Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Dasarrr suami aneh


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kalo Tuan dan Nona sudah turun, Tuan ke 2 tidak akan melihat saya di sini!" Ucap pak Dedi dingin.


"Santai aja dong, pak! Ngegas gitu!" Sungut Daren, yang langsung melengos ke luar rumah. Mengurung kan niatnya untuk ke meja makan.


"Tuan ke 2 yang aneh, sudah tau tidak memiliki hubungan darah dengan Tuan Pram, masih saja betah tinggal di sini!" Gumam pak Dedi.


Matahari kian merangkak naik, sinarnya mulai mengusik Naira yang masih terlelap, lewat celah gorden. Pram memiringkan tubuhnya, menatap wajah Naira di kala terlelap.


"Hai sayang! Apa kau masih ingin tidur?" Pram mengulum senyum, saat Naira menutup matanya dengan lengannya.


Naira bertanya dengan ke dua mata yang masih terpejam, dengan suara parau, khas bangun tidur.


"Emmm sekarang jam berapa ka?"


"Apa kau yakin ingin tahu sekarang jam berapa, sayang?" Ledek Pram, dengan tangannya yang menyingkir kan lengan Naira, yang menutupi ke dua matanya.


"Kaaaa, aku masih ngantuk." Gumam Naira dengan memiringkan tubuhnya, menghindari sinar matahari yang tembus ke dalam kamarnya.


"Baik lah."


Pram beranjak dari tempat tidur. Menepakkan kedua kakinya di lantai, membuka gordeng kamar dan membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.


Di luar dugaan Pram, Naira yang mulai menyadari sekarang jam berapa. Langsung bangkit dari tidurnya, duduk menghadap ke arah gorden yang terbuka dan melempar bantar ke sembarang arah.


Bugh.


"Ka Praaaam!" Teriak Naira dengan matanya yang membola.


Pram menanggapinya dengan santai, "Ada apa sayang? Apa kau masih menginginkan ku lagi? Memanjakan mu seperti semalam hem?"


"Seperti semalam apa? Gara gara kaka, aku jadi telat bangun!" Dengan tangan berada di pinggang, menatap tajam Pram.


"Tapi kau menikmatinya kan, sayang?" Pram merangkak naik ke atas tempat tidur, mendaratkan kepalanya di atas paha Naira.


"Ihss nyeselin banget sih. Sekarang aku harus gimana ini ka? Ke sekolah jam segini juga, gak mungkin bisa kan!" Naira mengelusss rambut Pram, menatap jam yang terdapat di dinding kamar.


"Aku sudah menghubungi wali kelas mu, kau akan izin untuk hari ini karena kecelakaan." Celetuk Pram.


Plak.


Naira menggeprak lengan Pram.


"Apa? Kaka menyumpai ku kecelakaan?" Sungut Naira.


"Tidak sayang, tidak mungkin aku katakan pada wali kelas mu, jika kau kelelahan setelah melayani ku kan?" Pram memainkan alisnya naik turun.

__ADS_1


Dengan gemas Naira mencubit pinggang Pram, "Kaka ke bangetan."


"Uuuhh sakit sayang!" Pram meraih jemari Naira yang berada di pinggangnya.


Pram mendudukan dirinya di depan Naira, "Coba kau turun dari kasur! Langkah kan kaki mu, aku ingin lihat... apa kau mampu melakukan nya!" Ujar Pram.


"Di kata aku ini anak kecil apa ka, pake di tantang kaya gitu!"


Naira menurunkan kakinya satu persatu, dan berdiri dengan ke dua kakinya, "Awwwwwhhhh." Rintihnya saat kakinya hendak melangkah.


Naira membungkuk dengan satu tangannya bertumpu pada tepian kasur, satu tangannya memegangi pinggangnya, ia merapatkan ke dua kakinya, ia rasakan ada yang bengkakkk dan mengganjalll di bawah sana.


"Ini pasti ulah ka Pram semalam, iya kan!" Ucap Naira dengan penuh penekanan.


Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Mau bagai mana lagi, tubuh mu itu terlalu sayang... jika aku hanya sebentar bercocokkk tanam di bawah sana, sayang!" Pram beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri istrinya, yang sudah di pastikan tidak dapat berjalan dengan benar.


"Dasarrr rubahhh mesummm, sampai kapan aku seperti ini ka?" Tanya Naira dengan polosnya.


Hap.


Pram menggendong Naira dengan ke dua tangannya, membaringkan kembali sang istri di atas tempat tidur dengan menyeringi.


"Menyebalkan!" Gumam Naira, yang harus berpasrahhh dengan berbaring kembali di atas tempat tidur.


"Sampai saatnya acara perpisahan sekolah mu itu tiba, aku rasa... cara berjalan mu sudah seperti biasa." Pram mengecup dan melumattt bibir Naira.


Pram menangkup wajah Naira, "Tunggu di sini ya! Biar ku minta koki, untuk menghidangkan sarapan yang paliiing enak untuk kita di sini!"


Dengan bibir yang nyinyir, serta tatapan mata yang malas, Naira bergumam, dasarrr suami aneh, eror!


Pram menghubungi Dedi si kepala pelayan, dengan telpon yang tertempel di dinding kamarnya.


"Ded, minta koki untuk hidangkan sarapan, yang paling enak serta bergizi untuk istri ku, jangan pake lama! Antar ke kamar!"


[ "Hanya untuk Nona Muda, Tuan? Apa Tuan tidak ingin, di hidangkan sarapan sekalian?" ]


"Dasarrr bodoh! Untuk ku juga! Cepat jangan banyak tanya!"


Pram langsung menutup telponnya. Melangkah kembali menghampiri Naira, yang kini tengah memainkan hapenya.


"Apa yang sedang kau lakukan, sayang?" Tanya Pram dengan wajah yang berbinar.


"Tentu saja sedang main hape, apa kaka tidak melihat ku... sedang bermain hape?" Sungut Naira dengan jutek.


"Astaga istri ku sedang merajuk kembali! Tidak apa lah, aku mandi dulu ya sayang." Pram melangkah hendak ke kamar mandi.


Naira menatap Pram dengan jengkel, benar benar deh, aku juga kan pengen mandi, mana gak jadi ke sekolah, aiihhhs benar benar, malang sekali nasib mu Naira.

__ADS_1


Naira mengetik chat dalam grupnya pada hapenya.


"Gays, kalian lagi apa? Sekarang di lapangan sedang ada tanding apa?"


[ "Lo ke napa lagi Nai? Bolos lagi lo?" ] Isi chat dari Serli.


[ "Seru lo, gw baru tahu kalo Daren bisa tanding basket." ] Chat dari Novi.


"Apa kelas kita masuk babak final?"


Pram memperlambat langkahnya, lebih baik aku ajak Naira sekalian untuk mandi bersama, itu akan lebih menyenangkan, mungkin dengan aku gempurrr Naira, bisa cepat ia mengandung benih ku.


Pram memutar tubuhnya, "Sayang!" Dengan tatapan dan senyum yang sulit di artikan, aku sudah berhasil membuat mu tidak berjalan, kali ini... aku juga harus berhasil membuat mu mengandung benih ku.


"Apa lagi yang akan kaka lakukan? Jangan aneh aneh ka!" Naira menyimpan hapenya, menggeser tubuhnya ke tengah kasur, dengan ke dua tangannya saat melihat Pram yang melangkah ke arahnya dengan tatapan Pram yang tidak ia mengerti.


"Katanya kau ingin mandi, ayo biar aku bantu kau untuk mandi, sayang!" Pram menekuk satu kakinya di atas kasur, ke dua tangannya terulur, untuk mengangkat tubuh mungil Naira.


Naira menggeprak geprakan tangan Pram dengan tangannya, "Tidak mau, aku bisa mandiri sendiri! Kaka!"


Pram tergelak, mau sebesar apa pun Naira menolak, Pram tetap membopong Naira dengan ke dua lengannya yang kekar, membawa nya masuk ke dalam kamar mandi. Yang hanya menjadi alasan Pram, untuk membantu Naira mandi.


"Hahaha sayangnya aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sayang! Aku sedang tidak ingin mendengar ada penolakan dari mu!"


Selama di dalam kamar mandi. Suara umpatan yang di iringi dengan desahannn dan erangannn meluncur bebas dari bibir Naira.


"Kaka! auughhhh sakit ih! Pelan pelan!"


"Ka Pram, aduuuuh jangan di situ."


"Ka Pram, itu ku bengkakkk! Auuuuh itu lecet ka... astaga dasarrr rubahhh mesummm!"


Pak Dedi masuk ke dalam kamar Tuan-nya, setelah lama menunggu jawaban dari Tuan nya, namun tidak ada jawaban.


Menyimpan hidangan sarapan ke duanya di atas meja dan telinganya mau tidak mau, harus mendengar suara Nona Muda-nya, yang sedang nganuuu nganuuu di kamar mandi bersama dengan Tuan nya Pram.


Pak Dedi hanya geleng geleng kepala, mudah mudahan cepat terdengar suara tangisan bayi di rumah ini.


Pak Dedi lalu melangkah ke luar setelah tugasnya sudah selesai.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2