
...πππ...
"Jika kau tidak mau membantu ku! Lihat apa yang bisa aku lakukan terhadap mu!" Seringai licik nampak di sudut bibirnya.
Aji bangkit dari duduknya dan meraih satu lembar dari sekian banyaknya foto yang berserakan di atas meja kerjanya, ada banyak foto Naira dan juga Pram di sana.
"Pandai sekali anak ku menyembunyikan harta karunnya! Heh, dengan hilangnya berkas kerja sama mu dengan investor Jepang itu, maka akan di pastikan nama baik mu akan hancur dan jika ini sampai tercium publik, maka tidak akan menutup kemungkinan satu persatu investor akan menarik diri dari perusahaan yang kau pimpin, Pramana Sudiro, kau lupa di dalam darah mu mengalir darah ku!" Aji tersenyum puas.
Orang suruhannya yang ia taruh di kediaman Pramana berhasil mengecoh dan memberikan bukti hubungan Pram dengan gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas di tambah lagi dengan hubungan yang terjalin di antara ke duanya.
Sedangkan kabar terbaru dari orang yang ia perintahkan untuk terus membututi Dev, akhirnya membuahkan hasil dengan menukar tas kerja yang ada di tangan Dev dengan tas orang suruhannya.
π Kembali ke sekolah Nairaπ
Dengan bukti yang mengarah pada Ratna, Ratna tidak bisa lagi mengelak di hadapan bu Rita dan juga guru konseling.
"Sa- saya tidak tau apa apa, bu!" Seru Ratna di hadapan bu Rita, Naira dan pak Aziz guru konseling.
"Kalo bukan kamu, siapa lagi yang berani melakukan ini Ratna?" Tanya bu Rita yang sudah geram dengan alasan yang di berikan Ratna.
Ratna menatap tajam Naira yang berdiri di sampingnya, "Ya pasti dia lah bu!" Seru Ratna dengan ketus menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah Naira.
Tangan kanan ku menepis tangan Ratna yang ia gunakan untuk menunjuk ku, aku menatap jengah pada Ratna, bisa banget ini orang ngelesnya!
"Apa benar, kamu yang melakukannya Nai? Kata kan saja yang sebenarnya dan sejujurnya! Kau tidak perlu takut untuk mengatakannya!" Oceh pak Aziz.
"Kan tadi saya udah bilang yang sejujurnya sama bu Rita waktu di toilet, saya emang gak tau apa apa, saya kebelet, buang air kecil, buang air besar... di saat saya belum selesai buang air besar, saya dengan bu Rita berteriak menyebut nama Ratna." Terang ku menjelaskan kembali, mau di percaya syukur... gak ya udah, mau gimana lagi?
"Memang benar tadi saat saya sedang di toilet, tiba tiba saja ada yang menyiram kepala saya dengan air kotorrr bekas entah apa itu namanya, yang pasti sangat bau!" Seru bu Rita yang kini sudah berganti baju dengan rambut yang setengah basahhh tapi wangi sampo.
__ADS_1
"Siapa yang pertama ibu lihat saat ke luar dari toilet?" Tanya pak Aziz.
"Saat saya membuka pintu toilet, saya melihat Ratna yang diam mematung di depan pintu toilet tepat di mana saya di siram, pak!" Seru bu Rita.
"Ta- tapi bukan saya pelakunya bu, pak! Bisa saja kan memang Naira yang melakukannya, lalu masuk bersemunyi di balik toilet, sa- saya i- ibu hanya kebetulan saja melihat saya, buat apa saya menyiram ibu." Oceh Ratna dengan tergagap.
"Maaf bu, kenapa ibu ada di toilet putri ya? Bukannya masuk ke toilet khusus guru?" Tanya ku.
"Itu, ibu sangat kebelet ingin buang air kecil, ibu masuk saja ke toilet putri, dari pada ibu harus ke toilet khusus guru, ibu harus menempuh waktu lebih lama."
Ratna membatin mendengar alasan keberadaan bu Rita di toilet putri, harusnya itu yang gw siram Naira, kenapa juga harus bu Rita, salah ibu dong, jangan salahin gw!
"Oooowh." Mata ku menatap lantai, tanpa sengaja aku melirik sepatu Ratna, perhatian ku teralihkan olehnya.
"Sepertinya bapak harus menghukum kalian berdua, karena kalian berdua tidak ada yang mau mengaku!" Oceh pak Aziz.
"Tunggu, pak! Bapak gak bisa maen hukum saya sembarangan, saya punya buktinya ko kalo saya bener gak bersalah." Ujar ku.
Ratna mengerutkan keningnya, "Udah kalo salah, ya ngaku aja lah... gak usah pake cari cari alesan, basi!" Seru Ratna dengan ketus.
"Kayanya ibu sama bapak perlu liet ini deh!" Seru ku melambaikan tangan agar pak Aziz dan bu Rita mau melihat ke arah yang aku tuju.
Ratna masih dengan angkuhnya memasukkan satu tangannya ke dalam saku rok yang ia kenakan, "Udah pak, hukum aja tuh Nai! Udah jelas salah ko masih nyari alesan!"
Ku tatap bu Rita dan pak Aziz secara bergantian, "Bu, pak! Sekali ini aja... mungkin ini bisa jadi bukti buat kalian siapa pelaku yang sebenarnya." Ku tarik sudut bibir ku ke atas.
Tidak ada kebohongan dari mata Naira, "Ayo pak." Bu Rita menepuk lengan pak Aziz untuk mengajaknya beranjak dari tempat duduknya dan melihat bukti yang akan di beritahukan Naira.
Ratna membatin, mau apa lagi sih ini anak! Dasar cari muka!
__ADS_1
Bu Rita dan pak Aziz beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Naira.
"Apa yang ingin kamu perlihatkan, Nai?" Tanya pak Aziz.
"Alah paling cuma alasan kosong!" Gumam Ratna dengan mengibaskan rambutnya.
Mata ku mengarah ke sepatu yang di kenakan Ratna, "Ibu sama bapak sini deh, kalian bisa lihat ini kan!" Seru ku dengan menunjuk jari telunjuk kanan ku ke arah ujung sepatu kanan Ratna.
"Ada apa dengan sepatu yang Ratna pakai, Nai?" Tanya pak Aziz.
"Itu ada bercak nodaaa, pak!" Seru bu Rita yang melihat di balik kaca mata minusnya.
"Masa sih?" Pak Aziz melangkah ke sisi Ratna dan melihat dengan jarak yang lebih dekat, menjongkokkan tubuhnya dengan bertumpu pada satu lututnya.
Ratna membatin dengan meremasss tangannya sendiri, mampus gw, kenapa gw gak nyadar sih ada nodaaa kotor itu, ko bisa sih itu ada di sana, apa kena cipratan kali ya waktu gw tumpahin itu air kotorrr ke atas toilet tadi.
Ratna menghentakkan kakinya, "Apa apaan sih ini! Lo jangan ngada ngada deh, Nai!" Ketus Ratna yang mulai cemas saat melihat ada becakkk nodaaa kotorrr di ujung sepatu bagian kanannya.
Pak Aziz menyentuh bagian sepatu Ratna yang kotorrr, ini belum lama.
"Bagai mana, pak?" Tanya bu Rita tidak sabaran.
Pak azis berdiri dari posisi jongkoknya, "Kali ini apa alasan mu, Ratna?" Tanya pak Aziz, yang masih berharap kejujuran terlontar dari murid didiknya ini.
...πππππ...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π
__ADS_1