Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Percaya aja


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kalian, berdua kenapa?" tanya Naira sesaat memperhatikan ke duanya, di tengah tengah sarapannya.


Pram mengerutkan keningnya, "Apa ada yang salah dengan kami berdua?" tanya Pram dengan menyeruput minumannya.


"Kalian berdua kurang tidur ya? Mata kalian merah, Daren juga itu kantong mata gede bisa buat ngantongin duit. Tapi ko ka Pram gak ada kantong matanya?" Naira menyamakan mata Daren dan Pram yang merah, lalu membandingkan kantong mata di ke duanya.


"Ihs lo Nai kalo ngomong! Mana ada kantong mata buat ngantongin duit!" sungut Daren.


"Iya tapi kan itu ---"


"Sayang! Habiskan sarapan mu, apa kau ingin telat sampai di sekolah?" Pram menotong perkataan Naira.


"Iya iya, ini juga sambil makan kali ka!"


"Sepertinya aku akan melewatkan acara ini." ucap Daren di saat Pram dan Naira sudah beranjak dari kursi.


Naira mengerutkan keningnya, "Kenapa? Jangan bercanda deh lo! Udah tinggal jalan ini kita!" Naira menghampiri suaminya Pram, dengan gerakan tangannya seolah Naira bertanya apa yang terjadi.


Daren beranjak dari duduknya, menatap Naira dan Pram secara bergantian, "Gw harus ke rumah sakit, gw gak bisa tinggalin papa sendirian di sana, gw ---"


"Kau tetap berangkat, jangan fikirkan tua bangka itu! Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menemui ajalnya kan!" Pram berkata dengan dingin.


Pram melangkah kan kakinya meninggalkan ruang makan, dengan Naira yang ia rangkul. Sementara Daren masih terkesima dengan apa yang di katakan Pram.


Pak Dedi menghampiri Daren, ia berkata dengan pelan, "Tuan muda ke 2 tidak perlu memikirkan banyak hal, hanya perlu mengikuti acara sekolah Tuan, momen ini tidak akan datang 2 kali. Asal Tuan muda ke 2 tahu, Tuan Muda Pram sudah mengutus orang untuk menjaga dan menyelidiki apa yang terjadi pada Tuan besar."


Daren mengerutkan keningnya, ada rasa senang bercampur bingung, Pram mau melakukan itu semua, pada orang yang sering berniat jahat padanya, bahkan Aji yang berniat untuk menghancurkan Pram.


"Apa benar yang bapak katakan?" tanya Daren dengan penasaran.


"Saya orang yang dapat di percaya Tuan, saya bukan penghianat seperti yang di lakukan orang orang kepercayaan Tuan besar." ucap Dedi dengan pandangannya yang dalam menatapa Daren.


Naira tengah melakukan protes pada Pram, "Kaka apa apaan sih! Kalo ngomong tuh sadisss bnget, tapi ada benernya juga!"


"Memang apa yang aku omongin?"


"I- iya itu, yang tadi kaka omongin sama Daren. Emang apa yang terjadi ka?" Naira mengadahkan wajahnya menatap Pram, menunggu apa yang akan Pram katakan.


Bukannya menjawab, Pram malah mendorong Naira untuk masuk ke dalam mobil.


"Kaka ih! Pertanyaan ku gak di jawab!" sungut Naira.


Tap tap tap tap.


Daren berlari menghampiri Pram dengan tas besar di punggung.


"Terima kasih ka, kaka sudah mau melakukan ini semua untuk papa." Daren menunduk hormat pada Pram.

__ADS_1


"Masuk lah! Tidak usah banyak bicara!" ucap Pram dingin yang lantas masuk ke dalam mobil.


Dengan wajah senang, Daren masuk ke dalam mobil.


"Kaka ga langsung ke bandara aja? Nanti telat lo, kalo nganterin aku dulu!" oceh Naira yang masih berfikiran, jika Pram benar benar akan terbang ke Singapura.


Haikal yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya, memang Tuan muda mau ke mana pake ke bandara?


"Kaka mau pergi juga?" Daren ikut angkat bicara.


"Bukan urusan mu!" Pram menatap sinis Daren.


Pandangan Pram menjadi teduh saat matanya menatap Naira. Tangan Pram terulur, menyelipkan anak rambut Naira ke belakang telinganya.


"Jangan pernah lepaskan jaket mu ini! Ingat jika butuh aku, kau sebut nama ku saja, maka aku akan ada di hadapan mu!" Pram menjawil hidung Naira.


"Ngapain aku panggil kaka, kaka kan mau ke Singapura. Jangan lupa makan ya ka! Tidur yang cukup, jaga ke sehatan." Naira menyandar kan dirinya pada Pram.


Pram menyunggingkan senyum nya, tidak tahu aja kau Nai, aku akan ikut dengan mu, mana bisa aku jauh dari mu, "Apa kau ingin aku tetap bersama dengan mu? Selalu dekat dengan mu?" Pram menyandarkan pipinya pada kepala Naira.


Prak.


Naira menggeprak lengan kekar Pram, "Gak usah bahas itu lagi, kaka harus kerja kan! Fokus aja sama kerjaan udah!"


Daren dan Haikal sudah turun dari dalam mobil. Tinggal lah Naira dan Pram yang masih berada di dalam.


"Kaka beneran gak mau turun? Cuma mau anter aku sampe sini aja?" Naira menatap Pram dengan selidik


"Ihs ka Pram lebay banget deh. Kaka gak sendirian tau, masih ada pak Dev, bang Haikal, bang Dega. Aku pergi juga gak lama... cuma 3 hari, 3 malam." terang Naira.


Pram membuang nafasnya dengan kasar, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Naira, melumattt bibir bawah Naira, lalu mendorong lidahnya untuk menerobosss masuk ke dalam mulut Naira.


Untuk sesaat lidah keduanya saling membelittt, bergantian menyesappp, memanfaatkan waktu yang ada. Karena 3 hari ke depan, yang Naira tahu dirinya akan berpisah dari Pram. Sementara Pram, tidak berfikir demikian.


Kaca mobil di ketuk dari luar.


Tok tok tok tok.


"Woy udah lah, terusinnya nanti aja. Kalian bikin ngiri ayang paman tau gak!" sungut Novi dengan menatap jail Haikal.


Pram geleng geleng kepala, mendengar seruan Novi, namun tidak dengan tangannya yang memeluk Naira dengan erat, "Aku sangat mencintai mu, sayang!" menghujani bibir Naira dengan kecupan singkat.


"Iya ka, aku juga cinta sama rubahhh mesummm hehehe. Jangan lampiaskannn mesummm mu ini, dengan wanita lain ya ka! Harus bisa tahan hasrattt kaka sampe aku pulang!" ujar Naira sebelum ke luar dari dalam mobil.


Pram menyeringi, aku tidak akan menahan hasrattt ku ini sayang, jika aku bisa bermain dengan mu, aku tidak menginginkan wanita mana pun lagi, aku hanya untuk mu.


Naira menatap Haikal tajam, dengan penuh penekanan, Naira berkata, "Bang, titip ka Pram! Jangan sampe ka Pram berduaan dengan model mana pun!"


"Siap Nona." Haikal hanya mengiyakan nya saja.

__ADS_1


"Paman Haikal juga, jangan berani benarinya deketin cewe mana pun! Inget ya, cuma ada 1 plangton di hati ayang paman." ujar Novi dengan menempelkan telapak tangannya pada dada Haikal.


Naira berjalan di antara ke duanya, lalu menarikkk tangan Novi untuk melangkah masuk ke sekolah, "Jangan peganggg peganggg, belom halal." celetuk Naira.


"Mao dong, neng di halalin!" Novi berkata dengan kepalanya yang menoleh ke belakang, di mana Haikal tengah tersenyum ke arahnya.


Pram menurunkan kaca mobilnya, "Haikal, kau tunggu apa lagi?" tanya Pram dengan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Saya pikir Tuan akan menunggu bis Nona sampai berangkat." Haikal masuk ke dalam mobil.


"Apa kau pikir aku akan mengikutinya dengan mobil ini, heh? Sama saja aku memberi tahunya jika aku mengikutinya!" ucap Pram dengan ketus.


"Baik Tuan, kita kembali ke kediaman Pramana." ujar Haikal.


Tak.


Pram menjitak kepala Haikal.


"Dasarrr bodoh, kita ke sorum mobil!" sungut Pram.


Haikal melajukan mobilnya, dengan bibirnya yang bertanya, "Untuk apa, Tuan?" seketika Haikal tidak mengerti dengan apa yang di inginkan Pram.


"Menjual mu!"


Haikal membola, "Yang benar Tuan?"


"Tuker mobil yang akan kita gunakan di sana, Dev sudah mengurus mobil yang akan kita gunakan." terang Pram yang membuat lega Haikal.


Rombongan bis dari sekolah Naira pun satu persatu meninggalkan area sekolah. Menuju puncakkk, di mana acara perpisahan berlangsung.


"Lo yakin Nai, pak Pram gak ngikutin lo?" tanya Serli yang merasa aneh pada Pram.


"Yakin dong, ka Pram ke Singapura buat urus hotelnya di sana." ucap Naira yang percaya dengan perkataan Dev.


"Kalo lo Nov! Percaya gak sama pak Pram, pergi ke Singapura, gak ikutin Nai ke puncak?" Serli meminta pendapat Novi.


"Percaya aja gw mah." terang Novi.


Naira yang duduk di dekat jendela, menatap hijaunya tepian jalan tol, saat bis yang di tumpanginya sudah memasuki jalan bebas hambatan.


Sedangkan Serli duduk di samping Naira, mengenakan headset mendengarkan lagu lewat hapenya.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2