
...💖💖💖...
Samuel mengekor di belakang Pram, "Apa aku bilang, baru kemarin menikah, istri mu sudah kau buat patah patah, yang sabar ya nona Naira, mungkin ini sudah menjadi suratan takdir hidup anda mengalami nasib malang menikah dengan pria yang akan membuat tulang tulang di tubuh anda remuk."
"Diam kau! Tulang mu yang akan aku buat remuk! Biar sekalian kau jadi santapan buaya kelaparan." Bentak Pram pada Samuel.
"Mulut mu itu loh bos, mengalahkan kejamnya mulut ibu tiri tapi tidak sekejam tindakan mu bos." Gumam Samuel.
Enak saja kalo bicara ini dokter, di kata setipis apa kali ini tulang ku bisa patah patah, mereka berdua sama saja, sama sama bodoh, rubah tua hanya bedanya Pram itu suami ku, dan Samuel orang lain. Aiiih lagi lagi aku membanggakan dirinya, Pramana Sudiro pria yang sudah membuat hidup ku jungkir balik, membuat ku menjalani pernikahan paksa di saat aku yang masih berstatuskan pelajar di SMA Pelita Jaya. Aku hanya bisa berharap sampai waktunya tiba aku bisa menjalani masa terakhir ku di sekolah tanpa adanya alang merintang setelah itu baru aku pikirkan masalah rumah tangga ku dan juga masa depan ku.
Pram menidurkankan ku di atas kasur, "Cepat periksa istri ku ini!" Seru Pram dingin.
Pram menyapu sisa air mata ku yang ada di pipi dengan jarinya, "Maaf kan aku, jika bukan karena dokter bodoh ini...kau tidak akan jadi begini Naira." Pram menatap Samuel yang tengah mengeluarkan tetoskop dari saku jubah putihnya.
Baru saja itu tetoskop akan mendarat di dada Naira, Pram sudah berbuat ulah.
Pram melihat tangan Samuel yang seakan lama dalam mengecek denyutan jantung Naira, "Hei bodoh, lakukan dengan cepat!" Perintah Pram.
"Dasar kau itu! Mana ada dokter yang bertindak cepat dan asal, aku ini sedang serius mendengarkan denyut jantung istri mu."
"Namanya denyut jantung setiap orang pasti sama, bodoh kau!" Dumel Pram.
"Maaf nona, apa anda memiliki riwayat sesak nafas?" Tanya Samuel.
Samuel mengedipkan matanya pada ku seolah ia berkat, "Iya kan saja apa yang akan aku katakan, ini demi kebaikan mu juga! Mengerti kan?"
"Iya." Jawab ku singkat padat dan jelas.
"Jika begitu, anda harus bersiap mulai saat ini, ya!" Seru dokter yang kini menaruh kembali tetoskopnya ke dalam jubah dokternya.
__ADS_1
"Bersiap untuk apa?" Tanya Pram.
"Bersiap jika nanti anda akan sering sering mengalami sesak nafas, nafas anda akan sulit untuk anda kontrol, belum lagi bila suami anda meminta jatah, anda harus bisa menolaknya." Ujar Samuel.
Pletak.
"Awh." Aku salah apa lagi sih pak?
"Sialan kau!"Pram mendengus mendengar ocehan Samuel.
"Maaf, biar aku periksakan dulu perut mu!" Samuel hendak menyingkap baju Naira ingin melihat apa kah meninggalkan jejak kebiruan atau tidak pada bagian perut yang tadi kena pukulan siku Pram.
"Jangan macam macam kau ya, Samuel!" Pram menajamkan mata menatap Samuel, "Berani kau menyentuh kulit istri ku, mati kau Samuel!"
Gila pak Pram serem banget kalo udah menyangkut bininya!
Pram menghempaskan tangan Samuel yang sudah memegang baju Naira hendak menyingkap baju Naira.
Tubuh Naira hanya boleh di perlihatkan pada ku saja, bukan pada mu sekali pun kau dokter, aku juga bisa hanya sekedar memeriksa tubuh yang memar.
Pram membola, melihat ada bagian perut Naira yang membiru. Lalu Pram merapihkan kembali baju Naira.
"Kenapa, pak? Benarkan ada bagian yang membiru?" Tebak Samuel.
"Hem." Pram hanya berdehem.
Menyodorkan secarik kertas, "Ku buatkan resep dokter untuk mu, nona Naira."
"Terima kasih, dok." Ujar ku dengan menarik sudut bibir ku ke atas.
__ADS_1
"Cih, kau itu tidak perlu berterima kasih padanya dan mulai detik ini, ku larang kau untuk tersenyum pada orang lain apa lagi pria!" Ucap Pram yang tidak ingin di bantahkan.
"Astaga, Pram jangan keterlaluan kau ya! Atau kau takut kalah saing dengan ku? Dengar ya pak Pramana Sudiro, aku itu jauh lebih tampan dari diri mu!" Seru Samuel.
Aku menggelengkan kepala, sabar sabar, "Maaf ya pak Pram!" Ujar ku.
Bener benar bikin naek darah punya laki model begini, saking bae lu kalo bukan demi orang tua, udah gw depak lu. Aku menatap tajam Pram.
"Kenap---." Belum selesai pak Pram bicara, perkataannya ku potong.
"Bisa bapak tinggalkan aku sendiri!" Ucap ku dengan tegas dengan sorot mata nyalang mengusir Pram untuk pindah tempat tidur.
Samuel menahan tawa dengan menutup ke dua mulutnya dengan telapak tangannya, baru kali ini aku lihat Pram di depak dari kamarnya sendiri.
"Kau berani mengusir ku, Naira?" Tanya Pram dengan berkacak pinggang di samping ku, baru kali ini ada seorang wanita yang berani mengusir ku dari dalam kamar ku sendiri.
"Aku butuh istirahat, pak!" Bentak ku pada Pram.
"Ahahahha, mampusss kau pak Pram! Sudah biarkan saja istri mu sendiri dulu." Samuel menarik tangan Pram dan membawanya ke luar dari dalam kamar.
"Sialann kau, berani mengumpat ku, heh." Oceh Pram berusaha melepaskan tangannya dari Samuel.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1