Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Wanita yang mirip


__ADS_3

...💖💖💖...


Byurrrrr.


Saking bersemangatnya Pram merengkuh Naira, meresapi dalamnya ciuman yang menggebuuu, membuatnya semakin bergerak menjauhi tepian kolam renang, dan membuat ke duanya jatuh tercebur ke kolam renang.


"Akkkhhh ka Pram!" Naira gelagepan dan mendaratkan pukulan di dada Pram.


"Ahahaha, kita lanjutkan di sini saja!" Pram tergelak melihat Naira yang basah dengan pakaiannya, tangan Pram mengunci ke dua tangan Naira.


"Gak lucu ih!" geram Naira, Naira mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Pram.


"Memang kau pikir aku akan melakukan apa dengan mu di sini? Otak mu sudah mulai mesum ya? Hahahaha." ledek Pram meski sangat ingin menyentuh Naira, tapi ia berusaha untuk menahannya.


Pram membantu Naira naik ke tepian kolam renang.


...🌻🌻🌻...


Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. Naira dan Pram sedang berada di kamar dengan TV yang menyala. Melihat tontonan yang sedang tayang. Sesekali Pram melirikkan hapenya yang sedari tadi menyala, entah itu berdering dan notif chat.


Pram duduk menyandar di atas kasur, sedangkan Naira duduk menyandar pada tubuh Pram.


"Ada apa? Apa kaka ingin ke bar itu? Kaka ingin menemui Takeshi?" cecar Naira.


"Tidak... aku berada di rumah itu jauh lebih baik." ucap Pram dengan bangga.


"Yakin kaka tidak akan pergi?" tanya Naira dengan mengadahkan wajahnya menatap Pram.


"Heeem! Aku sangat yakin." Pram mengecuppp sekilas bibir Naira.


"Tapi aku tidak yakin. Ayo kita penuhi undangan Takeshi untuk ke bar miliknya!" Naira beranjak dari duduknya, berdiri dengan ke dua kakinya, tangannya terulur si depan Pram.


Pram mengerutkan keningnya, menatap Naira dengan penuh tanda tanya.


Naira memberikan kode pada Pram dengan gerakan matanya, meminta Pram untuk meraih tangannya.


"Tempat itu tidak cocok untuk mu, sayang!" seru Pram.


Sreek.


Pram meraih uluran tangan Naira, lalu menarik tangan Naira, hingga Naira menubruk tubuh Pram.


"Ayo kita bersiap ka!" ucap Naira dengan penuh semangat, ia mengangguk angguk kan kepalanya, meminta Pram untuk ikut dengan apa yang ia ucapkan.


Pram membuang nafasnya dengan kasar.


"Di bar juga ada jus kan ka? Tidak semua tersaji minuman beralkohol kan? Aku tidak akan apa apa jika bersama mu kan? Ayo... kita ke sana! Aku ingin tahu seperti apa bar milik Takeshi." ujar Naira dengan mata yang berbinar. Berusaha membujuk Pram untuk memenuhi undangan Takeshi.


"Baik lah. Tapi kau tidak boleh jauh dari ku!"

__ADS_1


"Oke."


Setelah bersiap, kini Pram dan Naira menaiki mobilnya, menuju lokasi yang menjadi tempat bar milik Takeshi.


Pram tampak fokus dengan mengemudikan mobilnya, sedangkan Naira memperhatikan jalan yang mereka lalui.


"Ka, jika aku lihat dari segi pandangan ku. Kaka tampak akur dan dekat dengan Takeshi dan yang lain. Kenapa bisa begitu ka?" tanya Naira.


"Semua ada alasannya kan! Sama dengan ke dekatan mu dengan Angga. Setiap orang punya cerita tersendiri, hingga membuatnya dekat." ujar Pram.


"Ihs jawaban yang tidak memuas kan!" sungut Naira dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.


"Aku peringatkan pada mu, untuk tidak menjauh dari ku. Kau harus selalu di samping ku! Kau dengar itu hem?" ucap Pram dengan tegas.


"Ka, entah sudah berapa kali kaka mengucapkan kata yang sama. Kaka nih yang kayanya butuh minum deh! Biar kaka bisa berfikir dengan jernih." ledek Naira.


"Wanita ku sudah pandai bicara ya!" Pram mengelusss kepala Naira.


Pram menepikan mobilnya, memarkirkan mobilnya di area yang tersedia.


Naira menatap gedung yang ada di hadapannya, "Apa kaka yakin, kita datang ke tempat yang benar?"


"Tentu saja yakin. Aku kan sudah pernah ke tempat ini sesekali, jika aku ada perjalanan ke negara ini." Pram turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Naira.


"Mereka sedang apa ka?" tanya Naira, saat melihat seorang pria yang sedang di periksa oleh pria berbadan besar, dengan pakain serba hitam.


"Pemeriksaan, bisa saja kan pria itu membawa senjata tajam, jadi sebelum masuk di periksa dulu."


Bukannya menjawab sapaannya, Pram malah mengajukan pertanyaan, "Bos mu ada di dalam kan?" tanyanya dengan dingin.


"Ada Tuan, mari Tuan biar saya antar." ucapnya dengan berjalan di samping kanan Pram, mengarahkan Pram untuk mengikutinya.


Naira berkata pelan dengan menarik lengan Pram yang ada di dalam rangkulannya, "Kenapa kita bisa langsung masuk ka? Gak melalui pemeriksaan dulu?"


"Anggap kamu ini adalah tamu agung, tidak perlu melewati pemeriksaan." ucap Pram dengan datar.



Naira membatin, segini sih gelap, apa semua orang yang datang ke sini pada mabuk ya?


Pram hanya menggeleng kan kepalanya, ini pasti pengalaman pertama mu, memasuki bar.


Tampak seorang pria yang sedang bernyanyi. Dengan lampu sorot yang menyala.


Pram dan Naira menaiki anak tangga, saat pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam menaiki anak tangga. Melewati rekannya yang berjaga di ujung anak tangga.



"Silahkan Tuan!" ucap pria berbadan besar pada Pram, lantas ia pun meninggalkan Pram dan Naira saat ke duanya sudah duduk di sofa.

__ADS_1


"Apa minuman itu di jual ka?" Naira menunjuk ke arah minuman yang terpajang di lemari.


"Tentu saja." Pram merentangkan satu tangannya, dan menyandar kan kepala Naira pada lengan besarnya.


"Apa bar di sini selalu ramai ka? Kenapa kita tidak duduk di bawah saja yang ramai, ini terlalu sepi. Apa kaka tidak takut?" Naira mengedarkan pandangannya, saat menyadari hanya ada mereka berdua yang ada di ruangan itu.


"Jelas saja hanya kita berdua, ini kan tempat yang sangat privasi, tidak sembarang orang bisa naik ke lantai ini." terang Pram.


Seorang wanita dengan pakaian aneh di mata Naira, menghampiri ke duanya, "Apa ada yang ingin Tuan, minum?" tanyanya dengan mata yang terpaku pada Pram.


"Air mineral dingin dan bir, kentang goreng boleh." ucap Pram.


"Mohon di tunggu, Tuan." ucapnya lagi, namun kali ini menatap tajam Naira, siapa wanita ini?


Naira mendongakkan kepalanya, "Apa pelayan itu tidak ke dinginan ka? Dressnya minim bahan, apa Takeshi tidak mampu membeli bahan yang agak tertutup gitu!" protes Naira.


"Sampaikan apa yang kau inginkan itu pada Takeshi, oke!" ucap Pram.


"Oke, siapa takut."


Takeshi datang dari belakang Pram duduk, dengan seorang wanita yang ia rengkung pinggang rampingnya


"Maaf, membuat ka Pram dan kaka ipar menunggu lama." ucap Takeshi.


"Kau memang selalau telat jika membuat janji!" ucap Pram tanpa melihat Takeshi.


Naira yang tidak sabaran ikut bicara dengan kepalanya yang menoleh ke arah suara Takeshi, namun ucapannya terhenti saat menyadari siapa yang datang bersama dengan Takeshi.


"Iya, kau ini -----" kenapa bisa mirip dengan ku?


Takeshi menanggapi keterkejutan Naira dengan santai.


"Halo kaka ipar, ka Pram... bagai mana, apa ke duanya sama? Sama kan?" Takeshi bertanya namun menjawab sendiri pertanyaan nya, dengan tangannya mengarah pada wanita yang bersamanya, menatap Naira dan wanita itu secara berangantian.


Pram tampak acuh, tidak ada gurat keterkejutan saat melihat wanita yang di rengkuh pinggangnya oleh Takeshi. Berbeda dengan Naira. Naira tampak terkejut di buatnya.


Naira bertanya pada Pram dengan tatapan penuh harap, "Ka, ini aku tidak sedang bermimpi kan?"


Takeshi dan wanita itu duduk di sofa, yang ada di hadapan Pram dan Naira.


"Kau tidak perlu menatap ku seperti itu, apa kau baru melihat seseorang yang mirip dengan mu?" ucap wanita yang mirip dengan Naira, bicara dengan acuh.


"Perkataan ku benar kan ka! Wanita yang aku lihat, ternyata memang mirip dengan kaka ipar." ucap Takeshi dengan bangga, biar lah aku tidak bisa mendapatkan kaka ipar, tapi aku bisa memiliki wanita yang mirip dengan kaka ipar.


Pram mengerutkan keningnya, mendengar ocehan batin Takeshi, sejak kapan Takeshi menyukai Naira?


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊


__ADS_2