengan pak Dedi, jadi orang yang ia telponnya barusan itu dokter Samuel!


"Telinga mu tuli ya? Jangan panggil aku ka, panggil aku sayang!" Pram bicara dengan datar.


Aku protes, "Astaga, iya sayang... baru kemaren bilang aku cukup panggil ka, kenapa sekarang jadi sayang?"


"Salah mu sendiri, kadang panggil aku pak, kadang ka, siapa sekarang yang tidak punya pendirian?" Cecar Pram.


Seorang maid perempuan membukakan pintu kamar yang di khususkan untuk merawat ku di kala sakit, kini alatnya semakin lengkap, sudah seperti di rumah sakit kelas VVIP.


Pram menidurkankan ku di ranjang rawat, ia duduk di sofa samping ranjang ku. Matanya terus menatap ku tajam.


Tidak lama ka Amarta masuk ke ruang rawat.


"Maaf pak, saya tidak tahu jika Nona Naira di bawa kesini... Nona Naira kenapa lagi ya, pak?" Tanya Amarta dengan kepala menunduk.


"Aku tidak sakit!" Seru ku yang merasa nafas ku sudah membaik, biasanya butuh 3 sampai 4 hari untuk memulihkan pernafasan ku seperti sedia kala, tapi di sini aku hanya butuh waktu 1 hari lebih dan tubuh ku pun sudah lebih merasa baikan dari sebelumnya.


"Dari mana saja, kau?" Tanya Pram pada suster yang di tugaskan untuk merawat kaki ku.


"Maaf, pak... tadi saya habis dari belakang." Ujar Amarta.


"Ihs, dari tadi marah marah mulu, cepet tua lo, pak!" Ceketuk ku.

__ADS_1


Amarta menahan tawa mendengar ku mengatakan itu pada Pram.


Pram melirik Amarta, ""Enyah kau dari sini!" Pram mengusir Amarta dari dalam kamar.


" Saya permisi, Tuan, Nona." Amarta pun menurut tanpa banyak bertanya.


"Aku ingin ke luar!" Pinta ku.


Bosan rasanya ini badan cuma tidur, duduk, kamar, biasanya udah di sekolah, kedei, rumah nenek, ini seperti di penjara, mau kemana pun sulit, apa lagi menghadapi suami yang tempramennya bisa di bilang kejam, jadi lah belenggu suami kejam mungkin itu kalimat yang cocok untuk ku saat ini.


"Tidak, diam di tempat mu!"


Pram duduk di tepian ranjang ku menggenggam jemari ku.


"Ada yang ingin aku katakan pada mu!" Seru Pram yang kini biara dengan lembut.


Tadi aja marah marah, sekarang lembut kaya gini. Bikin bingung kan jadinya yang gak punya pendirian ya dia ini.


"Apa?"


"Jangan pernah dekat dengan bocah tengik itu." Ujar Pram.


"Bocah tengik?"


"Bocah yang kemarin ketemu di kedei mu, seenaknya saja mengatakan kau cantik!" Pram kembali pada mode ketusnya.


"Emang aku cantik." Kini aku yang dengan pedenya.


"Cantik mu hanya untuk ku!" Seru Pram.


"Ihs, pa---" aku menjeda perkataan ku di saat akan salah mengucap di tambah tatapan tajam Pram pada mata ku, "Itu maksud ku sayang aja deket sama cewek laen, masa aku gak!"


"Wanita lain? Aku dekat dengan wanita lain?"


"Iya lah, pake ngajakin makan siang bersama, ah aku ingat, model... cewek itu model profesional yang dekat dengan mu sayang!" Ucap ku dengan penekanan.


Jadi anak ini sempat melihat chat yang di kirim Karin... anak nakal, "Kau cemburu?" Selidik Pram.


"Ihs, ngapain cemburu sama rubah tua, rubah mesumm pula."


Pram menyeringai dan mencondongkan tubuhnya ke arah ku, "Kau tahu dari mana aku mesum?"


"Au dari mana." Ku palingan wajah tidak mau menatap Pram, sialll tau gitu gak usah pake mesummm dulu tadi.


Ke dua tangan Pram ada di kiri dan kanan tubuh ku, menumpukan bobot tubuhnya.


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


Makasih banyak udah mau baca.


__ADS_2