
...💖💖💖...
Pram melirik tajam Angga.
Seperti tau arti tatapan dari Pram, Angga langsung berujar, "Tenang pak, saya tidak melihat apa apa!"
"Jangan aneh aneh deh ka!" Seru Naira.
Pram mengerutkan keningnya, menatap dalam wajah istrinya, 3 hari lagi, dia akan di tinggal Naira dengan urusan perpisahan sekolah nya.
Pram mendekatkan wajahnya, dan membenamkan bibirnya pada bibir ranum Naira, melumattt bibir bawah bawah Naira lalu melepaskan nya.
"Tuh kan nyeselin!" Sungut Naira dengan mencubit perut Pram.
Ia juga beranjak dari pangkuan Pram dan memilih duduk di sofa sebelah Pram, mengambil burger miliknya yang ada di atas meja, menggigitnya dengan kasar.
"Kalo begitu, saya tinggal ke dalam ya pak!" Angga pamit diri. Dan berjalan ke meja yang ada di belakang Pram.
"Apa ada yang pak Haikal inginkan? Biar nanti akan saya buatkan." Angga menawarkan diri, untuk menghidangkan makanan yang akan di ucapkan Haikal.
Haikal membatin dengan kening yang mengkerut, ia berfikir sejenak, bos Pram sepertinya masih lama. Perut ku juga laper.
Pram lebih dulu betkata sebelum Haikal mengatakannya pada Angga, "Buatkan Haikal seporsi ayam bakar, doubel nasi."
Angga terperangah, namun mengiyakan apa yang di ucapan kan Pram, "Baik lah kalo begitu, di tunggu ya pak Haikal." Angga meninggalkan meja Haikal dengan geleng geleng kepala.
"Ka Pram ih, ke bangetan banget. Masa iya bang Haikal sanggup ngabisin 2 porsi nasi, dengan satu ayam bakar?" Tanya Naira dengan mata yang menatap tajam suaminya kini.
"Kita lihat saja, jika aku menang... kau harus mengabulkan setiap apa yang aku katakan." Tantang Pram dengan sinis.
"Oke siapa takut!" Ucap Naira.
"Kau dengar itu Haikal, maka kau harus menghabiskan nasinya, tanpa sisa." Ancam Pram dengan suaranya yang datar.
"Siap bos." Tanpa di minta pun, akan saya habiskan bos. Saya masih sayang nyawa bos.
Langit yang cerah kini berubah dengan petang, awan yang berwarna orange, memanjakan setiap insan yang menatapnya.
Lukisan alam yang alami, dengan bentuk awan yang berbeda, di tambah warna orange yang berdampingan dengan abu. Membuat langit cerah nampak indah.
Menyadarkan Pram yang sudah lama mengajak Naira berada di luar.
"Aku sudah katakan kan! Jadi kau harus tepati janji mu!" Ujar Pram yang menang dari Naira.
"Ihs bawel banget! Jangan lupa ka Pram ingetin tuh pak Dev, tas sekolah aku bawain ke rumah!" Sungut Naira yang beranjak dari duduknya, "Masuk duluan gih sana ke mobil, nanti aku nyusul!" Seru Naira sebelum melangkah.
"Iya."
Grap.
Pram menggenggammm pergelangan tangan Naira, membuat Naira membalikkan tubuhnya.
Naira mengerutkan keningnya, "Apa ----"
Cup.
Pram mengecup kening Naira lalu melangkah ke luar dari kedei.
"Kau ikuti Naira!" Ucap Pram pada Haikal, sebelum melewati Haikal yang berdiri di belakangnya.
Naira menggelengkan kepalanya, menatap punggung Pram, "Astaga, ka Pram aneh banget." Gumam Naira yang masih bisa di dengar Haikal.
__ADS_1
"Biar aneh begitu, suami mu Nona." Celetuk Haikal.
"Kalian sama aja!" Naira melangkah ke arah kasir dengan di ikuti Haikal.
Batin Naira saat dirinya menyadari, Haikal yang mengikuti langkah kakinya, astaga bang Haikal bener bener patuh banget sama ka Pram.
"Bu Nai, itu tadi beneran calon suaminya itu ya? Nemu di mana bu? Ada stok lagi gak bu, mau dong kenalin bu ke Okta hehehe." Oceh Okta yang kini berdiri di samping meja kasir.
"Okta!" Mega berseru pada Okta dengan gelengan kepala.
"Hehehr, jangan panggil ibu lah Okta, panggil Nai kalo gak kaka aja. Berasa tuwir bener gw di panggil ibu." Protes Naira dengan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu dari dalam tasnya.
"Ini banyak banget Nai." Ujar Mega yang menerima uang dari Naira.
"Nanti kasih yang lain sarang seratus ribu, hehe!" Ucap Naira dengan suara yang pelan.
"Oke, makasih ya!" Ucap Mega.
"Dah paman ayang!" Novi melambaikan tangannya pada Haikal.
Haikal melajukan mobil sedan mewah itu, meninggalkan pelataran parkir kedei. Dengan Naira dan Pram yang ada di kursi belakang.
"Memang acara perpisahan mu itu harus 3 hari? Tidak bisa kah lebih cepat berakhir?" Tanya Pram dengan menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi mobil.
"Apa sih ka, gak usah berdebat deh." Naira menyandarkan punggung serta kepalanya pada lengan Pram.
"Baik lah." Pram merogoh hapenya dari saku kemejanya.
Jemarinya mulai mengetikkan pesan, lalu mengirim pesan itu.
"Apa kau sudah berhasil, mendapatkan villa untuk ku menginap? Ingat... harus dekat dengan villa Naira." Pesan yang Pram kirim ke nomor hape Dev.
"Tuan tenang saja, urusan villa sudah beres. Ransel sekolah Nona sudah ada di dalam kamar." Balasan Dev.
"Villa yang di Bandung sudah jadi Tuan, semuanya sudah rampung, segala perabotannya sudah masuk ke dalam villa. Hanya pemiliknya saja yang belum menginjakkan kaki di villa itu." Balas Dev dengan singkat.
"Kerja bagus, lalu bagai mana dengan urusan kepala devisi yang bermasalah? Kau sudah selesaikan sisanya kan!"
"Ka Pram sedang apa sih? Sibuk banget!" Naira mendongakkan kepalanya, menatap Pram dengan penuh selidik.
"Ah ini, aku hanya sedang bertanya masalah pekerjaan dengan Dev." Pram menyunggingkan senyum kakunya pada Naira.
"Oh, kirain. Gak bahas yang aneh aneh kan ka!"
Pram mengerutkan keningnya, "Aneh aneh apa maksud mu?"
Naira membuang nafasnya dengan kasar, "Lupain aja lah."
Naira memaling kan wajahnya dari Pram, gak mungkin juga... ka Pram berencana buat ngikutin aku sampe ke tempat perpisahan nanti, kan pak Dev udah bilang kalo ka Pram ada pentauan hotel di luar negeri.
Pram menyimpan kembali, hapenya ke dalam saku kemejanya, hehehe kau ini tidak tau aja, aku sudah menyuruh Dev untuk mencarikan aku villa, dekat dengan kau menginap sayang... aku tidak bisa jauh dari mu, sayang. Andai kau lebih mengerti perasaan ku ini, apa aku ini bener bener sudah bucin, seperti yang di katakan Dev tempo hari ya?
Pram memeluk tubuh Naira, "Apa kau sudah fikirkan akan memilih melanjutkan kulian di mana, sayang?"
Haikal melirikkan matanya lewat kaca spion mobil, aihs Tuan... kau pria ulung dalam mengalihkan perkataan.
Mendengar batin Haikal, membuat Pram tidak segan lagi, untuk melayangkan satu kakinya pada belakang kursi yang di duduki Haikal.
Bugh.
"Fokus saja pada jalan dan kemudi, dasarrr bodoh! Mau tahu saja urusan bos!" Sungut Pram.
__ADS_1
Naira mendongakkan wajahnya menatap Pram, "Bang Haikal ngomong apa emang, ka?"
Pram tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan Naira, "Haikal bertanya, kapan dia akan di berikan bos cilik oleh mu, sayang!" Ujar Pram dengan kerlingan mata untuk istrinya itu di sertai seringai liciknya.
Naira beranjak dari sandaran Pram, dengan duduknya yang kini tegak, "Apa? Bos cilik?"
"Iya, bos cilik. Yang di dalam sini!" Pram mengelusss perut Naira yang rata, yang kini tertutup dengan dress putih.
"Entah lah. Aku belum merasakan ada tanda tanda, kalo aku hamil ka." Ucap Naira polos.
Haikal geleng geleng kepala, ada saja alasan mu bos. Tapi bagus juga sih kalo Nona hamil, melahir kan, entah sesibuk apa bos ini nantinya.
"Yang pastinya kediaman Pramana akan ramai dengan suara tawa anak kecil, Haikal!" Sungut Pram.
Mobil terparkir di parkiran, Naira dan Pram turun dari dalam mobil, setelah Dedi membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
Hap.
"Kyaaa." Pekik Naira.
Dengan semangat, Pram melangkah kan kakinya dengan menggendong Naira, dengan ke dua lengannya yang kekar.
Dedi menatap heran, meski kakinya ikut melangkah mengikuti Tuannya, ada apa dengan, Tuan? Bersemangat sekali, seakan habis mendapatkan durian runtuh.
"Bukan durian runtuh Dedi." Celetuk Pram.
"Ka, pelan pelan... nanti kita jatuh!" Naira mengalungkan ke dua tangannya di leher Pram.
"Iya kau memang akan jatuh, sayang!"
"Apa? Ka, aku serius." Ucap Naira.
Kini Pram dan Naira berada di dalam lift.
"Kau memang akan aku jatuhkan, ke dalam dasarrr indahnya surga dunia, hahaha." Pram tergelak dengan gurauannya sendiri.
"Ka Pram! Mauuu!" Naira menyembunyikan wajahnya di leher Pram.
"Ahahahha, jadi kau sudah merindukan yang di bawah sana sayang?"
Greg.
"Akhh." Pekik Pram.
Naira menggigittt leher Pram, lalu menatap Pram dengan bibirnya yang mengerucut, "Bukan aku yang merindukannya ka, tapi kaka yang merindukan nya itu." Naira mengarahkan matanya pada miliknya.
Brak.
Pram menutup pintu dengan kasarrr.
Menidurkan Naira di atas tempat tidur dengan perlahan.
"Apa gak sebaiknya mandi dulu, ka? Aku bau keringat lo!" Ucap Naira di saat Pram menanggalkan pakaiannya.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊