
...πππ...
"Hai kau!" Aji memanggil anak buahnya yang baru saja ke luar dari ruang accounting.
"Saya, Tuan?" Tanya pria berkaca mata, ada apa pak Aji memanggil saya? Tidak mungkin ia curiga kan?
"Apa kata investor?" Tanya Aji.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
Belum sempat menjawab pertanyaan Aji, Aji sudah di sibukkan dengan jerit dering talponnya.
Aji menjawab panggilan teleponnya tanpa melihat nama orang yang menelponnya.
[ "Tuan, Tuan cepat kembali lah Tuan." ] Suara panik terdengar dari sebrang sana.
"Ada apa? Katakan dengan jelas!" Tanya Aji dengan kening yang mengkerut karena suara berisik dari sirine dan suara si penelpon berbarangan.
Pria berkaca mata menyeringai saat melihat wajah Aji, pasti kabar buruk yang akan kau dengar, Tuan!
[ "Emmm anu Tuan, Nyonya sedang di larikan ke rumah sakit... tadi jantung Nyonya berhenti berdetak." ] Ujar kepala pelayan yang sedang berada di dalam mobil ambulans yang membawa Widia menuju rumah sakit.
"Apa?" Aji tercengang dengan tubuh yang oleng di saat itu pula Rafa si pria berkaca mata dengan sigap menyanggah Tuannya untuk tetap berdiri.
"Tuan tidak apa apa kan?" Tanya Rafa dengan wajah pura pura cemas.
Aji hanya menggeleng lemah, apa yang terjadi dengan mu sayang.
[ "Halo Tuan, Tuan masih bisa mendengar suara saya kan?" ] Tanya kepala pelayan dari sebrang sana.
"I- iya, aku akan menyusul kalian... beri aku terus kabar terbaru Nyonya!" Aji tampak cemas mendapati kabar buruk dari Widia.
Aji menyimpan hapenya ke dalam saku celananya.
"Tuan mau ke mana? Apa saya bisa membantu anda, Tuan?" Tanya Rafa dengan tangannya membetulkan posisi kaca matanya.
Aji membatin, saat ini pikiran ku memang sedang tidak baik, sepertinya aku memang membutuhkan bantuannya.
"Baik lah, kau ikut aku ke rumah sakit." Aji menyerahkan kunci mobilnya pada Rafa.
Rafa menerima kunci mobil itu dan berjalan di belakang Aji mengikuti langkah kakinya, "Dengan senang hati, Tuan." Jika saja bos Pram menyuruh ku untuk menghabisi Tuan Aji, saat ini lah kesempatan ku tiba.
"Kita mau ke mana, Tuan?" Tanya Rafa saat sudah duduk di belakang kemudi sedangkan Aji duduk di kursi belakang.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Rumah sakit mana, Tuan? Rumah sakit kan banyak." Celoteh Rafa yang justru membuat Aji geram.
__ADS_1
Aji mengepalkan ke dua tangannya lalu membuang nafasnya dengan kasar, "Rumah sakit Cinta Kasih."
"Kita meluncur, Tuan." Gumam Rafa, semoga di saat kau tiba di rumah sakit, kau akan mendapati istri tercinta mu itu sudah tidak lagi bernyawa Tuan.
π Rumah sakitπ
Setelah mendapat penanganan dari dokter, kini tubuh kaku Widia berada di IGD untuk menunggu ke datangan Aji.
Dokter dan kepala pelayan dari kediaman Aji berada di luar ruang IGD.
"Itu Tuan Aji, dokter!" Seru kepala pelayan menunjukkan dengan jari telunjuknya ke arah Aji yang tengah berjalan ke arahnya.
Wajah tegang tampak dari ke duanya saat Aji sudah berdiri di depan mereka.
"Bagai mana dengan keadaannya? Dia sudah baik baik saja kan?" Tanya Aji dengan pandangan mengarah pada pintu IGD yang berada di belakang dokter dan kepala pelayan.
"Maaf, Tuan... Nyonya sudah tidak bernyawa saat di bawa ke rumah sakit." Dokter mengucapkannya dengan sedih.
Kaki Aji begitu terasa lemas seperti manusia tidak bertulang, tubuhnya luluh di atas lantai, tatapannya kosong, bagai mana ini bisa terjadi? Ada apa ini? Tadi kau masih baik baik saja kan!
Dengan di bantu Rafa dan kepala pelayan, Aji masuk ke dalam ruang IGD tempat di mana Widia berada.
Wajah pucatnya nampak di wajah Widia, wanita paruh baya yang tidak lagi muda namun masih terlihat cantik.
Tap tap tap tap.
πDi sekolahπ
Setelah mendengar kabar Naira, Pram melimpahkan semua pekerjaan pada Dev yang baru saja tiba di bandara setelah di jemput oleh Dega, Dev langsung di sibukkan kembali dengan menangani Hotel.
Mobil sedan mewah berwarna putih kini terparkir di depan gerbang sekolah Naira.
Untuk yang ke sekian kalinya Pram melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sedangkan sesekali ia harus membagi fokus pada layar laptop yang berada di pangkuannya.
"Lihat yang benar, Haikal!" Seru Pram dengan suara dinginnya.
Berkicau saat ada murid yang ke luar dari gerbang sekolah.
"Maaf, Tuan... itu bukan lah Nona." Ujar Haikal.
"Kali saja pandangan mu itu rabun, jadi tidak bisa dengan jelas melihat mana istri ku dan mana yang bukan!" Dumel Pram dengan jemarinya yang menari nari di atas keyboard laptop.
"Huh." Haikal membuang nafasnya dengan kasar, bos Pram kurang kerjaan, sudah tau Nona akan pulang jam setengah lima, ini baru juga jam setengah empat.
"Kau mengumpat ku, Haikal?" Tanya Pram dengan sorot mata yang tajam.
"Tidak, Tuan."
__ADS_1
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Haikal berdering, Haikal memasang earphone di telinganya dan menjawab panggilan telponnya.
[ "Saya sudah mendapatkan data data anak itu, bos." ]
"Apa aku mengenalnya?" Tanya Haikal.
[ "Ayahnya merupakan salah satu kepala divisi Hotel Start, bos." ]
"Kirimkan berkasnya pada ku!" Seru Haikal dengan suara yang sama dinginnya dengan Pram.
[ "Sudah saya kirim dari tadi bos lewat email." ]
"Bodohhhh, lalu untuk apa kau menghubungi ku lewat telpon?" Gerutu Haikal.
[ "Yah wajar lah bos saya menelpon bos, kan tidak ada satu pun wanita yang akan menghubungi bos, jadi ya saya saja yang menghubungi bos!" ] Oceh si penelpon dengan nada suara yang meremehkan Haikal.
"Kurang kerjaan kau!" Haikal memutuskan sambungan teleponnya dengan kesal.
Tatapan tajam langsung mengarah pada Haikal di saat matanya melirik ke arah kaca spion mobil.
Haikal membatin, ada apa ya bos Pram menatap ku seperti itu?
"Ehem ehem." Pram berdehem dengan hati yang mengoceh kesal, dasar bawahan tidak peka, benar benar bocah ini menyindir ku!
"Orang saya sudah berhasil menyelidiki bocah itu, bos!" Ujar Haikal yang mengira jika Pram ingin tau apa yang sedang di bicarakan Haikal saat di telpon.
"Sudah sejauh mana hasil penyelidikan orang mu itu?" Tanya Pram dengan membuang wajah menatap ke luar jendela kaca mobil, berharap wanita yang sedang di tunggunya akan datang.
"Orang tuanya ternyata kepala divisi di Hotel Start bos."
Kening Pram mengkerut, "Lalu?" Tanya Pram dengan sinis.
Ini nih bos yang nyeselin, mau nya apa sih kau itu bos! Sungut Haikal meski dalam hati sangat dongkolll dan ingin menendang bosnya.
"Tidak perlu mengumpat ku, Haikal... sebelum kau menendang ku, aku yang akan lebih dulu menendang mu!" Oceh Pram.
Haikal geleng geleng kepala, "Aiiih bos, kau ini membingungkan, aku tidak tau bagai mana cara mu bisa membuat Nona bertahan dengan mu hingga saat ini, bos!"
Bugh.
...πππππ...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π
__ADS_1