Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Berjaga di loby


__ADS_3

...💖💖💖...


"Setahu saya tidak ada investor baru, pak!"


Aji tercengang, "Apa?"


"Iya, pak. Jika ada investor baru, saya pasti orang pertama yang akan memberi tahu bapak!" Seru Azka dengan sesekali melirik bos-nya dari kaca spion mobil.


"Lalu berkas apa yang aku tanda tangani kemarin?" Aji bertanya pada dirinya sendiri dengan suara yang pelan.


"Apa bapak mengatakan sesuatu?" Tanya Azka yang melihat bibir Aji komat kamit tapi tidak bersuara.


"Sudah lah, kau fokus saja menyetir yang benar!" Dumel Aji, bagai mana bisa, perusahaan yang sudah aku rintis dari nol hingga berkembang dengan pesat kini dengan mudahnya berpindah tangan pada bocah sialannn itu? Harusnya aku yang menguasai perusahaannya, kenapa sekarang jadi terbalik, perusahaan ku yang di akuisisi olehnya! Jika sudah begini, bagai mana dengan jabatan ku di perusahaan!


Aji menggaruk kepalanya dengan frustasi, wajahanya tampak kacau.


Bagai mana tidak kacau, Azka datang menyusul Aji yang sedang menenangkan diri saat baru saja di tinggal pergi Widia. Wanita yang sudah memberikannya cahaya ke hidupan baru setelah ke pergian Prita.


🌑 Flashback Author


Pagi pagi buta, Azka sudah berada di gerbang villa pribadi Aji, di saat seseorang tengah menikmati waktu istirahatnya, tapi dia kini harus menyampingkan waktu istirahatnya jika sudah berhubungan dengan Aji, menyampingkan rasa lelahnya dan kantuknya.


"Apa pak Aji ada di dalam?" Tanya Azka saat sudah berdiri di depan pos jaga villa pribadi Aji dan Widia yang berada di puncak.


"Ada, pak. Dari kemarin pak bos ada di sini." Ujar Somad selaku security yang di tugaskan untuk menjaga villa.


"Buka gerbangnya! Ada yang harus aku bicarakan dengan bapak." Ujar Azka, pria yang berbeda 3 tahun lebih muda dari Aji, sudah menjadi kaki tangan Aji semenjak Aji mendirikan perusahaan dari nol bersama dengan Prita.


Azka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya melewati gerbang saat gerbang di dorong hingga terbuka oleh pak Somad.


Tok tok tok tok.


Azka mengetuk pintu saat sudah berdiri di depan pintu dengan tangannya yang membawa tas kerjanya.


Ceklek.


Pintu di buka oleh mbok Nami, asisten rumah tangga yang di tugaskan untuk merawat villa.

__ADS_1


"Ada apa pak? Tumben pagi pagi begini sudah berada di villa!" Seru mbok Nami dengan kening yang mengkerut wajah bantalnya di paksa segar dengan basuhan air dingin yang mendarat di kulit wajah yang tidak lagi muda.


"Tolong bangunkan bapak, mbok!" Seru Azka dengan wajahnya yang panik tidak bisa lagi di tutupi.


Mbok Nami melihat wajah ketegangan, kepanikan dari pak Azka yang di nilainya selama ini selalu tenang pembawaannya, ini pasti masalah penting, sampai sampai pak Azka datang menyusul ke sini di pagi buta begini!


"Masuk dulu, pak... biar saya bangunkan pak Aji!" Mbok Nami mempersilahkan Azka untuk menunggu Aji di dalam rumah.


Azka masuk ke dalam dan mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu yang terbuat dari kayu jati.


Azka mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, masih terpampang beberapa figura di mana Aji dan Widia di potret bersama.


Azka membatin, jika saja bu Widia tidak sekejam ini menghasut hingga menjauhkan pak Aji dengan Tuan Muda Pram, hal ini tidak akan mungkin terjadi. Hubungan ke duanya pasti akan baik baik saja, layaknya hubungan antara anak dengan ayah pada umumnya.


Dengan ke dua mata yang masih mengantuk, Aji ke luar dari dalam kamarnya dengan mengenakan piyama menemui Azka.


"Ada apa kau menyusul ku sampai sejauh ini? Apa tidak bisa sampai kau tunggu besok pagi? Matahari saja belum terbit!" Sungut Aji dengan kesal yang langsung mendaratkan bobot tubuhnya pada kursi.


Azka meletakkan tas kerjanya di atas meja, menyodorkan beberapa berkas penting, "Ini sangat mendesak, pak! Tidak mungkin bisa di tunda sampai besok pagi!" Seru Azka berusaha setenang mungkin menghadapi ke marahan bos-nya Aji.


Kening Aji mengkerut, namun tangannya terulur meraih beberapa lembar berkas yang di sodorkan ke arahnya oleh Azka.


"Di situ tertera jika bapak setuju untuk mengakuisisi perusahaan bapak dan menyerahkan perusahaan bapak pak Tuan Muda Pram dan kini perusahaan atas nama Widia Crop menjadi nama perusahaan Pramana Sudiro Crop."


Aji membola dengan tangannya yang meremasss berkas yang ada di tangannya, "Bagai mana mungkin?"


"Tidak hanya itu pak, nanti pukul delapan, akan di adakan Rapat Umum Pemegang Saham yang pasti semua para dewan direksi akan menghadirinya, semua orang orang penting akan menghadiri acara rapat itu, pak!" Seru Azka.


Saat itu juga Aji dan Azka bergegas menuju Jakarta, di mana perusahaan berdiri.


🌑 Flashback end author.


Aji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangannya yang memijat pangkal hidungnya.


Aji membuang nafasnya dengan kasar.


Mobil Pram sampai lebih dulu di gedung pencakar langit yang saat ini sudah menjadi miliknya.

__ADS_1


Dev dan Haikal turun dari mobil, dengan sigap pengawal sudah berjejer rapih menyambut ke datangan Pram dan Naira.


Pram menyuruh Naira untuk turun dari mobil lebih dulu, dengan bingung Naira memperhatikan para pengawal berjas hitam berbaris dengan rapih, kenapa ka Pram membawa ku ke sini! Untuk apa mereka berbaris seperti itu? Udah kaya lagi nyambut orang penting aja!


Pram menggenggam tangan Naira, membawanya memasuki barisan para pengawal yang tidak berani tersenyum padanya, bahkan lebih tertuju pada tatapan mereka yang melihat ke depan. Menghindari kontak mata langsung dengan Nona Muda nya.


Rafa menyambut Tuan-nya di depan pintu lift, membungkuk hormat pada saat Pram sudah berdiri di depannya.


"Apa semua berjalan sesuai dengan rencana?" Tanya Pram dengan sorot mata tajam mengarah pada Rafa.


"Sudah, Tuan Muda... butuh waktu lama untuk Pak Aji sampai ke sini." Teranga Rafa.


Naira yang berdiri di samping Pram mengadahkan wajahnya, berharap suami kejamnya itu mau menjelaskan apa yang akan terjadi padanya.


Pram merengkuh bahu Naira memasuki lift, si kotak besi yang akan membawanya pada ruang rapat.


Dev dan Rafa kini berdiri di depan Pram dan Naira. Sedangkan Haikal dan yang lain di tugaskan berjaga di loby, memastikan Aji akan sampai di ruang rapat saat rapat tengah berjalan di pertengahan jalan.


Ceklek.


Pram dan Naira masuk ke dalam ruang rapat dengan di bukakan pintunya oleh Rafa.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama!" Seru Pram dengan tegas dan berkarisma.


Semua para anggota yang menghadiri acara rapat kali ini menatap bingung dengan sosok wanita yang berdiri di samping Pram, dengan tangan Pram yang terus merengkuh bahu Naira.


Pram mendudukkan Naira di kursi paling depan, sedangkan dia sendiri berdiri di samping Naira.


"Bisa kita mulai rapatnya!" Seru Pram dengan tegas.


Rafa berdiri di samping pintu bersama dengan Dev.


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉


__ADS_2