
...πππ...
Pria berkaca mata tersenyum puas, selamat Tuan besar, anda menuju kehancuran.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Aji saat melihat bawahannya tersenyum padanya.
"Tidak apa Tuan, saya senang bisa bekerja untuk anda." Ujar pria berkaca mata dengan senyum palsunya.
"Heh, beruntung kau bisa ku terima bekerja di perusahaan ini kan! Perusahaan yang paling besar se-Indonesia." Aji membanggakan dirinya sendiri.
Pria berkaca mata menatapnya sinis, itu dulu saat anda masih bersama dengan Nyonya Prita dan tidak untuk saat ini, sebentar lagi kau pasti akan menangis darah.
Aji menyodorkan berkas itu pada bawahannya, "Ini, cepat serahkan pada investor!" Aji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya, kita lihat Pram, perusahaan ku lah yang unggul di sini.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." Dengan berkas yang ada di tangannya kini, pria itu melangkah dengan pasti, aku harus mengurusnya segera.
Dengan bergerak cepat, pengalihan semua sahan kini sudah berpindah tangan menjadi atas nama Pram.
Pria berkaca mata kini menghubungi Pram, "Saya sudah menyelesaikan, Tuan... untuk para pemegang saham sudah saya bereskan. Tuan besok hanya perlu menghadiri Rapat Umum Pegang Saham ( RPUS )."
Pram nampak puas mendengar hasil kerja orang suruhannya, [ "Good job." ]
"Ada lagi, yang perlu saya lakukan?" Tanya pria berkaca mata.
[ "Aku rasa itu sudah cukup, pastikan pria tua bangka itu menghadiri acara besar untuknya besok." ] Ujar Pram dengan suaranya yang tegas.
"Baik, Tuan... Untuk besok rapat di mulai pukul 8 pagi, Tuan."
[ "Kau atur saja semuanya." ]
"Siap, Tuan."
[ "Ada lagi?" ] Tanya Pram.
"Untuk karyawan, bagai mana Tuan? Apa perlu kita memecat semua karyawan yang ada?"
[ "Kau lebih tau mana karyawan yang bisa di pertahankan dan mana yang tidak." ] Pram menyerahkan urusan karyawan pada orang kepercayaannya itu.
"Baik Tuan, terima kasih atas kepercayaannya."
[ "Hem." ] Pram memutuskan sambungan teleponnya.
πDi tempat lainπ
__ADS_1
Rumah megah.
Widia menyeruput minumannya, begitu pun dengan Jessica.
Maid menyeringai, dalam waktu 2 menit... racunnn itu akan bereaksi, selamat Nyonya anda semakin dekat dengan malaikat kematian.
Widia menaruh kembali gelasnya di atas meja, "Jadi sudah sejauh mana hubungan mu dengan Pram? Apa kalian berencana untuk menikah?" Tanya Widia dengan mata yang menatap tajam pada Jessica.
"Saya sangat ingin menikah dengan Pram, Nyonya... tapi sepertinya Pram masih terlalu sibuk dengan urusan kantornya." Bagai mana mau aku bicarakan soal pernikahan, jika untuk bertemu dengan Pram saja aku sulit, lagi pula aku ini apa di mata Pram.
Maid membatin, dada mu akan merasa sesak Nyonya, obat itu akan membuat mu seakan terkena serangan jantung, heh. Hanya tinggal beberapa detik lagi.
Widia memegang dada kirinya, apa ini? Kenapa dada ku terasa sakit, na- nafas ku se- seakan se- sesak.
"Aaaakkkh, sakit!" Widia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan ke dua kakinya yang menggantung, ke dua tangannya menahan dadanya yang terasa sesak, nafasnya pun kini tersengal sengal.
Jassica panik bukan kepayang mendapati keadaan Widia, Jessica bangkit dari duduknya dan mengguncang lengan Widia, "Nyonya, anda kenapa Nyonya? Ada apa dengan anda, Nyonya?
Maid yang sedari tadi berdiri kini mendekati majikannya, dengan histeris, "Apa yang anda lakukan pada Nyonya saya Nona?" Maid mendorong tubuh Jessica hingga Jessica jatuh terduduk di atas lantai.
Kuranggg ajarrr ini maid, berani beraninya dia mendorong ku, "A- aku tidak melakukan apa apa pada Nyonya ini!" Wajah panik Jessica sangat nampak ia tunjukkan.
"Bohong! Dari tadi kalian bicara berdua, apa yang sudah kau katakan pada Nyonya saya?" Maid membantu mendudukkan Widia dengan menyandarkan punggungnya pada sofa, "Nyonya, bangun Nyonya!" Maid menaruh jari telunjuk kanannya di depan lubang hidung Widia, bagus, selamat Nyonya, anda kini bisa berjumpa dengan Nyonya Prita.
"A- aku ---"
"Ada apa ini?" Tanya kepala pelayan.
"Pak, tolong tahan Nona ini! Dia menyebabkan Nyonya tiada!" Seru maid dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya pada Jessica.
Jessica tercengang, "A- apa? Nyonya Widia tiada?"
π Sementara di sekolahπ
"Heh jalanggg, gak puas lo udah buat gw di hukum dan sekarang lo rebut Daren dari gw!" Ratna membentak Naira dengan tatapan yang tajam.
"Maksud lo, apa sih? Gw gak ngerti!" Seru Naira yang tidak mengerti perkataan Ratna.
Brak.
Ratna menggeprak meja di depan Naira.
Sreek.
__ADS_1
Dengan tangannya pula Ratna menarik kerah baju Naira hingga Naira berdiri dari duduknya.
Yang lain di buat tercengang melihat tingkah Ratna yang melebihi batas.
Pandangan Ratna di penuhi amarah, kecewa dengan keputusan Daren, Ratna menyalahkan Naira atas keputusan yang sudah di ambil oleh Daren
Dengan suara yang keras, Ratna berkata, "Jangan pura pura polos deh lo! Lo kan yang udah caper ke Daren! Gak cukup lo dapat perhatian dari guru dan anak anak yang lain? Hah!" Ratna mendorong kening Naira dengan jari telunjuk kanannya.
"Ratna, lo apa apan sih?" Seru Novi yang ikut berdiri hendak membantu Naira namun Naira menghentikannya dengan menyuruh Novi berhenti di tempatnya dan tidak melangkah maju.
"Diam kalian, gak usah ikut campur, ini urusan gw dengan teman kalian yang sok berwajah malaikat tapa hatinya busukkk!" Oceh Ratna.
"Lo yang busukkk! Dasarrr hati lo yang penuh dengan dengki!" Oceh Serli.
Sementara Sopur berlari meninggalkan kelas di saat yang lain tengah fokus pada Ratna dan Naira.
Ke dua tangan Naira menggenggammm pergelangan tangan Ratna dengan kencang, dengan tatapan mata yang memicing tajam, lo pikir lo itu siapa? Seenaknya bisa bertingkah? Naira menyeringai.
Ratna di buat heran dengan sikap Naira, enggh sialll pergelangan tangan gw sakit di cengkram ini bocahh jalangg, "Lepasin tangan gw, gak lo!" Ratna meringis saat pergelangan tangannya semakin di cengkrammm oleh Naira.
Naira berkata dengan santai, "Bukannya lo yang mulai duluan? Lo kan yang narik kerak baju gw?" Naira menarik sudut bibirnya ke atas, "Sayang wajah lo cantik tapi hati lo busukkk!"
Ratna semakin geram mendengar perkataan Naira, "Sialnnn lo!" Ratna mendorong tubuh Naira ke belakang hingga membentur kursi, kursi dan meja yang ada di belakang tubuh Naira ikut bergeser ke belakang.
"Woi, gila lo!" Novi menjambak rambut panjang Ratna dan membuat Ratna ikut terhuyung ke arah Novi menjambak rambutnya.
Serli dan Elsa membantu Naira berdiri.
"Ada apa ini?" Tanya pak Asep yang sudah berdiri di depan pintu bersama dengan Sopur.
Novi melepaskan tangannya dari rambut Ratna, "Dia duluan nih pak yang mulai! Biang onar lo!" Sungut Novi dengan tangan siap memberi tamparan pada pipi Ratna.
"Nov, udah!" Naira menggelengkan kepalanya.
"Lo gak apa, Nai?" Tanya Serli yang khawatir pada Naira.
"Gak apa ko!" Pinggang belakang gw rada sakit sih.
"Kalian, ikut bapak ke ruang bk!" Seru pak asep dengan suara yang menggelegar.
"Saya mah gak kan, pak?" Tanya Novi dengan wajah tanpa dosa.
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π