Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Status Pram untuk Naira


__ADS_3

...💖💖💖...


"Apa kaka sedang tidak percaya pada ku?" Tanya Naira, saat ke duanya sudah ke luar dari dapur.


"Apa aku masih harus menjelaskan nya pada mu? Harusnya kau sudah tahu itu, sayang!" Ucap Pram dingin tanpa menoleh pada Naira.


Naira geleng geleng kepala mendengarnya, fiks ini mah, beneran lagi cemburu.


Pram mendudukan dirinya sendiri dengan kasar di sofa.


Bugh.


Naira berdiri di depan Pram, "Astaga ka, malu... ini di depan umum lo, kaka ga malu noh di lietin sama karyawan aku yang lain?" Naira memainkan alisnya naik turun.


"Kau lupa, siapa aku sayang?"


"Iya iya iya." Naira melewati Pram, dan akan mendarat kan bobot tubuhnya di sofa yang tadi ia duduki.


Sreek.


Pram menarikkk pinggang Naira, hingga wanita itu duduk di atas pangkuan Pram.


"Ka Pram! Aku kan mau duduk di sofa!" Naira menggeprak punggung tangan Pram, yang melingkar di pinggangnya dengan erat.


"Sayangnya aku tidak mengizinkan mu, untuk duduk di sofa! Masih ada ke dua paha ku yang mampu menopang tubuh mu, sayang!" Pram mendusel di punggung Naira.


"Astaga ka!" Naira membuang nafasnya dengan kasarrr.


"Sudah, turuti saja apa yang di inginkan Tuan, Nona!" Seru Haikal


"Hehehe Nai, sweeet banget si pak Pram ini." Ucap Novi yang kini berdiri dengan memeluk nampan.


Novi menatap nakal Haikal, memutar kecil tubuhnya, "Paman ayang, neng Novi juga mau lo kalo di pangku, paman ayang apa gak mau gitu manggu neng Novi? Di gendong ke pelaminan juga neng Novi mau banget, paman ayang!" Ucap Novi dengan suaranya yang mendayu dayu, lalu mengerlingkan matanya dan bibirnya bergerak seakan memberi kecupan pada Haikal.


Haikal malah bergidik ngeri melihat tingkah Novi, "Jangan seperti itu, Novi! Aku geli melihat tingkah absrud mu itu!" Ucap Haikal dengan ketus.


Novi mengerucutkan bibirnya, "Dasarrr paman ayang gak berperasaan!" Ia menggeprak bahu Haikal dengan nampan yang sedari tadi ia peluk, lalu melangkah meninggalkan Haikal.


Brak.


Lusi dan Okta sejak tadi yang memperhatian ke depan, di mana pengunjung kedei saat itu berada, di buat melongo. Belum lagi ke duanya masih belum tahu siapa itu 2 pria dewasa berjas hitam, dengan satu wanita yang mengenakan dress putih.


Novi menaruh nampan di jendela penghubung dapur. Dan berdiri di depannya bersama dengan Lusi dan Okta.


"Ka Novi kenal dengan paman itu? Ka Novi berani banget mukulll itu paman serem pake nampan." Ujar Lusi.


"Iya kenal, dia itu pacar gw." Ucap Novi.

__ADS_1


Okta membola, "Apa? Serius ka?"


Lusi tersentak kaget, "Jangan bercanda ka!"


"Lah ya emang bener, ini aja dari dia." Novi memperlihat kan cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Ini cincin emas ka?" Lusi meraih jemari Novi, memperhatikan benda yang berkilau di cincin yang Novi kenakan.


"Heh! Pada ngerumpi bae ya! Ada bos besar juga." Celetuk Juni saat mengambil nampan, yang sudah berisi burger di jenda penghubung dapur.


"Pesenan Naira ya, Jun!" Ucap Angga.


"Beres, bang." Juni melangkah mengantarkan burger itu ke meja Naira.


Lusi dan Okta mulai kasak kusuk lagi pada Novi.


Okta mengerutkan keningnya, "Emang ada bos besar, ka? Di mana, ka?" Tanya Okta dengan penasaran.


"Iya ka, yang mana bos besarnya?" Tanya Lusi.


"Lah ya itu cewek yang pake dress putih, cowok yang lagi mangku dia itu calon lakinya." Ucap Novi dengan pandangan memgarah pada Naira dan Pram.


Okta membola, "Apa? Itu bos besar? Yang punya kedei ini, ka?"


Lusi menatap takjub pada Naira, dengan kepala yang menggeleng, "Aji gile, kalo bos besarnya kaya gitu mah, astaga.... keren banget. Masih muda udah bisa punya kedei sendiri. Bener bener baik lagi, udah tau kita dari tadi gibah begini, itu bos kaga marah."


"Bukan gw yang gibah, tapi lo!" Sungut Okta.


Angga ke luar dari dapur, dengan membawa nampan yang berisikan seporsi bihun goreng pedas.


"Buat siapa, bang?" Tanya Novi.


"Biar saya aja, bang yang anter." Ucap Lusi.


"Nanti kalian antar meja lain aja ya!" Angga melangkah kan kakinya.


"Itu buat suaminya bu Naira." Celoteh Mita.


"Ha? Suami? Tadi kata bang Juni, itu calon suaminya bos besar." Gumam Lusi.


"Au nih, jadi bingung gw." Protes Okta.


Mega yang melihatnya, langsung meminta yang lain untuk ke arahnya.


"Udah dari pada bingung, mending kita samperin Mega noh! Udah di panggil kan!" Oceh Novi, yang kini menggiring Okta dan Lusi ke meja kasir.


Lusi dan Okta duduk di kursi panjang yang ada di depan meja kasir, berhadapan dengan Mega.

__ADS_1


"Kalian pasti bingung ya dengan bos kita yang satu itu?" Mega mengarahkan matanya ke arah meja Naira.


"Banget." Jawaban singkat ke luar dari mulut Okta.


"Gak usah bingung, yang penting gaji kalian di bayar dengan bener, kalian juga dapet makan kan kerja di sini! Nanti kalian bakal kerja di cabang yang akan di buka." Ujar Mega.


"Iya juga sih, gajinya juga udah lumayan kan kalo di tempat lain." Ujar Lusi.


"Tapi kalian cukup tahu kalo itu calon suaminya bos kita ini." Ujar Mega.


Sementara di meja Naira, Pram menikmati bihun goreng pedas dengan Naira yang menyuapinya.


"Bihun goreng buatan mu, semakin enak aja Angga!" Ucap Pram dingin.


"Terima kasih, pak. Tapi saya rasa, karena lidah bapak sudah lama tidak mencicipinya lagi, jadi terasa enak di indra pengecap bapak." Terang Angga.


"Ka, apa gak sebaiknya aku duduk di sofa aja?" Naira menyuapkan kembali bihun goreng pedas itu ke mulut Pram.


Bukannya menjawab permintaan Naira, Pram malah menatap Naira dengan mata yang melotot tajam.


"Ihsss, gak usah gitu juga keles." Sungut Naira.


"Apa nanti bapak tidak ikut mendampingi Naira ke puncak? Untuk acara perpisahan sekolahnya?" Tanya Angga.


Belum Pram menjawab pertanyaan dari Angga, Naira lebih dulu berkata dengan bibirnya yang tidak bisa di rem.


"Ihs bang Angga! Setiap murid tuh gak ada yang di dampingin sama orang tuanya, pada sendiri sendiri. Yang ada itu cuma guru, sama murid. Ini kan acara guru sama murid." Terang Naira.


"Sayang, aku bukan orang tua, aku ini suami mu!" Ucap Pram yang kembali mengingatkan status Pram untuk Naira.


"Tapi kan guru dan teman teman di sekolah ku itu, taunya kak Pram itu tunangan ku, apa kaka gak inget heh!" Ucap Naira dengan tegas, memainkan alisnya naik turun.


Pram membuang nafasnya dengan kasar. Menaruh piring yang di pegang Naira di atas meja, menatap dalam dua mata bulat Naira, tangannya terulur menangkup wajah Naira.


"Ka!" Naira menggenggam ke dua lengan Pram.


"Wah ada pertunjukan nih." Gumam Haikal yang memperhatikan gerak gerik bosnya.


Pram melirik tajam Angga.


Seperti tau arti tatapan dari Pram, Angga langsung berujar, "Tenang pak, saya tidak melihat apa apa!"


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2