Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Telat 3 hari


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"Kirain buat neng Naira lagi." Bu Rumi tampak menoleh kiri dan kanannya lalu berbisik pada Novi, "Neng Naira tidak sedang hamil kan, neng?" Pertanyaan ke luar begitu saja dari Bu Rumi.


Novi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ibu kalo ngomong jangan asal deh... udah tau Nai itu masih sekolah, yang bener aja bu kalo ngomong!" Sungut Novi yang di buat jengkel dengan bu Rumi.


"Ya kali gitu, neng... hamil sama pacarnya neng Naira, bisa aja kan?" Bu Rumi tampak menyelidik menunggu jawaban apa yang akan di ucapkan Novi.


"Pesenan saya udah belom, bun?" Tanya Novi dengan memutar bola matanya dengan malas.


"Ini, udah ko neng!" Gagal deh gw dapet berita besar.


Novi kembali ke mejanya dengan tampang wajah yang kesal, sialannn itu bu Rumi kalo ngebacottt seenak jidatnya bae!


Novi menaruh piring yang berisi dimsum di atas meja, "Nih buat kalian aja, gw ga jadi." Ujar Novi dengan bibir yang di tekuk.


"Kenapa lo, Nov?" Tanya Serli dengan melirik Elsa.


Elsa mengerdikkan bahunya, dengan tangannya yang mulai menyantap dimsum bersama dengan Serli, Novi hanya memandangnya dengan sebal.


"Udah makan aja, tar ke buru bel loh!" Seru Naira dengan santainya.


"Ihs lo Nai, masih bisa sesantai itu ya! Lo tau gak, ibu kantin tadi ngomong apa?" Novi menatap sebal pada Naira.


"Apa?" Naira mengusap usapkan tangannya pada perutnya yang rata, "Uuuh ini baru nampol! Kenyang deh gw." Oceh Naira setelah menghabiskan dimsum yang ada di hadapannya lalu bersendawa karena kenyang.


"Astaga Naira!" Serli geleng geleng kepala melihat tingkah Naira.


Elsa membatin, perasaan dulu Naira gak gini deh, ini kenapa jadi begini ya? Kaya ada yang aneh aja gitu dari Naira, tapi apa ya?


Naira beranjak dari duduknya dan membayarkan semua makanan yang sudah ia habiskan pada penjualnya termasuk makanan yang di makan oleh ke tiga temannya, ikut Naira bayarkan.


"Wah ini serius neng, mau di bayar segini?" Tanya bu Rumi dengan mata yang berbinar.


"Iya, kalo ibu gak mau, bisa di kasih buat yang lain." Oceh Naira dengan santai kembali ke meja di mana temannya berada.


"Makasih lo, neng... neng neng tunggu neng!" Bu rumi menghentikan langkah Naira.


Naira menoleh dan menghentikan langkahnya, "Apa lagi bu? Masih kurang?" Tanya Naira dengan heran, pasalnya uang yang ia bayar harusnya lebih dari cukup dari apa yang ia makan.


Bi Rumi menepuk bahu Naira, "Perlu buah mangga muda gak, neng? Kalo mau biar bu Rumi bawain." Oceh bu Rumi, pasti mau, orang hamil pasti bakal kepingin mangga muda.

__ADS_1


Naira diam berfikir, mangga muda ya? Gak lah, aku pengenya ka Pram yang metik langsung dari pohonnya, itu baru seger.


"Gak deh bu, makasih... saya gak suka mangga muda!" Naira kembali melanjutkan jalannya, "Ayo gays balik kelas!" Naira mengajak yang lain untuk kembali ke kelas.


"Oke lah kalo gitu." Serli beranjak dari duduknya di ikuti Elsa dan Novi.


Novi menatap tajam pada bu Rumi, itu pasti ibu nyinyir ngomong yang aneh aneh ke Nai. Tar deh gw tanya kalo udah di kelas atau di jalan aja kalo pas Naira mau ke kedei tapi nanti ada bang Haikal, gak jadi deh, lebih cepat lebih baik gw tanyain ke Nai.


Novi mendahului Serli dan Elsa, tangannya menggandeng lengan Naira, "Gw pengen ngomong sama lo!" Seru Novi membawa Naira berjalan dengan langkah yang lebar.


"Woy, mao ngambil gaji lo ya?" Ledek Serli.


"Gajian masih lama, Nov!" Ledek Elsa.


Di kelas tampak beberapa siswa sudah kembali memasuki kelas, Naira dan Novi duduk saling berhadapan.


"Lo mau ngomong apa? Serius banget lo!" Tanya Naira dengan satu tangan berada di atas meja menopang pipinya.


"Ihs, gw serius nih." Novi berbisik di telinga Naira, "Lo udah kedatangan tamu belum sih bulan ini? Ngaku lo sama gw!" Novi menatap tajam Naira, wajar juga sih kalo Naira hamil secara dia udah merid sama pak Pram, tapi kan gimana dengan sekolah Nai kalo sampe Nai hamil, ujian tinggal bulan depan.


Naira memutar bola matanya dengan malas, terakhir gw datang tamu itu bulan kemaren, bulan ini gw telat 3 hari, masa iya gw hamil? Gw hamil gitu? Wajah Naira berubah menjadi tegang.


"Apa Nai? Lo udah datang bulan kan?" Tanya Novi dengan suara yang pelan dengan wajah yang tidak kalah tegang dari Naira.


Brak.


"Brengsekkk lo Nai!"


πŸ‚Di temlat lainπŸ‚


Setelah kepergian Aji ke kantor, Widia mengundang Jessica untuk menemuinya di rumah.


Di ruang tamu yang megah dan mewah duduk lah dua wanita yang beda generasi namun sama sama cantik dengan polesan makeup mahalnya.


"Jadi benar apa yang di beritakan media, kalo anda ini adalah kekasih dari Pram?" Tanya Widia dengan menatap angkuh Jessica, selera yang rendahan... apa ini? Wanita seperti ini memang sangat pantas untuk mendampingi mu Pram, anak yang hanya menyusahkannn ku saja!


"Yang di beritakan media itu benar, saya adalah kekasih dari Pram, lalu apa ada masalah dengan hal itu?" Tanya Jessica dengan dudukannya yang sok elegan.


"Lalu bagai mana dengan wanita yang bernama Momo? Dia juga kekasih Pram kan?"


"Oh, dia... ah wanita itu hanya mengaku ngaku saja Nyonya, hanya karena wanita itu di bawa Pram saat opening hotelnya maka tidak lantas membuatnya di akui sebagai kekasihnya kan?" Jessica menatap tidak suka saat Widia menyebut nama wanita lain di hadapannya, sialannnn apa mau wanita tua ini? Siapa sebernya wanita tua ini di mata Pram? Aku baru melihatnya, Pram juga tidak pernah menyinggung soal wanita tua ini, apa mungkin wanita ini adalah ibunya Pram?

__ADS_1


Datang seorang maid wanita muda membawakan minum untuk ke duanya lalu menaruh segelas minuman di depan meja Widia dan Jessica.


"Maaf minumnya agak lama, Nyonya!" Maid itu mundur beberapa langkah, menunggu majikannya menenggak minuman yang sudah di buatnya.


Widia mengabaikan pelayannya. Dia menyuruh tamunya untuk meminum minumannya.


"Silahkan di minum Nona Jessica!" Widia mengambil gelasnya dari atas meja.


Jessica meraih gelasnya, tau aja gw udah haus, "Saya minum Nyonya." Jessica tersenyum palsu pada Widia, tahan Jessica, lo belum tau wanita ini siapanya Pram.


Maid itu menyeringai, tamat lah riwat anda Nyonya Widia.


πŸ‚Di gedung pencakar langitπŸ‚


Aji mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


Tok tok tok.


"Masuk lah!" Baru juga datang sudah ada yang mengganggu.


"Maaf Tuan, saya mengganggu waktu anda." Ujar pria berkaca mata dengan berkas di tangannya.


"Sudah tau mengganggu, ada apa? Tidak lihat aku baru datang?" Aji mengomel pada bawahannya itu.


Ini kali terakhir anda mengomeli sata Tuan, tapi setelah ini, tamat lah riwayat anda, pria itu menunjukkan senyumnya.


Tangannya menyodorkan berkas di meja Aji, "Ada berkas penting yang harus anda tanda tangani, Tuan.. ini sangat penting!" Seru pria itu dengan ramah.


"Tinggalkan saja, biar ku baca dulu!" Seru Aji dengan ketus, tangannya mulai membuka lembar demi lembar berkas yang akan dia baca.


Pria yang berkaca mata itu membenarkan posisi kaca matanya, kalo sampai Tuan Aji membacanya, yang ada tidak akan berjalan dengan lancar.


"Maaf Tuan, berkas itu sudah di tunggu oleh investor yang baru."


Aji mengadahkan wajahnya menatap pria yang ada di depannya, "Kenapa kau tidak bilang dari awal!" Tanpa membacanya lagi Aji menanda tangani berkas itu.


Pria berkaca mata tersenyum puas, selamat Tuan besar, anda menuju kehancuran.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Aji saat melihat bawahannya tersenyum padanya.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰


__ADS_2