Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Harus 1 langkah darinya


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bukannya sekarang juga aku lagi ngelanjutin pendidikan ya? Pendidikan seumur hidup malah!" Naira menyeringai pada Pram.


Pram mengerutkan keningnya, "Maksud mu?"


"Lupakan lah!" Naira memalingkan wajahnya dari Pram.


"Ayo, jelaskan pada ku apa maksud perkataan mu, sayang?"


"Ini mobil siapa, ka?" Ke dua mata Naira, mengamati apa saja yang ada di dalam mobil lamborghini yang tengah ia tumpangi.


"Mobil ku, apa kau suka?"


"Pasti mahal ya, ka?" Bukannya menjawab pertanyaan Pram, Naira malah memberikan pertanyaan pada Pram.


"Murah."


Naira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap jalan lewat kaca mobil. Hingga beberapa menit kemudian, mulutnya kembali mengoceh.


"Kalo aku kuliah, apa ka Pram tidak keberatan?" Naira menatap Pram dengan tanda tanya besar di hatinya.


"Untuk apa aku keberatan? Itu kan untuk masa depan mu! Untuk pendidikan mu!"


"Bagai mana dengan status ku? Apa aku harus menyembunyikan nya, ka?"


"Kenapa harus di sembunyikan? Setelah kau lulus, kita akan adakan resepsi pernikahan." Ucap Pram dengan lembut.


"Resepsi pernikahan? Aku gak salah dengar, ka?"


"Tidak, kau buat saja daftar nama siapa yang akan kau undang di acara resepsi pernikahan kita nanti." Ucap Pram.


"Nikahnya, gimana ka?"


"Kita kan sudah menikah secara agama, untuk secara negara kau tidak perlu ambil pusing, kau hanya tinggal terima beres, ada Dev yang akan mengurusnya." Ujar Pram.


"Terus liburan ke Bandung nya kapan, ka?" Enak aja, gara gara ngurus resepsi, tar gak jadi pulang kampung. Amsyong saya.


"Iya setelah proyek besar ku beres, hasil ujian mu sudah jelas, kita akan ke Bandung secepat nya."


"Kaka gak bohong kan?" Ka Pram beneran nih? Gak bohongin gw kan?


Pram mengalihkan topik pembicaraan mereka, "Pernikahan yang seperti apa yang ada dalam pikiran mu, sayang?"


Naira tampak berfikir, "Seperti apa ya? Yang ada dalam pikiran ku hanya ingin lulus sekolah, melanjut kan pendidikan sambil memperbesar usaha ku. Kalo buat nikah, sebenarnya belom ke pikiran ka, pengennya kaya gimana." Tutur Naira dengan matanya yang polos menatap Pram.


Pram memarkir mobilnya, pak Dedi yang sudah berjaga langsung membukakan pintu mobil untuk Pram.


"Selamat datang, Tuan!" Ucap pak Dedi, meski sudah tahu jika ia akan di abaikan.

__ADS_1


Pram berjalan mutar, membukakan pintu mobil untuk Naira.


Di lihatnya, Naira tengah berusaha membuka sabuk pengamannn nya sendiri.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Pram menyeringai.


"Aku gak bisa bukanya. hehehe!" Naira menunjukkan sederet gigi putihnya pada Pram.


Pram menggelengkan kepalanya, "Itu pertanda jika kau bergantung pada, ku!"


Plak.


Naira menggeprak bahu Pram yang tengah mencondongkan tubuhnya, untuk membuka sabuk pengaman yang membelittt tubuh Naira.


Pram membawa Naira ke luar dari mobil dengan ke dua tangannya. Di gendongannya tubuh Naira lalu di bawahnya masuk ke dalam rumah.


"Kaaaa! Aku bisa jalaan sendiri!" Rengek Naira yang minta di turunkan.


"Diam lah! Kau tidak lihat kaki mu itu sedang sakit!" Bantah Pram.


"Nona kenapa, Tuan?" Tanya Dedi yang menebak jika Nona Muda-nya itu tidak baik baik saja.


"Di dorong orang." Ujar Pram dengan datar.


"Apa? Kurang ajarrr itu orang, siapa orangnya Tuan? Biar saya yang turun tangan untuk membasmiii orang itu." Dedi mengepalkan tangannya, kesal mendengar penuturan Pram.


"Tidak perlu, itu tugas Haikal. Tugas mu di kediaman Pramana ini, menjamin ke selamatan para penghuninya." Ujar Pram.


"Tidak ada, kau hanya salah mengartikan saja! Itu bukan apa apa!" Pram membantah perkataan Naira.


"Pak Dedi, jawab pak!" Naira bertanya pada kepala pelayan itu dengan suaranya yang meninggi.


"Maaf Nona, biar Tuan saja yang menjawab." Ujar pak Dedi.


Pram memasuki lift, perlahan pintu lift tertutup, membuat Naira berteriak pada pak Dedi.


"Pak! Kau berhutang penjelasan pada ku pak!"


Pram membuang nafas lega, hampir saja perang dunia lagi antara aku dan Naira ku ini, aku harus peringatkan yang lain, untuk berhati hati dalam berbicara.


Naira menatap curiga pada Pram, "Aku punya telinga yang untuk mendengar, ka! Mata ku untuk melihat. Aku bukan anak kecil yang bisa kaka bohongi. Jadi katakan yang sebenarnya ka! Apa yang kaka sembunyikan dari ku?" Naira melipat ke dua tangannya di depan dadanya.


"Telinga mu, untuk mendengar rayuan dari bibir ku. Mata mu untuk melihat, betapa besar cinta ku untuk mu!"


"Jadi, ka Pram tidak ingin mengata kan yang sebenarnya pada ku? Apa yang kalian sembunyikan dari ku?" Pram mendudukan Naira di kasur, dengan ke dua kaki yang di luruskan.


"Sebaiknya kau istirahat lah dulu!" Pram melangkah meninggalkan Naira di atas tempat tidur.


Bugh bugh bugh bugh.

__ADS_1


Naira melemparrr kan bantal bantal yang ada di atas kasur, ke arah Pram meski hanya ada satu bantal yang berhasil mengenai punggung Pram.


Sedangkan 3 bantal lainnya, tidak mengenai punggung Pram, bantal bantal itu jatuh ke lantai.


Naira mencari informasi lewat mbah google, mengenai sepak terjang seorang Pramana Sudiro.


"Kenapa tidak ada? Harusnya lengkap kan data data yang muncul, ini kenapa hanya menampilkan ke baikannya aja!" Gerutu Naira, saat dirinya tidak mendapati informasi yang buruk mengenai Pramana Sudiro, suaminya sendiri.


"Apa mungkin ka Pram benar benar bersih dari kejahatannn? Sedangkan kalo tidak salah dengar, ka Pram itu terkenal kejammm pada siapa saja orang yang mengecewakan nya, gagal dalam menjalankan tugasnya. Tapi kenapa ini tidak ada?"


Naira di buat bingung dengan ke adaan yang ia hadapi, berbeda dengan Pram yang berada di ruang kerjanya sedang tersenyum puasss, seolah beru saja mendapat kan ke menangan.


Dengan duduk bersandar pada kursi ke besarannya, Pram menatap layar hape-nya yang ada di tangannya. Ia melihat Naira yang tengah kesal, setelah memainkan hapenya.


Rencana ku berjalan dengan lancar. Jika aku tidak ingin Naira mengetahui sepak terjang ku. Pemikiran ku harus 1 langkah dari nya.


"Maaf sayang, biar bagai mana pun aku tidak ingin ke hilangan mu, aku tidak ingin kau marah pada ku dan membuat jarak di antara kita." Gumam Pram.


Tok tok tok.


"Tuan, ini saya Dedi." Ujar pak Dedi yang mengetuk pintu ruang kerja Pram.


"Masuk, Ded!"


Setelah di perbolehkan untuk masuk, pak Dedi langsung melangkah kan ke dua kakinya untuk memasuki ruang kerja Pram.


"Ini minuman yang anda minta, Tuan." Pak Dedi menaruh botol minuman, yang memabukkan di atas meja kerja Pram, dengan gelas kecil yang ada di samping botol itu.


"Maaf Tuan, bukan kah Tuan sudah lama membuang ke biasaan buruk dalam hal minum?" Tanya pak Dedi.


"Aku hanya butuh tenang, Dedi!" Pram membuka penutup pada mulut botol yang ada di tangannya.


"Masalah tidak akan terselesaikan hanya dengan minum, Tuan. Coba lah bicara pada Nona Muda, Tuan. Nona pasti akan mengerti." Saran pak Dedi.


"Ke luar, Dedi!" Pram mengusir pak Dedi, untuk meninggalkan ruang kerjanya.


"Tapi Tuan ----"


"Aku bilang pergi!" Bentak Pram.


Dreeet dreeet dreeet.


Pram menyeringai saat tahu siapa yang mengubunginya.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2