Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Perawat untuk Naira


__ADS_3

...💖💖💖...


Di bicarakan tidak bisa, perlu di beri pelajaran lagi ini pak Pram.


Ku dekatkan wajah ku pada telinga kiri pak Pram.


Gret.


"Akh, shiiit." Pak Pram melonggarkan dekapannya dan aku tidak akan membuang sia sia kesempatan ku untuk menjauh darinya.


Pak Pram memegangi daun telinganya yang tadi aku gigit, sedangkan aku sudah hampir sampai di depan pintu bathroom.


Habis sudah kesabaran ku, Naira! "Naira!" pak Pram memanggil nama ku dengan kencang.


"Sebodoh pak, aku belet!" Seru ku.


Brak.


Ku tutup pintu bathroom dengan kencang. Emang dia doang yang bisa marah, aku juga bisa kali.


Setelah selesai dengan buang air kecil, aku sekalian mencuci muka, lalu aku ke luar dari bathroom dengan menyembulkan kepala ku sedikit di pintu, berjaga jaga kalo pak Pram akan membalas perbuatan ku kali ini.


"Haaah, aman ... kemana perginya ya itu orang?" Aku melangkah menuju sofa yang tidak berada jauh dari pintu.


Kreek.


Pak Pram ke luar dari walk in closed dengan tangan kanannya membawa kotak P3K ia berjalan mendekat ke arah ku yang sedang duduk di sofa dengan kaki kiri ku taruh di atas sofa dan kaki kanan ku menjuntai ke lantai, "Sudah ke luar kau rupanya, hem?"


"Seperti yang bapak lihat kan! Sakit tidak pak?" Tanya ku, yang sudah pasti sakit sih, itu daun telinga pak Pram sampe merah gitu, nyesel? Kaga lah, orang pak Pram kok yang salah.


Brak.


Pak Pram melempar kotak P3K di atas meja yang ada di depan ku.


"Obati daun telinga ku!" Serunya yang lantas duduk di dekat ku.


"Iya."

__ADS_1


Kini aku rubah posisi duduk ku, kaki kanan ku bersila sedangakan kaki kiri ku luruskan, aku duduk menghadap ke arah pak Pram dan mulai mengobati daun telinganya yang luka karena aku gigit tadi.


Ya ampun ampe lecet gini daun telinga pak Pram, gigi ku tajem juga ya? Yang sabar ya, pak!


Ku olesi luka lecet yang ada di daun telinga pak Pram dengan cream dan sesekali ku hembuskan nafas biar pak Pram tidak merasakan perih saat obat cream ini menyentuh luka lecetnya.


"Huh, huh."


"Pak!"


"Apa?"


"Tongkat penyanggah ku, bapak simpan di mana? Aku kan butuh tongkat itu." Ucap ku.


"Kebetulan kau tanyakan tongkat, aku punya kejutan untuk mu!" Pram bangkit dari duduknya dan merebut cream obat yang ada di tangan ku lalu ia simpan di atas meja.


"Bapak mau apa?" Tanya ku heran.


Hap.


Pak Pram menggendong ku dan ke dua tangan ku melingkar di lehernya, ia membawa ku ke luar dari kamar, "Bisa tidak aku pakai tongkat penyanggah ku saja, pak? Aku risih bila tiap saat bapak harus menggendong tubuh ku."


"Lah kok gitu? Tongkat penyanggah itu cukup membantu ku, pak!" Kami memasuki kotak besi, pak Pram membawa ku ke lantai bawah.


"Bagi mu itu membatu, tapi tidak bagi ku."


Ku lihat dengan mata kepala ku sendiri ada Serli yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Serli!" Ku panggil nama sahabat ku itu dan ia menoleh ke arah ku.


"Naira!" Serli berdiri dari duduknya, "Kamu kenapa, Na? "Tanyanya khawatir yang melihat kondisi kaki ku.


Pak Pram mendudukan ku di sofa dan Serli ikut duduk di samping ku, menatap curiga pada pak Pram.


"Dia itu siapa, Nai?" Tanya Serli dengan mata menatap pak Pram.


Pak Pram ingin menjawab pertanyaan Serli, namun buru buru aku menyelanya, "Su--."

__ADS_1


"Temen papa! Iya, dia ini teman papa ku." Ujar ku.


"Owh, lalu ini rumah siapa?" Tanya Serli lagi.


Belum sempat aku menjawab pak Dedi datang dan membungkuk hormat pada pak Pram.


"Maaf Tuan Muda, orangnya sudah datang!"


"Suruh masuk!" Perintah pak Pram.


"Baik, Tuan Muda." Ucapnya patuh.


Pak Dedi kembali meninggalkan kami bertiga.


.


"Ehem, maaf nih pak ... bapak apa gak ada kerjaan gitu?" Tanya ku, yang sebernya aku ingin pak Pram menjauh dari ku, kan aku ingin bicara pada Serli.


"Apa aku di sini mengganggu waktu kalian berdua?" Tanya pak Pram yang kini duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku risih jika ada bapak di sini! Bapaaaak pergi gih! Kemana kek gitu."


Anak ini, benar benar di kasih hati malah memberi ku jantung, jantung yang pahit.


Tidak lama pak Dedi datang dengan seorang perawat wanita yang masih muda dan cantik dengan mendorong kursi roda.


Pak Dedi dan wanita itu membungkukkan badannya saat berada di depan pak Pram, hal itu pun di saksikan Serli.


Gila, keren banget temen papanya Naira ini! Orang hebat kali ini ya dia, sampe sampae orang harus hormat gitu


"Aku sudah mengambi keputusan, mulai saat ini, perawat ini yang akan merawat mu sampai kaki mu pulih."


"Apa, pak? Perawat untuk ku?"


Bersambung....


...💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit


__ADS_2