Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Cowok tengil


__ADS_3

...💖💖💖...


Pak Pram memutar kepala ku dengan tangannya hingga aku pun menatap pak Pram, "Tatapan mu tidak perlu selama itu saat bicara dengannya!" Seru Pram, "Aku tidak suka!"


Dalam diam, Angga memperhatikan sikap pak Pram pada Naira, apa pak Pram cemburu pada gw ya?


Ku singkirkan tangan pak Pram yang masih nangkring di atas kepala ku, "Gak usah gini juga kali, pak!"


Pak Pram menyeringai, kena kau!


"Kenapa gitu senyumnya? Ngeledek?" Aku masih belum menyadari tatapan pak Pram senang karena aku berhasil mengeluarkan kata keramat yang seharusnya tidak aku ucapkan.


Pak Pram melipat ke dua tangannya di depan dada, ini yang ku nanti saat dia sendiri tidak sadar memanggil ku dengan kata pak! Hem, kali ini aku tidak akan melepaskan mu, Naira sayang! Pak Pram terus saja menarik sudut bibirnya.


Aku dan Angga saling bersitatap, tingkah pak Pram kali ini membuat ku dan Angga merasa ada yang tidak beres dengan isi kepala pak Pram.


Aku meraih minuman kesukaan ku yang tadi di bawakan Elsa.


Angga menawarkan pak Pram untuk mencoba cemilan yang di bawakan Elsa, "Apa pak Pram tidak ingin mencoba cemilannya? Enak loh, pak!"


Aku menyemburkan minuman yang belum sempat ku telan dengan mata membola pada pak Pram.


"Phuffff." Mampus gw, mati mati mati. Kenapa gw baru sadar.


Degup jantung ku berdetak kencang.


"Naira? Lu kenapa?" Tanya Angga yang langsung menyodorkan kotak tisu ke arah ku.


Pak Pram menyeringai, sepertinya bocah ini sudah menyadari kesalahannya.


Pak Pram mengulurkan tangan kanannya dan menyapu sisa minuman yang ada di bibir serta dagu ku dengan jempolnya.


"Sudah tau kan kenapa aku menatap mu!" Pak Pram berkata dengan dingin, "Bukan untuk mengejek mu, sayang!"


Aku pun berkata dengan semanja mungkin pada Pram, "Ihsss, emmm bisa kali ka kalo di anggap aku tidak mengatakannya ka!"


Kali ini Angga yang di buat bingung dengan tingkah Naira yang begitu manja pada pak Pram.

__ADS_1


"Mengatakan apa, Nai? Tadi lu manggil pak kok sekarang jadi ka?" Tanya Angga dengan menggaruk kepalanya dengan bingung.


Aku melihat sepintas wajah bingung Angga dan hanya bisa tersenyum pahit mendengar pertanyaan Angga, gw belom bisa kasih tau lu, bang!


"Sebaiknya saya pergi dulu ya! Permisi pak!" Angga undur diri, dari pada gw jadi nyamuk di antara kemesraan Naira pada pak Pram mending gw cabut aja lah.


Setelah Angga pergi, kini tinggal aku dan pak Pram berdua saling tatap.


Ku pasang wajah memelas dengan bibir mengerucut, semoga dengan cara gini, pak Pram jadi mikir dua kali buat ngerusak cewek imut bin manis kaya gw ini.


"Tidak usah bersikap seperti itu bocah nakal, kau tetap harus ku hukum, sesuai dengan perjanjian yang sudah kita sepakati." Pak Pram merogoh saku kemeja yang berbalut jas pada tubuhnya lalu mengeluarkan hapenya.


"Kaka mau apa?" Wajah ku pucat pasih saat pak Pram menekan tombol pada hapenya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya, haduuuh apa lagi kali ini yang akan rubah tua ini lakukan sama gw ya?


Pak Pram bicara di telepon dengan mata menatap tajam pada ku, "Dev, suruh orang salon untuk datang ke rumah, persiapkan segala sesuatunya untuk Naira gunakan nanti, aku mau mereka melakukan perawatan pada seluruh tubuh Naira!"


Aku pun menganga saat mendengar apa yang di bicarakan pak Pram di telepon, "A- apa? Perawatan?" Mampus dah gw, kaga bisa lolos ini, haduuuuh alesan apa ya nanti, harus puter otak ini kalo gw pengen aman, gw belom bisa serahin keperawanannn gw sama pak Pram, gw mau pak Pram cinta dulu sama gw.


"Siap pak." Jawab Dev.


"Kau hanya punya waktu 30 menit untuk menyiapkannya Dev!"


Biar pun Dev sedang menunggu Tuan dan Nona mudanya yang sedang berada di dalam kedei star, Dev masih bisa mengerjakan tugas lainnya.


Dev menugaskan beberapa orang salon terbaik untuk menyiapkan apa yang di inginkan Pram untuk Naira.


Pram memutuskan sambungan teleponnya lalu menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam saku kemejanya.


"Apa masih ada lagi yang masih kau tunggu?" Tanya Pram dengan tangan kanannya menyambar cangkir yang berisi hot red velvet miliknya yang hampir dingin.


Kini Pram menikmati minumannya dengan mata berbinar, sedangkan aku meratapi nasib ku yang dalam hitungan jam akan menyandang status tidak perawan lagi.


Seseorang yang memakai putih abu berdiri di depan meja ku. Cowok yang tidak ingin aku temui, cowok yang menurut ku tidak kalah gila dengan pak Pram.


"Hai, kamu di sini juga!" Serunya dengan tas ransel berada di bahu kanannya.


Pram menatap tajam anak laki laki yang berani menyapa Naira di hadapannya, siapa ini cowok? Gw baru lihat sepertinya.

__ADS_1


Daren pun berusaha bersikap ramah pada pria yang duduk bersama dengan Naira meski pun dirinya mendapat tatapan tajam dan tidak bersahabat pada dirinya, bahkan Daren berfikir jika pria ini adalah kakanya Naira. Seorang kaka yang berusaha melindungi adiknya dari pria lain.


Tanpa permisi lagi, Daren langsung mendudukkan dirinya di bangku yang berada di depan ku.


"Tidak apa kan jika aku duduk di sini? Bergabung bersama dengan kalian?" Tanya Daren.


"Meja lain masih banyak kan yang bisa kau duduki kursinya!" Seru pak Pram dengan suara yang ketus dengan wajah kaku seperti kanebo kering.


"Tapi sayangnya saya hanya ingin duduk di sini! Menatap indahnya wajah cantik nona ini!" Seru Daren yang memuji kecantikan wajah ku di depan pak Pram.


Pram mengepalkan ke dua tangannya, anak ini minta di beri pelajaran rupanya!


"Silahkan anda pergi dari meja ini!" Pram mengusir Daren dengan tangan yang menunjuk pada meja yang kosong tanpa pengunjung yang mendudukinya.


"Huuuuh."


Ku buang nafas dengan kasar saat melihat perdebatan yang terjadi di antara Daren dan pak Pram, ada saja nyamuk pengganggu.


Ku tahan tangan pak Pram yang hendak memukul Daren.


"Gak perlu, ka!" Seru ku dengan menarik sudut bibir ke atas dengan menatap wajah pak Pram yang merah padam menahan kesal.


"Anda dengar sendiri kan! Naira saja menginginkan saya untuk tetap berada di meja ini, bersama dengan anda atau jika anda mau... Anda bisa meninggalkan meja ini, biarkan saya memiliki waktu berdua dengan Naira, ia kan cantik!" Daren berbicara panjang lebar dengan pedenya.


Pram menatap tajam Naira, bocah tengik ini mengenal Naira? Sejak kapan? Sudah sejauh mana kedekata di antara mereka berdua?


Ku tatap Pram, "Biar aku yang bicara padanya!"


Pandangan ku kini beralih pada Daren, cowok tengil yang sedang tersenyum pada ku.


"Maaf ya, sepertinya anda salah sangka terhadap perkataan ku... Jika anda ingin duduk di sini, silahkan saja."


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


Makasih banyak udah mau baca.


__ADS_2