
...💖💖💖...
"Iya sayang, ini aku mau mandi ko! Apa kau tidak ingin membantu ku untuk mandi?" ledek Pram, saat melihat Naira akan melangkah, meninggal kan kamar mandi.
"Kaaaaaaa!"
...🌸🌸🌸...
Sambil menikmati sarapannya, Naira terus bertanya pada Pram, untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Aku masih tidak percaya jika ka Pram hanya ke betulan di puncak. Sedangkan pak Dev sudah bilang, kalo kaka akan terbang ke Singapura. Gimana bisa coba, terbang ke Singapura, tapi bisa muncul di puncak!"
"Kau lupa, siapa aku? Apa pun, bisa ku lakukan untuk mu!" Hanya terbang ke puncak sayang, hal kecil untuk ku, dari Jepang ke Indonesia saja pernah aku lakukan untuk mu!
Naira tampak berfikir, dengan memutar bola matanya, "Dari mana kaka bisa tahu, jika yang menyebar kan foto pernikahan kita itu Sopur?"
"Mudah saja. Itu terjadi 2 hari setelah kalian berada di puncak..." Pram menceritakan bagai mana bisa ia tahu, jika pelaku penyebaran foto pernikahan nya dengan Naira adalah Sopur.
Flashback 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️
Haikal yang sedang mengawasi kamar Naira lewat teropongnya, melihat gelagat yang mencuriga kan dari Sopur.
Lewat teropong yang ia gunakan, Haikal melihat Naira yang meninggalkan halaman mana kala semua siswa sedang melakukan kegiatan di luar, mengikuti kegiatan yang sudah di buat pihak sekolah.
Diam diam, tanpa Naira sadari. Sopur tampak mengikuti Naira dari belakang. Hingga tidak berselang lama Naira tampak memasuki kamarnya lalu menyimpan hapenya di dalam tas, ia langsung masuk ke kamar mandi, entah apa yang sedang di lakukan Naira.
Sopur nampak celingukan dan masuk ke dalam kamarnya, menghampiri tas Naira, mengeluar kan hape Naira dari dalam tas.
"Apa yang sedang di lakukan bocah itu? Ini tampak mencurigakan!" gumam Haikal, dengan ke dua mata elangnya yang terus memperhatikan Sopur lewat teropong.
Sopur tampak menyeringai, dan memyimpan kembali hape Naira ke dalam tasnya, baru lah Sopur ke luar dari kamar tanpa di sadari Naira dan yang lainnya.
Sedangkan Haikal langsung menghubungi Dava, si hackers untuk mengecek apa yang terjadi dengan hape Naira beberapa menit yang lalu.
"Dav! Gw ada tugas bual lo... cepat lo cek nomor telepon Nona, apa yang sudah terjadi dengan hape Nona, gw tunggu lo detik ini juga!" terang Haikal lewat sambungan teleponnya, memberi perintah tanpa bertanya, apa yang sedang di lakukan Dava.
[ "Sialannn lo, bang! Lo itu sedang memberi gw tugas atau sedang menguji ke mampuan hackers gw hem?" ]
"Jangan banyak bicara lo, dasar bodoh... cepat kerjakan saja apa yang gw perintahkan... ini perintah dari bos Pram?"
__ADS_1
[ "Dasar lo bang, senior tidak tahu diri! Bisanya hanya mengancam! Biar gw selidiki dulu." ]
Tanpa memutuskan sambungan teleponnya, Dava langsung mencari tahu apa yang terjadi pada hape Naira, lewat laptop yang ada di hadapannya, dengan mengutak atik sebentar, dia sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Bagai mana! Apa lo sudah mendapatkan hasilnya? Katakan sama gw, apa yang terjadi!" tanya Haikal dengan tidak sabaran.
[ "Cihhh gak sabaran banget lo bang! Ngomong ngomong, kapan lo mau mengikuti jejak bos?" ]
"Sialannn lo, tidak usah bahas diri gw! Apa yang di lakukan bocah sialannn itu dengan hape Nona?"
[ "Nomor telpon Nona mengirim beberapa lembar foto, ke nomor lain. Gw gak tahu itu nomor telepon siapa, tapi yang pasti mereka di lokasi yang sama." ] terang Dava, menyampaikan hasil penyelidikan nya.
Haikal mengerutkan keningnya, foto apa itu kira kira, gw harus menyampaikan nya pada bos, "Apa lo yakin, dengan apa yang lo katakan... Dava?"
[ "Lo meragukan kemampuan gw, Haikal?" ]
"Ya sudah, terima kasih atas bantuan lo!" Haikal langsung memutuskan sambungan telepon nya. Dan langsung mengabari Pram.
Flashback end ✌️
Naira langsung menyeruput minumnya, dan menyimpan kembali gelasnya ke atas meja.
"Lalu sekarang apa yang terjadi dengan Sopur?" tanya Naira yang belum tahu nasib Sopur.
""Lah ya jangan gitu ka, orang itu... bagen kaya gitu, Sopur temen ku lo! Punya orang tua." terang Naira yang masih membela dan mengakui Sopur adalah temannya.
"Itu prinsip mu, berbeda dengan prinsip ku! Tidak ada kata maaf, untuk orang yang sudah menyinggung ku!" ucap Pram tegas.
Naira menelan ludahnya dengan begitu sulit, astaga ini orang apa batu sih, keras amat pendiriannya!
"Gimana dengan urusan kaka di Singapura, apa itu salah satu bualan ka Pram belaka?" tebak Naira.
Pram enggan menaggapi perkataan Naira, Pram beranjak dari duduknya dengan tangannya yang terulur di depan Naira.
"Ikut dengan ku!" seru Pram.
"Ke biasaan banget sih, di ajakin ngomong tapi gak di jawab! Tapi kita mau ke mana, ka?" Naira menggenggammm jemari Pram, ke luar dari ruang makan.
"Nanti kau akan tahu." oceh Pram.
__ADS_1
"Kaka tidak akan mengajak ku bekerja kan?" tebak Naira.
"Tidak ada kata kerja hari ini, aku free." terang Pram.
"Ngemeng ngemeng, ini rumah siapa ka?" pandangan Naira terus memperhatikan sudut ruang yang ia lewati, rumah yang tampak besar, dengan beberapa perabotan dan furniture yang tampak mahal. Menambah kesan mewah dari rumah yang kini ia tempati.
"Villa mu!" ucap Pram dengan entengnya.
Naira langsung menghentikan langkah kakinya, "Apa ka? Kaka gak asal bicara kan ka? Ini villa apa rumah? Tapi gede banget lo ka!"
Tak.
Pram menjitak kening Naira.
"Awwhhh sakit!"
"Villa beserta isinya, ini adalah milik mu, hadiah kelulusan mu." terang Pram yang kini menangkup wajah Naira.
Sreet.
Naira menepis tangan Pram yang menangkup wajahnya. Membuat Pram mengerutkan keningnya, menatap heran dengan apa yang di lakukan Naira. Pram pikir, Naira akan merasa bahagia dengan ke jutan yang ia berikan padanya.
Naira melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang Pram, memeluk erat hingga tubuh ke duanya menempel tanpa jarak. Dengan wajah Naira yang mengadah ke atas pada wajah Pram, menatap pria dewasa itu dengan tatapan mata yang berbinar penuh rasa bahagia.
"Tapi kan hasil ke lulusan belum ke luar ka. Apa ini gak terlalu mahal, ka Pram gak sayang gitu, kalo villa sebagus dan semewah ini di beri kan pada ku, ka? Ini pasti ngeluarin dana yang gede buat bangun villa sebesar ini." cicit Naira dengan satu kakinya yang tidak bisa diam.
Pram mengelusss kepala Naira dengan sayang, menggendong wanita yang ada di hadapannya, "Tidak ada kata sayang untuk mu, ke bahagiaan mu di atas segalanya!"
"Uuuuhhh makin sayang deh." Nakra melingkarkan ke dua tangannya di leher Pram.
Pram menggendong Naira ke luar rumah, dengan tubuh Naira yang berhadapan dengannya, ke dua kaki Naira melingkar di pinggang Pram.
Dari belakang Naira, suara yang sangat ia rindukan terdengar di indra pendengaran Naira, "Naira! Apa yang kau lakukan?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊