
...💖💖💖...
"Ihs jadi orang gak sabaran banget sih!" Sungut Naira dengan suaranya yang terdengar kesal.
Ceklek.
Bugh.
"Akkkhh."
Begitu pintu di buka, Pram langsung mendorong Naira masuk ke dalam dengan menyudutkan Naira di dinding. Membuat Naira berteriak.
"Apa yang kau lakukan ka? Membuat ku kaget aja! Kau kan lagi meeting!" Cerocos Naira dengan kening yang mengkerut, menatap pria yang ada di depan nya dengan tatapan yang menggoda, alis Naira naik turun.
Pram mengerutkan keningnya, menatap tajam Naira, "Bagus ya! Kau sudah berhasil membuat ku khawatir dan sekarang kau menggoda ku?" Ucap Pram dengan menghirup aroma tubuh Naira lewat ceruk lehernya, mendaratkan kecupan dan menyesappp leher Naira.
"Ihsss ka! Jangan di sini! Kaka mau apa ke sini? Aku kan sudah bilang, aku ini tidak apa apa!" Naira mendorong dada Pram yang bidang, hingga memberi jarak pada tubuh ke duanya.
Pram tidak menjawab perkataan Naira, ke dua matanya sibuk menjelajah dengan tatapan yang tajam pada tubuh Naira.
Pram mengecek tubuh Naira, memastikan tidak ada yang terluka parah pada tubuh mulus Naira. Dengan tangannya, Pram memutar tubuh Naira, memperhatikan setiap inci pada ke dua kaki jenjang Naira. Kini matanya menyapu ke dua tangan Naira. Matanya membola saat mendapati ada yang berubah pada pergelangan tangan kiri istri kecilnya itu.
"Apa ini? Apa ini perbuatan mereka yang jahat pada mu? Dasarrr anak buah tidak becussss." Omel Pram dengan menahan emosi, wajahnya tampak merah padam.
Dengan gerakan slow motion, tangan kanan Naira mengalung di leher Pram, tangan kirinya ia lepaskan dari genggamannn Pram, tangan kirinya terulur menyusuri dada bidang Pram dengan tubuhnya yang menempel pada Pram.
Naira berucap dengan manja, berusaha menurunkan emosi pada diri Pram yang kini membuncah, coba dulu aja lah, kali aja berhasil.
"Ka Pram, kita ke luar aja yuk! Aku laper nih, pengen makan tapi di suapin sama ayang suami aku yang gagah, keren, uwu gitu!" Ujar Naira.
Pram menyeringai dengan tangannya yang meremasss gemas bokonggg Naira membuat Naira terkejut.
"Awwwhh." Dasarrr rubahhh nakalll, Naira membola, tapi sejurus kemudia gantian Naira yang menyeringai.
Bugh.
"Awhhh.
Dengan jailnya Naira menginjak satu kaki Pram, melihat Pram yang berjingkat dengan satu kaki di angkat.
"Maaf, sakit ya ka?" Ucap Naira dengan wajah memelas.
__ADS_1
Pram melayangkan satu tangannya ke udara, membuat Naira yang melihatnya langsung dengan cepat memejamkan ke dua matanya, membayangkan tangan Pram mendarat di pipinya yang mulus.
Naira merasakan benda kenyal pada bibirnya, Pram mengarahkan ke dua tangan Naira di lehernya.
Pram melumattt, memilinnn bibir Naira dengan perlahan, meremasss gundukan kembar Naira yang kian membusung, ke dua mata Naira saling beradu pandang dengan mata Pram yang kini menatapnya dengan penuh damba.
Naira menaikkan kakinya ke pinggang Pram, membuat ke dua kakinya kini saling mengaittt, Naira menaik turunkan alisnya.
Masih bisa gak marah kah!
Pram mengurai pagutannnnya, "Aku tidak akan bisa marah dengan mu! Kita obati luka mu ya!" Pram menggendong Naira dengan tangannya yang kekar menyanggah bokonggg Naira agar tidak jatuh.
"Benarkah? Aku bisa turun dan jalan sendiri ka! Ayo turunkan aku!" Naira meminta Pram untuk menurunkannya dari gendongan Pram.
"No, kau sedang terluka kan! Ceritakan pada ku, bagai mana hebatnya diri mu bisa lolos dari penjahat itu!" Pram menuruni anak tangga.
Naira menceritakan bagai mana ke hebatannya menendang telor si penjahat, yang malah membuat pergelangan tangannya jadi memar.
Dega menyenggol lengan Haikal dengan matanya yang tertuju pada tangga, "Aji gile, bos kita ini kelewat bucin ama Nona." Gumam Dega.
"Biasa aja." Ucap Haikal datar dengan menyeruput kopinya.
"Bawel lo!" Haikal merebut dusnya dari tangan Dega dan beranjak saat Pram mendudukkan dirinya di kursi yang tidak jauh dari pojokan sudut ruang.
Angga ke luar dari kitchen dengan membawa kan sendiri kopi hot red velvet dan ice cappucino ke meja Pram dan Naira.
"Kalian minum dulu ini!" Ujar Angga dengan tangannya yang menaruh ke dua cangkir di hadapan ke duanya.
Haikal membungkuk di depan Pram lalu tangannya terulur menyerahkan obat untuk Naira.
"Ini bos obat untuk Nona!"
"Apa ini dari dokter Samuel?" Tanya Pram.
"Iya bos." Jawab Haikal singkat.
"Saya boleh kan duduk di sini, pak?" Ucap Angga dengan menarik kursi yang ada di meja yang sama dengan Pram dan Naira.
"Silahkan." Ucap Pram datar.
"Tadi aku lihat ada lapangan yang cukup luas, cepat kerjakan hukuman kalian!" Ucap Pram tegas.
__ADS_1
"Siap bos." Haikal undur diri dengan mengajak Dega serta ke luar dari kedei.
Haikal berlari menuju lapangan yang di maksud Pram dengan Dega dan juga anak buahnya yang tadi datang terlambat untuk membantu nya melawan orang orang yang menghalau mobil mereka.
Pram mengoleskan krim pada bagian pergelangan tangan kiri Naira yang memar.
"Ka, kenapa harus di hukum sih? Aku kan gak apa apa! Malah mereka tadi udah kerja keras lo ngelawan itu penjahat." Oceh Naira.
"Ssssttt tidak usah banyak bertanya!" Oceh Pram.
"Tapi ka! Kasian --"
"Tidak usah membantah ku, Nai! Atau kau ingin ini menjadi hari terakhir mu datang ke kedei ini?" Pram menyimpan kembali krim obat itu di atas meja, mengelap tangannya dengan tisu, lalu menyeruput kopi yang di buat Angga.
"Ihsss dasarrr ka Pram, rubahhh menggemaskan!" Naira beranjak menuju meja kasir, meninggalkan Angga dan Pram.
"Gimana Mega, pengunjung kedei?" Naira mendudukan dirinya di kursi depan meja kasir.
"Lumayan Nai, dari kedei buka, ada aja yang masuk. Malah ada beberapa pengunjung yang menyayangkan 3 hari kedei tutup." Ujar Mega.
"Kita kekurangan orang lagi gak, Mega? Apa perlu kita cari pengganti Elisa?" Tanya Naira.
"Untuk saat ini belum sih, gw sama yang lain masih bisa hendel. Tapi kalo lo mau, cari buat gantiin Ayu gak apa lah, Ayu kan masih butuh proses buat penyembuhan dan pemulihan." Terang Mega lagi.
"Iya juga sih, nanti juga rencananya gw mau buka kedei baru nunggu ka Ayu bener bener sehat, biar nanti ka Ayu yang jadi manajer di tempat yang baru. Gimana menurut lo, Mega?" Naira meminta pendapat Mega.
"Kalo gw mah ikut apa kata lo aja Nai. Kalo buat gaji Elisa gimana tuh Nai?" Tanya Mega.
"Maaf pak Pram, kalo saya boleh tahu, apa bapak tahu siapa yang mencoba untuk mencelakaiii Naira kembali? Apa ini adalah orang yang sana dengan pembakaran kedei? Orang yang dulu pernah hampir menculik Naira juga? Atau orang lain, pak?" Cecar Angga.
Pram mengerutkan keningnya menatap tajam Angga, "Sejauh mana kau perduli pada Nai? Apa kau perlu secemas itu pada istri ku?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1