Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pram tidak tinggal diam


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


Pram menangkup wajah Naira, "Jadi kau sedang mencemaskan ku hem?"


Naira mengerucutkan bibirnya, "Masih perlu untuk aku jawab pertanyaan mu itu ka?"


Pram menyeringai, menatap bibir Naira yang seakan menggodanya.


Pram merebahkan Naira di atas tempat tidur, hendak menyelusuppp kan tangannya ke dalam pakaian Naira, Naira sudah bergumam.


"Gak usah aneh aneh, ka! Tidur aja yuk, udah malam, besok kalo telat kita berabe ini!" cicit Naira yang tidak ingin besok bangun terlambat.


"Iya iya, selamat malam sayang! Mimpi kan aku ya dalam tidur mu!" oceh Pram di saat ke dua mata Naira sudah terpejam.


"Hem." Naira hanya berdeham.


"Besok kau tidur dengan sahabat mu itu kan, sayang?" tanya Pram dengan menatap wajah Naira, jemarinya menyusuri wajah Naira, dengan tubuhnya yang memiring.


"Iya."


"Dengan siapa saja kau sekamar, sayang?"


"Novi, Serli, Sopur dan aku." jawab Naira dengan suaranya yang pelan, lalu memiringkan tubuhnya jadi memunggungi Pram.


"Apa kau ke beratan, jika villa yang kau gunakan untuk menginap, ada aku juga di villa lainnya, sayang?" tanya Pram dengan suaranya yang tertahan, dia pasti sudah tertidur.


Pram menyelimuti tubuh Naira dengan selimut, sementara dirinya beranjak ke arah balkon, menduduk kan dirinya di kursi. Dengan pandangannya yang menatap indahnya malam, dengan terang bulan tanpa cahaya bintang.


Sama seperti hati Pram kini, yang mulai di terangi cahaya, dengan semakin dalam rasanya untuk Naira. Hingga Pram berharap lebih dari Naira, dengan memberikannya beberapa orang anak, yang akan semakin membuat hidupnya lebih berwarna.


Kediaman Pramana yang besar dan megah, nantinya akan di penuhi dengan tangis dan tawa anak kecil.


Hanya dengan membayangkan nya saja, mampu membuat Pram tersenyum lepas.


Pram menghubungi Haikal, "Apa kau sudah memberikan pria itu pelajaran, Haikal?"


[ "Sudah bos." ]


"Tidak ada yang curiga kan pada mu? Kau tinggalkan di mana pria itu?"


[ "Pedalaman bos, jauh dari jangkauan masyarakat, yang ada hanya jangkauan binatang buas yang ke laparan, bos." ]


"Bagus." Pram langsung mengakhiri panggilannya.


"Pria itu memang pantas mendapatkan nya." gumam Pram yang lantas menghubungi Dev.


[ "Ada apa lagi, Tuan?" ] suara Dev yang tampak mengeluh, yang langsung di dengar oleh Pram.

__ADS_1


"Besok kau tidak lupa kan!" ucap Pram.


[ "Tidak Tuan, semua ke butuhan Tuan sudah beres. Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa langsung terbang ke vila itu sekarang juga. Ke betulan vila yang aku pilihkan untuk Tuan, memiliki akses untuk helikopter." ]


"Bagai mana dengan supermarket itu, Dev?"


[ "Saya belum mendapatkan tempat yang strategis, Tuan." ]


"Untuk villa yang di Bandung, ada yang mengurusnya kan? Aku ingin setelah Naira kembali dari acara perpisahan sekolahnya, kita langsung terbang ke Bandung."


[ "Tuan tinggal atur saja, kalo cuaca mendukung, tinggal aku hubungi pilot pribadi Tuan." ] terang Dev yang menyanggupi perkataan Tuan-nya itu.


"Dev!"


[ "Sebaiknya Tuan tidur, tidak baik untuk Tuan jam segini belum tidur. Ingat besok jadwal Tuan penuh untuk mengawasi, Nona Muda." ] terang Dev yang memotong perkataan Pram.


"Bilang saja kau tidak ingin di ganggu, Dev!" omel Pram.


Bukan lagi suara Dev yang Pram dengar, melainkan suara Sesil yang tengah berbicara dengan Pram.


[ "Tuan Muda, kau ini sudah punya istri, masih saja menggangu waktu malam suami ku! Sana temani Nona Muda. Nona Muda saat ini pasti tengah merindukan tubuh mu, untuk menghangatkan tubuhnya." ] celetuk Sesil dari sebrang sana.


"Sialannn kau, sedang menyindir ku heh!" Pram menjauhkan telponnya dan menatap layar hapenya, lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Dasar wanita gila, sama dengan suaminya yang gila." gerutu Pram dengan beranjak dari duduknya melangkah ke tempat tidur.


Baru saja Pram merebahkan tubuh nya di samping Naira, dengan tangannya yang melingkar di perut Naira, ke dua matanya hendak terpejam.


Tok tok tok tok.


"Kaka! Apa kau ada di dalam?" Suara Daren.


Pram membulatkan matanya, saat mendengar suara yang ia kenal, tengah berada di depan pintu kamarnya.


"Mau apa lagi bocah ini! Mengganggu waktu istirahat ku saja!" Pram beranjak dari tidurnya, melangkah ke arah pintu.


Ceklek.


Pintu yang terbuka, langsung Pram tutup kembali. Ia mendudukan dirinya di sofa yang terdapat di depan kamarnya.


Pram menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, dengan satu kaki menyilang di atasnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Daren?" tanya Pram.


"Apa kaka sudah dengar kabar, jika papa mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit." Daren berkata dengan wajah cemas, cemas jika pikirannya benar, bahwa Pram yang melaku kan ini semua pada Aji, yang tidak lain adalah papa angkat Daren, tapi papa kandung untuk Pram.


Wajah Pram tampak datar, tidak ada wajah kecemasan, di wajahnya, "Aku tidak tahu itu, lagi pula itu tidak ada urusannya dengan ku!" ucap Pram dengan nada datarnya, seolah tidak perduli lagi, dengan apa yang akan terjadi pada Aji.

__ADS_1


Daren mendudukan dirinya di samping Pram, "Itu bukan orang ka Pram kan yang melakukan nya?" tanya Daren dengan tatapan penuh selidik.


Pram menatap tajam Daren, "Jadi saat ini kau sedang mencurigai ku? Atas dasar apa kau mencurigai ku heh?"


"Kalo bukan ka Pram, lalu siapa lagi? Bukan maksud ku mencurigai mu ka, tapi bisa saja kan kaka yang melakukan nya pada papa." terang Daren.


Pram beranjak dari duduknya, "Kau membuang buang waktu istirahat ku saja! Kau pikir aku tidak punya ke sibukan lain, untuk membuat tua bangka itu celaka?"


"Tapi ka --"


"Tidur lah! Besok biar kau ku antar bersama dengan Naira ke sekolah." Pram melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Daren.


Daren menuruni tangga, melangkah menuju kamarnya, dengan perasaan yang galau.


"Bagai mana ini, di satu sisi ada acara perpisahan sekolah, di satu sisi lagi ada papa yang kini di rawat di rumah sakit. Mana yang harus aku pilih?" gumam Daren.


Di dalam kamar Pram tidak tinggal diam, Pram langsung menghubungi Haikal, "Kau utus orang mu, untuk mencari tahu. Siapa yang sudah mencelakai pria tua."


[ "Pria tua siapa, bos?" ] tanya Haikal yang tidak bisa menebak, siapa yang di katakan pria tua itu.


"Aji, siapa lagi kalo bukan pria tua itu! Sekalian kau utus beberapa orang untuk mengawasinya di rumah sakit."


Haikal langsung membola, tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


[ "Hah? Beneran bos? Bos mau aku mengutus orang ku, untuk mengawasi Tuan besar Aji yang lagi di rumah sakit? Begitu maksudnya, bos?" ]


"Jangan banyak bertanya, Haikal! Lakukan saja apa yang aku kata kan!" Pram menutup telponnya, kembali merebahkan tubuhnya di samping Naira.


Ke dua mata Pram memang terpejam, tapi hati dan pikirannya melalang buana, memikirkan apa yang di katakan Daren atas apa yang menimpa Aji.


Separah apa, kondisi pria tua bangka itu? Apa ini hanya kecelakaan biasa atau ada unsur kesengajaan?


...โ˜˜๏ธPagi harinyaโ˜˜๏ธ...


Tidak seperti biasanya, ke tiganya kini berada di dalam satu meja yang sama, menikmati sarapan mereka dengan Naira yang tampak paling bersemangat, dari dua orang pria yang ada di sana.


Daren tampak lesu dan tidak bersemangat, terdapat kantung mata, menunjukkan ia kurang tidur.


Pram, tampak menutupi kantong matanya dengan makeup, hingga tidak nampak kekurangan di matanya, namun tampak dari gesturnya yang tampak berbeda dari biasanya.


"Kalian, berdua kenapa?" tanya Naira sesaat memperhatikan ke duanya, di tengah tengah sarapannya.


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š


__ADS_2