Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Awal dari kehancuran


__ADS_3

...💖💖💖...


Pak Pram menutup pintu mobil, lalu mengetuk kaca mobil supir.


"Lakukan seperti apa yang sudah aku katakan pada mu!" Seru pak Pram.


"Baik, pak."


Kini pak Pram beralih ke arah ku.


"Jangan nakal ya!" Tangan kanan pak Pram mencuwil hidung ku.


"Nakal? Aku tidak pernah berbuat nakal ya, pak!" Seru ku.


Pak Pram memundurkan tubuhnya dari mobil, mobil yang membawa Naira pun pergi meninggalkan rumah besar dan megah.


"Apa pria tua itu masih menunggu ku?" Tanya pak Pram pada pak Dedi dengan suaranya yang datar.


"Masih, Tuan."


"Di mana, dia?" Pram berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ada di ruang tamu, Tuan." Dedi mengikuti langkah kaki Tuannya dari belakang.


Pram memicingkan matanya menatap Aji, pria paruh baya yang sedang berdiri menghadap ke jendela luar. Masuk perangkap juga kau ya! Tua bangka.


Pram melangkah kan kakinya ke ruang tamu, "Wah wah wah, ada angin apa kiranya, hingga membuat Tuan Aji Sudiro yang terhormat datang ke kediaman ku ini!" Seru Pram mengejek.


Aji membalikkan tubuhnya menghadap wajah Pram, anak yang selama ini ia lupakan, "Begini cara mu menyambut orang tua?" Tanya Aji dengan kesal.


"Menyambut? Anda ingin di sambut seperti apa, Tuan Aji?" Pram mendudukan dirinya di atas sofa dengan kaki yang dia angkat satu dan bertumpu pada kaki lainnya.


Aji mendudukkan dirinya di sofa yang bersebelahan dengan Pram, putra tertuanya hasil buah cintanya dengan Prita, mendiang ibu kandungnya Pram.


"Jangan kobarkan api permusuhan di antara kita, nak... aku ini ayah mu!" Serunya dengan tangan menyetuh telapak tangan Pram.


Pram menepisnya dengan kasar, melihat wajah Aji saja sudah membuat darah di hatinya mendidih.


"Apa yang kau inginkan!" Tanyanya dingin, menahan kesal, menahan bom waktu yang kapan saja bisa meledak setiap saat.


"Aku butuh bantuan mu!" Seru Aji dengan tidak tahu malunya.


"Bantuan? Telinga ku yang salah mendengar, atau dunia ini yang sudah terbalik?" Tanya Pram.


"Aku bersungguh sungguh, Pram... usaha ku hampir pailit, aku mau kau menyuntikkan dana segar untuk usaha ku, perusahaan yang aku rintis dari nol dengan mendiang ibu mu.

__ADS_1


"Merintis dengan ibu ku? Lalu setelah mengalami kejayaan, kau campakkan ibu ku begitu saja? Hanya demi wanita jalangggg itu?" Pram berkata dengan dingin.


"Aku tidak mencampakkan ibu mu, Pram!" Suara Aji bergetar.


"Lalu?"


"Ibu mu lah yang menjauh dari ku, Pram." Ujarnya.


"Lalu kau meninggalkannya dan memilih menikah dengan sekretaris mu itu? Wanita jalanggg!" Pram menatap tidak suka pada Aji.


"Berhenti mengatakannya jalanggg, Pram!"


"Pembunuh ibu ku!"


"Ibu mu meninggal karena sakit, pram!"


"Sakit atau karena di racun?"


"Di racun?" Aji membelalakkan mata tidak percaya.


"Tanya pada wanita mu itu!" Seru Pram, kau tahu pintu ke luarnya kan!" Pram menunjuk ke arah pintu dengan tangannya.


"Kau mengusir ku, Pram?"


Dev masuk ke dalam rumah dan mendapati Pram yang tengah bersitegang dengan Aji di ruang tamu.


Aji bangkit dari duduknya, "Baik lah, aku pergi!" Aji bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, namun ia langsung membalikkan tubuhnya ke arah Pram, "Siapa gadis itu, Pram?" Tanyanya.


"Bukan urusan mu!" Serunya datar.


Aji menarik sudut bibirnya ke atas, senyum menyeringai terlukis nyata di wajahnya.


Setelah Aji pergi, baru lah Pram dan Dev pergi meninggalkan rumah, melakukan meeting yang sudah di rencanakan sebelumnya dan baru terealisasikannya hari ini.


Pram diam, tidak ada banyak kata yang ke luar dari bibirnya. Pikirannya jauh melayang mengenang sang ibu.


Awal dari kehancuran keluarga kecilnya, ibunya yang di kabarkan jatuh dari balkon hingga masuk IGD.


Flashback


15 tahun yang lalu, di saat usia Pram baru menginjak 10 tahun.


Bocah yang masih mengenakan seragam sekolah dengan ransel di punggung berlari di koridor rumah sakit.


"Apa yang terjadi dengan ibu, yah?" Tanya Pram kecil pada Aji sang ayah yang duduk di depan ruang IGD.

__ADS_1


"Ibu mu jatuh dari balkon, nak." Aji memeluk tubuh kecil Pram.


"Ini gak mungkin, yah!" Serunya.


"Tante Widia sendiri yang melihatnya, nak!" Seru Aji.


Pram mengendurkan pelukan yang di berikan Aji padanya, "Lalu ayah kemana?"


"Ayah saat itu sedang mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerja ayah, ayah berniat untuk kembali ke rumah dan mengambil berkas itu, itu adalah berkas penting ayah untuk meeting dengan klien." Terang Aji.


Bocah sepuluh tahun dengan kecerdasannya mampu menganalisa kebohongan seseorang hanya dengan membaca raut wajah, tatapan mata, serta gestur lawan bicaranya.


Pram menatap mata ayahnya, Tidak ada kebohongan dari mata ayah.


Kini Pram kecil beralih menatap Widia, wanita berparas cantik yang kini bekerja sebagai sekretaris pribadi ayahnya.


Karena keinginan Prita yang ingin fokus pada keluarga kecilnya, akhirnya Prita meminta Widia untuk menjadi sekretaris pribadi suaminya yang tidak lain adalah sahabatnya dulu saat di bangku hingga kuliah.


Namun garis hidup ke duanya berbeda, Prita hidup bahagia dengan Aji dengan usaha yang di rintis ke duanya sukses dan membawanya pada kejayaan.


Sedangkan Widia, rumah tangga dan karirnya tidak semulus seperti Prita. Widia mengalami KDRT dan memilih pisah dari suaminya.


Bagai angin segar untuk Widia di saat rumah tangganya hancur, Prita menawarinya kerjaan sebagai sekretaris pribadi Aji, yang notabennya adalah pria tampan yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.


"Apa benar yang di katakan, ayah ku?" Tanya Pram kecil dengan mata memicing tajam.


"A- a- aku, aku melihatnya tergelincir, i- iya Prita tergelincir!" Seru Widia dengan tergagap, seolah berfikir jawaban apa yang harus ia berikan untuk pertanyaan bocah yang berdiri dengan menatapnya tajam.


"Kau bohong! Katakan, apa yang kau lakukan pada ibu ku?" Pram marah dengan mengguncangkan kedua lengan Widia dengan tangannya.


Aji tamoak marah melihat sikao yang di tunjukkan Pram pada Widia.


Aji bangkit dari duduknya dan mencengkram lengan Pram, menariknya hingga tubuh bocah itu menghadap ke arahnya, "Apa yang kau lakukan, Pram! Tahan emosi, jaga sikap mu! Kita ini sedang di rumah sakit!" Seru Aji dengan penuh penekanan.


Aji mendudukkan Pram di kursi tunggu, ia mengeluskan punggung anaknya dengan telapak tangannya, "Ayah tahu kau sangat menghawatirkan ibu mu, nak... tapi yang bisa kita lakukan saat ini adalah mendo'akan ibu mu agar tidak terjadi apa apa!" Serunya yang iku duduk di samping Pram.


Flashback end.


"Apa kita mau langsung ke tempat meeting, pak?" Tanya Dev dengan melirik kaca spion mobil.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2