
...๐๐๐...
"Kalian, tunggu apa lagi? Cepat seret bocah ini ke luar sekarang juga!" Perintah Susi dengan menunjuk jari telunjuk kanannya, pada Naira dengan suara naik satu oktaf.
"Mana mungkin kami lupa dengan Nona, Nona ke sini kan bersama dengan Tuan." Ucap salah satu scurity berwajah sangar.
"A- apa maksud nya ini? Kalian kenapa memanggilnya, Nona? Bocah ini sudah membuat masalah! Aku menyuruh kalian untuk menyeret bocah ini kan! Cepat lakukan perintah ku sekarang juga!" Oceh Susi dengan geram, merasa jabatannya tidak ada artinya di mata ke dua scurity.
"Bagai mana, Nona? Apa kami harus menyeret nya ke luar dari sini?" Tanya salah satu scurity pada Naira, dengan pandangan menyeringai pada Susi.
"Bagus kalo kalian masih mengingat ku! Seret buntelan kentuttt ini ke luar dari sini! Aku muak dengan nya!" Oceh Naira.
"Tapi Nona?" Aisah mencegah Naira.
"Gak apa ka, buntelan kentuttt itu perlu di kasih pelajaran. Biar dia gak seenaknya menggunakan jabatannya!" Naira berjalan, meninggalkan Susi yang masih bingung di buat nya.
Dalam hati Naira meringis saat melangkahkan kakinya, tangannya mengepal, awwwhhh perih sekali, perasaan tadi gak ada yang luka. Kenapa kaki ku perih begini sih!
"Kenapa kalian melepaskannn bocah sialannn itu heh! Cepet serettt bocah itu! Jangan biarkan dia memasuki restoran lebih jauh lagi!" Susi menunjuk Naira dengan jari telunjuk kanannya, wajahnya tampak murka.
"Ibu susi benar benar ke terlaluan. Wanita itu adalah istri dari pak Pram!" Aisah menyusul langkah Naira, "Tunggu aku Nona!"
Susi menggelengkan kepalanya, anak itu pasti sedang membual.
Grap.
Ke dua scurity memegangi ke dua lengan Susi, dengan menyeringi. Lalu menyerettt nya ke luar dari restoran. Dengan Susi yang memberontakkk.
"Apa apaan ini kalian! Lepasss kan tangan kalian dari ku! Cepat! Harusnya kalian menyeret bocah sialannn itu! Hei! Lepasss!" Teriak Susi, tapi ke dua scurity tidak memperdulikan teriakan Susi.
Saat ke duanya akan melewati tempat persembunyian Pram dan Haikal, Pram langsung ke luar untuk melihat terakhir kalinya, wajah wanita yang sudah berani menghina istri kecilnya. Membuat Susi terperangah tidak percaya ada pemilik hotel di depan nya.
"Mulai saat ini, kau di pecat! Karena kau sudah menghina istri ku! Menyakiti istri ku! Kau sangat pantas untuk di hukum!" Ucap Pram dengan matanya yang menatap tajam pada Susi, tangannya mengepal kuat, giginya mengeretuk dengan rahangnya yang mengeras.
"Pak Pram, ja- jadi bo- bocah si- sialannn itu benar istri bapak?" Susi menoleh ke arah Naira, yang sudah tidak lagi terlihat oleh ke dua matanya.
Plak.
Pram menamparrr pipi Susi dengan keras, "Masih berani kau menghina istri ku, heh!"
"Awwhh." Rintih Susi, "Ma- maaf pak, sa- saya tidak tahu. Tolong jangan pecat saya pak! Saya belum menikah pak, tolong pak, beri saya ke sempatan." Ucap Susi dengan terisak.
"Haikal, kau urus sisanya! Aku harus melihat Naira, dia pasti terluka karena wanita besar ini!" Perintah Pram dengan matanya yang ingin menghabisiii Susi.
Pram langsung melangkah dengan kaki lebar, mencari ke beradaan Naira.
Haikal menyeringai menatap Susi, dengan menautkan ke dua jemari nya hingga berbunyi.
Kreeek, krek, kreek, krek, krek.
"Lo tau, gw baru aja menghabisiii pria yang bersikap kurang ajar sama Nona Muda gw! Dan sekarang lo, sudah berani menghina, bahkan dengan tangan lo itu... lo dorong Nona!" Haikal menggelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan wanita yang ada di hadapannya ini.
"Tolong pak, jangan hukum saya! Saya akan minta maaf sama Nona itu! Saya janji, tidak akan mengulangin ke salahan saya, tolong pak!" Susi memohon pada Haikal, dengan ke dua tangan yang mengatup di depan dadanya.
"Kalian tunggu apa lagi? Ayo ikut gw!" Haikal berjalan di depan, dengan menyeringai menyusuri jalan rahasia. Jalan yang akan membawa mereka langsung ke pelataran parkir.
Susi ke takutan setengah mati, ia terus menjerittt, berteriak, merontaaa, minta di lepaskannn.
__ADS_1
"Cih berisik sekali! Kalian, apa tidak bisa membungkammm mulutnya heh!" Sungut Haikal.
Haikal menoleh sesaat, dengan kakinya yang terus melangkah, menatap tajam 2 security yang mencengkrammm lengan Susi.
Bugh.
Salah seorang scurity memukul punggung Susi, hingga Susi jatuh pingsan. Ke dua scurity kini membopong tubuh Susi, yang pinsan dengan tangan mereka yang kekar dan besar.
...๐Balik ke Naira๐...
Setelah memilih ice krim, kini Naira dan Aisah mendudukan diri mereka, di salah satu meja dengan bentuk persegi panjang.
"Biar aku bawakan, Nona?" Aisah menawarkan diri untuk membawa ice krim yang ada di tangan Naira.
"Tidak perlu, ka."
Naira mendudukan dirinya di kursi panjang, sedang Aisah di kursi tunggal.
"Selamat menikmati, ini pasti enak!" Seru Naira, dengan menikmatiii ice krim, yang ada di hadapannya dengan mangkuk yang cukup besar.
Aisah memperhatikan Naira yang kini menikmatiii ice krim miliknya.
Tadi kan Nona lututnya berdarah, mending aku ambil P3K dulu, Aisah beranjak dari duduknya
Naira mendongak, "Mau ke mana ka?"
"Aku mau ke belakang dulu, Nona. Hanya sebentar ko, Nona tunggu di sini, tidak apa kan?" Ucap Aisah.
Tidak lama Aisah kembali dengan kotak P3K di tangannya.
"Maaf Nona, biar aku obati lukanya dulu ya!" Aisah berjongkok di depan Naira, dengan menaruh kotak P3K di atas meja.
"Tidak usah ka, ini hanya luka kecil ko!" Naira menolak di obati, menganggap Aisah berlebihan pada luka kecil di lututnya.
"Bisa kau tinggalkan kami berdua, Nona Aisah!" Ucap Pram yang kini berdiri di belakang Aisah.
Aisah pun beranjak, membawa mangkuk ice krim miliknya, membiarkan Naira dan Pram berdua.
Naira menatap malas Pram, mau apa lagi sih pake muncul, gak tau gw masih kesel apa sama ka Pram!
Pram menggeser kursi tunggal, lalu mendudukan dirinya, mengangkat kaki Naira yang terluka, dan meletakkan di atas pahanya.
"Kaka mau apa?" Tanya Naira dengan acuh.
"Mematahkan kaki mu!" Pram membuka botol kecil yang berisi alkohol, lalu menuangkannya pada kapas, mengolesinya pada lutut Naira yang berdarah dengan perlahan.
"Awwhh sakit ka!" Rintih Naira dengan kaki yang di gerakkan.
"Tahan sedikit! Ini aku sudah pelan pelan Nai!" Gerutu Pram, dasarrr anak nakalll, wanita besar itu benar benar... membuat ku tersiksa. Melihat mu menahan sakit seperti ini.
"Ihhs bukan gitu, langsung obat merah aja ka!" Protes Naira.
"Bisa diam tidak?" Omel Pram dengan mengolesi obat merah dan menutupnya dengan plaster.
__ADS_1
Pram menyingkirkan kaki Naira dari pangkuan pahanya.
"Terima kasih!" Ucap Naira dengan ketus, sambil memalingkan wajahnya dari Pram.
"Hanya ucapan saja? Tidak ingin memberikan ku hadiah, karena sudah mengobati luka mu?" Pram menyeringai.
"Kalo gak ikhlas ngobatin, mending gak usah ngobatin!" Ketus Naira.
"Siapa bilang aku tidak ikhlas? Apa pun akan aku lakukan untuk mu, sayang!" Pram menggapai dagu Naira, mendekatkan wajahnya pada wajah Naira.
"Kaka mau apa? Ini tempat umum lo!" Naira menoleh kiri dan kanan, ternyata ada beberapa pasang mata, yang tengah menatapnya dengan berbinar.
Pram mengecup bibir Naira, dalam sepersekian detik Pram melumattt bibir Naira, Naira membola.
Naira membatin, ka Prammmmm.
Pram, membuat Naira semakin kesal bercampur malu.
"Kaka! Apa apaan sih! Malu tau di lietin orang!" Ketus Naira yang menarih sendok yang ia pegang di atas mangkuk.
"Aku hanya menikmatiii ice krim yang tersisa di bibir mu, sayang!" Ucap Pram dengan lembut.
"Cari alesan aja!" Ketus Naira lagi.
"Ayo, lanjutkan makan mu!" Titah Pram.
"Udah gak mood! Selera ku ancur!" Naira menatap nanar mangkik ice krim miliknya, pada hal enak banget, mau lagi.
"Pelayan! Buatkan 1 porsi lagi!" Ucap Pram dengan satu tangannya yang di angkat ke atas.
"Siap Tuan!" Seru pelayan ice krim.
Beberapa ocehan dari pasang mata pun terdengar.
"Lihat itu, pemilik hotel ini lagi sama seorang gadis remaja."
"Pak Pram, mau dong di obatin! Hati aku lagi panas nih, berapi api... api pengen di sentuhhh pak Pram."
"Pak Pram mencium wanita itu?"
"Bukannya pak Pram pacaran sama model yang lagi menghilang itu?"
"Ihs mending sama Nona itu aja, cantik, manis lagi "
Karyawan ice krim yang tadi melayani Naira, mendekati Aisah yang sedang menyantap ice krim miliknya di dapur.
"Lo kenal cewe itu, Sah?" Tanyanya dengan ketus.
"Itu Nona Naira, tunangannya pak Pram." Ucap Aisah, gak mungkin kan kalo gw bilang mereka udah nikah.
"Serius lo, Sah?"
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐