Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pemakaman


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Naira menoleh pada Pram dan Daren secara bergantian, kenapa pertemuan mereka terasa aneh ya? Pertama bertemu ka Pram sangat memusuhi Daren, tapi kali ini?


Sreeeet.


Tangan kanan Daren hendak menarik bahu Naira, ingin membawanya dalam pelukannya, tapi sayangnya Pram lebih dulu menyadari gerakan Daren, yang di peluk bukan lah tubuh Naira melainkan tubuh Pram dengan mata yang menatap tajam.


"Dasar bocah tengikkk!" Gumam Pram di telinga Daren.


Daren tersenyum kikuk pada Pram, "Harusnya aku mendapat pelukan dari Naira, bukan kau!" Gerutu Daren berusaha bersikap sewajar mungkin.


"Langkahi dulu mayat ku jika kau berani melakukannya!" Sorot mata tajam dan aura membunuh nampak pada diri Pram.


"Kalian gak malu apa kita lagi di lietin banyak orang ini!" Seru Naira dengan ke dua tangannya yang berada di ke dua bahu Pram.


Pram menepis tangan Daren dari bahu Naira, "Kali ini ku maafkan diri mu! Tapi tidak untuk lain kali!"


Grap.


Pram menggenggam tangan Naira dan membawa Naira langsung pada peti mati yang di dalamnya terdapat jasad Widia.


"Pelit sekali, dasarrr!" Gerutu Daren menatap punggung Naira dan Pram.


Di depan peti mati Widia, Pram menatap dalam wajah pucat Widia, akhirnya kau mati juga kan di tangan ku, kau tau aku masih lebih baik dari mu tidak menyiksaaa mu seperti kau menyiksaaa batin mending ibu ku! Tapi saat ini, suami yang kau rebut dari wanita lain, tidak menghadiri bahkan tidak menemani mu di saat saat terakhir kau menghembuskan nafas! Itu balasan yang setimpal untuk wanita ular seperti mu!


Naira menatap lekat wajah Widia dan sesekali menatap wajah Pram yang berdiri di sampingnya, tangan Pram enggan melepaskan genggamannya dari Naira, apa hubungannya ka Pram dengan ibu ini? Jika ibu yang meninggal ini adalah ibunya Daren, bagai mana bisa Daren dan ka Pram sedekat itu? Kenapa dulu mereka seakan saling bermusuhan saat pertama kali bertemu? Ah membuat ku bingung saja, ka Pram harus menjelaskan ini pada ku!


"Nai, lo baru nyampe?" Tanya Serli yang berdiri di belakang Naira.


"He'em, mana yang lain?" Tanya Naira.


Serli menunjuk ke arah teman temannya berada, "Itu di sana!" Serunya.


Tangan yang lain Naira menepuk lengan Pram yang menggenggam tangannya, "Kaaaa! Aku nyamperin yang lain dulu ya!" Seru Naira.


"Jagan lama lama!" Pram melepaskan genggaman tangannya dari Naira, membiarkannya istri nakalll nya untuk menghampiri temannya yang lain.


Daren mengajak Pram untuk duduk di kursi yang ada di depan peti mati ibunya.


"Apa hubungan mu dengan Naira, ka?" Tanya Daren.


"Kekasih dan dia akan menjadi calon istri ku!" Seru Pram dengan tegas, tidak mungkin aku katakan jika Naira itu adalah istri ku.


"Kau tidak pantas dengannya ka, lihat usia mu itu! Kau lebih pantas menjadi kakanya." Ujar Daren dengan santainya.


"Kau itu baru saja kehilangan ibu, tapi rasanya kau tidak seperti orang yang habis kehilangan ya?" Pram menatap tidak suka pada Daren.


Daren menatap lurus ke depan, di mana ada peti mati Widia, "Sejauh dan sedalam apa pun rasa ku kehilangan orang tua, kau pasti tau kan ka rasanya seperti apa?"


"He'm, di mana pria tua bangka itu? Aku tidak melihatnya!" Tanya Pram berbasa basi.


"Entah lah, sejak jenazah ibu di pulangkan dari rumah sakit, aku tidak melihatnya lagi." Ujar Daren.


Kepala pelayan menghampiri Daren, "Maaf Tuan Muda Kecil, sudah waktunya."


Daren beranjak dari tempat duduknya di ikuti Pram.


"Apa kau berkenan untuk ikut memakamkan ibu, ka?" Tanya Daren dengan tatapan penuh harap.


Pram menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Baik lah, kau yang memaksa!" Seru Pram.


Di dalam mobil saat menuju pemakaman, Naira menanyakan langsung pada Pram.


Naira duduk bersandar pada kursi mobil, "Ka, bisa kau jelaskan pada ku?" Tanya Naira dengan mengadahkan wajahnya pada Pram.

__ADS_1


Pram menoleh memperhatikan mata bulat Naira, "Apa?"


"Ada hubungan apa kaka dengan Daren? Almarhum ibunya Daren?" Tanya Naira dengan wajahnya yang serius.


"Wanita yang berada dalam peti mati itu adalah istri dari pria tua bangka itu." Terang Pram yang enggan menyebut nama Aji di depan Naira.


Kening Naira mengkerut sambil otaknya mengingat ingat siapa pria tua bangka yang di maksud Pram, "Tua bangka?" Naira mengulang kata tua bangka.


"Iya tua bangka, memang siapa lagi!" Pram membuang wajahnya malas, memperhatikan jalan menuju pemakaman tempat peristirahatan terakhir untuk Widia.


"Ehem, maaf Nona... saya lancang, tua bangka itu adalah Tuan Aji, ayah dari Pak Pram." Terang Haikal yang merasa kasihan jika Nona Muda nya di suruh berfikir keras untuk mengingat siapa itu pria tua bangka yang di maksud bos-nya Pram.


Plak.


Naira menggeprak lengan Pram dengan keras dengan tubuhnya yang kini duduk menegak, "Kaka, kalo gitu kaka sama Daren itu adik kaka? Iya ka, benar begitu?" Tanya Naira dengan antusias.


Haikal melihatnya dari kaca spion mobil dengan menggelengkan kepalanya, aiiihs Nona Muda Naira, semakin berani saja dengan pak Pram.


Pram menatap tajam pada Naira yang sudah dengan berani menggeprak lengannya, bocah ini benar benar membuat ku gemas, ingin ku terkammm kau saat ini juga Naira, bocah nakalll. Pram menyeringai.


Naira yang melihat senyum Pram yang menyeringai langsung menyadari kesalahannya, "Maaf ka, aku gemes sama kaka, hehehe!" Naira terkekeh sendiri dengan kebodohannya.


Sreek.


Pram menarik Naira dan mengangkat tubuh mungil itu duduk di atas pangkuannya dengan wajah yang saling berhadapan, buah kembar Naira tampak di wajah Pram.


"Apa yang membuat mu gemas pada ku? Hem!" Tanya Pram dengan mengangkat sedikit dagunya.


Tangan Pram bermain di ke dua paha Naira yang tersibak dressnya.


"Ya gemes aja, adik sendiri tapi kaka bersikap seakan tidak kenal dengan Daren waktu pertama kali kaka bertemu dengan Daren di kedei itu." Terang Naira dengan tangannya yang bermain main pada dada bidang Pram.


Pram meminta Haikal untuk meralat perkataan Naira, "Haikal, apa kau mau meluruskannya!"


"Ehem, di kedei itu kali ke dua pak Pram bertemu dengan Daren, yang pertama saat Tuan menjemput Nona Muda Naira di sekolah." Terang Haikal.


Tangan Pram membawa jemari Naira ke depan bibirnya dan menahannn jemari Naira di antara bibirnya.


"Ka, lepas ih!" Naira menarik jemarinya yang di tahannn oleh bibir Pram.


Pram menggelengkan kepalanya, lidahnya memainkan jemari Naira yang berada di dalam mulutnya.


"Kaaa, geli!"


Pram menggigit gemas jemari Naira.


"Awh!"


Tak.


Pram menjitak kepala Naira.


"Awh, ih sakit!" Keluh Naira.


Pram memeluk tubuh Naira, "Saat di makan nanti, kau tidak boleh berada jauh dari ku! Kau mengerti!" Seru Pram.


"Iya, bawel!" Naira mencubit pinggang Pram.


"Apa kau menggelitik ku?"


"Ihs kaka mah, harusnya awh gitu, kan aku sudah mencubit mu!" Naira mengerucut kan bibirnya.


Sampai di pemakaman, Naira benar benar tidak di biarkan Pram beranjak sedikit pun darinya.


Banyak media yang mengabadikan momen di mana Pram saat itu menyaksikan pemakaman Widia.

__ADS_1


Naira yang terus menempel pada Pram pun ikut di sorot hanya bedanya hal itu sudah di antisipasi oleh Pram.


Pram meminta Haikal untuk membeli kaca mata hitam dan masker mulut yang nantinya akan di kenakan oleh Naira saat di pemakaman, hingga wajah Naira tidak terekspos oleh rekan media.


Ratna menatap tajam pada Naira, sok penting banget lo pake kaca mata hitam dan masker!


πŸ‚Di villa pribadi AjiπŸ‚


Setelah pergi meninggalkan rumah sakit dan membiarkan kepala pelayan untuk mengurus jenazah Widia, Aji mendatangi villa pribadi keluarganya yang berada di puncak.


Dari berita pula ia menyaksikan pemakaman Widia yang di liput oleh beberapa media.


"Maaf sayang, aku tidak sanggup melepas kepergian mu ke pusara, tapi aku yakin kan bahwa aku akan tetap meneruskan niat mu untuk menguasai perusahaan Pram."


πŸ‚Di tempat lainπŸ‚


Rafa yang sudah selesai mendapatkan tanda tangan dari para pemilik saham dan para investor untuk mengakuisisi perusahaan Aji, kini sedang mempersiapkan berkas yang akan di perlihatkan pada Aji jika perusahaannya kini sudah berpindah tangan menjadi Pramana Sudiro lah yang menjadi pemilik atas perusahaan itu.


Perusahaan yang dari nol di rintis oleh Prita dan Aji, namun karena ketamakan Widia yang terobsesi untuk mendapatkan Aji, Widia menghalakan segala cara untuk merebut Aji dari Prita dan di saat dirinya menjadi istri Aji, Widia menggati nama perusahaan itu berganti menjadi nama Widia, semua yang menyangkut keuangan harus mendapat persetujuan dari Widia.


# Flashback author


Prita yang di larikan ke rumah sakit dengan luka di kepalanya langsung mendapatkan penanganan medis.


"Maaf, bapak dan ibu harap tunggu di luar!" Seru seorang suster di depan pintu UGD.


"Tapi dok, saya suaminya!" Seru Aji yang ingin masuk ke dalam menemani Prita.


"Maaf pak, biarkan dokter yang menanganinya." Suster langsung menutup pintu UGD.


Widia memeluk tubuh Aji, "Maaf mas, bukan aku... Prita tergelincir saat kakinya tidak sengaja menginjak genangan air di balkon!" Terang Prita dengan sesenggukan namun bibirnya tersenyum puas.


"Tidak apa, ini bukan salah mu!" Aji mendudukan dirinya dengan di bantu Widia.


"Tapi bagai mana dengan Pram, mas? Pram harus mas hubungi!" Seru Widia.


Aji langsung mengabari putra kesayangannya itu untuk segera datang ke rumah sakit.


Sementara di dalam ruang UGD, Prita yang sempat sadarkan diri pun berkata dengan tersengal sengal pada dokter dengan di saksikan para suster.


Tangan Prita mengganggam jemari dokter yang saat itu menanganinya, "Dok, sa- sa- saya ja- tuh di do- rong Wi- dia, to- long se- la- mat kan put- ra ku da- rinya. To- long dok... Wi- dia se- la- lu mem- be- ri- ku ra- cun hing- ga- sa- sa- ya se- per- ti- i- ini." Prita mengatakannya dengan nafas yang tersengal sengal dan setelah itu tidak sadarkan diri.


Niiiiit.


Alat jantung yang baru saja di pasang pada tubuh Prita langsung berbunyi nyaring.


"Bagai mana, dok?" Tanya suster.


"Pasien sudah tidak bisa di selamatkan, sus!" Seru dokter wanita yang tidak lagi muda itu.


"Bagai mana dengan perkataan terakhirnya, dok? Apa perlu di sampaikan pada keluarganya?" Suster tampak cemas melihat keadaan Prita yang tampak mengenaskan dengan luka di kepala yang cukup parah sangat riskan jika orang itu masih bisa berkata meski dengan keadaan tersengal sengal.


"Biar saya yang akan mengatakan pada putranya." Ujar dokter.


Setelah kejadian itu dokter yang sudah berjanji akan mengatakannya pada Pram kecil pun mengatakannya pada saat dokter menemuinya di pesantren, tempat Pram menimba ilmu, Pram mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari dokter itu tanpa sepengatahuan Aji dan Widia.


# Flashback author and.


😊 Udah jelaskan gimana dendamnya Pram.


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2