
...💖💖💖...
Aku pun menatap sekilas wajah ka Pram, "Tidak ada!" Ketus ku, mau apa sih ka Pram kaya gini, bikin salah tingkah aja sih, aku harus apa ini? Ku palingan wajah karena pipi ku yang kini memanas, udah kaya kepiting rebus.
Tangan kanan Pram terulur menyentuh pipi ku, "Ka- ka- Pram ma- mau apa? Ja- ngan aneh aneh ya!"
Pram mendekatkan wajahnya dengan wajah Naira hingga tanpa jarak dan kening mereka pun menyatu, "Apa yang kau pikirkan saat ini?" Tanya Pram.
Hembusan nafas ka Pram yang segar, membuat ku mengejamkan ke dua mata ku, rasanya aku tidak sanggup menatap matanya yang seakan menghipnotis ku, membuat ku larut dalam hayalan.
Pram menatap dalam wajah ayu Naira, anak ini, baru ku tanya seperti itu saja sudah mengejamkan mata, bagai mana jika aku melakukan hal lebih padanya.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, tangan kanannya menyentuh leher belakang ku dan menahan nya, Pram menatap dalam diam wajah ku, memperhatikan kelopak mata ku yang semakin dalam terpejam.
"Apa yang kau pikirkan, Naira! Apa kau menginginkannya?" Tanya Pram.
Lagi lagi hembusan nafas Pram membuat ku terbuay, baru hembusan nafas, bagaimana dengan sentuhan tangannya? Memabukkan 🤭🤭.
Aku membatin, bodoh lu Nai, kalo lu ngerem kaya gini, yang ada pasti ka Pram akan mikir lu pengen dia ngelakuin hal yang lebih, ayo melek Nai!
Mata ku membulat menatap mata ka Pram, "Bisa tidak ka Pram menyingkir!" Seru ku dengan menyentuh dada bidangnya bermaksud ingin mendorongnya.
Sorot mata mu membuat ku ingin memiliki mu seutuhnya Naira, andai saja nafas mu ini tidak menjadi halangan untuk ku menyentuh mu, pasti sudah ku telan kau saat ini juga, Nai.
"Terlambat untuk membuat ku menyingkir!" Pram mengecup singkat bibir ku yang ranum.
Cup.
Pipi ku merona merah, "Pak Pram!"
"Apa? Mau marah pada ku? Hem!"
Pram mendudukan dirinya di pinggiran kasur, dengan ke dua tangannya ia mengangkat tubuh ku dan mendudukkan ku di atas ke dua pahanya.
"Ternyata sulit juga ya membuat mu memanggil ku kaka!" Seru Pram.
"Hanya belum terbiasa." Jawab ku.
__ADS_1
Tangan kanan Pram bermain di punggung ku dan perlahan menelusup masuk ke balik baju ku, sentuhan tangannya yang hangat, membuat ku menggeliet bak tersengat listrik, listrik yang tidak akan membuat ku mati tapi mampu membuat hati ku merasakan hal aneh, "Jangan ka!" Seru ku saat jemarinya membuka pengait kain berenda ku.
Tangan kiri Pram menyentuh pipi ku dan membawanya untuk menatapnya.
Pram mendekatkan bibirnya ke telinga ku, "Jangan berhenti! Lakukan hal lebih untuk memuaskan mu, ia kan Naira sayang!" Seru Pram yang tengah menggoda Naira.
"Bukan itu maksud ku, jangan ka--" Pram mengecup bibir ku lagi sekilas.
Jika saja nafasnya tidak tersengal sengal, sudah ku pasti kan bibir mu akan bengkak karena ulah ku, Nai... sudah pasti bibir ranum mu itu akan ku lumattt.
Ka Pram menciumi leher ku yang jenjang dan putih, "Emmmm." Lenguhan ke luar begitu saja dari bibir ku, ku rasakan ka Pram menghi sappp beberapa bagian leher ku.
Kini tangan kiri ka Pram beralih membuka kancing baju depan ku, tangan kirinya bermain main di gundukan kembar ku, dengan tangan kanannya ia menahan tubuh ku yang di condongkan ke belakang sedikit.
"Ja- ngan, ka!" Aaah tidak, aku tidak mau saat ini, setidaknya tunggu sampai aku lulus ujian, batin ku menjerit dengan rasa takut pertahanan ku di bobol oleh nya, meski pun dia adalah suami ku sendiri.
Ciumannn Pram dari leher turun ke bawah dan berhenti sesaat menatapi gundukan kembar yang membusung indah, bibirnya mengecapp puncak sumber kehidupan bagi mahkluk yang bernama bayi, Pram bermain dengan sangat lembut hingga membuat Naira yang berkata jangan namun tubuhnya berkata iya.
Pram memberikan tanda tanda kemerahan di sekitar area gundukan kembar Naira, Naira menjambak rambut Pram di saat ia merasakan kenikmatan dan area terlarangnya merasa berkedut.
Dengan tangannya Pram menyentuh bagian perut Naira dan semakin turun menerobos masuk ke dalam celana yang di kenakan Naira, menyelusup ke balik segitiga pengaman semakin dalam.
Jemari Pram menyentuh biji kacang Naira dan memainkannya yang membuat gadis itu bergelenjing, aku suka tubuh mu Nai!
Satu jemarinya berhasil menerobos masuk goaaa yang selama ini tersegel dan membuat Naira bergelenjing dengan desahann dan eranggann panjang, ternyata aku tidak salah memilih mu, kau masih suci dan aku orang pertama yang menyentuh mu.
Tulalit tulalit tulalit tulalit.
Dering hape Naira menggema di kamar.
Aku selamat, "Ka, itu ada telpon!" Seru ku dengan riang.
Satu jemari Pram menerobos masuk ke area sensitif yang selama ini di jaga Naira, di jaga dari jamahan laki laki yang bukan muhrimnya, Naira mende sahhh dengan mata terpejam merasakan sensasi nikmatnya permainan yang di lakukan Pram.
Pram menatap wajah Naira yang tampak menggoda di saat terbuai dengan permainan yang di lakukan nya, dengan cara ini kau tidak akan merasakan sesak Nai.
Tulalit tulalit tulalit tulalit.
__ADS_1
Dering telepon Naira berbunyi lagi.
Naira tersadar dari buaian duniawi yang di berikan pram.
"A---" Pram menghentikan perkataan Naira dengan cara menye sapp bibir bawah Naira.
Kali ini dering telepon dari hape Pram.
Dring dring dring dring.
"Emmm." Naira ingin berkata namun tidak bisa.
Pram menyudahi permainannya dan membiarkan Naira duduk bersandar di kepala ranjang.
Pram berdiri, "Aku rasa sudah cukup hukuman untuk kali ini." Pram tersenyum puas pada Naira lalu mengecup kening dan bibirnya sekilas.
Cup.
Cup.
"Beristirahat lah." Pram meninggal kan Naira dan berjalan ke bathroom menyelesaikan permainannya dengan solo.
Aku menatap punggung Pram yang hilang di balik pintu.
Sambil membenarkan pakaian ku aku bergumam, "Kenapa aku diam saja? Aku seharusnya bisa loh tadi menolaknya, tapi kenapa tubuh ini seakan kecewa dengan apa yang sudah ia lakukan, kecewa sebatas ini atau tubuh ku menginginkan hal yang lebih dari ini?" Ku tatap lagi pintu yang membuat Pram menghilang, "Dasar rubah tua, rubah mesum, kalo kau melakukannya dengan lembut begini, siapa juga yang akan menolak mu! Ups!" Ku tutup mulut ku dengan telapak tangan ku.
Dasar bodohhh, aku bicara apa barusan? Apa ka Pram akan mendengarnya? Aku harap ka Pram tidak mendengar perkataan ku, ia ka Pram tidak akan mendengar ocehan ku yang gak mutu ini.
Ku lempar bantal ke lantai, "Dasar Naira bodoh, ingat siapa diri mu, kamu itu lagi sakit Naira, jangan minta yang lebih dari itu!" Gumam ku kecil.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut.
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
__ADS_1
Makasih banyak udah mau baca.