
...💖💖💖...
Mata Aji membola saat bukti bukti perselingkuhan dirinya dengan Widia terpampang nyata di layar monitor.
"Kau!" Aji geram.
"Tunggu sebenar, kau belum lihat ke intinya, ini akan membuat mata mu terbuka!" Seru Pram dengan tatapan mata yang tajam.
Dari yang lembaran foto kini berganti dengan vidio seorang suster yang sangat di kenal Aji.
Suster itu mengatakan, "Saya melihat sendiri jika nyonya Prita mengatakan bahwa dirinya di dorong dari atas balkon oleh bu Widia."
Kini berganti dengan video seorang dokter yang sekarang sudah tiada, "Aku sengaja membuat video ini, semoga dengan video ini bisa membuat diri mu dan ayah mu kembali bersama, bu Prita orang yang sangat baik, dia adalah donatur di rumah sakit kami, bu Prita juga menyisihkan setiap hasil usahanya pada panti. Bu Prita mengatakan dengan terbata bata di saat akan mendapatkan tindakan medis, jika dirinya di dorong dengan sengaja oleh bu Widia, bu Prita sudah lama menaruh curiga pada pak Aji dan bu Widia, namun sayangnya di saat bukti itu sudah ada, pak Aji tidak mau melepaskan bu Prita dan ingin menikah lagi dengan bu Widia. Tidak hanya itu, bu Widia menyuruh seorang asisten rumah tangganya bu Prita untuk menaruh racun di dalam minuman bu Prita, racun itu perlahan akan membuat fungsi saraf melemah hingga hilang daya ingat, itu lah yang di alami bu Prita hingga ia tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasa, hanya menghabiskan waktu di rumah."
Video selanjutnya terpampang dengan jelas saat Widia masuk ke salah satu apotek dan membeli obat di sana. Widia ke luar dari apotek dengan wajah yang senang.
Video selanjutnya saat Widia berada di rumah yang di tempati Aji dan Prita.
Video yang membuktikan jika perkataan dokter benar adanya perihal racun.
Widia memasuki rumah yang tampak sepi, ia langsung menghampiri bi Nami yang sedang berada di dapur.
"Sedang apa, bi?" Tanya Widia dengan ramah.
"Oh ini bu, lagi buatin teh buat Nyonya Prita." Ujar bi Nami.
"Kebetulan nih!" Widia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Bi Nami mengerutkan keningnya, "Kenapa, bu?" Tanya bi Nami.
Tangan Widia menggenggam obat dalam botol, Widia menarik gelas teh yang akan di berikan pada Prita ke hadapannya lalu memasukkan bubuk obat ke dalam minuman teh yang nantinya akan di berikan pada Prita.
Bi Nami tampak mengerutkan keningnya menatap heran dengan apa yang di lakukan tamunya ini, "Obat apa itu, bu?"
"Jangan banyak bertanya, cukup berikan teh ini pastikan Prita meminumnya sampai habis. Maka kau akan aku berikan bonus!" Widia menjanjikan hadiah pada Nami.
"Tidak membahayakan kan?"
"Tidak, sudah sana berikan!" Widia mengusir Nami dari hadapannya dan membawa gelas minuman itu pada Prita.
Video yang berputar pun habis.
Aji mengepalkan tangannya, bearti selama ini bi Nami mengetahui ini semua!
"Apa lagi yang mau kau pungkiri Tuan Aji?" Tanya Pram dengan suaranya yang sinis.
"Kau pasti bohong kan! Ini tidak benar kan!" Aji tidak percaya dengan bukti yang sudah di tunjukkan Pram di layar monitor.
"Aku tidak memaksa mu untuk percaya, bagi ku itu sudah tidak lagi penting!" Seru Pram.
Sedangkan para dewan direksi menatap tidak percaya pada Aji dan Widia yang tega dengan Prita.
Naira merasa iba dengan apa yang menimpa keluarga Pram. Kau pasti sudah banyak melewati masa sulit ka!
"Aku tidak menyangka jika bu Widia sekejam itu pada bu Prita!" Seru Noer.
"Biar dia rasakan siksa api neraka, sudah menyiksa tubuh bu Prita." Gumam Amy.
"Aku saja berfikir seribu kali untuk berselingkuh apa lagi ini minta terus terang ingin poligami? Di mana hati mu pak!" Sungut Dodo.
"Ihs, jangan main main dengan selingkuh pak! Jika sudah mencoba selingkuh akan sulit untuk lepas dari kata selingkuh!" Terang Fatan.
"Kalian kaum lelaki! Masih berani bahas selingkuh!" Sungut Rini dengan kesal.
__ADS_1
"Ihs tidak bu, aku hanya bercanda." Dodo tampak kikuk di hapan Noer, Amy, Rini, dan Fatan.
"Apa lagi yang ingin kau tunggu? Pulang dan tanyakan lah ke benarannya pada asisten ke percayaan mu itu!" Sungut Pram.
"Jika itu tidak benar, kau yang akan aku habisi!" Sungit Aji yang ke luar dari ruang rapat di ikuti Azka.
"Maaf semuanya, kalian jadi melihat apa yang seharusnya tidak kalian lihat." Terang Pram dengan menundukkan tubuh ke pada semua yang ada di ruang rapat.
"Tidak apa pak, saya juga sempat menaruh curiga pada bu Widia, tapi apa lah daya. Saya kan orang luar tidak berani ikut campur dalam urusan rumah tangga beliau." Terang Amy.
"Semoga tidak ada lagi Widia Widia lain di luaran sana ya!" Seru Noer.
"Semoga saja!" Seru Dodo.
"Rapatnya gimana ini, pak? Apa sudah selesai atau masih ada yang perlu di bahas?" Tanya Rini.
"Rapat cukup sampai di sini, pak bu, untuk waktunya saya ucapkan terima kasih. Atau ada yang ingin kau tambahkan di sini, Rafa?" Pram menatap Rafa.
"Jika bapak tidak ke beratan." Rafa berdiri di samping Pram di hadapan para dewan direksi.
"Saya ucapkan terima kasih pada bapak dan ibu sekalian karena sudah memberikan ke percayaan pada saya sebagai direktur. Saya akan kerahkan ke mampuan dan dedikasi saya untuk memajukan perusahaan ini, mohon untuk kerja samanya dan pak Pram, saya butuh sangat butuh bimbingan dari anda pak!" Seru Rafa.
"Kami semua yang ada di sini pasti akan membantu mu untuk memajukan perusahaan ini!" Pram menepuk pundak Rafa.
Ke duanya berjabat tangan.
"Dengan ini rapat saya tutup." Ujar Pram.
Para dewan direksi berdiri dan menyalami ke duanya.
"Boleh saya minta foto dengan mu, nak!" Seru Amy pada Naira.
"Boleh bu, tapi saya buka artis lo!" Seru Naira.
Naira sibuk berfoto dengan Amy, Noer dan Rini.
Pram tersenyum melihat raut bahagia yang terpancar di wajah Naira, kau tahu Nai, tidak mudah bagi ku untuk berada di posisi sekarang ini!
Dodo dan Fatan kini berdiri di depan Naira.
"Gantian dong, bu ibu... kami juga ingin mengajak Nona ini berfoto!" Seru Dodo.
"Boleh kalo bapak bisa melewati ka Pram dulu!" Ledek Naira.
Dodi dan Fatan langsung menoleh ke arah Pram, Pram tampak menatap tajam ke duanya, jari telunjuk dan jari tengahnya ia perlihatkan pada ke dua pria yang tidak lagi muda itu dan mengarahkan ke dua jarinya itu pada ke dua matanya.
Dodo bergidik ngeri, "Amit amiiiiit, cuma gegara minta foto mata gw jadi korban. Kaga jadi dah!" Seru Dodo yang mengurungkan niatnya.
Sedangkan Fatan langsung ngacir meninggalkan ruang rapat setelah berseru, "Saya baru ingat jika ada janji dengan istri di rumah!"
Noer, Amy, Rini dan Naira mentertawakan tingkah kocak Fatan.
"Astaga Naira, belum menikah saja pak Pram sudah posesif sekali ya terhadap mu, apa lagi jika kalian sudah menikah!" Seru Amy yang menitikan air mata karena tertawa.
Naira tersenyum ke arah Pram, ibu salah, ka Pram itu suami ku, kita sudah menikah tapi belum mengadakan resepsi.
"Kau benar Amy, belum menikah saja pak Pram sudah posesif seperti ini pada kekasihnya, bagai mana jika kalian sudah menikah! Ngomong ngomong berapa umur mu, sayang?" Tanya Noer.
"18 tahun Nyonya."
Rini menoleh ke arah Pram, "Wah pak Pram, jadi gadis ini masih sekolah?"
"Iya begitu lah!" Seru Pram.
__ADS_1
Dev mengingatkan Pram untuk konferensi pers.
"Maaf, pak sudah waktunya!" Seru Dev dengan menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Pram melangkah dan menggenggam tangan Naira, "Maaf semuanya, saya duluan!" Terang Pram.
"Oh iya iya, silahkan." Ujar Amy.
"Jadwal padat ya!" Ledek Noer dengan menyenggol lengan Amy.
"Kamu itu kaya gak tahu pak Pram aja! Eh kita mau lanjut ke mana ini?" Tanya Rini.
"Resto yuk! Ada resto yang baru buka tuh di mall." Terang Noer.
"Ayo lah kalo gitu." Seru Amy.
Pram bersama Naira duduk di kursi yang sudah di siapkan, sedangka Dev dan haikal kini berdiri di belakang ke duanya, sedangkan ada beberapa anak buah bayangan yang di tugaskan untuk membaur bersama dengan para wartawan.
Naira berbisik di telinga Pram, bingung dengan apa yang ia hadapi.
"Ka, ini ada apaan sih? Pake ada wartawan, tadi juga kaka membawa ku ke ruang rapat, malah orang penting semua lagi itu." Naira tampak mengerucutkan bibirnya.
"Jangan mengggoda ku, ini tempat umum. Apa kau mau aku melumattt mu di depan mereka semua?" Pram melirik pada pemburu berita yang tengah duduk di depan Naira dan Pram.
"Ihs kaka mah, nyeselin banget!" Tangan Naira yang terhalang meja dengan leluasa mencubit pinggang Pram.
Pram menggenggam tangan Naira, ia rasakan tangan Naira yang dingin sedingin es.
"Kau gugup?" Tanya Pram menatap dalam pada Naira.
Naira menganggukkan kepalanya.
"Aiiihs romantis banget sih pak Pram dan Nona itu!" Seru salah satu wartawan.
"Bagai mana ini pak, apa acaranya sudah bisa di mulai? Apa kami bisa mengajukan pertanyaan pada bapak sekarang?"
Pram fokus pada media yang meliput dan para wartawan.
"Baik lah, acara konferensi pers kali ini saya buka, apa yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Pram dengan suara yang tegas.
Beberapa wartawan mengajukan pertanyaan tanpa perduli dengan perasaan Naira.
"Nona ini yang kemarin di pemakaman itu kan, pak? Ada hubungan apa bapak dengannya?"
"Bukannya bapak ini pacaran dengan Nona Momo? Kenapa bukan Nona Momo yang menemani bapak di acara pemakaman kemarin?"
"Apa wanita ini sudah merebut bapak dari Nona Momo?
"Apa pekerjaan wanita ini pak? Dia ini bukan dari kalangan artis kan?"
"Biar saya jawab pertanyaan kalian satu persatu, Momo sedang sibuk jadi saya hanya bisa membawa gadis ini." Pram merangkul tangannya pada bahu Naira.
"Gadis ini sama dengan Momo, dia adalah kekasih ku, kekasih pertama ku sedangkan Momo hanya kekasih ke dua ku." Terang Pram yang langsung mendapat tatapan tajam dari Naira.
"Maksudnya apa ka?" Seru Naira dengan suara yang bergetar.
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉
__ADS_1