Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Seblak


__ADS_3

...💖💖💖...


Serli yang gemes dengan pertanyaan Novi pun langsung berdiri dan menghampiri tempat duduk Novi, ia berdiri di depan Novi.


Pletak.


Kepalan tangan kanan Serli mendarat di kepala Novi.


"Awwwh... sakit ege luh!" Seru Novi dengan tangan mengelus bagian kepalanya yang kena jitakan Serli.


Serli menutup mulut Novi dengan telapak tangan kanannya, "Ini mulut kalo ngomong bisa di saring dulu kaga!" Seru Serli.


Novi menyingkirkan tangan Serli dari mulutnya, "Apaan sih lu, Ser!"


"Lu gak denger tadi pak Pram bilang apa? Seenggaknya tunggu sampe kita selesai ujian, baru dah pak Pram bisa umumin kalo dia udah nikah sama Naira." Terang Serli, "Bener begitu Nai?" Serli bertanya pada Naira.


Naira membatin, apa harus pernikahan ini di publikasikan? Apa untungnya untuk ku? Yang ada aku di hujat sama fansnya ka Pram, belum lagi yang namanya Karin itu, haduuuh saingan ku model, sedangkan aku apa lah!


Novi dan Serli saling pandang, melihat Naira yang kini diam melamun.


Serli menepuk bahu ku, "Lo kenapa?"


Novi menaruh toples ke atas meja, "Tau lu Nai, kalo ada masalah ya di omongin dong, kan lu punya sahabat, kita di anggap apa gitu sama lu?" Cecar Novi.


"Gak apa ko." Jawab ku dengan seutas senyum.


Kruk kruk kruk.


"Perut siapa itu bunyi?" Tanya ku menatap Serli dan Novi.


"Bukan gw." Ujar Serli.


Novi nyengir kuda sambil tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hihihi, sorry nih ya... perut gw itu yang bunyi." Wajah Novi merah merona saking malunya.


Serli menepuk jidatnya, "Astaga Novi." Serli menunjuk toples yang ada di atas meja, "Onoh udah singget loh isinya ama perut lu! Masih belum kenyang juga lu?" Dumel Serli yang memarahi Novi bak ibu yang sedang memarahi anaknya.


"Itu kan ngemil, Ser... beda kalo sama makan nasi." Kilah Novi.


"Ada apa, Nai?" Tanya Pram yang berjalan menghampiri ku lalu berdiri di samping ku dengan mengelus punggung ku.


Belum sempat aku menjawab, kini perut ku yang gantian berbunyi.


Kruk kruk kruk.


Ku mengadahkan wajah menatap Pram, "Hihihi, sepertinya perut ku juga ikutan demo." Ku usap perut ku yang datar dengan tangan ku.


"Ya sudah kita makan saja!" Seru Pram.


Ku tatap Serli dan Novi, "Kalian, ikut makan kan?"


"Emang kita di ajak?" Tanya Serli.


"Di ajak kan ka?" Tanya ku pada Pram.


Pram langsung menggendong ku, "Kalo kalian mau, ayo ikut!" Seru Pram yang melangkah kan kakinya meninggalkan ruang tamu menuju dapur.

__ADS_1


Serli dan Novi pun mengikuti langkah Pram dengan berjalan di belakang.


Tangan ku yang melingkar di lehernya Pram, kini ku tarik leher jenjang Pram hingga kepalanya condong miring ke arah ku.


Pram menatap wajah Naira, pasti ada yang sedang di inginkannya, "Ada apa?" Tanya Pram dengan datar.


"Aku gak mau makanan rumah!"


Pram menghentikan langkah kakinya, "Lalu mau makan apa?"


"Emmmm, seblak pedes dengan kuah panas... kayanya enak." Ucap ku dengan menelan saliva membayangkan rasa kuah seblak yang pedas dan nikmat.


Pram mengerutkan keningnya, "Apa itu seblak?"


Novi dan Serli menahan tawa mendengar pertanyaan Pram.


Novi membatin, orang kaya kaga tau seblak.


Aku menyembunyikan wajah ku di dada bidang Pram, astaga ka Pram ini, apa lagi yang tidak di ketahui pemilik hotel bintang lima ini ya? Bikin aku gemes sendiri.


Gigi ku yang gatel langsung menggigit dada bidang Pram.


"Kau menggelitik ku, Nai?" Tanya Pram.


"Tidak... ayo jalan ka!" Seru ku yang meminta Pram untuk jalan ke arah yang berlawanan dari dapur menuju pintu luar.


"Udah pak, turutin aja!" Seru Novi.


Ku tatap Pram dengan bibir mengerucut, "Awas aja kalo gak di kasih, cuma minta seblak ko." Gerutu ku dengan menyilangkan ke dua tangan di depan dada.


Kami berempat masuk ke dalam mobil dengan Pram yang ada di belakang kemudi.


"Hanya Nona Naira yang bisa melakukan ini semua." Ujar pak Dedi, pada hal ada supir, tapi Tuan menolak untuk menggunakan supir dan memilihnya untuk membawa mobil sendiri, hal langka bagi pak Dedi yang sudah bekerja puluhan tahun depan Pram.


Mobil sedan hitam ke luar dari gerbang megah, ke luar dari perumahan elit menuju jalan utama.


"Tunjukkan jalannya!" Seru Pram.


"Beres, bos." Seru ku.


"Aku bukan bos mu!" Seru Pram dingin.


"Iya, sayang." Ucap Naira manja.


"Ahahaha, kalian bener bener ya." Ledek Serli dari kursi belakang.


Novi menatap tajam Pram, "Pak Pram, bucin ya sama Nai?"


Pram melirik dari kaca spion mobil, "Apa itu bucin?"


"Udah ka, fokus ke jalan aja!" Seru ku dengan mendorong pipi Pram agar fokus pada jalan.


Dari arah belakang, motor sport yang di kemudikan Daren langsung mengikuti mobil sedan hitam mewah yang membawa Naira dan Pram.


Daren memberi jarak antara motor yang ia kendarai dengan mobil yang sedang ia ikuti, mereka mau pergi ke mana ya?

__ADS_1


Pram tidak menaruh curiga pada kendaraan lainnya, semuanya masih di batas wajar di mata Pram.


Pram memarkir mobilnya di pinggir jalan, lalu kami berempat turun dari mobil.


Aku di gendong Pram memasuki kios langganan ku yang menjual seblak.


Duduk di bangku plastik dengan menghadap meja kayu yang menyatu dengan dinding di tambah sejuknya kipas angin yang memutar di atas kepala.


Seorang ibu dengan epron melekat di tubuhnya menghampiri Naira dan menepuk bahu Naira pelan.


"Aduh eneng gelis teh udah lama pisan gak kelihatan, kirain mah udah lupa sama seblak emak."


"Inget ko, emak... emang lagi sibuk aja, jadi baru kesini lagi." Ucap ku ramah.


Pram menatap istrinya yang sedang bicara dengan si penjual, Naira tampak akrab dengan ibu ini, Apa Naira sering ke tempat ini?


"Ini teh temen temen eneng? Gelis pisan sama kaya eneng." Ujarnya memperhatikan Novi dan Serli.


"Iya, bu... kita sahabatnya Nai, mau nyobain seblak buatan ibu." Ujar Serli.


"Kata Nai enak, jadi saya mau coba deh... buatin ya bu yang enak." Oceh Novi.


Si ibu memperhatikan wajah pria tampan yang duduk di samping Naira.


"Pasti atuh, emmm kalo ini teh siapa? Ganteng pisan!" Serunya menowel nowel bahu Naira.


"Ini?" Naira menunjuk Pram dengan jari telunjuknya, "Ya pacar aku, emak... cakep kan?" Aku memeluk lengan Pram.


Wajah Pram bersemu merah, di akui Naira sebagai pacarnya, ada rasa bangga di hatinya, karena Naira tidak malu untuk mengakuinya meski hanya di akui pacar.


Pram mengusap sayang kepala Naira dan menyandarkan kepala Naira ke dadanya yang bidang.


Cup.


Pram mengecup kepala Naira.


"Aiiiih udah kasep pisan, romantis pisan pula, mau atuh emak di cup!" Ledek ibu penjual seblak.


Novi dan Serli hanya tertawa dengan menutup mulut.


Novi berbisik pada Serli, "Gw yakin ini mah, seratus persen... pak Pram bucin akut ke Nai!" Serunya.


"Kali ini gw sependapat sama lu, Nov!" Seru Serli.


"Udah atuh emak, buatin seblak...4 porsi super duper pedes ya!" Seru ku dengan menggenggam tangan ibu penjual.


"Beres atuh, di tunggu ya!" Si ibu langsung membuatkan 4 porsi seblak.


Tidak jauh dari kios, Daren menatap tajam ke dalam kios yang terbuka itu.


"Apa mungkin status mereka hanya kekasih? Tapi kenapa sedekat itu? Aku harus tahu apa Naira dan Pram tinggal bersama atau tidak." Gumam Daren.


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis author gabut.


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2