
...💖💖💖...
Sayangnya Juni tidak dapat melihat tatapan yang di berikan Daren untuk Naira.
Pelajaran pak Asep pun di mulai, ada yang fokus dengan materi yang di berikan pak Asep ada juga yang matanya terus fokus pada siswa baru dalam kelas itu siapa lagi kalo bukan Daren.
.
Di tempat lain.
Di atas gedung pencakar langit, di ruang meeting, setelah berkirim pesan pada Naira, kini Pram fokus pada orang yang di ajaknya meeting.
Mau marah pun percuma, Pram yang punya duit, ikuti saja lah aturan mainnya. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
"Bagaimana, pak Pram? Apa anda setuju dengan pendapat saya?" Seru Soleh, orang yang di tugaskan untuk bekerja di perusahaan Aji, agar memudahkan gerak Pram untuk mengakuisisi perusahaan Aji.
"Baiklah, jalankan semua rencana dari awal dengan baik, aku tidak mau mendengar adanya kegagalan, jika perlu desak dan tekan terus para pemegang saham agar mau melepas sahamnya pada kita." Ujar Pram.
"Baik, pak." Ujarnya.
"Rapat selesai!" Seru Pram.
"Beneran selesai, pak?" Soleh nampak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, ada angin apa ini hingga pak Pram menyudahi rapat secepat ini!
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat kembali ke perusahaan itu!" Pram menggertak Soleh untuk meninggalkan ruang meeting.
"Oh iya, baik pak!" Soleh membereskan berkasnya dan ke luar dari ruang meeting.
Pram berdiri dari tempat duduknya dan menatap dinding kaca yang menawarkan pemandangan di luar, tampak gedung gedung pencakar langit lainnya, mobil berlalu lalang di jalan yang tampak seperti semut.
Dev masuk ke ruang meeting, karena Pram tidak kunjung ke luar dan meeting berakhir lebih cepat dari apa yang sudah di jadwalkan.
"Pak Pram!" Pram menoleh ke arah Dev.
"Bisa kau percepat meeting kita dengan infestor Jepang itu?" Tanya Pram.
"Biar saya coba hubungi asistennya dulu, pak!" Seru Dev yang langsung di anggukan kepala oleh Pram.
Sementara Dev menelpon asisten dari infestor Jepang, Pram sibuk memandangi wajah Naira di hape dengan duduk di kursi kebesarannya.
Hai, kau gadis pembuat onar, cepat lah lulus, aku tidak sabar ingin melahap mu.
__ADS_1
Sedangkan di luar ruangan meeting terjadi keributan.
Setelah Dev menyudahi sambungan telponnya, ia langsung menatap Pram untuk melihat siapa yang membuat kegaduhan dan tidak lupa menyampaikan hasil pembicaraannya di telpon.
Dev menyimpan hapenya dalam saku kemeja putihnya, "Ada kabar baik, pak! Infestor Jepang akan datang ke sini dalam waktu 20 menit lagi!" Seru Dev, yang lantas ke luar untuk melihat apa yang terjadi.
Ceklek.
Dev berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam, melihat Karin yang tengah di hadang oleh 2 orang bodyguard yang berjaga di depan pintu meeting.
"Ada apa ini?" Tanya Dev.
"Nona ini memaksakan diri untuk masuk ke dalam, pak!" Ucap seorang bodyguard lainnya.
"Dengar ya! Aku ini kekasih bos kalian! Cepat biarkan aku lewat! Atau kalian mau ku pecat?" Ucapnya menyombongkan diri.
Dev menatap Karin dengan tatapan mengejek, hem hanya wanita ranjangggg saja sudah berlagak bak kekasih anda terlalu naif nona Karin, jika saja anda tahu pak Pram sudah menikah, tamat lah riwayat mu.
"Jangan biarkan dia masuk!" Seru Dev yang langsung masuk ke dalam dan menutup pintu.
"Hai, kau! Kurang ajarrr, awas kau ya!!!" Karin mengumpat dengan wajah merah menahan kesal.
Ular itu, berani juga dia datang di saat aku tidak membutuhkannya, emmmm tapi kehadirannya di dekat ku akan membuat Naira aman dan jauh dari jangkauan musuh musuh ku.
"Biarkan dia masuk!" Seru Pram.
"Baik, pak!"
Setelah mendapat perintah, Dev langsung mempersilahkan Karin untuk masuk ke ruang meeting dan bertemu dengan Pram.
Karin berkata manja dan mendayung dayu, dengan sorot mata manjanya, "Hai, sayang! Kamu kemana aja sih! Aku rindu pada mu!" Karin duduk di atas pangkuan Pram dengan tangan kanan di belakang punggung Pram dan tangan kiri berseluncur di dada Pram yang berbalut kemeja dan jas.
Pram menatap Karin dengan pandangan yang sulit di artikan di mata wanita berparas cantik ini, kanapa rasanya aku tidak nyaman wanita ini ada di atas pangkuan ku! Tangannya ini! Lancanggg, dia pikir dia ini siapa? Naira saja tidak pernah seperti ini pada ku! Kenapa aku jadi membandingkan bocah itu dengan ular ini!
Di luar dugaan Karin, yang berfikir akan di sambut hangat oleh Pram, justru mendapat perlakuan dingin.
"Kamu kenapa sayang?" Karin hendak membelai pipi Pram dengan bibirnya yang sensualnya.
Bugh.
"Awh."
__ADS_1
Pram langsung bangkit tanpa memperdulikan posisi Karin yang terjatuh di lantai, bokongnya yang semok mencium lantai dengan keras.
Dev menahan tawa atas apa yang sudah Pram lakukan terhadap Karin, mampusss kau! Ular betina dapat pelajaran juga kan dari pak Pram!
"Sayang, apa yang kau lakukan!" Seru Karin dengan memegangi bokongnya yang kesakitan.
"Itu salah mu sendiri! Kenapa harus menyalahkan ku!" Seru Pram dingin dan acuh.
Sialnnnn kenapa Pram memperlakukan aku seperti ini sih! Karin kenahan kesal pada Pram, berusaha menampilkan senyum di bibirnya yang berbanding terbalik dengan hatinya.
"Pasti kau tidak sengaja kan sayang! Ayo tolong bantu aku berdiri!" Seru Karin yang berkata manja dengan ke dua tangan yang terulur ke depan di mana Pram berdiri tegak tidak jauh dari posisi yang masih terduduk di lantai, menampakkan pahanya yang putih mulus karena saat ini ia memakai dress mini.
Bukannya membantu Karin untuk berdiri, Pram justru berbalik badan dan memanggil Dev.
"Dev, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan pada wanita ini!" Serunya.
Dev mendekati Karin dan membantu wanita itu berdiri, ada apa ini, kenapa Pram bukannya membantu ku, justru meminta Dev yang melakukannya! Sialll.
Dev menatap Karin dengan tatapan mengejek seolah ia berkata, "Mampusss kau nona Karin, sekarang posisi mu di mata tuan Pram tidak ada artinya."
Karin pun menatap Dev dengan sorot mata yang tajam seolah dengan matanya ia berkata, "Lihat saja saat aku menjadi nyonya Karin Pramana Sudiro, kau orang pertama yang akan aku pecat, ku buat kau menjadi gelandangan!"
Karin sudah berdiri dengan benar, Dev pun sudah berdiri tidak jauh dari bosnya Pram.
Pram menatap Karin dengan tajam, satu tangannya di masukkan ke dalam saku celananya, "Jika aku tidak membutuhkan mu, jangan pernah muncul di hadapan ku! Kau mengerti!" Seruan Pram yang tegas terdengar di telinga Karin.
"Ta- tapi Pram, aku..."
"Aku tidak pernah mendengar ada kata penolakan atau pun bantahan, kau tahu itu kan Karin!" Serunya lagi yang memotong ucapan Karin.
Senyum Dev mengembang mendengar perkataan Pram. Itu artinya pak Pram tidak mau jika nona Karin datang ke kantor tanpa perintah dari pak Pram itu sendiri.
"Ta- tapi, sayang..." Karin hendak melangkah maju mendekat pada pram.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1