
...πππ...
"A- ada apa ya bos, memanggil saya?"
Wanita itu adalah wanita bayaran yang di minta Aji untuk menukar tas Dev saat di bandara.
Tuk tuk tuk.
Aji mengetuk ngetukkan jari telunjuk kanannya pada meja kerjanya.
Aji mengurut batang hidungnya dengan tangannya, "Kau mau bermain main dengan ku, ya! Beraninya kau menipu ku!"
Wanita itu membola saat Aji, pria yang sudah membayarnya menuduhnya penipu.
"Sa- saya menipu bos? Kapan? Saya tidak pernah menipu siapa pun!" Wanita itu meju beberapa langkah hingga ia berdiri tepat di depan meja Aji.
Aji menajamkan pandangannya pada Yuli, menunjuk wanita itu dengan jari telunjuk kanannya, "Iya kau menipu, ku!" Seru Aji dengan sinis.
Tanpa mengenal tau malu, Aji meminta uang bayaran yang sudah ia berikan pada Yuli, "Kembalikan uang yang sudah ku berikan pada mu!" Ucap Aji dengan tegas.
Yuli terperangah, "Apa maksud, Tuan? Tuan tidak bisa seenaknya saja dengan saya!"
Brak.
Aji menggebrak meja dengan tangan kanannya.
Yuli berjingkat kaget dengan sikap yang di tunjukan Aji.
"Kau kembalikan uang ku atau kau melakukan apa yang aku perintahkan pada mu!" Enak saja mau menikmati uang ku, aku sudah gagal mendapatkan Pram, maka aku tidak akan membiarkan diri mu senang di atas kesusahan ku, wanita bayarannn.
Yuli menatap Aji dengan sinis, "Enak saja! Jika bos ingin menggunakan jasa saya, bayar dulu... baru saya akan melakukan perintah mu!" Tua bangka ini ingin menindas ku ya? Huh, enak saja, memang dia pikir dia sedang berhadapan dengan siap?
Aji mendorong tas hitam itu ke depan Yuli, "Kau menipu ku dengan ini!"
"Ini kan yang bos mau!"
"Coba kau buka isinya! Laptop mati kau berikan pada ku! Atau jangan jangan kau sengaja melakukan ini untuk uang? Demi uang kau menipu kerja sama di antara kita ini, heh! Cara mu sangat lah rendahannn!" Aji merendahhhkan wanita yang sudah jelas jelas ia tipu, Aji sendiri yang melakukan penipuan pada Yuli.
__ADS_1
Yuli menunjuk jari telunjuk kanannya ke wajah Aji, "Jaga mulut anda bos! Anda memang kaya, punya segalanya, tapi sayangnya mulut anda minim kesopanan! Siapa yang tahu jika bos sendiri lah yang telah menipu saya!" Wajah Yuli merah padam, harga dirinya di rendahkan oleh pria yang tidak punya hati.
"Huh bicara kesopanan... kau yang sudah dengan jelas menipu ku, mau kau lakukan perintah ku atau kau tidak akan ke luar hidup hidup dari tempat ini!" Aji menekan Yuli.
"Saya tidak takut dengan ancamannn anda, Tuan Aji yang terhormat! Saya rasa sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan." Yuli berbalik badan dan hendak meninggalkan ruang kerja Aji.
Prok prok prok.
Belum sempat Yuli ke luar dari ruang kerja itu, masuk dua orang berbadan tegap dan menghadang jalan Yuli.
"Mau apa kalian? Menyingkir dari jalan ku!" Seru Yuli dengan tangan mengepal.
"Sebaiknya anda kembali, Nona... ikuti perintah bos Aji!" Seru pria berbadan tegap lainnya.
"Dasarrr licik! Beraninya main keroyokkan!" Bagaimana ini, jika seperti ini aku tidak ada jalan lain selain menuruti perintah tua bangka itu!
Aji menatap punggung Yuli dari duduknya, kali ini kau pasti tidak akan bisa lari, kau pasti akan menuruti perintah ku! Aji menyeringai senang dengan ke dua tangannya saling bertautannn.
Yuli berbalik menatap Aji dengan tatapan yang tajam, "Apa mau mu!" Tanya Yuli dengan ketus.
Aji tersenyum puas mendengar pertanyaan Yuli.
Pram dan Harumi tengah membahas masalah kerja sama yang akan di lakukan ke duanya.
Setelah hasilnya di sepakati, ke dua belah pihak akan meninjau lokasi yang akan di bangun untuk hotel yang akan di beri nama Hotel Haru Start.
Meeting selesai sebelum jam makan siang, Harumi menawarkan diri untuk mengajak serta kliennya ini untuk makan siang bersama.
Pram dan Dev pun tidak menolak tawaran yang di berikan Harumi. Mereka berempat makan di restoran yang berada tepat di depan kantor Harumi.
Selama makan siang berlangsung, Harumi tampak memberikan perhatian lebih pada Pram, berkedok makan siang bersama, nyatanya kesempatan ini tidak di buang dengan sia sia Harumi.
Harumi berusaha untuk mendapatkan perhatian Pram yang terkenal dingin pada wanita, kejam pada siapa pun yang melakukan kesalahan.
Di saat Pram ingin mengambil daging dari pemanggangan dengan sumpit, Harumi dengan sigap mengambilkannya untuk Pram.
"Let me take it, Tn. Pram!" (Biar saya yang ambilkan, Tuan Pram!) Seru Harumi dengan sumpit yang mengarah pada potongan daging yang sudah medium tingkat kematangannya.
__ADS_1
Dev menatap sekilas wajah Harumi yang kini duduk di depannya, apa aku saja yang merasa Nona Harumi ini sedang memberikan perhatian lebih pada Tuan Pram ya?
Sedangkan Emi selaku sekretaris dari Harumi merasa ide yang sudah ia berikan pada atasannya berhasil.
Emi menatap secara bergantian wajah Pram dan Harumi, jika Harumi nampak merona tersipu malu berbeda dengan Pram yang tampak biasa saja, datar tanpa ekspresi.
Emi membatin, soon Mr. Pram will surely fall in love with Miss Harumi. (Sebentar lagi pasti Tuan Pram akan jatuh hati pada Nona Harumi.) Emi menarik sudut bibirnya ke atas.
Dalam diam Harumi memperhatikan Pram saat menikmati hidangan yang ada di depannya. Why is Mr. Pram so handsome when seen from this close ditance? ( Kenapa Tuan Pram jika di lihat dengan jarak yang sedekat ini begitu tampan? )
Will Mr. Pram like me like what Emi said? ( Apa Tuan Pram akan menyukai ku seperti apa yang sudah di katakan Emi? )
Men like agggressive woman?
( Pria suka wanita yang agresif? )
Pram membatin, apa yang sedang di lakukan bocah nakalll itu ya? Apa benar yang di katakan sahabatnya itu, jika Naira tengah galau pada ku? Ah kenapa aku ini terasa terbang, aku jadi ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dan dengan segera terbang ke Indonesia.
πDi sekolahπ
Tatapan Daren tidak lepas dari Naira, wajah cantik Naira seolah memiliki magnet tersendiri untuk terus ia pandang.
Ratna dari kursi ia duduk, astaga apa apaan ini, kenapa Daren selalu memperhatikan Nai? Ini ada gw lo, apa selama ini kurang ok di mata Daren? Gw lo yang pacarnya, sedangkan Daren gak pernah sekali pun menatap gw kaya gitu!
"Daren, pinjem penggaris lo dong!" Seruan Juni yang tidak di hiraukan oleh Daren.
Juni menyipitkan ke dua matanya, ngelietin apa sih ini bocah, serius amat.
Juni yang duduk semeja dengan Daren pun curiga di saat matanya memperhatikan arah yang tengah Daren pandangi.
Kening Juni mengkerut, wah minta di beri ini bocah!
Pletak.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π