
...🌷🌷🌷🌷...
"Sepertinya hukuman untuk mu tertunda, baik lah jika itu bisa membuat mu sembuh lebih cepat, aku tidak keberatan!" Pak Pram menurunkan egonya.
Pak Dev melirik pak Pram dari balik kaca spion mobil, tumben pak Pram mau mengalah, kasihan sekali adik kecilnya pak Pram, jadi harus menunggu sampai Nona Naira membaik.
"Ehem, pak." Seru Pak Dev.
"Ada apa?" Pram menatap tajam pak Dev, karena sudah mengusiknya memandangi wajah Naira yang manis meski pucat.
"Emmm, itu... persiapan untuk malam pertama, bagaimana pak?" Tanya pak Dev ragu ragu dan hati hati, jika salah bicara, mati aku.
"Biarkan saja, Amarta masih ada di rumah kan?"
"Masih, pak!"
"Cepat sedikit bawa mobilnya!" Pak Pram mengumpat lagi pada Dev.
"Ini saya juga sudah cepat, pak."
"Masih berapa hari lagi untuk launching Hotel Pelangi?" Tanya pak Pram.
"Satu minggu dari sekarang, pak."
"Bagaimana dengan kepala devisi yang kita minta untuk menangani Hotel Pelangi yang baru akan di buka?" Tanya pak Pram lagi.
"Rencananya besok Meli akan menghadap bapak di kantor Bintaro, besok setelah jam makan siang akan ada rapat bersama dengan devisi lainnya yang akan menangani Hotel Pelangi cabang Jakarta."
"Atur saja dengan benar." Aku tidak mungkin meninggalkan Naira dalam keadaan seperti ini.
Jam 5 sore lewat, mobil sedan hitam mewah pak Pram baru memasuki pelataran parkir.
Dengan sigap pak Dedi membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
Amarta juga ada bersama dengan pak Dedi, ikut menunggu dan menyambut ke pulangan pasiennya, siapa lagi kalo bukan Naira Putri Wiguna, istri Pramana Sudiro.
Pram turun dari mobil dan langsung membawa Naira yang masih tertidur dalam gendongannya.
Aku merasakan ada guncangan pada tubuh ku, di saat aku membuka mata, ku lihat wajah pak Pram yang tengah membawa ku dalam gendongannya.
Aku menarik sudut bibir ku, apa dengan kumatnya asma ku ini, bisa merubah pikiran pak Pram untuk tidak jadi menyentuh ku? Menghukum ku sih lebih tepatnya, karena mulut ku yang gak bisa di rem ini, aku mengeluarkan kata keramat.
Suara lembut meluncur dari bibir pak Pram, "Kau sudah bangun?" Tanya pak Pram yang melihat ku sedang menatapnya.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan seutas senyum.
__ADS_1
Senyumannya, tahan Pram... setidaknya tunggu sampai kondisi Naira membaik, "Jangan menggoda, ku!"
Aku mengerucutkan bibir, siapa juga yang menggoda mu, dasar rubah tua.
Pak Dev membawakan tas Naira dan pak Dedi berjalan di belakang pak Pram. Sedangkan Amarta berjalan paling belakang dengan membawa tongkat penyanggah yang tadi di gunakan Naira.
"Ada apa dengan Nona, pak Dev?" Tanya pak Dedi.
"Asma Nona Naira kumat."
Pak Dedi membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, "Apa? Nona Naira punya riwayat asma? Tapi tadi pagi masih baik baik saja kan!"
"Nanti juga kau tahu alasannya!" Seru pak Dev.
Pak Dev langsung mendahului pak Pram untuk membukakan pintu lift untuk Tuannya.
Pak Pram masuk ke dalam kotak besi alias lift, "Dev, kau ikut dengan ku ke atas!" Seru pak Pram.
Pak Dev pun langsung ikut serta masuk ke dalam lift yang di peruntukan untuk pak Pram dan Naira kini.
Pak Dev menekan tombol tutup pada lift, apa yang ingin di bicarakan pak Pram ya? Sampai aku harus ikut naik ke atas.
"Dev, untuk rapat besok, kita adakan secara virtual... aku akan memimpin rapat dari rumah." Ujar pak Pram.
"Baik, pak." Apa ini Tuan Pram lakukan untuk Nona Naira ya? Wah wah wah, Tuan Pram sudah mulai bucin ini sama Nona Naira, pak Dev menarik sudut bibirnya ke atas.
Pak Dev membatin, coba di tes lah, aku kan ingin mendengar alasan pak Pram secara langsung, biar Nona Naira juga bisa mendengar apa yang akan di ucapkan pak Pram nanti.
"Kenapa harus secara virtual, pak? Kan pak Pram sedang tidak berada di luar negeri." Ujar pak Dev.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Pak Pram berjalan lebih dulu di ikuti pak Dev.
Mata ku dan mata pak Pram saling beradu pandang.
Batin Naira, jujur saja aku juga di buat penasaran dengan alasan pak Pram yang memilih memimpin rapat besok dengan cara virtual.
Batin pak Pram, kalo aku katakan... aku ingin menjaga Naira, bisa besar kepala bocah ini.
Pak Pram berdehem sebelum menjawab pertanyaan yang di ajukan pak Dev.
"Bukan urusan mu, Devano!" Seru pak Pram sinis, "Sudah jangan ikuti kami lagi!" Serunya saat sudah sampai di depan pintu kamar.
__ADS_1
Naira membatin dengan wajah kecewa dan bibir mengerucut, iiiihs, bukan jawaban itu yang ingin aku dengar.
Pak Pram dapat melihat wajah kecewa Naira saat mendengar apa yang di ucapkannya barusan, kenapa dengan wajah bocah ini? Apa ada yang salah dengan kata kata ku?
Pak Dev membatin, aaah sial, kenapa pak Pram tidak mau mengakuinya, pada hal kalo pak Pram mau mengakuinya kan sangat bagus untuk hubungannya dengan Nona Naira.
Pak Dev membukakan pintu untuk pak Pram, "Kurang kerjaan pak kalo saya sampai ikut masuk ke dalam kamar bapak."
"Bagus lah kalo kau mengerti!" Pak Pram menutup pintu dengan membanting menggunakan kakinya.
Brak.
Pak Dev sampai berjingkat saking kagetnya, "Dasar pak Pram gendeng, seenaknya saja menutup pintu, untung saja jantung ku kuat... kalo tidak, bisa innalilahi aku saat ini." Pak Dev pun berjalan meninggalkan kamar pak Pram.
"Bi- sa ti- dak sih, ja- ngan mem- bu- at ku ka- get!" Ucap ku dengan nasaf yang tersengal saat pak Pram mendudukan ku di atas ranjang.
Pak Pram mengelus rambut ku, "Iya, maaf ya! Aku tidak akan melakukannya lagi."
Aiiiih, bicaranya lembut sekali, Naira jangan tergoda pada rubah tua ini, ingat karena dia juga aku jadi seperti ini, tapi bagus juga kan dengan kondisi ku ini.
Dengan tangannya, pak Pram membuka sepatu ku, "A- ku bi- sa sen- di- ri, pak." Ucap ku.
"Biar aku yang melayani mu, ingat aku ini suami mu!" Seru pak Pram.
Pak Pram menggendong ku dan membawa ku ke bathoom seperti biasa pak Pram membukakan pakaian yang aku kenakan lalu menyeka badan ku dengan handuk kecil.
Pak Pram menahan gejolak hatinya saat tangannya menyeka tubuh istri kecilnya Naira dengan handuk basah.
Pak Pram menguatkan hatinya sedangkan ia juga menelan salivanya dengan sulit, sabar Pram, iman mu harus kuat, tunggu sampai Naira pulih dari sakit asmanya, astaga... ini sulit sekali, sabar otong, kau harus kuat, jangan menyiksa ku otong.
Ku tatap wajah tampan pak Pram yang sedang menyeka tubuh ku dengan handuk basah, "Pak!"
"Sudah jangan panggil aku pak terus, aku ini suami mu! Panggil aku kaka saja!" Ketus pak Pram.
Ku tanyakan apa yang membuat ku penasaran meski dengan nafas yang tersengal sengal, "Ba- ik lah ka." Ucap ku, "Ka- ka ti- dak a- kan meng- hu- kum ku kan?"
"Aku pasti akan menghukum mu, tapi tidak untuk saat ini, tunggu sampai kau oulih, baru aku akan membobol mahkota mu itu." Pram menarik alisnya ke atas, apa anak ini ingin aku mengentuhnya ya? Menanti betapa kuatnya otong.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut.
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
__ADS_1
Makasih banyak udah mau baca.