Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Seperti ratu


__ADS_3

...💖💖💖...


"Aku butuh istirahat, pak!" Bentak ku pada Pram, kalo bisa di gambarin mungkin ini kepala ku udah ngebul sama api, saking keselnya.


Ku lihat pak Pram membulatkan matanya dan hendak melayangkan tangan kanannya, tapi tangan pak Pram langsung di tangkap dan di seret ke luar kamar oleh dokter Samuel.


"Ahahahha, mampusss kau pak Pram! Sudah biarkan saja istri mu sendiri dulu." Samuel tergelak dengan sikap Naira yang tidak ada takutnya pada Pramana Sudiro.


"Sialann kau, berani mengumpat ku, heh." Oceh Pram berusaha melepaskan tangannya dari Samuel.


"Kan aku bilang, istri mu butuh istirahat, pak Pram!" Samuel melepaskan tangan pak Pram saat sudah di luar kamar.


Pram menyembulkan kepalanya melihat Naira, di lihatnya Naira sudah membaringkan tubuh dengan memunggungi pintu.


Untuk saat ini aku biarkan kau bersikap seperti ini pada ku, Naira...tapi tidak ada kata lain kali, awas kau! Senyum terukir di bibir pak Pram, ia menutup pintu kamar dan membiarkan Naira untuk beristirahat.


Pak Pram berjalan di depan dengan di ikuti Samuel, mereka berdua berjalan menuju ruang kerja pak Pram yang ada di kamar sebelah.


Pram duduk di kursi kerjanya yang empuk, sedangakan Samuel duduk di hadapannya dengan batasan meja.


Pram meraih gagang telepon.


"Bawakan ice bag ke kamar ku, lalu berikan pada istri ku dan satu lagi, harus pelayanan wanita yang mengantarkannya!" Setelah selesai memerintah, Pram menaruh kembali gagang telepon ke tempatnya.


Samuel menatap tajam Pram, Apa Pram sudah benar benar jatuh cinta pada gadis itu ya? Aku tidak pernah melihat Pram memperlakukan wanita seperti dia memperlakukan gadis itu, si Naira ya itu namanya.


"Tidak usah melihat ku seperti itu, Sam! Aku tahu apa yang ada di pikiran mu itu." Sarkas Pram dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi depan menyilangkan satu kakinya di atas.


"Boleh aku bertanya pada mu, Pram?" Tanya Samuel yang berbicara dengan lebih santai.


"Katakan!"


Sedangkan di kamar.


Aku ngedumel seorang diri setelah kepergian dua pria dewasa tapi kelakuan bocah.

__ADS_1


"Ternyata orang yang sukses seperti pak Pram bisa juga tidak menggunakan akalnya, udah tau bini lagi sakit, masih sempat sempetnya gitu berantem, dasarrr rubah tua gak ada otak. Mana perut ku sakit lagi!" Aku mengelus perut ku dan ku lihat ada warna kebiruan.


Ketukan pintu dan suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.


Tok tok tok.


"Maaf Nona Naira, apa kami boleh masuk ke dalam sekarang?"


"Masuk lah!" Seru ku.


Dan tidak lama dua orang pelayan wanita muda datang menghampiri ku, yang satunya membawa nampan berisikan segekas aitmr putih, mangkuk kecil dan entah apa itu, aku baru melihatnya.


Ke duanya membungkuk setelah mereka berada tidak jauh dari ku.


Begini rasanya di perlakukan seperti ratu, belum apa apa mereka sudah membungkuk hormat.


"Jika tidak ada pak Pram, kalian tidak perlu membungkuk hormat pada ku, anggap saja aku ini temen kalian." Ujar ku.


"Maaf Nona, kami tidak bisa menuruti perkataan anda, kami harus tetap menghormati anda, karena anda sekarang adalah Nona di rumah ini. Kami harus menjalankan setiap perintah yang di berikan pak Pram atau pun pak Dedi.


"Maaf Nona, kami di perintahkan Tuan Muda untuk memberikan ice bag pada anda." Ujar pelayan itu.


"Ice bag?"


"Apa Nona mengalami memar?" Tanya pelayanan yang membawa nampan.


"Oh, iya...ini di perut ku."


Pelayan yang membawa nampan tampak kaget mendengar ucapan ku, terlihat dari raut wajahnya yang tampak terkejut mendengar perkataan ku.


Pelayan yang membawa nampan membatin, Apa? Masa iya sih baru menjadi Nona Muda di rumah ini sudah mengalami memar? Apa pak Pram melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga ya?


Pelayanan itu meraih ice bag dari atas nampan dan meletakkannya di atas perut ku yang memar.


"Terima kasih ya! Emmm luka ini tidak sengaja ko, aku yang ceroboh, kalian pasti berfikir yang aneh aneh!" Seru ku meluruskan dari pada mereka memikirkan asumsi mereka sendiri, tapi emang bener sih ini ulah si rubah tua itu.

__ADS_1


Pelayan yang menaruh ice bag di perut ku langsung menatap rekannya, dari mata seolah mereka saling berkata.


"Maaf kan saya, Nona Muda...saya sudah lancang, mohon jangan adukan saya pada Tuan Muda." Ujar pelayan yang membawa nampan dengan wajah pias sepaket dengan membungkuk.


"Eh, kenapa kamu jadi minta maaf? Sudah sudah, aku tidak apa apa kok " Ujar ku.


"Ini, Nona!" Pelayan yang satunya memberikan aku 2 buah butir obat.


"Obat apa ini?" Tanya ku polos.


"Untuk pereda nyeri dan juga suplemen."


Setelah di jelaskan ini obat apa, aku pun langsung meminumnya.


"Kalo begitu kami permisi, Nona Muda." Ujar pelayan itu dan mereka ke luar dari kamar setelah sebelumnya membungkuk hormat pada ku.


Aku merebahkan tubuh ku kembali di kasur, setelah sebelumnya menumpuk bantal milik Pram dengan bantal ku, ku buat diri ku senyaman mungkin.


"Gak terasa udah jam 10 pagi aja, biasanya jam segini lagi pada ngerjain tugas ini di sekolah, jadi rindu suasana kelas aku ini." Aku menatap kaki ku yang di gips, cepet sembuh ya kaki!


Mata ku menatap setiap sudut kamar, warna cowok banget, seru kali ya kalo ada warna birunya, jadi terkesan hidup ini kamar, belum lagi ada gambar kuda poni, waaah makin betah aku di kamar.


"Susah kalo ga ada hape, mau ngecek keadaan kedei pun gak bisa, gimana juga nanti saat Serli akan ke rumah ini, bagaimana cara ku bisa menghubunginya ya?" Gumam ku menatap langit langit kamar membayangkan suasana kedei saat aku berada di sana, jadi kangen kedei start ku.


Entah sejak kapan mata ku sudah terpejam.


Aku merasakan hembusan nafas yang begitu dekat sepertinya nafas itu ada di atas kepala ku.


Pinggang ku terasa ada yang menindih, apa ini? Mata yang masih enggan terjaga pun harus ku buka perlahan.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2