
...πππ...
"Aiiihhs kalian, bikin kepala ibu pening." Oceh ibunya Novi mendengar kan perdebatan Ayu dan putrinya Novi.
Ceklek.
Pintu ruang rawat di buka.
Yang berada di dalam langsung menoleh ke arah pintu.
"Akhirnya lo udah sadar juga, Yu!" Oceh Angga yang masuk ke dalam ruang rawat bersama dengan Rion dan Mega berjalan ke arah ranjang di mana ke duanya di rawat, dengan Mega yang menenteng paper bag.
Ke tiganya menyalami pak Bowo, dan ibunya Novi.
"Iya dong, Ga. Masa iya gw mau tepar terus." Celetuk Ayu dengan sumringah.
"Heh ka, kali udah lolos dari masa kritis tuh harusnya ucap Alhamdulillah... gimana si lo, ka!" Ejek Novi.
"Bacot bae lo! Angga lagi nanya gw, bukan nanya lo!" Sungut Ayu.
Mega geleng geleng kepala melihat ke duanya, Mega berdiri di samping ranjang rawat Ayu bersama dengan Angga. Sedangkan Rion berdiri di samping ibunya Novi.
"Kalian berdua ini ya, kayanya salah besar pak Pram menyatukan ruang rawat kalian, bisa botak kepala dokter dan suster yang merawat kalian berdua." Ledek Mega.
"Tau nih, bocah ngajakin gw ribut mulu!" Ejek Ayu dengan matanya yang mengekor ke arah Novi.
"Lo udah enakan, Nov?" Tanya Rion dengan membelai bahu Novi.
"Udah ko, udah mendingan. Thanks ya udah mau jenguk gw, ka!" Oceh Novi dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
Bukan Rion yang menjawab perkataan Novi, melainkan Ayu.
"Heh bocah, Rion ke sini itu mau jengukin gw, bukan jengukin lo doang keles!" Ledek Ayu.
"Ihs ka Ayu, nyamber aja nih udah kaya bensin. Bensin lagi mahal tau ka, jangan nyamber napa!" Sungut Novi.
Ibunya Novi membatin, aku merasa Novi jauh lebih pantas dengan nak Rion, usia mereka tidak terpaut jauh seperti pak Haikal. Pak Haikal jauh lebih pantas menganggap Novi itu ponakan, bukan orang yang ia cintai. Lagi pula jika Novi bersama dengan nak Haikal, pasti hidupnya akan penuh dengan bahaya.
"Silahkan duduk, nak Rion!" Ibunya Novi beranjak dari kursi yang ada di samping ranjang rawat Novi dan mempersilahkan Rion untuk duduk menggantikan nya.
"Saya gampang bu, ibu aja yang duduk." Oceh Rion menolah dengan halus, kurang sopan baginya jika ia duduk dan orang tua Novi beranjak.
"Tidak apa nak, lagi pula ibu mau ke luar sebentar." Ucapnya dan mau tidak mau, Rion pun akhirnya duduk menggantikan ibunya Novi.
__ADS_1
"Ibu mau ke mana?" Tanya Novi.
"Ibu ke luar sebentar. Ibu titip Novi ya nak!" Ucap ibunya Novi pada yang lain.
"Beres bu." Ucap Angga dengan mengacungkan jempolnya.
Ibunya Novi dan ayahnya ayu pun ke luar dari ruang rawat, membiar kan ke tiganya berbicara dengan lebih leluasa.
Ibunya Novi entah pergi ke mana, sedangkan pak Bowo menuju salah satu rumah kontrakan, kontrakan yang tidak jauh jaraknya dengan rumah sakit. Atas usulan Naira, akhirnya Pram sengaja menyewa salah satu unit kontrakan untuk di tempati pak Bowo dan Chika, hal itu juga akan mempermudah jarak Bowo untuk dapat memantau cucuknya selama di asuh oleh Maura.
"Gimana dengan kedei, bang?" Tanya Ayu pada Angga.
"Kedei udah di urus sama anak buahnya, pak Pram." Ujar Angga yang mendudukan dirinya di kursi dekat ranjang rawat Ayu.
Mega berada di antara ke duanya dengan mengupas buah apel untuk ke dua rekan kerja sekaligus keluarga baru baginya.
"Kalo pelakunya, gimana tuh? Udah ke tangkap apa belum?" Tanya Novi.
"Entah lah, yang kita tahu... setelah kalian berhasil ke luar dari ruko dan di larikan ke rumah sakit. Gw gak liet ke beradaan pak Haikal dan pak Dega." Ujar Angga.
"Yang bawa gw ke luar dari ruko, siapa bang?" Tanya Novi dengan penasaran, gw harap yang bawa gw ke luar dari kedei itu lo, paman Haikal.
"Mau tahu banget lo?" Ledek Ayu.
"Iya juga ya, gw juga pengen tau sih. Siapa yang bawa gw ke luar dari kedei yang udah penuh dengan api dan asap. Benar benar situasi yang mencekam." Ujar Ayu.
"Gw aja sempet mikir kalian gak bakal selamat, melihat api yang cepat membesar dan memakan lantai 1." Ujar Mega.
"Kampretttt lo ka, sama aja lo ngarepin kita mati dong?" Sungut Novi.
"Sorry ya, kalo gw pasti bakal di selamatkan sama cowo idaman gw!" Ejek Ayu, gw yakin yang nyelametin gw itu Haikal, karena saat itu gw denger suara Haikal di tengah kobaran api.
"Lo di gendong sama pak Dega waktu ke luar dari kedei, pak Dega juga udah nyelimutin tubuh lo pake jaketnya." Ucap Mega dengan menatap Ayu.
Ayu terpaku di buatnya, gak mungkin, mereka pasti salah. Haikal pasti yang udah nyelametin gw.
Pak Haikal udah kaya satria baja hitam, gendong lo ke luar dari lautan api! Keren abis deh, Nov!" Oceh Rion dengan bersemangat.
Novi menarik sudut bibirnya ke atas, tuh kan bener, pasti paman Haikal terpukul banget liet gw kaya gini. Kalo paman Haikal berhasil nemuin itu pelaku pembakaran, bakal di apain ya?
πDi gedung pencakar langitπ
Saat Pram dan Dev ke luar dari lift khusus CEO, matanya langsung tertuju pada sosok pria yang tengah berdiri menyandar di depan ruang kerja Pram.
__ADS_1
Pram langsung melangkah lebar ke luar dari lift dan berjalan ke arah ruang kerjanya, matanya menatap tajam, tidak ada senyum di bibir nya, aku yakin kau pasti bisa mengatasi masalah pada hape sialannn itu, Haikal.
Dev membatin, pasti ada laporan penting yang harus di sampaikan Haikal pada pak Pram, tapi apa ya?
"Urus saja pekerjaan mu, Dev!" Oceh Pram yang menjawab batinnya Dev.
"Terima kasih pak, sudah mengingatkan." Ucap Dev yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Selamat pagi, bos!" Ucap Haikal dengan membungkuk hormat saat Pram berada di depannya.
"Aku harap kau tidak mengecewa kan ku, Haikal!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin.
"Sayangnya bos harus memberikan saya bonus sebagai ganti waktu tidur saya, bos!" Sindir Haikal yang secara tidak langsung mengatakan jika ia berhasil dengan tugas yang di berikan Pram.
Pram menyeringai, tangannya terulur menepuk bahu Haikal, "Kau memang dapat di andalkan! Masuk lah!" Pram berjalan lebih dulu memasuki ruang kerjanya di ikuti oleh Haikal yang berjalan di belakang Pram.
Pram mendudukan dirinya di kursi ke besarannya setelah melepas kancing jas pada perutnya.
"Mana barangnya!" Tanya Pram dengan duduknya yang menegak ke dua tangan saling berpauttt di atas meja.
"Ini, bos!" Haikal mengeluarkan hape butut dengan bentuk yang utuh dan tangannya terulur menyerahkan hape yang awalnya hancur kini utuh pada Pram.
Pram membola, "Benar, ini barang yang sama dengan barang yang pernah membuat Naira menangis karena aku yang dengan sengaja merusaknya!" Gumam Pram.
"Jadi ini milik Nona Muda, Tuan?" Tanya Haikal.
"Aku tidak menyuruh mu untuk bicara, Haikal!" Sarkas Pram dengan tatapan matanya yang tajam.
Haikal langsung menunduk, "Maaf Tuan, saya lancanggg." Beruntung sekali file foto dan pesan yang ada di dalamnya masih bisa di selamatkan oleh Dava.
Pram membatin, syukur lah jika apa yang di katakan Haikal itu benar adanya, masih ada harapan untuk ku tahu ada rahasia apa dalam hape ini.
Jemari Pram langsung menari nari pada kipet hape jadul Naira, matanya membola setelah beberapa saat terpaku pada apa yang ia dapat dari dalam galeri foto dan pesan.
Pram membatin, sempurna, jadi ini alasannya kenapa hape ini begitu berarti untuk mu, sayang!
......................
...π Bersambung π...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! π
__ADS_1